Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Muak
Waktu berjalan lebih cepat dari yang Winda sadari. Tanpa benar-benar terasa, kini ia sudah duduk di kelas 2 SMK—ruang kelas yang sudah akrab dengannya, namun tetap menyimpan rasa asing di beberapa sudutnya.
KRING! KRING! KRING!
" Hey! ayo pulang!" panggil Raisa yang sudah siap untuk pulang. Raisa selalu tak sabar ingin cepat pulang kerumah, padahal sesampai di rumah Raisa juga akan sendiri karena orangtua nya sibuk bekerja dan pulang larut malam. Dan ya , Raisa masih bersama Winda sejak SMP hingga kini mereka sudah SMK.
" Tunggu!" balas Winda langsung bergerak cepat memasukkan barang barangnya ke dalam tas ransel berwarna pink cerah miliknya.
" Buruan, kalau ga aku tinggal nih!" Teriak Raisa yang sudah berdiri di depan pintu kelas.
" aduh.. ayo cepat winda" gerutu Winda pada diri sendiri dalam hati . Jari jarinya meraih kepala resleting tas dan menarik nya ke samping
perlahan hingga tertutup rapat. Setelah selesai, Winda menepuk pelan permukaan tas nya untuk membersihkan dari debu debu yang bahkan tak bisa dilihat oleh dirinya sendiri . Kemudian Winda berdiri, tangan nya bergerak menggenggam tali tas lalu mengangkat nya perlahan sebelum menyandarkan tas tersebut ke bahunya . Winda berhenti sejenak untuk memastikan tas itu sudah nyaman di belakang punggungnya sebelum melangkah pergi.
" Raisa tungguin!" Teriak Winda sambil berlari mengejar Raisa yang sudah berjalan pergi meninggalkannya. Jantungnya berdetak kencang , bukan karena lelah tapi karena takut di tinggal. Suara hentakan sepatu bergema di laintai koridor yang mulai sepi.
" Cepat!" balas Raisa berteriak.
......................
" aku ngerasa Vero suka sama kamu deh win "
Ucap Raisa tiba tiba memecahkan keheningan di dalam bus listrik yang mereka tumpangi.
Winda terdiam sejenak mencerna apa yang Raisa katakan sebelum menoleh perlahan menatap Raisa yang berada di samping nya. Dahinya berkerut bingung " Vero? suka sama aku? " tanya Winda tak percaya.
" Iya, aku perhatikan dia sering jahilin kamu" jawab Raisa
" Aelah , sering ngejahilin bukan berarti suka sama aku"
" tapi bisa jadi kan?" Raisa menyikut lengan Winda pelan.
" hmm... enggak, enggak " Winda terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.
" kalau emang Vero suka sama aku, aku ga akan mau. aku tetap milih Dirga" Lanjut Winda dengan santai.
"Masih suka sama Dirga?" Tanya Raisa tak percaya dengan ucapan sahabatnya yang satu ini.
" iya. kenapa? aku masih suka sama dia.. aku cinta sama dia dan-"
“Sampai kapan sih kamu mau jadi bodoh, Win? Dia itu udah jelas-jelas jijik sama kamu!” Bentak Raisa tiba tiba pada Winda. Suaranya memenuhi isi bus sehingga pandangan semua penumpang di bus itu tertuju pada mereka berdua. Nafasnya berat karena mencoba menahan emosi. Sementara Winda terdiam menatap mata Raisa yang menatap nya dengan mata yang berkobar penuh amarah.
“ k-kok kamu ngomong gitu sih...Aku cuma… aku masih suka sama dia…”
“Suka? Itu bukan suka! Itu nyiksa diri kamu sendiri! Kamu udah lihat dia ngehindar tiap kali kamu ada!”
“aku tetap suka sama dia. mungkin suatu hari nanti ada keajaiban.... dia suka balik sama aku"
"Keajaiban?! hah! kamu bodoh. terus berharap ke orang yang bahkan nggak mau lihat kamu. Dia itu benci kamu! Ilfil sama kamu! Kamu ngerti nggak sih?!" Raisa berhenti sejenak sebelum melanjutkan. tapi kali ini suaranya sedikit pelan "Ntar sekalian aja kamu sujud di depan dia, biar makin jelas kalau kamu nggak punya harga diri." ujar Raisa pelan namun tegas.
"Kamu kenapa sih,ra. kamu ga pernah mau dukung aku, kamu selalu nyuruh aku buat berhenti suka sama dirga. Aku udah coba ra! aku dah coba! tapi hati aku menolak! dan kamu gatau rasanya!" teriak Winda balik marah. Tapi air matanya mulai tumpah. "Kamu selalu merasa paling benar, selalu nyalahin aku...." lanjut winda dengan suara gemetar.
"Terserah kamu aja, Win…"
suara Raisa tiba tiba melemah, seperti sudah kehilangan tenaga untuk berdebat.
Ia menarik napas panjang.
"Aku cuma… nggak mau lihat kamu hancur lagi. Tapi kalau itu pilihanmu….." Raisa terdiam tak tau harus berkata apa lagi.
"aku ga bisa bilang apa apa lagi ,win. Aku udah ngomong berkali-kali dan kamu tetap balik ke orang yang sama. Kalau nanti kamu sakit hati… kamu sendiri yang tanggung, ya." Ucap Raisa pelan dan lemah , jelas kalau Raisa sudah benar benar lelah.
Bus melambat, suara rem mendecit pelan.
Penumpang mulai berdiri, bersiap turun.
Raisa hanya menatap ke depan, wajahnya datar.Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Winda, ia mengambil tasnya.
Raisa menarik nafas perlahan.
" Aku duluan ya " Ucap Raisa lembut dan memaksakan senyum kepada Winda sebelum melangkah pergi meninggalkan Winda sendiri dengan pikirannya.
Winda tetap duduk mematung.
Suara pintu bus menutup terdengar seperti garis akhir.
Bus kembali melaju.
Dan Winda hanya bisa menatap melalui kaca belakang,melihat sosok Raisa yang perlahan semakin kecil,sampai akhirnya menghilang dari pandangan.
" Trimakasih pak"
Winda turun dari bus. Ia berdiri di bawah halte. Bus perlahan menjauh di belakang nya menciptakan angin lembut yang membuat ujung hijabnya menari lembut di belakang nya.
Ia menarik nafas berat sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan halte.
Entah mengapa setiap langkah terasa berat.
" Raisa tiba tiba banget marah begitu tadi... Mungkin lagi datang bulan... Nyebelin." gerutu Winda pelan sambil menendang kerikil kerikil kecil yang berserakan di jalan yang ia lalui.
Setelah lama berjalan akhirnya Winda sampai di depan rumahnya, ia berhenti. Menatap pintu tanpa keberanian untuk masuk. Napasnya naik turun, matanya sedikit merah.
Tangannya gemetar saat memutar gagang pintu. Tapi terhenti saat tiba tiba Winda mendengar sesuatu dari dalam rumah. Terdengar suara ayah nya yang serius sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
" Hanya tinggal menunggu waktu.. setelah Ia tamat sekolah nanti kita akan membicarakan pernikahan nya "
" pernikahan...?"
🤭
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini