NovelToon NovelToon
CINTA SANG PEMBURU

CINTA SANG PEMBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Misteri / Horor / Tumbal / Mata Batin / Cintapertama
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Hendriyan Sunandar

Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

"nah jadi begitu bapak bapak cerita yang sebenarnya. Makannya saya sampai rela memberikan sepuluh petak sawah dan sejumlah uang pada siapapun yang berhasil nangkap pocong itu. Bapak bapak gak usah takut kok. Pocong itu sudah sedikit lemah karena sebelumnya sempat perang batin sama adik saya. Makannya wujudnya bisa nyata dan bisa di tangkap. Sekali lagi maafkan kami ya, jika permasalahan keluarga kami ini jadi merepotkan bapak bapak semua. Maklumlah semua ini gara gara si Wulan anak saya. Coba waktu itu dia bicara jujur pada pamannya. Mungkin tak akan seburuk ini akibatnya"

Ujar bah Lemud setelah mengatakan panjang lebar perkara kemunculan pocong itu. Dan mengambing hitamkan adik iparnya yang jelas jelas tak tau apa apa tentang perkara ini. Adapun dulu Wulan memang pernah lama tinggal bersama paman dan bibiknya, namun itu hanya sebatas menikmati suasana kouta dan sedikit sedikit belajar ilmu pengetahuan dari pamannya. dan jangankan Wulan pernah menolak seorang lelaki, memiliki teman saja hanya beberapa orang saja dan itupun semuanya wanita. dan semua itu terpaksa di lakukan bah Lemud, tak lain karena dirinya sudah merasa bingung dan merasa yakin jika anaknya itu tak sengaja memakai baju keramat miliknya. Tanpa tau akibat dan tata cara memakai serta melepaskan baju itu.

Sementara derita yang kini berbelit dan di alami Wulan, tentu saja membuat Wulan merasa serba salah. Beberapa kali dirinya sengaja menemui orang untuk di pintai tolong, namun lagi lagi orang yang di sapanya itu malah lari tunggang langgang sembari berteriak setan padanya. Belum lagi aroma busuk yang begitu menyengat dari tubuhnya itu, membuat beberapa warga kabur sebelum dirinya menampakan diri. dan penderitan itu harus bertambah oleh perasaan aneh dan pikiranya seperti perlahan menjadi linglung.

Semakin hari Wulan semakin lupa dari mana dirinya berasal. Yang dirinya masih ingat, dirinya sempat tinggal di suatu rumah bersama ayah dan ibu yang bernama Lemud dan Surti.

Ya. Pikiran dan kehidupan sebelumnya itu terasa seperti mimpi namun nyata. Serta rasa semangat untuk kembali pada dua orang yang di ingatnya itu semakin hari semakin memudar. Sehingga lambat laun Wulan pun lebih sering menghidari dari keramaian penduduk desa. Dirinya kerap kali melamun di tempat tempat sunyi sembari merasa bingung dari mana dan akan ke mana dirinya sebenarnya.

Sampai di suatu malam. Dirinya kedatangan pemuda yang berbeda dari sebelumnya. Pemuda itu seperti tak mencium aroma busuk dari tubuhnya. Namu setelah mencoba menyapanya, pemuda itu malah lari seperti ketakutan. Dan akhirnya dirinya merasa kecewa untuk sekian kalinya.

Hanya saja kecewanya itu tak berlangsung lama. Di mana pemuda berperawakan gagah tampan berambut panjang itu kembali lagi ke tempat sebelumnya ia bertemu dengan pemuda itu.

hanya saja dirinya kali ini merasa heran pada gelagat pemuda lusuh tapi menarik perhatiannya itu. Di mana sebelumnya pemuda yang terkesan menantang pada dirinya dan tampak marah marah karena ikan tangkapannya terlepas, tiba tiba menggigil ketakutan setelah di dekati dan di pintai oleh dirinya.

"tolong kang. saya mohon tolong saya. hantarkan saya pulang. Saya yakin jika tempat saya bukan di sini. Kang... Kang... Kang... "

Untuk kesekian kalinya Wulan mengatakan hal yang sama pada pemuda yang tak lain adalah Tumang. Namun alih alih pemuda itu membalas ucapannya. yang ada malah tampak melotot dan sesekali melirik pada orang orangan sawah yang tak jauh dari tempat Tumang itu berdiri.

Niat hati ingin acuh pada sosok itu dan segera mengambil caping itu lalu pergi menemui mang Darman. tapi pada kenyataannya Tumang tak memiliki keberanian sekuat itu.

Kedua kakinya itu terasa berat, sekujur tubuhnya menggigil, suara cekikikan sembari mempelihatkan gelayutan pada ikatan hujung kepala sosok itu, membuat Tumang seperti mati kutu.

"tolonglah saya kang. Jika akang bersedia menolong saya, saya akan menangkapkan ikan untuk akang. Bagaimana?"

Dengan tutur kata bahasa yang lembut Wulan berusaha merayu Tumang ketika itu. wajah cantiknya semakin ia dekatkan pada Tumang yang tampak diam mematung bagaikan arca. Namun apalah artinya semua itu. Karena pada kenyataannya Tumang tak mendengar ucapan itu selain tawa berat di sertai aroma bunga melati yang begitu menusuk indra penciumannya.

Sampai pada akhirnya Wulan pun yang merasa kesal pada sikap Tumang, tiba tiba membalikan tubuhnya dan mendekati parit di dekat Tumang. Serta tak lama setelahnya, Wulan segera masuk ke parit itu.

dirinya tak perduli sekalipun betis mulusnya itu harus di penuhi lumpur. Tubuhnya itu tampak membungkuk dan kedua tangannya meraba raba dasar parit seperti sedang mencari sesuatu.

"tunggu di situ kang. Saya pastikan kail akang yang putus itu saya temukan sama ikannya"

Imbuh Wulan sembari terisak menahan kesedihan. Satu satunya harapan pada pemuda yang tahan pada aroma busuk tubuhnya itu, dan terkesan tega pada dirinya, seperti perlahan sirna. Wulan menganggap jika pemuda yang memiliki kempuan lebih itu, menginginkan dirinya untuknya lebih dulu membuktikan ucapanya sebelum bersedia menolongnya. Sehingga pantas saja jika Wulan berusaha penuh menemukan dahulu ikan itu.

Setiap sudut bahkan lubang yang ada di parit itu, sengaja di rogok oleh tangan mulusnya.

berbeda halnya dengan Tumang yang perlahan bisa menguasi diri dan mengatasi rasa takutnya. Pikirnya, sosok itu adalah penunggu tempat itu yang meminta jatah ikan darinya. Bahkan rencana dan perkara tentang pocong yang sebelumnya di bahas bersama mang Darman, seperti ia lupakan begitu saja.

"na... na...nah begitu. a... a... Ambil. Ambil sendiri kalo kau mau i... i... Ikan."

Ucap Tumang terbata bata sembari berusaha menggerakan sekujur tubuhnya yang terasa kaku. Sebelum pada akhirnya dirnya behasil lalu berlari tanpa menoleh sana sini.

Tentu saja Wulan pun yang melihat pemuda itu malah lari meninggalkannya, untuk beberapa saat hanya mampu menatap kepergian pemuda itu lantas kembali mencari ikan dan tali pancing yang putus itu. Sebelum pada akhirnya bibir merahnya itu tersenyum karena jemarinya tak sengaja meraba dan menyentuh sesuatu seperti tali pancing.

Waktu terus berlalu. Bersamaan embun yang mulai singgah membasahi dedaunan. Suasana malam yang senyap dan hanya terdengar lolongan anjing dari kejauhan, pada akhirnya perlahan sirna di gantikan udara segar dan samar samar terdengar suara kumandang adzan subuh dari perkampungan warga.

Di pagi itu Tumang yang tak bisa tidur pulas semalaman, dirinya tampak termenung di hadapan tungku perapian. Tak jauh darinya, terlihat mak Eha yang sedang memisahkan beras dan beberapa butir gabah.

"kau ini kenapa jang ? Emak perhatikan dari subuh tadi kau banyak melamun. Apa jangan jangan kau belum tidur ya?

kan Emak sudah bilang, jangan lama lama ke rumah mang Darmannya. Eh ini malah pulang larut sambil bawa ikan. ngantukkan jadinya... Mana kau harus ke sawah lagi jagain sawah juragan"

Ujar mak Eha sembari mengambil satu ekor ikan yang di bungkus daun pisang dan di letakan di dalam caping itu.

1
Akbar Aulia
setan silemin iku opo thor
Hendriyan Sunandar: ya itu ka. semacam siluman dan sebangsanya. atau mhluk tak kasat mata.
total 1 replies
Hendriyan Sunandar
amin. terima kasih atas apresiasinya. semoga menghibur dan ada sedikit sedikit hikmah yang bisa di petik dari kisah ini.
Mắm tôm
dahsyat ttg cerita ini, semoga terus sukses author!
Hendriyan Sunandar: amin ya Allah. terima kasih ka. semoga bisa menghibur dan kiranya bisa bantu promokan cerita ini ya. semoga Allah melimpahkan rejeqi yg barokah pada kk. amin
total 1 replies
Rowan
Aku udah ngebayangin situasi karakter-karakter disini ke kehidupan nyata, bisa ngeri ngeri sedap gitu loh!
Hendriyan Sunandar: terima kasih ka sudah berkenan singgah. semoga terhibur dan ada kimha yang bisa di petik di dalamnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!