NovelToon NovelToon
365 Day

365 Day

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Murni
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.

Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Dan kini setelah ia kembali dibawa ke villa tersebut Embun kembali hidup dalam penjara cinta nya Alfaro yang sampai saat ini masih belum datang ke sana.

Alfaro bahkan seperti tidak pernah peduli lagi pada Embun yang kini tengah menunggu kedatangan nya untuk membahas soal apa yang harus dia lakukan selama dia menjadi istrinya.

Embun masih menunggu hingga hampir satu bulan lamanya namun pria itu tidak kunjung datang menghampiri dirinya di villa tersebut meskipun dia hidup dalam kemewahan dan semuanya serba tercukupi tapi satu hal yang tidak pernah Embun dapatkan yaitu kepastian.

Sampai suatu ketika Alfaro datang kesana tanpa adanya asisten pribadi atau sopir yang menemaninya Alfaro langsung menghampiri Embun yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan bathrobe.

"Kau sangat cerdas sayang aku sudah sangat merindukan mu selama ini."ucap Alfaro yang langsung mendekap erat Embun yang kini menahan keterkejutannya itu.

"Aku belum pakai baju Al."lirih Embun.

"Untuk apa pakai baju, toh kita akan bermain semalaman babe."ucap Alfaro yang kemudian meraup bibir manis yang sudah menjadi candu baginya itu.

"Al."lirih Embun saat ciuman itu terlepas.

"Ada apa hmm... katakanlah."ucap Alfaro.

"Al apa aku boleh lanjut bekerja atau mencari pekerjaan?"ucap Embun ragu.

"Kamu boleh minta yang lain Embun tapi tidak untuk itu karena semua kebutuhan mu aku yang penuhi."ucap Alfaro.

"Tapi setelah kontrak itu berakhir aku tidak punya apapun untuk melanjutkan hidup."ucap Embun.

"Kita lihat saja nanti, mulai besok kita akan pindah ke apartment."ucap Alfaro.

"Kenapa bukan rumah biasa saja aku tidak suka tinggal di tempat seperti itu, lebih baik tinggal di kontrakan petakan daripada harus tinggal di tempat seperti itu.*ucap Embun yang menolak untuk kembali terkurung di gedung bertingkat seperti itu.

"Aku pikirkan nanti tapi itu adalah tempat terdekat dari kantor.*ucap Alfaro.

"Hmm... tapi aku tidak nyaman tinggal di tempat seperti itu apalagi tidak punya tetangga untuk bersosialisasi."ucap Embun yang tidak lagi diberi kesempatan untuk bicara karena Alfaro sudah meraup bibir manis itu hingga bathrobe itu terlepas dari tubuh Embun yang polos dan semakin membuat Alfaro terbakar nafsu untuk segera merengkuh nikmatnya madu cinta itu.

"Eum....ah... Al."lirih Embun yang kini tengah dibuat melayang oleh pria tampan yang terkadang arogan yang selama ini ia benci itu.

"Berteriak lah babe, aku suka itu."ucap Alfaro yang juga telah diselimuti oleh kabut gairah.

Hingga akhirnya percintaan itu terjadi berulang kali Alfaro tidak pernah memperlakukan Embun dengan kasar atau pun seperti wanita ja*ang di luar sana yang diminta untuk memuaskan dirinya.

Sejak awal mereka bercerita Alfaro lah yang selalu bekerja keras meskipun segala posisi telah ia coba dan Embun tidak mengeluh karena hal itu meskipun rasa benci itu masih mendominasi tapi dia tidak bisa menolak kenikmatan yang diberikan oleh Alfaro.

"Istirahat lah babe, aku mencintaimu."ucap Alfaro yang kini membuat Embun memejamkan mata karena Alfaro tetap memperlakukan dia dengan penuh kasih meskipun hati Embun berusaha keras untuk menolak itu.

Hingga akhirnya mereka berdua terlelap dalam tidurnya dan Alfaro masih mendekap Embun.

Alfaro sendiri baru bisa tidur dengan tenang dan nyenyak saat dekat dengan Embun tapi itu tidak akan selamanya karena pertunangan antara dia dan gadis yang dijodohkan dengan nya saat ini akan berakhir tepat saat perjanjian pranikah dengan Embun selesai.

Sementara itu tuan Nelson tidak berhenti melakukan pencarian terhadap putri bungsunya itu secara diam-diam.

Hatinya semakin dihantui rasa bersalah karena saat ini putrinya tidak ada di rumah dan dia tidak bisa memperhatikan kondisi nya meskipun selama ini ia tidak pernah memberikan nafkah yang baik dan hanya bisa memastikan bahwa dia bisa makan dan berpakaian rapi meskipun itu adalah pakaian bekas putri pertamanya.

Dia tidak berdaya karena sesuai perjanjian di awal dia bisa bertanggung jawab untuk menikahi delima tapi dia tidak akan bisa memberikan nafkah batin atau lahir selain makan selebihnya istri pertamanya yang lebih berkuasa untuk menentukan semuanya.

Sebagai laki-laki tuan Nelson pun merasa tidak berguna karena tidak bisa memberikan nafkah pada anak istrinya yang lain tapi setidaknya dia masih bisa memastikan mereka hidup dengan baik meskipun dalam kekurangan.

Kembali pada Embun dan Alfaro yang kini sudah mandi bersama dan Embun membantu laki-laki itu untuk bersiap dengan pakaian formal seperti biasanya karena Alfaro jarang menggunakan pakaian santai.

Setelah semua terpasang sempurna di tubuh Alfaro yang semakin terlihat gagah dan tampan itu, Embun pun langsung mengurus dirinya yang kini sudah tampil cantik meskipun hanya menggunakan makeup sederhana ala dirinya yang tidak pandai untuk berdandan seperti wanita lainnya.

"Sudah siap ayo kita pergi."ucap Alfaro.

"Tapi barang-barang ku?"ujar Embun.

"Ada orang yang akan mengurus semuanya itu, kamu tidak perlu repot-repot memikirkan semuanya."ucap Alfaro yang kini merangkul pinggang Embun yang hanya membawa tas tangan miliknya.

"Rumah seperti apa yang kamu inginkan?"tanya Alfaro yang kini berjalan di samping Embun.

"Rumah yang sederhana dan asri, itu sudah cukup."ucap Embun yang tidak bisa menolak untuk menjawab seperti yang dikatakan oleh Alfaro.

"Hmm... mulai besok kamu bisa bersikap seperti layaknya istri yang memiliki kewajiban untuk mengurus suami."ucap Alfaro.

"Baiklah."ucap Embun yang kini hanya bisa menghela nafas pelan dan masuk kedalam mobil saat Alfaro membukakan pintu untuk nya.

"Kita akan melihat rumah seperti apa yang kamu inginkan, hari ini hingga sore aku tidak ada kegiatan jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin."ucap Alfaro seakan memberitahu Embun bahwa dia hanya miliknya seharian penuh.

Sesampainya mereka di tempat jual beli rumah Embun pun disuruh memilih rumah yang dia inginkan hingga akhirnya pilihan nya jatuh pada rumah seharga empat miliar, karena hanya rumah itu yang termurah lagipula itu bukan untuk dirinya sendiri dia juga tidak berharap bahwa rumah itu akan menjadi miliknya karena dia cukup tau diri tentang siapa dirinya saat ini.

Rumah dua tingkat yang tidak terlalu luas dan desain interior nya cukup menarik, tidak hanya itu ada taman kecil di depan rumah disamping carport rumah nya dan taman belakang yang cukup luas dari yang depan disana menyatu dengan ruang makan terbuka yang sangat nyaman.

Meskipun tidak ada kolam renang ataupun fasilitas gym, tapi setidaknya ada ruang kosong untuk dijadikan tempat untuk berolahraga dan alat olahraga seperti treadmill dan beberapa alat olahraga lainnya bisa muat disana.

Dan yang terpenting adalah kamar utama yang ada di lantai dua itu cukup besar dan view nya menghadap ke lapangan golf yang luas.

"Saat ini juga kamu bisa tentukan barang-barang apa saja yang kamu inginkan untuk mengisi rumah ini."ucap Alfaro yang memberikan handphone nya pada Embun yang kini memperlihatkan toko furniture online yang terbaik.

"Kamu saja yang tentukan Al."ucap Embun.

...🏚️🏚️🏚️...

"Al mau makan apa?"tanya Embun saat mereka tengah berada di supermarket untuk mengisi kebutuhan dapur setelah memastikan seluruh perabotan rumah komplit.

Alfaro yang sibuk dengan handphone nya sambil mengikuti langkah Embun yang kini mendorong troli belanja sambil melihat bahan makanan apa saja yang harus ia beli.

"Aku tidak pilih makanan asal itu tidak beracun dan masih lazim untuk dimakan, sebaiknya kamu belanja kebutuhan rumah yang sesuai untuk kita berdua."ucap Alfaro yang akhirnya membuat Embun merasa lega karena itu akan memudahkan dirinya untuk berkreasi.

Dia membeli bumbu dapur dengan sangat komplit dan tidak ada yang terlewat, aneka seafood, daging dan telur sudah masuk kedalam satu troli. Dan kini dia tengah belanja sayur dan buah.

Tidak hanya itu ada juga Frozen food dan minuman kaleng dan lainnya yang biasa di minum oleh Alfaro jus buah dalam kemasan dan susu pun dia beli.

Semua kebutuhan dapur dan juga perlengkapan mandi sudah selesai ia beli, dan Alfaro hanya membayar saja berapapun itu.

Setelah lelah berbelanja mereka pun pulang dengan tanpa membawa barang belanjaannya karena semua diantar lebih dulu oleh jasa antar barang yang tersedia di supermarket tersebut.

"Aku masak dulu untuk makan siang kita, kamu bisa istirahat."ucap Embun yang kini sudah bersiap untuk pergi ke dapur, tapi tangan Alfaro menghentikan langkahnya.

"Babe aku menginginkan mu, semua untuk hari ini ada yang ngurus kita akan makan setelah selesai."ucap Alfaro yang tidak memberikan kesempatan pada istri kontrak nya itu untuk pergi.

"Eum..."Embun tidak bisa menolak itu, dia pun terpaksa harus melayani keinginan Alfaro yang kini membawa dia kedalam kamar mandi untuk bercinta di sana sekaligus bersih-bersih setelah berjam-jam berada di luar sana.

Alfaro dan Embun pun bercinta di dalam bathtub-e kini posisi Embun berada di atas, keduanya begitu larut dalam percintaan itu dan Embun lagi-lagi dibuat tidak berdaya dengan sentuhan memabukkan yang Alfaro berikan, hingga mereka selesai bercerita mereka pun kembali mandi bersama.

Embun sudah tidak memiliki tenaga lagi tapi dia tidak bisa berdiam diri saja hingga selesai membantu suami kontraknya itu berpakaian akhirnya mereka pun bergegas menuju meja makan.

Disana menu makan siang untuk mereka sudah terhidang, dan seorang wanita paruh baya yang terlihat berpakaian pelayan itu membereskan semua barang belanjaannya yang kini sudah sangat rapi di kulkas empat pintu yang baru saja datang di rumah tersebut.

Semua sudah tertata rapi dapur yang sangat mewah dan indah dari barang-barang yang Alfaro beli menjadikan rumah itu tidak lagi seperti rumah sederhana yang menjadi impian Embun.

"Ayo makan sayang setelah itu temani aku istirahat sebelum nanti malam aku pulang."ucap Alfaro yang kini membuat Embun terkejut.

Pulang, tapi bukankah Alfaro akan tinggal bersamanya itulah kenapa dia kemarin bilang harus bersikap layaknya istri yang mengurus suami.

"Dia tidak tinggal di sini, tapi sesekali kamu bisa memanggil dia jika butuh bantuan untuk mengurus rumah ini."ucap Alfaro lagi.

"Tidak apa-apa Al aku bisa mengurus semuanya sendiri setelah ini, tapi kamu tinggal dimana untuk apa beli rumah ini jika kamu tidak tinggal di sini?."ucap Embun bertanya.

"Itu bukan urusan mu sayang, aku tinggal dimana pun aku bebas, dan alasan ku membeli rumah ini, karena aku tidak ingin pindah-pindah tempat saat aku menginginkan mu nantinya. Mungkin sesekali aku akan pulang dan menginap disini tapi tidak setiap hari."ucap Alfaro yang cukup menegaskan bahwa Embun hanyalah partner ranjang nya saja.

"Hmm..."lirih Embun.

"Makanlah yang banyak agar tenaga mu pulih kembali."ucap Alfaro yang kini mengusap punggung tangan Embun yang terlihat melamun.

"Ya Al."balasnya lirih.

Embun dan Alfaro pun makan siang bersama sampai mereka selesai makan Alfaro sesekali menatap wajah cantik yang kini terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Sudah selesai bukan, ayo temani aku istirahat."ucap Alfaro yang kini menggenggam tangan Embun membawanya menuju ruang santai yang ada di lantai dua tidak jauh dari kamar utama.

"Mulai saat ini dan seterusnya kamu bisa menikmati hidup mu disini."ucap Alfaro.

"Al, mungkin ini terdengar tidak tau diri, tapi bolehkah aku meminta mu untuk menyediakan bahan dan mesin jahit untuk mengisi kekosongan ku, aku akan memanfaatkan waktu ku untuk mengasah bakat ku."ucap Embun.

"Baiklah tapi ingat aku tidak suka jika kamu masih bekerja saat aku datang."ucap Alfaro.

"Terimakasih Al."ucap Embun sambil tersenyum manis dan senyuman itu membuat Alfaro kembali menginginkan wanita yang sudah menjadi candu baginya dan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Percintaan itu terjadi untuk kesekian kalinya di ruang bersantai hingga kamar utama yang baru mereka tempati itu, kini keduanya tengah terlelap dalam tidurnya hingga saat alarm handphone Alfaro berbunyi pria itu langsung bangkit dan bergegas membangunkan Embun.

"Sayang aku harus pulang, kamu tidak perlu bantu aku sekarang istirahat lah."ucap Alfaro lembut.

Dia buru-buru memasuki kamar mandi dan membersihkan diri tapi Embun tetap bangun dan menyiapkan baju ganti untuk Alfaro gunakan.

"Al tidak makan malam dulu, ini belum terlambat bukan?"tanya Embun yang kini terlihat gusar.

"Aku buru-buru sekarang aku harus menghadiri acara makan malam keluarga, kamu makan sendiri saja ya sayang mungkin bibi sudah buat makan untuk mu sebelum pulang tadi."ucap Alfaro lembut.

"Hmm..."lirih Embun yang kini menatap kearah Alfaro yang tengah ia bantu berpakaian.

Entah kenapa hati Embun merasa tidak ingin pria itu pergi padahal dia masih belum bisa memaafkan Alfaro yang dulu sering menindas dirinya bersama keempat kakak tirinya itu.

"Aku pergi dulu sayang, kamu hati-hati di rumah jangan lupa istirahat yang cukup agar kamu tetap sehat."ucap Alfaro yang kini mengecup bibir Embun kemudian mengecup kening wanita cantik itu.

"Tidak usah mengantar ku sayang kamu sebaiknya mandi dulu lalu makan malam, besok akan ada orang yang mengantar semua barang pesanan mu."ucap Alfaro yang kini berlalu dengan kunci mobil di tangan nya.

1
partini
berbakti pada orang tua tapi bikin orang lain sengsara hah ada gitu yah apa itu ga dosa ,busehhhhh gampang amat
ajaran dari mana itu ????????
Erny Su: Itulah ciri-ciri orang yang keliru.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!