seorang wanita dari Negara Asia, memutuskan untuk berlibur ke Negara terpencil di bagian timur tengah, hanya untuk bisa melupakan Mantan pacarnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Yang dia pikir hanya akan mendapatkan pengalaman baru, tapi ternyata malah menemukan pasangan hidupnya, seorang pria pemilik kafe.
Walau begitu, wanita dari Asia itu tidak mengetahui bahwa pria tersebut, merupakan seorang penerus atau Pangeran mahkota di negara itu.
bisa dikatakan, di buang batu jalanan, malah dapat pengganti batu zamrud di negara asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Singkatnya, di pagi hari, perjalanan Tiffany pun dimulai. Ia diantar oleh ibu dan ayahnya, serta temannya Alfero, ke bandara.
"Kamu yakin akan membohongi orang tuamu? Kamu bilang kamu akan pergi ke kota A, tapi nyatanya kamu akan keluar negeri, Tiffany? Aku rasa ini salah," bisik Alfero mencoba menasehati Tiffany, pada saat orang tuanya sedang sibuk membeli tiket ke kota A. Mereka ingin memastikan Tiffany berangkat ke kota tersebut, tanpa mengetahui Tiffany sudah menyimpan tiket yang lain.
"Diamlah! Aku meminta kamu datang untuk membantuku agar bisa bebas dari tahanan orang tua ku! Jangan membuat masalah," balas Tiffany yang berdiri di samping Alfero, menunggu ibu dan ayahnya mengurus semua transportasinya. Alfero yang diancam, tentu saja hanya bisa menghela nafas panjang dan mengikuti Tiffany, membohongi paman dan bibinya.
Hubungan Alfero dan Tiffany cukup dekat. Mereka adalah sepupu dari keluarga ibu. Karena keluarga ibu semua orang notabennya memiliki sifat yang lembut, Alfero juga seperti itu. Itulah sebabnya ia tidak bisa melawan sepupu perempuan yang ia sayangi itu.
Perselisihan mereka berubah menjadi harmonis saat mereka melihat Damon dan Zahra berjalan menuju mereka. "Ibu, apa sudah selesai?" tanya Tiffany sambil tersenyum.
"Iya, putriku. Ini, adalah paspor mu. Kamu harus berhati-hati di sana, selalu hubungi ibu, dan cepatlah kembali," ucap Zahra, memberikan kartu paspor milik Tiffany kepadanya, dan menahan air mata agar tidak terjatuh.
"Aaah, ibu... Aku janji akan selalu mengabari ibu dan ayah! Oh, iyah, sepertinya Alfero ingin pergi bekerja. Ayah dan ibu seharusnya membawa pulang Alfero sebelum dia terlambat. Jangan khawatirkan Tiffany, Tiffany bisa jaga diri di sini, karena Tiffany sudah terbiasa untuk bepergian," ucapnya cepat sambil memandang wajah Alfero dengan tatapan tajam.
"Iyakan, Alfero?" tanya Tiffany lagi dengan nada menekan.
"A-a, benar, bibi. Saya hampir terlambat. Tapi jika bibi dan paman masih ingin bersama Tiffany, saya bisa balik sendiri," ucapnya gugup.
"Alfero!" teriak Tiffany melebarkan matanya karena Alfero tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
"Ibu, kasihan Alfero. Ia sepertinya merasa tidak enak hati merepotkan ibu dan ayah. Bagaimana ini?" sambung Tiffany lagi.
"Tidak... aaakkkh!" Belum Alfero berkata lagi, Tiffany diam-diam mencubit perut Alfero dari samping.
"Haaah, baiklah. Ayah dan ibu akan pergi sekarang. Tidak enak jika membiarkan Alfero pergi sendiri. Kamu hati-hati, yah? Jangan membuat masalah, dan jangan mengingat pria brengsek itu lagi. Ayah menyayangimu, putri ayah," ucap lembut Damon, dan langsung memeluk tubuh putrinya, dan memberi kecupan hangat di kening Tiffany. Tidak lupa juga Damon memeluk istrinya, yaitu Zahra. Kebiasaan Damon, jika ia sudah memanjakan putrinya, Zahra juga harus merasakan kehangatan itu.
"Ibu juga menyayangimu, hati-hati, sayangku," ucap Zahra mencium lembut kedua pipi Tiffany.
Sementara ketiga keluarga yang sedang meluangkan kehangatan sesaat, Alfero diam-diam berteriak di hatinya menahan sakit di perutnya sehabis dicubit oleh Tiffany. Akhirnya, mereka berpisah. Tiffany memberikan lambaian tangan kepada mereka bertiga saat jarak mereka sudah jauh, sampai ketiga orang tersebut sudah tidak kelihatan.
Tiffany dengan cepat mengganti tujuan perjalanannya menuju kota Aladin yang dia impikan, secara sembunyi-sembunyi dari keluarganya. Tiffany benar-benar anak yang nakal. Tiffany yang sering dimanja karena dia merupakan anak tunggal, tidak memiliki rasa takut dimarahi oleh orang tuanya. Ia dengan nekat keluar negeri sendirian tanpa izin dari Damon dan Zahra. Dan yang hanya mengetahui hal tersebut hanyalah Alfero, sepupu laki-laki yang suka ditindas oleh Tiffany.
Akhirnya, pada jam 08.30 pagi, ia berhasil lepas landas. Waktu yang dihabiskan di dalam pesawat hanya untuk makan, tidur, dan bermain game kesukaannya. Perjalanannya juga memakan waktu 7 jam lamanya. Ia berharap tidak akan terjadi apa-apa karena membohongi kedua orang tuanya. Tanpa ia ketahui, tindakan ini akan membawanya ke dalam sebuah kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan.
Sesampainya ia di bandara ibu kota negara tersebut, ia harus menempuh perjalanan lagi menggunakan sebuah angkutan yang memakan waktu sekitar 1 jam. Di dalam sana, banyak sekali orang-orang berkulit sawo matang dan eksotis, ibu-ibu, anak-anak, dan pria. Mereka berpenampilan sangat berbeda dengan orang-orang yang berada di kotanya. Ada yang menggunakan selendang menutup kepala bagi perempuan dan pria menggunakan kopiah bercorak terang di atas kepala mereka. Dan hanya dia di sana yang berkulit putih terang, dia yang terlihat berbeda karena hanya menggunakan baju polos dan celana jeans panjang.
Ia cukup merasa takut, tapi ada rasa menantang yang belum pernah dirasakan oleh Tiffany. Ia juga mencoba berbicara dengan orang-orang tersebut, dan mereka cukup ramah terhadap Tiffany. Mereka bisa menggunakan bahasa asing yang Tiffany juga bisa pakai, membuat Tiffany sedikit merasa tenang. Semua orang yang berada di dalam bis tersebut juga memiliki tujuan yang sama dengannya, pergi ke kota Aladin. Tujuan mereka adalah untuk berdagang karena di sana tempatnya cukup makmur dibandingkan di kota mereka tempati.
Semasa perjalanan, Tiffany hanya melihat gurun pasir dan pohon kaktus. Sering juga melihat kuda dan unta berkeliaran di kota tropis itu. Pemandangan yang baru pertama kali dilihat oleh Tiffany membuat Tiffany sedikit melupakan masalah hidupnya.
...----------------...
Sementara itu, di kantor tempat Tiffany bekerja, Alfero sedang dihadang oleh Ray dan Tania. Mereka menanyakan keberadaan Tiffany karena mereka ingin meminta maaf kepada Tiffany. Jika tidak, mereka akan dipecat karena tidak ada lagi yang suka kepada mereka di kantor, sehingga pekerjaan menjadi terhambat.
"Di mana Tiffany, Alfero?" tanya Tania di ruang kerja Alfero.
"Dia sudah pergi. Kalian tidak akan menemukan anak itu lagi," ucap Alfero acuh, sambil memainkan komputer kerjanya.
"Apa katamu? Apa dia sudah mati?" celetuk Ray, membuat Alfero yang tadinya biasa saja sekarang tanduknya mulai naik.
"Hey, brengsek! Yang ku katakan Tiffany sudah pergi, bukan pergi ke alam lain! Kamu sumpahin sepupuku mati, ha!" ketus Alfero, berdiri dari kursi kerjanya, memasang dada di hadapan Ray.
"Tidak. Bukankah kamu yang mengatakannya tadi? Maafkan aku, tenangkan dirimu dulu, Alfero. Kita berdua akan pergi dari sini. Beritahukan aku jika kamu sudah tenang," ucap Ray gugup, langsung kabur dari sana, sambil menarik tangan Tania. Dengan cepat, mereka berdua meninggalkan Alfero.
"Cih! Kamu sudah pergi, tapi kenapa masih menyusahkan aku, sih, Tiffany? Sungguh sial bersaudaraan denganmu," ketus Alfero, kembali duduk di kursi kerja miliknya.
...---------------...
"Huaacim!!!" bersin Tiffany, sambil menggosok hidungnya.
"Ya ampun? Apa kamu sakit, nak? Bertahanlah, kita hampir sampai," ucap seorang ibu, yang sedang menggendong seorang bayi perempuan.
"Haha, tidak apa-apa, bibi. Sepertinya, saya belum terbiasa dengan cuaca di sini," ucap Tiffany cepat.
Dan benar saja, kota Aladin mulai terlihat di pandangan mereka. Tiffany begitu antusias saat melihat kemegahan gerbang utama di kota tersebut. Pada saat sang supir berbicara dengan prajurit penjaga gerbang, Tiffany menyimak mereka menggunakan bahasa yang tidak dipahaminya sama sekali.
Dan setelah beberapa menit supir tersebut berbicara dengan penjaga gerbang, gerbang pun mulai terbuka lebar, dan kendaraan yang Tiffany naiki pun bisa masuk ke dalam kota Aladin.
...********BERSAMBUNG********...
kan memank begitu status kalian Fany...
Ashan sudah memintamu pada keluarga mu di telpon tempo hari...
jangan kasi peluang untuk mereka mengganggu Tiffany...
apalagi Cindy untuk mendekati mu...
jadi ingat pelakor aku kk 😆😆😆🙏🙏🙏
lanjut up lagi thor
Tiffany aja manggil Ashan tanpa embel2 pangeran,masa kamu masih panggil Nona...panggil nama aja lebih akrab nya
udah pangeran,brondong pula 😍😍😍