Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Langit London pagi itu tampak kelabu seperti biasa. Kabut tipis turun menyelimuti jalanan batu yang basah sisa hujan malam. Di jantung distrik Kensington berdiri Universitas San Verra, kampus elite yang terkenal karena arsitektur klasiknya dan murid-muridnya yang berasal dari keluarga kaya, bangsawan, serta kalangan bisnis papan atas Eropa.
Bangunan utama berdiri megah dengan dinding batu abu-abu tua bergaya Victorian Gothic. Pilar-pilar tinggi menopang lengkungan atap yang dihiasi ukiran gargoyle, seakan mengamati setiap langkah mahasiswa yang melintas di bawahnya. Di halaman depan, taman luas dengan mawar merah dan putih tampak terawat rapi, dipenuhi aroma lembut yang bercampur dengan udara dingin London.
Mahasiswa di San Verra berjalan dengan pakaian rapi, blazer, rok mini hitam, atau celana panjang berpotongan sempurna. Mereka berbicara dalam aksen Inggris yang lembut namun menusuk, membicarakan hal-hal mewah: fashion week di Milan, liburan musim dingin di Swiss, atau pesta pribadi bangsawan Inggris.
Namun di balik semua kemewahan itu, kampus ini menyimpan banyak rahasia. Beberapa mahasiswa diketahui menjadi pewaris organisasi besar bisnis gelap, jaringan mafia, hingga perusahaan senjata internasional. Tidak semua orang di San Verra adalah orang biasa.
Xerra melangkah masuk ke area kampus dengan langkah anggun.
Dia mengenakan kemeja putih sederhana, celana panjang hitam, dan coat krem panjang yang menambah kesan elegan tapi tetap kalem. Mata hazel nya yang tajam langsung menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Tak ada yang menyangka gadis cantik itu pernah dijual ke rumah hiburan oleh bibinya sendiri.
Meski berasal dari keluarga kaya yang kini dikuasai bibinya, Xerra tidak pernah bergantung pada mereka. Dia membiayai kuliahnya sendiri lewat hasil kerja sambilan sebagai perancang fashion kecil-kecilan, menggambar sketsa pakaian yang sering dibeli oleh butik-butik lokal. Xerra bercita-cita menjadi desainer terkenal di London dan memiliki brand sendiri suatu hari nanti.
Namun, San Verra tidak selalu bersahabat baginya.
Sepupunya, Liona, juga berkuliah di sana gadis cantik berambut pirang lembut dengan kepribadian manja dan licik. Liona membenci Xerra karena merasa terancam oleh kecantikan alami dan kecerdikan gadis itu. Hampir setiap hari, Liona berusaha mempermalukan Xerra di depan teman-temannya menyebar gosip, menukar rancangan tugas, bahkan menghapus file proyek Xerra diam-diam.
Tapi Xerra tidak pernah membalas dengan cara kasar. Ia hanya tersenyum dingin senyum yang membuat Liona makin kesal, karena setiap rencana buruknya selalu berbalik.
“Kau tidak pernah belajar dari kesalahanmu, Liona. Aku sudah bosan meladeni permainanmu,”
ucap Xerra suatu sore dengan nada tenang namun tajam, membuat sepupunya membisu.
Kampus San Verra juga memiliki sisi gelapnya.
Banyak gosip beredar bahwa di ruang bawah tanah perpustakaan lama, ada tempat pertemuan rahasia untuk orang-orang berpengaruh mafia, keluarga bangsawan, dan pengusaha kelam.
Evans Pattinson pernah menjadi salah satu pendukung dana terbesar kampus ini. Ia sering hadir dalam acara formal universitas, menyamar sebagai pebisnis sukses asal Manchester. Tak banyak yang tahu, pria tampan bermata elang itu adalah pemimpin kelompok mafia paling berkuasa di Eropa.
Mungkin takdir yang sama yang akan mempertemukan mereka kembali Xerra dan Evans bukan di rumah bordil murahan, melainkan di salah satu universitas paling bergengsi di Inggris.
Langit sore di London tampak muram. Hujan baru saja berhenti, menyisakan genangan di sepanjang jalan yang terlihat dari jendela ruang kerja Evans Pattinson. Ruangan itu beraroma bourbon, kayu tua, dan sedikit tembakau.
Evans duduk di kursinya yang besar, memandangi layar laptop di hadapannya. Foto seorang gadis terpampang jelas, mata hazel yang tajam namun lembut, wajah muda dengan senyum samar yang terasa jujur.
Xaviera Collins.
Nama itu baru ia dengar semalam, tapi entah mengapa terus menghantui pikirannya.
Pintu terbuka pelan. Dua pria masuk dengan langkah mantap Ben dan Gerry.
Tidak ada panggilan “bos” atau sikap berlebihan.
Mereka bertiga sudah seperti saudara.
Ben adalah pria tinggi berambut hitam pekat, wajahnya dingin tapi bijak. Sedangkan Gerry, yang berambut cokelat keemasan, punya kepribadian lebih santai dan sering menjadi penengah di antara keduanya. Mereka berdua tumbuh di panti asuhan yang sama di pinggiran Manchester, sebelum akhirnya terjun ke dunia gelap karena keadaan.
Evans lah yang membawa mereka keluar dari jalanan.
Bukan hanya memberi uang, tapi juga tujuan kekuasaan, tempat berlindung, dan nama besar yang membuat siapa pun takut mendengar nama mereka.
“Evans, kami dengar tadi kau memanggil,” kata Ben pelan, suaranya berat dan dalam.
Evans tak menoleh. Ia hanya menekan tombol di laptop, menampilkan wajah Xerra lebih besar di layar.
“Lihat gadis ini,” ujarnya datar.
Gerry menyipitkan mata, mendekat.
“Dia yang dari rumah hiburan itu, kan? Yang menipu pelanggan tua sampai pemiliknya ngamuk?”
Evans tidak menanggapi. Ia menatap wajah Xerra dengan pandangan yang sulit diartikan dingin, tapi juga penuh rasa ingin tahu.
“Cari tahu semuanya tentang dia. Siapa keluarganya, di mana dia tinggal, dan di mana dia kuliah.”
Ben bertanya hati-hati,
“Ada sesuatu yang spesial dari gadis itu?”
Evans bersandar di kursi, menatap ke arah jendela yang dipenuhi cahaya malam London.
“Dia berbeda. Saat semua orang ketakutan, dia malah berani berbohong di depanku, tanpa ragu sedikit pun. Tapi matanya jujur…”
Suara Evans melembut di akhir kalimatnya, seolah ia sendiri heran dengan apa yang ia rasakan.
Ia kemudian menambahkan dengan nada rendah
“Aku ingin tahu kenapa.”
Ben dan Gerry saling berpandangan. Mereka sudah lama tahu, Evans jarang tertarik pada siapa pun. Biasanya kalau dia menyuruh seseorang diselidiki, orang itu adalah target bukan seorang gadis muda yang tidak berdaya.
“Baik,” jawab Gerry akhirnya. “Kami akan mulai malam ini.”
Evans menatap mereka sekilas dan mengangguk.
“Lakukan yang bersih, jangan sampai ada yang tahu.”
Ben berdiri tegak.
“Seperti biasa.”
Setelah mereka pergi, Evans mematikan laptopnya dan menatap kosong ke arah jendela. Dalam bayangan refleksi kaca, ia melihat sosoknya sendiri pria matang dengan mata kelam dan rahang keras, tapi di balik tatapan itu ada luka lama yang belum sembuh.
Ia teringat masa kecilnya sirene malam di Napoli, rumahnya yang terbakar, dan tubuh kedua orang tuanya tergeletak di bawah cahaya lampu jalan.
Kedua orang tuanya adalah mafia besar yang dibunuh oleh musuh mereka sendiri.
Sejak malam itu, Evans menjadi yatim piatu.
Pamannya, Andreas Pattinson, yang kini tinggal di Italia, adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Namun mereka jarang berhubungan Andreas sibuk mengurus wilayahnya sendiri.
Evans meneguk bourbonnya sekali lagi, menatap kosong ke luar jendela.
“Aku tidak tahu kenapa kau menarik perhatianku, Xaviera…” katanya lirih.
“Tapi sesuatu memberitahuku… ini bukan kebetulan.”
London, keesokan paginya.
Kabut tipis turun menutupi jalanan di sekitar Universitas San Verra, sementara lonceng tua di menara kampus berdentang pelan.
Mahasiswa mulai berdatangan, mengenakan mantel panjang dan sepatu kulit yang berdecit di atas bebatuan basah.
Di antara kerumunan itu, dua pria berdiri di tepi jalan Ben dan Gerry.
Mereka berpakaian seperti pekerja kantoran biasa jaket gelap, scarf, dan earpiece kecil tersembunyi di telinga.
Namun sorot mata mereka tajam, waspada.
Ben membuka map kecil berisi berkas yang baru ia dapatkan dari seorang informan lokal.
“Xaviera Collins. Dua puluh tahun. Mahasiswi jurusan desain mode di Universitas San Verra. Tinggal di rumah keluarga mendiang orang tuanya di Chelsea. Sekarang dikuasai oleh bibi dan pamannya.”
Gerry menatap dari kejauhan, melihat Xerra baru turun dari taksi kampus.
Gadis itu tampak sederhana namun elegan mengenakan mantel krem panjang, rambutnya dibiarkan terurai, dan tangan kirinya memegang sketsa yang sebagian tertiup angin.
Beberapa mahasiswa menatapnya, sebagian karena kagum, sebagian karena iri.
“Dia cantik, tapi ada sesuatu di matanya,” gumam Gerry.
“Bukan takut. Bukan juga sombong. Lebih ke… seseorang yang terlalu sering harus bertahan sendirian.”
Ben melirik sekilas.
“Evans tidak pernah menyuruh kita mengamati wanita sebelumnya. Tapi entah kenapa, aku paham kenapa dia tertarik kali ini.”
Mereka mengikuti langkah Xerra dari kejauhan.
Gadis itu menuju gedung seni dan desain, tempat dinding-dindingnya penuh lukisan dan papan moodboard warna-warni.
Di sana, ia duduk di bangku paling belakang kelas, menggambar dengan fokus luar biasa.
Pensil di tangannya bergerak cepat dan presisi.
Dari balik jendela kaca, Ben memotret diam-diam.
“Dia jenius,” ujarnya lirih. “Setiap goresannya hidup.”
Gerry tertawa kecil.
“Kau mulai terdengar seperti Evans.”
Ben menatapnya dingin.
“Aku hanya menyampaikan fakta.”
Beberapa jam kemudian, mereka memutuskan berhenti mengikuti dan melapor.
Sore itu, mereka bertemu kembali dengan Evans di ruang bawah gudang tua markas yang biasa mereka gunakan untuk urusan rahasia.
Cahaya kuning lampu redup menyoroti wajah Evans yang sedang duduk di kursi besi, memutar cincin di jarinya.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Evans tanpa mengangkat pandangan.
Ben meletakkan map di atas meja logam.
“Namanya Xaviera Collins. Mahasiswi desain. Cerdas, hidup mandiri, tapi keluarganya bermasalah. Bibi dan pamannya menguasai rumah peninggalan orang tuanya. Tidak ada catatan kriminal, tidak punya hubungan dengan siapa pun di dunia bawah.”
Evans membuka map itu perlahan, memperhatikan foto-foto yang diambil diam-diam.
Di salah satu foto, Xerra tampak tertawa kecil sambil berbicara dengan temannya di taman kampus, rambutnya tertiup angin.
Untuk sesaat, ekspresi Evans berubah lembut.
“Dia tidak tahu dunia seperti apa yang hampir menelannya,” katanya pelan.
Gerry menyandarkan tubuh ke dinding.
“Lalu apa langkah selanjutnya, Evans? Mau kita terus awasi?”
Evans menatap foto itu lama, lalu menjawab dengan nada datar tapi tegas
“Tidak, Untuk saat ini, biarkan saja. Aku hanya ingin tahu siapa dia. Itu sudah cukup.”
Ben dan Gerry saling melirik tahu bahwa Evans sedang berbohong pada dirinya sendiri.
Mereka sudah lama bersama, dan mereka tahu
sekali Evans Pattinson tertarik pada sesuatu, dia tidak akan berhenti sampai memiliki jawabannya.