Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Pria Tampan
Langit Jakarta seolah ikut memuntahkan seluruh kemarahannya. Hujan turun begitu masif, mengubah jalanan Menteng yang elegan menjadi sungai-sungai kecil yang keruh. Helen Kusuma terus melangkah, kakinya yang hanya beralaskan sepatu hak tinggi tipis sudah mati rasa. Ia tidak tahu sudah berapa kilometer ia berjalan, menyeret satu kardus tersisa yang belum hancur sepenuhnya oleh air.
Dunia yang ia kenal telah runtuh. Hanya dalam hitungan jam, ia kehilangan segalanya: Ayah, rumah, dan identitasnya. Setiap kali kilat menyambar, membelah langit dengan cahaya perak yang menyilaukan, Helen tersentak. Suara guntur yang menggelegar di atas kepalanya terdengar seperti tawa Beatrix yang mengejeknya dari kejauhan.
"Pa... kenapa?" rintihnya, suaranya nyaris tenggelam oleh deru air. "Kenapa Papa meninggalkan aku bersama serigala itu?"
Langkah Helen semakin berat. Kepalanya mulai berdenyut hebat, ritme jantungnya tidak beraturan, dan pandangannya mulai kabur tertutup tirai hujan serta air mata. Ia akhirnya sampai di sebuah kawasan pertokoan tua yang sudah tutup. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak ke sebuah emperan toko dengan rolling door karatan yang tertutup rapat.
Di sana, di bawah naungan atap beton yang bocor, Helen meringkuk. Ia memeluk lututnya, berusaha mencari kehangatan yang mustahil didapatkan. Gaun sutranya kini menempel dingin di kulitnya seperti kulit kedua yang membeku. Dingin itu perlahan merayap naik, dari ujung jari kaki hingga ke sumsum tulang belakangnya.
Kilat menyambar lagi.
Dalam sekejap cahaya itu, Helen melihat bayangannya sendiri di genangan air—berantakan, hancur, dan tak berdaya. Ia merasa jiwanya perlahan meninggalkan tubuhnya. Kesadarannya mulai menipis, ditarik oleh kegelapan yang lebih pekat daripada malam itu sendiri. Sebelum matanya tertutup sepenuhnya, ia sempat melihat sepasang lampu mobil yang terang mendekat, membelah kegelapan, sebelum akhirnya semuanya menjadi hitam.
****
Kehangatan. Itulah hal pertama yang dirasakan Helen.
Bukan kehangatan matahari yang membakar, melainkan kehangatan yang lembut, seperti pelukan selimut bulu yang tebal. Ia menghirup udara yang tidak lagi berbau tanah basah atau asap knalpot, melainkan aroma maskulin yang menenangkan—perpaduan antara kayu cendana, kopi segar, dan sedikit sentuhan kayu manis.
Helen membuka matanya perlahan. Langit-langit di atasnya bukan lagi beton kelabu yang retak, melainkan plafon kayu berwarna cokelat tua dengan lampu gantung kristal kecil yang memancarkan cahaya kuning temaram. Ia mencoba menggerakkan tangannya dan merasakan tekstur sprei katun berkualitas tinggi di bawah jemarinya.
"Aku... di mana?" suaranya keluar dalam bentuk bisikan yang pecah.
Ia mencoba duduk, namun kepalanya langsung terasa seperti dihantam palu godam. Ia meringis, memegangi keningnya. Saat itulah pintu kamar terbuka dengan bunyi klik yang halus.
Seorang pria melangkah masuk.
Helen terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, ayahnya adalah satu-satunya pria yang dekat dengannya. Aditya Kusuma sangat protektif, menjauhkan Helen dari pergaulan pria-pria kelas atas yang ia anggap hanya mengincar harta. Namun pria yang berdiri di ambang pintu ini berbeda dari bayangan pria mana pun yang pernah Helen imajinasikan.
Pria itu tinggi, mungkin hampir seratus sembilan puluh sentimeter. Tubuhnya atletis, dengan bahu lebar yang tampak sangat kokoh. Ia mengenakan kaos putih polos yang sangat pas di badan—begitu pas hingga Helen bisa melihat siluet otot dadanya yang bidang dan garis perut yang tegas setiap kali pria itu bergerak. Kulitnya putih bersih, tampak kontras dengan rambut hitam pendeknya yang tertata rapi namun sedikit berantakan di bagian depan, memberikannya kesan elegan sekaligus liar.
****
Pipi Helen yang pucat tiba-tiba terasa panas. Sebuah rona kemerahan menjalar hingga ke telinganya. Ia segera menarik selimut lebih tinggi, menutupi hingga ke dagu.
"Kau sudah bangun," suara pria itu berat dan bariton, jenis suara yang seolah bergetar di udara. "Jangan mencoba untuk langsung berdiri. Kau pingsan karena hipotermia dan syok berat."
Pria itu berjalan mendekat, membawa nampan berisi semangkuk bubur panas dan segelas air putih. Setiap langkahnya terasa penuh wibawa, membuat Helen merasa sangat kecil di atas ranjang besar itu.
"Siapa... siapa Anda?" tanya Helen gugup, matanya tak bisa berhenti melirik ke arah lengan pria itu yang berotot saat ia meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.
Pria itu menatap Helen. Matanya tajam, sehitam obsidian, namun ada kilatan empati di dalamnya yang sulit disembunyikan.
"Namaku Ario Diangga," jawabnya tenang. "Aku menemukanmu di depan toko milik temanku saat aku hendak pulang semalam. Kau terlihat seperti... seseorang yang baru saja kehilangan dunianya."
Helen menunduk, teringat kembali pada kejadian pahit di rumahnya. "Aku memang sudah kehilangan segalanya."
"Tidak segalanya," potong Ario dengan nada tegas namun tidak kasar. "Kau masih punya nyawamu. Dan selama kau masih bernapas, kau masih punya kesempatan untuk melawan balik."
****
Ario duduk di sebuah kursi kayu di sudut kamar, memberikan jarak yang cukup agar Helen tidak merasa terancam. "Aku tahu siapa kau, Helen Kusuma. Berita tentang kematian Aditya Kusuma ada di semua stasiun televisi. Tapi aku tidak menyangka akan menemukan putrinya tergeletak di emperan toko seperti gelandangan."
Helen menggigit bibir bawahnya, rasa malu dan amarah bercampur menjadi satu. "Tante Beatrix... dia mengusirku. Dia mengklaim semua aset Papa telah berpindah tangan padanya."
Ario terdiam sejenak, matanya menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan semalam. "Beatrix van Amgard bukan wanita sembarangan. Dia dikenal di kalangan bisnis sebagai 'Janda Hitam' dari Belanda. Dia punya koneksi yang tidak terjangkau oleh hukum biasa."
"Bagaimana Anda bisa tahu begitu banyak?" Helen menatap Ario dengan curiga, namun juga dengan rasa ingin tahu yang besar.
Ario tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat jantung Helen berdegup dua kali lebih cepat. "Dunia ini sempit, Helen. Dan keluargaku... kami punya sejarah panjang dengan orang-orang seperti Beatrix."
Ario bangkit berdiri dan mendekati ranjang. Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuh Helen, melainkan untuk memberikan gelas air putih. "Minumlah. Kau butuh tenaga jika ingin membalas dendam."
Saat Helen menerima gelas itu, jari-jari mereka bersentuhan secara tidak sengaja. Sentuhan itu singkat, hanya sepersekian detik, namun rasanya seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Helen. Ia segera menarik tangannya setelah gelas berpindah tangan, wajahnya kembali merona hebat.
Ario menyadari reaksi itu, namun ia tetap tenang. "Kau tidak pernah berinteraksi dengan pria, ya?"
Helen tersentak. "Bagaimana... bagaimana Anda tahu?"
"Matamu," ucap Ario pelan. "Mata yang jujur dan takut di saat yang bersamaan. Di dunia yang penuh dengan orang-orang seperti Beatrix, kejujuran adalah kelemahan, Helen. Kau harus belajar menyembunyikannya."
Helen meminum airnya dengan tangan gemetar. "Aku tidak tahu harus ke mana sekarang. Aku tidak punya uang, tidak punya teman yang bisa kupercaya. Semua orang yang dulu memuja Papa pasti sekarang berpihak pada Tante Beatrix."
Ario berjalan menuju jendela, membelakangi Helen. Cahaya pagi yang mulai masuk menembus tirai tipis, membentuk siluet tubuhnya yang sempurna. "Kau bisa tinggal di sini. Setidaknya sampai kau cukup kuat untuk berdiri di atas kakimu sendiri."
"Kenapa? Kenapa Anda menolongku?" tanya Helen sangsi. "Di dunia ini, tidak ada yang gratis, bukan?"
Ario membalikkan badannya. Kali ini, tatapannya dingin dan penuh perhitungan. "Karena musuh dari musuhku adalah temanku. Beatrix van Amgard telah mengambil sesuatu yang menjadi milik keluargaku bertahun-tahun yang lalu. Dan melihatnya hancur melalui tanganmu... itu adalah bayaran yang lebih dari cukup bagiku."