Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Diujung koridor dekat kantin sekolah, terdengar suara teriakan bersamaan dengan suara tawa menggelegar yang diyakini dari seorang perempuan. Di susul dengan suara rintihan serta permohonan maaf berasal dari suara perempuan juga.
Tiga orang perempuan itu tengah tertawa bersama sambil menatap sinis ke arah korban yang merupakan seorang perempuan yang terisak pilu dengan seluruh permukaan rambutnya telah di penuhi dengan tepung dan telur busuk, membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung menutup hidung sekaligus iba.
Masih dengan tawanya yang terdengar sadis, Shela maju ke depan menghampiri korbannya. Dengan hentakan yang keras, tangannya menarik rambut korbannya, membuat gadis malang itu meringis dengan air mata yang terus mengalir.
Shela menatap gadis malang itu dengan pandangan meremehkan. Tangan satunya lagi terjulur mencengkram dagu gadis gue, wajah gadis yang masih menjadi korbannya itu masih mulus, seperti prinsipnya meski ia suka membully dia tidak akan terlalu menyakiti fisik korbannya. Shela mendekatkan bibir merahnya ke telinga gadis itu.
"Biar gue perjelas lagi," ucap Shela penuh penekanan." Lo, bukan siapa-siapa Marvin. Dan lo gak usah sok cari perhatian dia. Kalau sekali lagi gue liat lo deketin Marvin, gue dan temen-temen gue akan ngelakuin hal yang lebih parah dari ini. Ngerti lo?!" Shela menghempaskan kepala gadis itu dengan keras membuat kepala gadis itu terhantuk ke dinding sehingga menyebabkan gadis itu pingsan. Hal itu jelas membuat Shela terkejut, ia tidak berniat membuat gadis itu pingsan.
Shela menatap gadis itu,lalu menyuruh temannya itu untuk membawa gadis itu ke gudang dan membaringkan gadis itu diatas matras yang sudah agak rusak.
"Kita tinggalin aja di sini, semoga nanti ada yang nemuin dia," ujar Shela pada kedua temannya.
Kedua gadis di belakang Shela mengangguk,lalu ketiganya pergi meninggalkan tempat itu.
Shela lalu melangkah menuju parkiran dimana mobilnya terparkir, sebelum masuk dia melemparkan sisa tepung ke temoat sampah di dekatnya.
" Gue balik duluan," ujarnya pad skedua gadis itu. Shela sebenarnya tidak punya teman dan dua orang itu hanyalah suruhannya saja. Ia tahu kedua gadis itu mau berteman dengannya hanya karena harta dan juga takut dibully, makanya mereka akan menurut setiap kali dia perintahkan. Shela tidak peduli, karena yang dia mau bukanlah perhatian dari orang lain atau teman, dia hanya butuh perhatian keluarganya.
____
Di dalam sebuah ruangan, seorang laki-laki sibuk dengan setumpuk kertas-kertas yang berserakan. Dengan dahi berkerut dan mata yang fokus pada lembaran kertas itu, Narendra masih menggerakkan pulpennya untuk menulis sesuatu.
Dua hari Dion menjabat sebagai ketua OSIS, tapi tugasnya sudah menumpuk saja. Waktu istirahatnya tersita banyak akibat tugas-tugas itu. Bukan hanya tugas dari OSIS,tugasnya di kelas pun sudah menumpuk. Untungnya tugas di kelas selalu diberikan tenggat waktu yang cukup lama sehingga dia bisa menyelesaikannya dengan tenang tanpa perlu terburu-buru.
"Yon, masih lama kah? Sini gue bantuin deh," tawar Faris yang entah sejak kapan sudah berada di hadapannya.
Dion mendongak lantas menggeleng." Gak usah, bentar lagi gue juga selesai."
Faris hanya bisa mendengus dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi seraya melipat tangan di depan dada. Ia memperhatikan temannya yang sedang fokus ke tumpukan kertas dan laptop di hadapannya. Faris sudah mengenal Naren dari mereka SMP, dama seperti Elang temannya yang lain. Dia sudah hafal bagaimana Dion, laki-laki selalu menyelesaikan masalahnya sendiri, lebih tepatnya memaksakan diri untuk menyelesaikan masalah sendiri. Padahal dia bisa saja meminta bantuan kepadanya atau pada Elang.
Sebenarnya Dion tidak bermaksud untuk membuat Faris merasa tertolak. Ia hanya tidak ingin merepotkan temannya itu. Malah Dion merasa senang bisa memiliki sahabat seperti Faris dan Elang yang senantiasa membantu dirinya.
" Eh curut, gue cariin lo kemana-mana, taunya di sini."
Suara seseorang membuat Dion dan Faris menoleh. Ia mendapati Elang yang tengah berjalan menghampiri mereka dengan sepiring batagor yang baru saja di beli di kantin.
" Lo di cariin pak Bagas. Katanya ada hal penting yang mau diomongin," ujar Elang memberi tahu amanah yang diberikan pak Bagas pada Faris.
"Mau ngomong apa?"
Elang mengedikkan bahunya." Mana gue tau, lo kan sekretaris OSIS, jadi mungkin pak Bagas perlu bantuan lo," jawab Elang dengan mulut yang penuh dengan batagor.
Gadis berdecak. Elah, mau ngapain si?! Mentang-mentang gue sekretaris OSIS, gue Mulu yang di suruh perasan." Faris mendengus kesal seraya mengacak rambutnya. Pasalnya tadi Faris udah beberapa kali naik turun tangga ke lantai satu dan tiga hanya untuk mengantar buku-buku kelas siswa lain yang baru diperiksa oleh pak Bagas. Padahal di OSIS yang jadi sekretaris bukan hanya dirinya, ada juga Rosa. Tapi kenapa Pak Bagas selalu menyuruhnya.
"Kenapa si marah-marah mulu? Lagi PMS lo?" tanya Elang merasa geram dengan Faris yang marah-marah.
"Gak liat gue lagi kesel ini. Sini jadi gue Langsung, biar Lo tau kenapa gue marah-marah mulu."
"Ogah, lagian suruh siapa lo jadi OSIS."
Lalu setelahnya hening beberapa saat. Dion masih sibuk dengan setumpuk kertas dan juga laptop, Elang sibuk memakan batagornya dan Faris sibuk memainkan ponselnya.
"Gila!!!"
Teriakan Faris itu membuat Dion dan Elang tersentak kaget. Bahkan Elang langsung tersedak karena saking terkejutnya.
"Sialan lo, Ris! Untung gue cuma kesedak bumbu kacangnya doang, coba kalau batagornya gimana? Bisa mati gue," protes Elang sambil menatap garang ke arah Faris.
" Lebay banget- aw!!" Faris meringis ketika sebuah benda keras mengenai dahinya, dia lalu menatap sang pelaku yang melempar benda itu, yang tak lain adalah Elang.
"Apa? Mau gue lempar lagi?!" tantang Elang.
"Ck! Lo pada ngapain si?" lerai Dion sambil menatap Faris dan Elang bergantian. " Lo juga kenapa teriak-teriak? Udah tau ini ruang OSIS."
Dion merapihkan lembaran kertas di depannya,dia lakukan menghampiri Faris untuk melihat penyebab laki-laki itu teriak tadi.
"Nih,Yon liat! Seksi banget ya? Cantik pula."
Dion menggelengkan kepalanya,ia kira ada apa. Ia menatap bosan ke arah ponsel Faris yang menunjukkan foto seorang gadis dengan pakaian cukup minim di sosial media.
"Bener-bener nih cewek," ucap Faris sambil terus memandang foto di layar ponselnya.
"Siapa sih? Shela ya?" Elang yang mulai penasaran mendekat.
"Kepo!" Faris sambil menjauhkan ponselnya.
"Elah, pelit amat si lo,"cibir elang." Liat!"
Pada akhirnya Faris dan Elang kembali ribut, hanya karena sebuah foto perempuan berpakaian seksi di ponsel.
Dion yang jengah dengan tingkah kedua temannya memilih bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Ia berniat mengambil proposal yang tertinggal di kelasnya.
"Mau kemana, Yon?"
"Kelas," jawab Dion yang kemudian keluar dan menutup kembali pintu ruangan itu.
Dio berjalan santai di koridor. Sesekali dia tersenyum dan membalas sapaan murid-murid yang mengenalnya. Saat akan belok menuju tangga, Indra pendengarannya menangkap suara di ujung koridor dekat gudang sekolah. Dion menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara itu. Ujung koridor itu begitu sepi, bahkan belokan di koridor tempat Dion berpijak sekarang tidak ada satupun siswa atau siswa yang berlalu lalang.
Dahi Dion mengernyit saat mendengar suara tawa seseorang disusul dengan suara tangisan yang Dion tebak berasal dari seorang perempuan. Karena penasaran, Dia berjalan mendekati hingga langkahnya terhenti di balik loker. Dari situ Dion dapat mendengar suara yang begitu jelas.
" Masih mau lo deketin Marvin, hah?!"
"Eng-nggak kak, a-aku gak deketin kak Marvin. Aku cuma di suruh guru buat manggil dia ke kantor."
Shela tertawa sinis." Gak usah ngeles lo!" Gue tau maksud Lo itu mau deketin dia kan?!"
Shela jengah mendengar rintihan yang terdengar berlebihan di telinganya, dia hendak menyiram gadis yang terduduk di lantai itu dengan air bekas pelan di tangannya. Ia menghentikan pergerakannya ketika seseorang muncul dan menahan tangannya.
Shela berbalik lalu menatap laki-laki asing di belakangnya. Ia menepis kasar tangan laki-laki itu.
"Siapa lo?! Ini urusan gue, lo orang asing jadi gak berhak ikut campur!"
"Gue berhak ikut campur, gue ketua OSIS, jelas tindakan ko ini melanggar peraturan sekolah."
Shela tersenyum miring, dia mendekatkan diri sehingga jarak diantara keduanya begitu dekat." Terus apa yang akan lo lakuin dengan jabatan Lo itu? Hukum gue?" Shela tertawa kecil.
"Jelas gue akan hukum lo!" Ucap Dion dengan nada sinis, dia menatap Shela dari bawah ke atas.
" Lo udah banyak melanggar peraturan, selain tindakan ko juga penampilan lo jelas tidak sesuai peraturan. Jangankan di hukum, lo udah pasti kena SP atau mungkin bisa di drop out dari sekolah ini.
Shela tekekeh geli, seakan apa yang dikatakan Dion adalah lelucon baginya." Gue udah biasa dihukum, tapi gak ada satupun guru yang berani keluarin gue dari sekolah ini. Sedangkan lo.." ia berdecih lalu menatap remeh Dion."... Lo cuma ketua OSIS yang gak guna, orang kayak lo gak mungkin bisa ngeluarin gue dari sekolah ini "
Dion memperhatikan wajah gadis itu, ia baru menyadari jika gadis ini adalah gadis yang sama dengan foto yang ditunjukkan Faris tadi.
"Oke, gue akan pastiin Lo dihukum seberat-beratnya supaya Lo kapok!"
"Silahkan,gue gak takut," ujar Shela meremehkan. Ia berbalik kembali menghadap ke arah gadis yang kini sudah berdiri. Dia menyuruh gadis itu pergi." Pergi! Jangan pernah deket-deket Marvin lagi, kalau sampai gue liat Lo sama Marvin lagi, gue akan lakuin hal yang lebih gila dari ini!" Ancam Shela.
Shela berbalik, ketika berpapasan dengan Dion dengan sengaja dia menabrak bahu laki-laki itu dengan keras. Lalu pergi begitu saja.