Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 : Serigala Berbulu Domba
Langit pagi di bekas ibu kota Zenobia tampak cerah, nyaris menipu.
Di halaman istana, beberapa bangsawan berdiri berkelompok kecil, berbincang dengan nada sopan dan senyum yang terukur. Di antara mereka, seorang pria dengan jubah bangsawan gelap melangkah dengan sikap tenang—punggung tegap, kepala sedikit menunduk, gestur yang sempurna untuk seseorang yang ingin terlihat patuh.
Duke Albrecht von Rethania.
“Yang Mulia Ferisu,” ucapnya ketika akhirnya berdiri di hadapan raja Asterism. Ia menunduk cukup dalam—tidak berlebihan, tidak pula meremehkan. “Merupakan kehormatan bagi saya bisa bertemu langsung dengan Anda.”
Ferisu menatapnya sejenak.
Tatapan Duke itu tenang. Terlalu tenang.
“Duke Albrecht,” balas Ferisu datar. “Wilayah timur Zenobia berada di bawah pengawasanmu, bukan?”
“Benar,” jawab Albrecht cepat. “Dan izinkan saya mengatakan—pembangunan ulang yang Asterism lakukan sungguh… mengagumkan.”
Ia tersenyum tipis, penuh kekaguman palsu.
“Rakyat saya mulai merasakan stabilitas,” lanjutnya. “Itu sesuatu yang sudah lama tidak mereka rasakan.”
Ferisu tidak membalas senyum itu.
“Kestabilan,” ulangnya. “Atau ketenangan sementara?”
Albrecht tertawa kecil, seolah pertanyaan itu hanyalah candaan ringan.
“Bukankah semua kedamaian selalu dimulai dari sesuatu yang sementara, Yang Mulia?” katanya halus. “Yang penting, kita menjaganya bersama.”
Kata bersama diucapkannya dengan sangat hati-hati.
Ferisu mengangguk singkat. “Jika itu niatmu.”
Albrecht kembali menunduk. “Tentu.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam beberapa hari berikutnya, Duke Albrecht mulai sering terlihat di sekitar pusat pemerintahan.
Ia menghadiri pertemuan pembangunan, berbincang dengan para pejabat Asterism, bahkan beberapa kali terlihat makan siang bersama perwira logistik dan pejabat sipil.
Selalu ramah.
Selalu patuh.
Selalu bertanya dengan nada polos.
“Apakah pajak wilayah akan dinaikkan setelah pembangunan selesai?”
“Bagaimana Asterism menangani perbedaan budaya ras?”
“Apakah benar rakyat Zenobia akan diwajibkan mengikuti hukum Asterism sepenuhnya?”
Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar wajar.
Dan dijawab tanpa curiga.
Karena Albrecht tidak pernah membantah. Ia hanya mendengar. Mencatat. Mengingat.
Di balik senyum sopannya, pikirannya bekerja tanpa henti.
Jadi elf punya posisi setara…
Beastman dilindungi hukum yang sama…
Dan pajak? Tidak naik—untuk sekarang.
Menarik.
Sore hari, di sudut kota yang jauh dari istana, cerita mulai berubah.
Di pasar, seorang pedagang berbisik pada pelanggannya.
“Kau dengar?” katanya pelan. “Katanya Asterism akan mengambil anak-anak muda Zenobia untuk dijadikan tentara mereka.”
“Apa?” balas yang lain terkejut. “Tapi bukankah mereka bilang tidak ada wajib militer?”
Pedagang itu mengangkat bahu. “Katanya sih begitu. Tapi sepupuku dengar langsung dari bangsawan. Elf-elf itu akan diberi hak istimewa, sementara manusia Zenobia dipaksa kerja berat.”
Di kedai minum, obrolan serupa muncul dengan versi berbeda.
“Asterism akan menaikkan pajak setelah rakyat terbiasa.”
“Mereka ingin menghapus adat Zenobia.”
“Raja Ferisu terlihat adil, tapi siapa yang tahu isi kepalanya?”
Tak ada satu pun rumor itu berasal dari satu sumber yang jelas.
Dan itulah masalahnya.
Rumor itu tidak berteriak.
Ia berbisik.
Menyusup ke sela-sela percakapan, mengendap di antara ketakutan lama dan luka perang yang belum sembuh.
Di sebuah ruangan tertutup, jauh dari keramaian, Duke Albrecht duduk dengan tenang.
Di depannya, beberapa orang berdiri—warga biasa, mantan bangsawan kecil, bahkan seorang mantan perwira Zenobia yang kini menyamar sebagai pedagang.
“Kalian tidak berbohong,” kata Albrecht sambil menuangkan anggur. “Kalian hanya… menyampaikan kekhawatiran.”
Salah satu dari mereka ragu-ragu. “Tapi Duke… jika ini ketahuan—”
“Tidak akan,” potong Albrecht lembut. “Karena tidak ada yang bisa ditangkap dari sebuah ketakutan.”
Ia tersenyum.
Senyum hangat. Meyakinkan.
“Biarkan rakyat bertanya,” lanjutnya. “Biarkan mereka ragu. Asterism ingin menjadi cahaya, bukan?”
Ia mengangkat gelasnya.
“Cahaya terlihat paling menyilaukan… saat bayangan mulai bergerak.”
Para hadirin terdiam.
Tanpa sadar, mereka telah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di istana, Ferisu berdiri di depan jendela, memandang kota yang perlahan hidup kembali.
Namun entah mengapa, udara terasa berbeda.
Licia pernah bilang, pikirnya, bahwa kebohongan paling berbahaya adalah yang terdengar masuk akal.
Ferisu mengepalkan tangannya pelan.
Ada suara yang tak terdengar, batinnya.
Tapi aku bisa merasakannya.
Di kejauhan, lonceng kota berdentang—seperti peringatan yang datang terlalu dini.
Dan di balik semua senyum patuh itu, seekor serigala sedang menunggu saat yang tepat untuk menggigit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di wilayah timur Zenobia—daerah yang berada langsung di bawah pengelolaan Duke Albrecht—beberapa warga terlibat cekcok di tengah pasar. Suara teriakan bercampur tuduhan memenuhi udara: soal jatah pangan, soal prioritas distribusi, soal “perlakuan berbeda” terhadap ras tertentu.
Tidak ada darah.
Belum.
Namun cukup untuk membuat para kesatria Asterism siaga.
Laporan itu sampai ke istana menjelang sore. Ferisu membaca ringkasannya tanpa ekspresi, lalu menghela napas pelan.
“Wilayah timur…” gumamnya.
Tatapan birunya beralih pada Noa.
“Kau yang pergi,” katanya. “Bawa beberapa kesatria. Pastikan tidak ada yang terluka. Jangan memancing ketegangan.”
Noa mengangguk. “Saya mengerti.”
Tak ada keraguan di wajahnya—hanya ketegasan yang tenang.
Pasar itu masih ramai ketika Noa dan rombongan kesatria tiba.
Namun bukan kericuhan yang mereka temui.
Melainkan ketenangan yang sedang dipulihkan.
Beberapa warga berdiri berkelompok, wajah mereka masih tegang namun suara sudah merendah. Di tengah mereka, Duke Albrecht berdiri dengan sikap yang nyaris sempurna—tubuh sedikit condong ke depan, tangan terbuka, suara rendah namun jelas.
“Tenang,” ucapnya. “Tidak ada yang dirampas dari kalian. Kesalahan distribusi ini akan segera diperbaiki.”
Ia menoleh pada seorang pria tua yang terlihat paling emosional.
“Dan kau,” lanjutnya lembut, “aku mengerti amarahmu. Kehilangan selalu membuat kita takut kehilangan lebih banyak lagi.”
Pria itu terdiam. Kepalan tangannya mengendur.
Beberapa warga lain mulai mengangguk pelan.
Noa mengamati dari kejauhan.
Tertib, tidak ada paksaan. Tidak ada ancaman, pikirnya.
Keributan itu surut, seperti api kecil yang kehabisan angin.
Saat suasana benar-benar tenang, Duke Albrecht menoleh dan menyadari kehadiran rombongan Asterism.
Ia tersenyum—senyum sopan, hangat, dan tanpa cela—lalu melangkah mendekat.
“Ah, Noa-sama.”
Nada suaranya penuh hormat, nyaris kagum.
“Saya merasa terhormat bisa bertemu dengan Anda,” lanjutnya, sedikit menunduk. “Tunangan raja, sekaligus orang yang sangat dipercaya dalam mengurus aturan dan hal-hal penting.”
Ia mengangkat pandangan, senyumnya tak berubah.
“Tapi tenang saja,” katanya ringan. “Masalah di sini sudah saya urus.”
Noa menatapnya beberapa detik.
Ia melihat pasar yang kembali berjalan. Warga yang mulai bubar. Tidak ada tanda kekerasan. Tidak ada kesatria yang perlu turun tangan.
“Kau bertindak cepat,” kata Noa akhirnya.
Albrecht mengangguk rendah. “Ini tanggung jawab saya.”
Noa membalas dengan anggukan pelan.
“Terima kasih atas kerja samamu, Duke.”
Nada suaranya tulus.
Ia merasa—setidaknya untuk saat ini—wilayah itu berada di tangan yang mampu menahannya dari kekacauan.
Dari kejauhan, Duke Albrecht memandang Noa yang berbalik pergi bersama para kesatria.
Senyumnya tetap terpasang.
Namun matanya… dingin.
Tepat seperti dugaanku, pikirnya.
Mereka melihat ketenangan, bukan akar masalahnya.
Ia melirik sekilas ke arah warga yang masih berdiri ragu.
Benih itu sudah ditanam.
Hari ini hanya keributan kecil.
Besok… mungkin tidak.
Angin sore berembus melewati pasar, membawa bisikan yang tak lagi bisa ditarik kembali.
Dan tanpa disadari siapa pun—babak pertama kekacauan telah selesai dimainkan.