NovelToon NovelToon
ALIKA ( Anak Yg Tak Diinginkan )

ALIKA ( Anak Yg Tak Diinginkan )

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cerai / Janda / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Alika adalah seorang anak perempuan yg sangat tangguh dan kuat.. Alika seorang anak hasil perkosaan dari sepupuan satu keluarga.. Ibunda alika adalah seorang wanita cantik bunga desa yang disukai oleh banyak pria.. Hanya saja nasib malang menimpanya saat malam disaat semuanya sedang pergi ke acara undangan pernikahan dirumah hanya tinggal seorang wanita dan pria berdua saja.. Ibunda alika bernama Ema Sodara sepupu Ema bernama Zhali Zhali sangat menyukai ema dari dulu.. Karena meraka hanya berdua saja dirumah zhali punya fikiran ingin memiliki ema.. Akhirnya malam yang cekam itupun membuat zhali khilaf telah memperkosa ema.. Setelah beberapa bulan perut ema semakin membesar tanpa dirinya sadari karna ema wanita yang sangat polos dan lugu hingga dia tidak tau dirinya sedang berbadan dua..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERSELINGKUHAN MASHUR

​Hari-hari berlalu. Nenek Iffah semakin menyayangi Alika. Perbedaan antara Alika dan Anindia memang sangat jauh. Anindia adalah anak yang pendiam, lembut, dan sangat penurut, sementara Alika adalah anak yang aktif, mudah bergaul, dan cerewet. Hampir semua orang menyukai Anindia yang kalem dan pendiam.

​Keluarga Ema hanya tinggal satu tahun di rumah Nenek Iffah. Mashur juga ikut pulang ke Indonesia dan tinggal bersama. Mashur mengambil cuti kerja enam bulan di Turki karena Kakek Zhafar sudah membeli dan merenovasi rumah di Indonesia.

​Satu keluarga besar itu pun pindah ke rumah baru di kota, agar lebih dekat dengan jalan raya dan akses ke mana-mana. Rumah itu sangat megah dan mewah, dengan halaman teras yang luas dan enam kamar. Ada satu ruang TV, satu ruang makan, dan ruang kumpul keluarga, serta garasi mobil.

​Setelah kepindahan keluarga, Mashur kembali berangkat ke Turki karena waktu cuti enam bulannya sudah habis. Kini, sudah dua bulan Tholib dan Mashur berada di Turki. Tibalah saatnya Kakek Zhafar pulang ke Indonesia, menikmati hasil jerih payahnya selama ini.

​Sudah empat minggu Kakek Zhafar berada di Indonesia. Rumah kakek sangat ramai. Anak-anak bermain dengan riang. Tiba-tiba hari sudah malam dan sudah waktunya makan malam. Kakek Zhafar mengajak semuanya untuk makan malam di luar. Tak lama setelah selesai, mereka kembali ke rumah. Sudah waktunya untuk istirahat malam.

​Namun, baru beberapa minggu di Indonesia, Kakek Zhafar harus berangkat lagi ke Turki karena ada masalah rumit di sana.

​Saat semuanya tidur, telepon dari Turki berdering pukul 2 pagi.

​KRIING! KRIIING! KRIING!

​"Halo, Assalamualaikum," Kakek Zhafar menerima telepon itu dengan wajah datarnya.

​"Waalaikumsalam, Abah. Bagaimana kabar Abah? Sehat?" Tanya penelpon dari Turki dengan suara dingin.

​"Alhamdulillah, Abah sehat! Bagaimana kabarmu dan bagaimana kabar pabrik di Turki?" Tanya Abah, sembari duduk di sofa dan menyandarkan dirinya.

​"Alhamdulillah, aku baik, Bah! Cuma kabar pabrik kurang baik, Bah," jawab Tholib dengan mengusap wajahnya kasar.

​"Ada apa dengan pabrik? Apa ada masalah?" Tanya Kakek panik, sembari menegakkan tubuhnya.

​"Kaki tangan kesayangan Abah sudah mulai berbuat curang, Bah," sahut Tholib di seberang telepon.

​"Maksud kamu bagaimana?" Tanya Kakek, tak mengerti maksud anaknya.

​"Fawaz, asisten Abah, sudah mulai bekerja sama dengan penghuni asli Turki. Akhirnya, ada pengawas pemerintah Turki datang melakukan pemeriksaan pabrik. Pabrik dipaksa untuk tutup karena ilegal!" Jelas Tholib panjang lebar, berdiri di samping nakas.

​"APAAAH..! Lalu bagaimana kondisi pabrik sekarang?" Tanya Kakek panik, sembari mondar-mandir di depan nakas tempat dirinya menelpon.

​"Abah harus segera berangkat ke Turki! Karena minggu depan akan ada penyitaan berkas untuk menutup pabrik!" Jelas Tholib, yang juga ikut panik dengan mondar-mandir.

​"Baiklah, Abah akan segera berangkat ke Turki! Pagi ini juga Abah berangkat ke Jakarta untuk perpanjang visa!" Ujar Kakek tegas dengan wajah dingin dan mata membulat tajam.

​"Baiklah, Bah, kalau begitu! Aku tutup dulu teleponnya. Akan kutunggu kedatangan Abah segera! Jaga kesehatan, Bah, ya? Assalamualaikum," ucap Tholib.

​"Waalaikumsalam!" Sahut Kakek dan menutup teleponnya dengan napas terengah.

​Nenek, Ema, dan Selfi bangun dari tidurnya karena mendengar suara Kakek yang sangat keras saat berbicara dengan Tholib. Kakek panik, lemas, dan bingung. Baru saja pulang ke Indonesia, sudah ada masalah seperti ini. Ini berurusan dengan satu usaha yang sudah ia bangun dari nol. Kakek mulai berpikiran negatif, takut pabrik ditutup dan bangkrut. Dari mana lagi ia akan mendapatkan penghasilan? Usaha satu-satunya untuk membahagiakan keluarganya harus kandas? Haruskah bangkrut begitu saja karena kecurangan asistennya yang sudah sangat dipercaya bertahun-tahun?

​Tak butuh waktu lama, Kakek mengambil koper dan menyuruh Nenek Iffah menyiapkan pakaiannya.

​"Siapkan semua baju kamu dan aku ke dalam koper!" Titah Kakek pada Nenek Iffah.

​"Baju untuk ke mana, Bah? Ke Turki atau ke Jakarta?" Tanya Nenek Iffah dengan wajah kebingungan.

​"Bawa semua baju! Kita ke Jakarta perpanjang visa, tidak lama. Setelah selesai, kita langsung berangkat ke Turki!" Ucap Kakek, masih dengan tatapan tajamnya menuju ke satu arah tanpa menoleh kepada siapapun.

​"Kita? Aku ikut Abah lagi ke Turki?" Tanya Nenek Iffah memastikan.

​"Iya, kamu ikut Abah ke Turki! Terkadang jika pikiranku buntu, kamu yang punya ide jenius! Siapkan semuanya, jangan sampai ada yang tertinggal! Biarkan anak-anak tinggal di rumah ini! Aku tunggu di ruang tengah!" Titah Kakek dan langsung beranjak ke ruang tengah dengan langkah tegas.

​"Baiklah jika itu mau Abah! Aku bereskan dulu," sahut Nenek Iffah sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya.

​Ema dan Selfi bingung melihat situasi yang mendadak seperti ini. Selfi, yang sudah lulus kuliah dan ikut menetap di rumah itu, akhirnya memulai pertanyaan.

​"Abah mau berangkat lagi ke Turki?" Tanya Selfi dengan wajah sedihnya.

​"Iya, terpaksa Abah harus ke Turki lagi, meninggalkan kalian lagi di sini! Abah harus memperbaiki keadaan pabrik dulu. Tholib anak muda tidak begitu pengalaman soal pabrik. Baru diserahkan sebentar saja sudah ada kasus seperti ini, apalagi jika Abah angkat tangan?" Sahut Abah menjelaskan pada Selfi sembari menepukkan tangannya di atas sandaran sofa.

​"Apakah Abah akan tinggal lama lagi di Turki?" Tanya Selfi, yang sedih karena harus berpisah lagi dengan orang tuanya.

​"Ya, jika kasus tidak mudah diatasi, mungkin Mama kamu dan Tholib yang pulang ke Indonesia! Abah akan menetap di Turki!" Sahut Abah, masih dengan wajah datarnya dan memberi pengertian pada anak ketiganya itu.

​"Abah sudah tua! Aku ingin Abah tinggal di sini lama. Aku masih sangat rindu sama Abah," ujar Selfi yang masih ingin bersama ayahnya.

​Abah semakin sedih mendengar Selfi berkata seperti itu. Abah memeluk Selfi erat, tak terasa hingga meneteskan air mata. Ema hanya bisa menatap mereka berdua dengan perasaan sedih. Ema ingin mendekat, takut didiamkan oleh Abahnya, karena dulu Ema sudah membuat Abahnya kecewa.

​"Ema! Sedang apa kamu di situ? Sini, duduk bersama Abah! Abah mau menyampaikan sesuatu," titah Abah dengan melambaikan tangannya, memberi kode pada Ema agar menghampirinya.

​"Iya, Bah!" Sahut Ema sambil melangkahkan kakinya menuju sofa yang diduduki oleh Abahnya.

​"Ema! Abah titip adik-adikmu yang masih sekolah. Dan Abah titip rumah ini! Dijaga baik-baik. Apa perlu menambah satu asisten lagi?" Ujar Abah dan menanyakan tujuannya pada Ema.

​"Tidak usah, Bah! Biar Atun saja sudah cukup! Pekerjaan yang lain kami bisa mengerjakan sendiri. Biar nanti Atun yang akan kami suruh mengurus kebutuhan Naswa dan Hamid," sahut Ema dengan wajah sendunya, mengerti dengan keadaan Abahnya sekarang.

​"Baiklah kalau itu maumu! Nanti Abah kasih uang belanja untuk kebutuhan adik-adikmu," ujar Abah, masih dengan wajah datarnya menahan emosi dan kecewa yang sangat dalam.

​"Iya, Abah! Ema mau tanya, bagaimana kabar Mashur di sana?" Tanya Ema dengan ekspresi malu-malu.

​"Suamimu baik-baik saja! Dia bekerja di bagian pengiriman, jadi tidak ada masalahnya dengan kasus ini. Apa kamu rindu dengan suamimu?" Tanya Abah yang mengerti maksud anak pertamanya itu.

​"Tidak! Aku lebih suka dengan keadaan tanpa suami seperti ini!" Sahut Ema ragu, karena dirinya masih belum bisa mencintai suaminya sampai sekarang.

​"Yah, baiklah! Kamu akan menitipkan apa untuk suamimu?" Tanya Abah, sedikit melirik ke arah Ema yang duduk di seberang sofa sebelah kiri.

​"Titip salam saja, Bah, untuk dia!" Sahut Ema yang spontan mengucapkannya hingga membuat Abah terkekeh.

​"Ha ha ha ha! Emaaa.. Ema! Kamu memang tetap lugu dari dulu, tidak pernah berubah!" Ujar Abah terkekeh.

​"Abah bisa saja! Hehehehe," sahut Ema tersipu malu dengan jawaban Abahnya.

​Perbincangan pun selesai setelah Nenek keluar dari kamar bersama ART yang sudah membantu Nenek membereskan pakaiannya di dalam koper. Hari sudah Subuh. Waktunya Abah dan Nenek pergi ke stasiun kereta untuk berangkat ke Jakarta.

​"Abah dan Mama tidak sarapan dulu?" Tanya Ema, menatap kedua orang tuanya secara bergantian.

​"Tidak usah..! Di kereta banyak makanan, kita bisa beli makanan di kereta! Ini masalah waktu agar cepat sampai dan berangkat ke Turki..!" Sahut Abah sambil memeluk bahu istrinya dengan mesra.

​"Abah dan Mama jaga kesehatan, ya..? Baik-baik di sana! Jangan telat makan..!" Ujar Ema memperingati kedua orang tuanya.

​"Abah tidak akan pernah telat makan selagi masih ada Mama di samping Abah..!" Sahut Abah sembari melirik ke wajah istrinya.

​"Iihhh Abah..! Lagi serius malah ngegombal..!" Ucap Ema mengerucutkan bibirnya dengan tersenyum simpul.

​"Ha ha ha ha ha..! Agar tidak ada ketegangan..! Ya sudah, Abah berangkat, ya..? Kalian jaga rumah dan adik kalian..! Kunci rumah jika hari sudah malam..!" Titah Abah dengan melangkahkan kakinya menuju taksi online yang sudah dipesan.

​"Iya, Abah..!" Sahut Ema mengikuti langkah orang tuanya menuju mobil yang sudah siap di depan pintu gerbangnya.

​Abah dan Nenek berangkat ke stasiun menggunakan taksi online. Setelah perjalanan panjang, mereka sampai di Jakarta dan Abah langsung pergi ke kedutaan untuk perpanjang visa dan berkas lainnya. Beruntung, mengurus visa tidak membutuhkan waktu lama. Hanya satu hari Abah sudah bisa berangkat ke Turki.

​Kemudian mereka pergi ke bandara untuk memesan tiket pesawat ke Turki. Tiketnya ada di waktu pemberangkatan jam 3 sore. Abah ke bandara jam 10 pagi, lalu Abah langsung bergegas pulang ke hotel, menjemput Nenek Iffah dan menyiapkan semuanya untuk ke bandara. Tak lama, kini waktu telah berlalu. Abah dan Nenek sudah sampai di bandara jam 2 siang. Mereka ingin makan siang terlebih dahulu. Perut mereka sudah sangat lapar karena hanya sarapan roti saja di pagi hari.

​Tak lama setelah selesai makan, pesawat sudah siap untuk lepas landas. Abah dan Nenek sudah duduk di kursi pesawat dengan tenang. Pesawat kini telah lepas landas. Mereka berdua sudah meninggalkan Indonesia. Hanya butuh satu hari untuk sampai di Turki.

​Tholib sudah menunggu Abah dan Mamanya di bandara untuk menjemputnya. Tak lama mereka akhirnya bertemu dan saling berpelukan untuk melepas rindu.

​"Bagaimana kabarmu, Nak?" Tanya Abah sembari memeluk Tholib dan menepuk bahunya.

​"Aku baik, Bah! Abah dan Mama bagaimana?" Sahut Tholib dan menanyakan kabar mereka dengan bergantian memeluk Mamanya.

​"Alhamdulillah kami sehat! Di mana mobilnya?" Tanya Abah dengan celingukan mencari mobil jemputan yang sudah disiapkan oleh Tholib.

​"Di sebelah sana, Abah! Ayo, Tholib bantu bawa koper Abah dan Mama!" Titah Tholib sambil menyeret koper mereka berdua.

​Setelah semuanya melangkah, kini mereka sudah berada di dalam mobil. Tholib yang menyetir, Abah di sebelah sopir, dan Nenek di kursi belakang. Mereka kini melakukan perjalanan menuju pabrik. Di sebelah pabrik adalah rumah kontrakan mereka.

​Setelah sampai rumah dan membuka pintu tanpa diketuk terlebih dulu—karena itu kebiasaan Abah—betapa terkejutnya Abah dan Nenek saat membuka pintu rumahnya.

​"MASHURRR..!!" Teriak Abah dengan mata membulat lebar, dengan tatapan tajam merah padam tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

​Tak disangka, menantunya itu sedang bercumbu dengan ART yang bekerja di pabrik. Abah yang begitu sangat terkejut mendadak jatuh pingsan, karena tak menyangka menantunya berani berselingkuh. Apalagi selingkuh dengan ART. Sangat memalukan sekali. Di pabrik, semuanya sudah tahu bahwa Mashur adalah menantu dari pemilik pabrik.

​Tholib akhirnya membawa Abah ke kamarnya, didampingi Nenek. Nenek yang bingung hanya bisa menangis.

​"Abah, bangun, Abah! Ingat, Abah ke sini untuk membuat pabrik stabil! Tidak usah pedulikan yang lain, itu hanya cobaan, Abah. Ayo bangun, Bah! Tholib, panggil dokter sekarang!" Teriak Nenek dengan air mata yang terus membasahi pipinya.

​"Iya, Mah!" Sahut Tholib, langsung berlari kecil menuju telepon yang berada di atas nakas.

​Tholib kini sedang menelpon dokter, dan alhamdulillah dokter sedang tidak ada pasien dan segera datang. Tholib yang emosi melihat Mashur ingin menghajar wajahnya habis-habisan. Tapi ia urungkan dan berpikir ulang karena Abahnya sedang terbaring lemah di atas kasur tak berdaya. Tholib mengurungkan niatnya dan kembali menuju kamar Abahnya.

​Tak perlu menunggu lama, dokter kini telah datang. Dengan cepat, dokter memeriksa keadaan Abah.

​"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" Tanya Nenek Iffah, masih dengan isak tangisnya.

​"Alhamdulillah keadaannya baik-baik saja! Beliau hanya syok saja! Besok juga akan membaik seperti biasanya!" Sahut dokter yang sudah memeriksanya dan mengeluarkan secarik kertas untuk memberikan resep obat.

​"Alhamdulillah!" Sahut Nenek merasa lega kala mendengar suaminya baik-baik saja.

​"Ini nanti diminumkan obatnya satu hari dua kali saja, saat bangun tidur dan saat mau tidur! Kalau begitu saya permisi dulu! Assalamualaikum!" Ucap dokter dan membereskan alat yang ia bawa dan melangkah pergi.

​"Waalaikumsalam! Terima kasih, Dok!" Ucap Nenek dan mengantar dokter menuju pintu.

​"Sama-sama!" Jawab sang dokter dan pamit pergi.

​Tak lama, Abah akhirnya sadar dari pingsannya. Nenek dan Tholib sangat lega. Abah mencari sosok Mashur, tapi sayangnya tidak ada. Mashur sudah kembali bekerja di pabrik seakan-akan tidak ada masalah.

​Namun, Abah menyuruh Tholib untuk memanggil Mashur, tapi Tholib menolaknya. Abah kembali menyuruh Tholib dengan nada tegas. Akhirnya Tholib menuruti perintah Abahnya. Setelah Tholib mencari Mashur, ternyata dia ada di pabrik.

​"Mashur! Kamu dipanggil Abah di kamarnya sekarang juga!" Panggil Tholib dengan nada menggelegar dan penuh emosi, membuat semua orang yang berada di sana menoleh ke arahnya.

​Mashur sudah menduga ini pasti akan terjadi. Namun, Mashur hanya pasrah saja. Jika disuruh menceraikan Ema pun, ia tak masalah. Toh Mashur tahu pabrik ini sebentar lagi akan hancur dan mertuanya akan bangkrut tanpa sisa. Jadi, sudah tidak ada lagi yang harus dipertahankan dengan Ema.

​Mashur menikahi Ema kala itu karena ingin menguasai harta sahabatnya. Mashur tahu Ema tidak pernah mencintai Mashur. Ema hanya menjalankan takdirnya dengan pasrah dan ikhlas, tapi tidak bagi Mashur. Mashur yang selalu mengharapkan cinta Ema dan hartanya tidak pernah dia dapatkan hingga sekarang. Dan Mashur akhirnya sakit hati. Untuk mengungkapkan rasa sakit hatinya, Mashur membalasnya dengan cara berselingkuh dengan para wanita kesepian di negeri orang.

​Tak lama, Mashur menghampiri mertuanya yang sedang terbaring lemah di kamarnya.

​Tok! Tok! Tok

"Boleh aku masuk?" Ucap Mashur yang hanya menunjukkan kepalanya sedikit.

​"Ya, masuk, Mashur! Aku sudah menunggumu dari tadi! Mah, bisa keluar sebentar?" Ujar Abah dengan nada datar dan dinginnya menahan emosi.

​"Aku ingin di sini saja! Jangan suruh aku keluar!" Sahut Nenek, masih duduk di samping Abah.

​"Ya sudah kalau begitu!" Ucap Abah, tak mau berdebat dengan istrinya. "Mashur! Apa hubunganmu dengan wanita itu? Dia seorang ART, Mashur?" Ujar Abah dengan nada sedikit berteriak, membulatkan matanya yang merah padam menahan rasa kecewanya.

​"Aku hanya ingin menghilangkan kesepianku saja, Bah!" Jawab Mashur dengan santainya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

​"Jika kamu membutuhkannya, kamu bisa pulang dulu ke Indonesia menemui istrimu, Mashur! Bukan dengan cara seperti ini! Ini sangat memalukan! Apalagi kamu melakukannya dengan asisten rumah tangga! Jangan merendahkan dirimu sendiri!" Ujar Abah panjang lebar menatap langit-langit atap rumahnya karena sudah kecewa dengan sahabat sekaligus menantunya.

​"Maaf! Aku hanya pria normal dan aku khilaf!" Sahut Mashur, sedikit tidak tulus meminta maaf pada ayah dari istrinya.

​"Hanya itu yang keluar dari bibirmu! Pulanglah ke Indonesia! Kasihan istrimu, dia sangat setia padamu, Mashur!" Titah Abah tanpa menatap wajah menantunya.

​"Ya, nanti akan kuurus semuanya," jawab Mashur, masih dengan nada santainya.

​"Aku dan istriku tidak akan mengungkit masalah ini lagi, apalagi di depan Ema. Jika kamu janji akan berubah, maka aku memaafkanmu!" Ujar Abah memberi peringatan pada Mashur agar tidak melakukannya lagi.

​"Iya! Akan kuusahakan. Aku permisi dulu untuk melanjutkan pekerjaanku," sahut Mashur dan izin pamit keluar dari kamar mertuanya.

​"Baiklah kalau begitu, silakan," ujar Abah, masih dengan wajah datarnya.

​Mashur akhirnya bergegas kembali ke pabrik. Dia sangat bahagia karena dia akan pulang bersama selingkuhannya dan akan menikah lagi di Indonesia. Dia ingin mengambil kesempatan selama Abah tidak ada di Indonesia. Semuanya sudah direncanakan dengan matang.

​Jika dibandingkan selingkuhannya dengan Ema, ya, lebih cantik Ema ke mana-mana. Ema masih muda dan cantik, sedangkan selingkuhannya itu usianya sepantaran dengan Mashur, gemuk, dan berwajah pas-pasan. Tapi, harta selingkuhannya itu luar biasa. ART itu mempunyai usaha tembaga di Indonesia, bahkan sudah banyak pesanan ke luar kota. Mashur tergiur akan harta dan usahanya yang berlimpah. Wanita itu janda beranak tiga. Ketiga anaknya adalah perempuan.

​Tak lama kemudian, semua berkas dan tiket pesawat sudah beres. Pulanglah Mashur dan ART itu. ART itu bernama Zalimah, biasa dipanggil Imah. Mereka berdua pulang bersama ke Indonesia. Setelah sampai di Bandara Jakarta, mereka berdua berpisah. Meskipun satu kota, tapi mereka menggunakan kendaraan masing-masing. Mashur menggunakan taksi online untuk pulang ke rumah Ema dan Imah menggunakan bus.

​Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, sampailah mereka berdua di rumah masing-masing. Ema yang tak tahu Mashur akan pulang sangat terkejut.

​"Assalamualaikum," ucap Mashur melangkahkan kakinya masuk tanpa mengetuknya lebih dulu.

​"Waalaikumsalam," semuanya serentak, termasuk Alika dan Anindia.

​Anindia dan Alika pun berlari kencang melihat Abinya sudah pulang. Berbeda dengan Ema yang berjalan pelan menyambut suaminya dengan mencium tangannya saja.

​"Abbiii," teriak Nindia dan Alika berlari menghambur ke pelukan Mashur.

​Namun, sayang seribu sayang. Mashur hanya menyambut Anindia tanpa menghiraukan Alika yang juga berlari menghampirinya. Mashur menggendong dan memeluk Anindia. Alika yang menunggu giliran untuk dipeluk tak dipedulikan oleh Mashur. Mashur sangat tidak menyukai Alika. Mashur mengira Alika anak yang nakal dan susah diatur. Alika hanya celingukan menunggu pelukan sembari memainkan tangannya dan kaki yang digoyang-goyangkan seperti saat dirinya menari. Setelah ditinggalkan Mashur masuk ke dalam, Alika tetap berdiri pada tempatnya, melihat Mashur, Anindia, dan Ema berlalu begitu saja. Dengan wajah yang sedih dan kecewa, ingin menangis dan teriak sekencang mungkin. Tapi Alika anak yang kuat dan tegar. Tak dipedulikan sudah terbiasa bagi Alika.

​Ema menyambut suaminya dan menyiapkan makanan untuk suaminya makan malam. Mashur dan Anindia masih bergumul dengan bercanda di atas kasur. Alika hanya sibuk bermain sendiri bersama temannya di luar rumah, karena di rumah pun dirinya juga tak pernah dianggap ada.

​Sudah waktunya makan malam, Alika masih asyik bermain di luar bersama temannya. Ema memanggilnya untuk ikut makan malam bersama. Akhirnya, tak lama mereka kini telah selesai makan malam. Ema sibuk menidurkan anak-anaknya di kamar. Alika dan Anindia kini sudah terlelap bersama mimpinya.

​Tak disangka, kedatangan Mashur diberi kejutan yang luar biasa oleh Ema.

​"Abi, aku ingin bicara. Tapi jangan di sini. Kita bicara di kamar," titah Ema dengan menggandeng tangan Mashur untuk memasuki kamarnya.

​"Memangnya mau bicara apa?" Tanya Mashur menghentikan langkahnya dan melepas tangannya yang ditarik oleh Ema.

​"Sudah, ayo!" Titah Ema kembali menarik tangan Mashur hingga masuk ke kamarnya.

​"Ya, baiklah! Sekarang sudah di kamar! Kamu mau bicara apa?" Ujar Mashur dan kembali melepas tangannya yang digenggam oleh Ema.

​Tanpa basa-basi, Ema langsung memberikan test pack yang selama tiga bulan ini ia simpan di laci toilet-nya. Ema ingin mencoba membuka hati untuk suaminya itu. Saat memberikan test pack, Mashur begitu sangat terkejut. Mashur berpikir takut pernikahan dengan Imah akan gagal jika Ema mengandung lagi anak yang ketiga.

​"Apa ini, Ema?" Tanya Mashur dengan ekspresi yang tidak mengerti.

​"Aku sedang hamil anak kamu, Bi! Usia kandungannya sudah hampir empat bulan," ujar Ema dengan senyum lebarnya, antusias memberi kejutan untuk suaminya.

​"Hamil anak siapa kamu?" Tanya Mashur dengan tatapan curiga dan tak percaya jika istrinya telah hamil anaknya.

​Ema sangat terkejut dengan pertanyaan Mashur. Dia terdiam, membulatkan matanya, tak menyangka Mashur akan meragukan kehamilannya. Dan akhirnya.

​"PLAAAK!"

​Tangan Ema melayang menampar pipi Mashur dengan spontanitas. Tak kuasa menahan rasa sakit, air mata Ema pun mengalir deras bak air terjun tanpa henti.

​"Apa maksud kamu bertanya seperti itu? Kamu pikir aku wanita jalang yang mengumbar kehormatanku pada pria di luar sana, Hah! Aku selama bertahun-tahun menjaga kehormatanku dan setia padamu! Aku yang lelah mengurus anakmu dengan tulus dan sepenuh hati. Inikah balasanmu!" Ucap Ema dengan nada tingginya dan membulatkan matanya yang merah padam, dengan tajamnya menatap Mashur penuh rasa kecewa dan luka yang dalam di hatinya.

​"Aku tidak bermaksud menyinggungmu! Aku pergi sangat lama di Turki dan saat pulang tiba-tiba dapat kabar kamu sedang hamil anakku. Wajar 'kan aku terkejut?" Sahut Mashur sambil menyentuh pipinya yang panas setelah ditampar oleh Ema.

​"Apa kau lupa saat kau cuti kerja enam bulan kemarin, kamu di Indonesia? Dengan siapa lagi aku berhubungan jika bukan denganmu sebagai suamiku!?" Ujar Ema masih sangat emosi dengan pria yang ada di hadapannya itu.

​"Baiklah, maafkan aku jika pertanyaanku membuatmu sakit hati. Tapi Ema, aku ingin anak lelaki bukan perempuan lagi! Jika yang kamu lahirkan nanti adalah lelaki, aku akan sangat bahagia. Tapi jika kau nanti melahirkan anak perempuan lagi, maka... maka maafkan aku, aku akan menceraikanmu," ujar Mashur panjang lebar yang takut akan kehilangan Imah dan tak bisa memiliki hartanya.

​"Apaah!! Kesalahan apa yang sudah aku perbuat hingga kamu tega melakukan ini semua padaku, Mashur?! Aku yang bertahun-tahun mengabdi padamu, mencoba ikhlas menjalani takdirku yang seperti ini. Lalu sekarang kamu tega memperlakukan aku seperti ini! Apa salahku padamu?!" Teriak Ema membalikkan badannya dan kembali lagi ke hadapan suaminya sembari mengacak-acak rambutnya frustrasi.

​Ema kecewa, sakit hati, dan terluka. Goresan yang amat dalam membuat luka di hati Ema. Ema menganggap hidup ini tak berpihak padanya. Hidup ini sangat kejam bagi Ema. Gerbang perceraian seakan sudah berada di depan matanya. Sakit dan pilu rasanya ingin menjerit, meratap, dan berlutut pada Tuhan. Ingin rasanya mengadu apa kesalahannya selama ini sehingga Tuhan menghukum dirinya, seakan Tuhan sangat kejam padanya. Ema tak tahu lagi harus berbuat apa dan membayangkan bagaimana nantinya jika anak ketiganya adalah perempuan. Akankah dirinya mengurus tiga anaknya sendiri tanpa sosok suami? Ataukah anaknya nanti adalah lelaki dan meneruskan rumah tangganya yang seakan suaminya sudah tak ingin lagi bersamanya?

...----------------...

​BERSAMBUNG...

1
falea sezi
makanya tolol. pcrn lama lama
falea sezi
bapak tiri kurang ajar
fatwaaulia
Aku mampir Kak, smgtt terus,,jika berkenan mampir juga yuk Kak ke karya pertamaku dengan judul ''Perasa''/Hey/
Miss Ra: Oke kak insyaallah aku mampir kak..
☺️🙏
trimakasih udah mampir..
total 1 replies
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
aduhhhh Alika....Masih ragu2 dgn keputusan nya utk menikah sama tajudin lalu knpa diterima...
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
adakah tajuddin pria yg baik dan akan menjadi suami yg bertanggungjwb pd Alika nnti....
Miss Ra: trimakasih atas dukungan nya kak..
🥰🙏
total 3 replies
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
Alika menjadi anak yg bertanggungjwb kpd ibunya...sering mengirimkan wang belanja...
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
sabar ya Alika....
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
kasihan Alika sllu kecewa dgn sikap buruk manusia yg mementingkan darjat..
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
Alika sudah terlambat utk bersama Ibrahim...😭😭😭
Indigo_
semangat thor /Rose//Rose/
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
kasihan Alika menunggu begitu lama utk menikah dgn Yudi...akhirnya Alika kecewa dgn sikap serta keputusan Yudi yg masih ingin berkumpul sama teman2nya.... bagus Alika putusin aja...
Miss Ra: Gemes banget yaa kak sama cerita alika..?

😁🤭
total 1 replies
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
aduuh Anindia semakin menjadi2
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
😭😭😭sedih bgt
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
ya ampun Alika...🤣🤣🤣asyik dgr musik g sadar dipnggl sama Paman serta mamanya
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
kasihan Ibrahim terlalu amat mencintai Alika....hingga membawa diri ke Sydney.. Jika Alika menerima tawaran Ibrahim mungkin kehidupan Alika dan keluarganya akan hdp bahagia dan senang...tp apakan daya Alika masih muda belum memikirkan tntng lumrah kehidupan yg sebenarnya dan dia jg mencintai Yudi
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
Cinta pertama Alika pd Yudi, Ibrahim pasti kecewa...
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
nah skrg baru ema rasa menyesal kerana nindia menjadi anak yg tdk pernah menurutnya berbanding dgn Alika..
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
sedih bgt kerana sampai kini Alika belum mengetahui tntng kepulangan neneknya ke rahmatullah...😭
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
apakah Serly pacar atau tunangan Ibrahim ya...aduh bikin gawat🤔😅😅
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
semoga Alika baik2 saja di mansion Ibrahim
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!