NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Panggil Aku Istri

Namun dua bulan lagi, jika Arya benar-benar menolak pulang, anak itu akan menjadi tali yang menyeretnya kembali.

Karina mempercayai rencana itu sepenuh hati.

Ia tidak tahu bahwa di halaman depan KUA, perempuan yang baru saja menjadi istri sah Arya sedang menatap dua buku nikah seperti orang yang akhirnya menemukan sesuatu setelah tersesat selama tujuh belas tahun.

"Bu Anindya."

Suara sopir membuat Anindya tersadar. Ia cepat-cepat memasukkan kedua buku itu ke dalam tas kulitnya, lalu menunjuk sebuah Lamborghini abu-abu gelap yang terparkir di bawah pohon.

"Mas Arya bisa mengemudi?"

Arya mengikuti arah telunjuknya. "Bisa. Tapi kalau mobil itu, belum pernah."

"Bagus. Mulai hari ini, Mas Arya yang bawa."

Sopir yang baru saja hendak membukakan pintu berhenti. Kedua petugas keamanan saling pandang, tetapi tak seorang pun membantah.

Arya mengernyit. "Bukankah Anda punya sopir?"

"Punya." Anindya menyerahkan kunci kepadanya. "Tapi aku mau duduk di depan sama suamiku. Kalau ada sopir, nanti aku harus duduk di belakang."

Kata suamiku terdengar begitu alami dari bibirnya.

Arya justru merasa canggung. Kurang dari satu jam lalu, ia masih memegang akta cerai. Kini kunci mobil seharga rumah mewah sudah berada di telapak tangannya, dan perempuan paling sulit didekati di lingkaran sosial Karina menyebutnya suami di depan para staf.

"Ini hanya sandiwara dua bulan," katanya pelan.

Senyum Anindya tidak hilang. "Justru karena sandiwara, kita harus meyakinkan."

Ia berbalik kepada sopir. "Bapak ikut mobil belakang. Kami pulang sendiri."

"Baik, Bu Anindya."

Anindya membuka pintu penumpang tanpa menunggu dilayani. Arya masih berdiri di tempatnya.

"Mas Arya," panggilnya dari dalam. "Istrimu menunggu."

Arya mengembuskan napas dan masuk ke balik kemudi.

Interior mobil itu beraroma kulit baru. Semua bagian terasa terlalu bersih, terlalu presisi, dan terlalu mahal untuk disentuh sembarangan. Arya menyesuaikan posisi kursi, memeriksa kaca, lalu menyalakan mesin.

Suara mesin rendah menggetarkan kabin.

Anindya menoleh kepadanya. "Cocok."

"Apa yang cocok?"

"Mobilnya sama pengemudinya."

Arya melirik kemeja lamanya. "Anda punya selera humor yang aneh."

"Bukan humor." Anindya memasang sabuk pengaman. "Dan jangan panggil aku Anda terus."

"Lalu harus bagaimana?"

Perempuan itu menatap lurus ke depan, tetapi ujung telinganya mulai memerah. "Panggil namaku. Atau... panggil aku istri."

Arya hampir salah menginjak pedal.

Lamborghini bergerak keluar dari area parkir dengan sedikit sentakan. Dari kaca spion, ia melihat mobil pengawal mengikuti pada jarak aman.

"Tidak perlu sejauh itu," katanya.

"Tadi kamu sendiri bilang kita harus punya batas." Anindya menahan senyum. "Aku cuma minta panggilan yang sesuai dokumen. Dua buku nikah kita asli, Mas Arya. Kalau di depan orang lain kamu terdengar seperti rekan bisnis, siapa yang percaya pernikahan ini?"

Argumennya masuk akal.

Entah kenapa, Arya tetap merasa sedang diarahkan ke sebuah jebakan yang sangat lembut.

"Anindya," ucapnya akhirnya.

"Ya?"

"Aku akan memanggilmu Anindya."

"Boleh." Ia menoleh, matanya melengkung halus. "Aku akan menaikkan targetnya pelan-pelan."

"Target apa?"

"Nggak ada. Fokus jalan."

Arya menggeleng. Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, sudut bibirnya bergerak sedikit.

Gerakan kecil itu tidak luput dari Anindya.

Ia memalingkan wajah ke jendela agar Arya tidak melihat senyumnya membesar. Gedung-gedung Surabaya bergerak mundur di balik kaca, tetapi pikirannya justru meluncur jauh ke masa lalu.

Tujuh belas tahun.

Ia pertama kali melihat Arya ketika mereka masih berusia sepuluh tahun di dekat gerbang SD Tunas Bangsa. Saat itu ia kabur beberapa langkah dari pengawasan Pak Darto dan nyaris tertabrak motor yang melaju dari arah pasar.

Seorang anak laki-laki menariknya ke tepi jalan.

Lutut anak itu terluka. Seragamnya kotor. Namun hal pertama yang ia tanyakan bukan apakah dirinya sendiri baik-baik saja.

"Kamu sakit?"

Anindya kecil bahkan lupa menjawab.

Sejak hari itu, wajah Arya menetap di ingatannya.

Ia mencari tahu sekolah Arya. Kemudian SMP-nya. Bertahun-tahun sesudahnya, ia memilih kampus yang sama, menyimpan harapan bodoh bahwa suatu hari ia akan cukup berani menyapa.

Namun pada hari pertama kuliah, ia melihat Arya berjalan sambil menggenggam tangan Karina.

Anindya mundur sebelum terlihat.

Ia membangun wajah dingin, mengatakan kepada semua orang bahwa ia tidak tertarik menikah, lalu mendekati Karina sebagai teman hanya agar sesekali dapat mendengar kabar tentang Arya.

Ia tidak pernah mencoba merusak hubungan mereka.

Ketika Karina menikah dengan Arya, Anindya mengucapkan selamat dan pulang dengan senyum yang bertahan sampai pintu kamar tertutup.

Sesudah itu, ia menangis semalaman.

Sekarang pria yang sama berada kurang dari satu meter di sampingnya.

Suaminya.

Meskipun mungkin hanya selama dua bulan.

"Kita mau ke mana?" tanya Arya.

Anindya kembali ke masa kini. "Pulang."

"Alamatnya?"

Ia menyebut kawasan Puri Gading dan mengaktifkan navigasi. Arya mengangkat alis ketika melihat estimasi rute.

"Jauh juga dari apartemen Karina."

"Bagus."

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Arya menoleh sekilas. "Bagus?"

"Maksudku, udara di sana lebih baik." Anindya merapikan ujung tas di pangkuannya. "Lingkungannya tenang. Mas Arya bisa istirahat setelah... semua urusan hari ini."

Untuk beberapa saat, hanya suara navigasi yang memenuhi kabin.

Arya mengemudi hati-hati, tetapi tangannya mantap. Ia tidak banyak bicara. Wajahnya terlihat tenang, meski lingkar samar di bawah mata menunjukkan bahwa ia mungkin tidak tidur semalam.

Anindya ingin menyentuh tangannya.

Ia ingin mengatakan bahwa Arya tidak dibeli, tidak dipinjam, dan tidak perlu kembali ke tempat yang menganggapnya murah. Ia ingin mengakui bahwa Rp 2 miliar hanyalah pintu yang terpaksa ia gunakan karena Karina sendiri yang membukanya.

Namun ia tahu Arya baru keluar dari pernikahan yang menghancurkan harga dirinya.

Perasaan sebesar apa pun bisa berubah menjadi beban jika diserahkan pada waktu yang salah.

Jadi Anindya hanya membuka tas dan mengeluarkan dua buku nikah lagi.

Ia membandingkan foto Arya dengan wajah pria di sampingnya, lalu tersenyum sendiri.

"Kenapa dilihat terus?" tanya Arya tanpa menoleh.

Anindya buru-buru menutup buku pertama. "Memastikan petugas nggak salah cetak."

"Dua puluh menit lalu sudah diperiksa."

"Aku teliti."

"Sampai lima kali?"

Anindya membeku. Rupanya Arya memperhatikannya melalui sudut mata.

"Fokus jalan, Mas Arya."

"Aku fokus."

"Kalau fokus, jangan hitung berapa kali aku melihat buku nikah."

"Sulit tidak menghitung kalau setiap lampu merah kamu membukanya."

Wajah Anindya menghangat. Ia memasukkan kedua buku itu ke dalam tas dan memeluk tasnya erat-erat.

Arya tertawa pelan.

Suara itu hanya berlangsung sesaat, tetapi Anindya terpaku. Sudah lama sekali ia tidak mendengar Arya tertawa tanpa lebih dulu melihat ke sekeliling, seolah takut kebahagiaannya mengganggu Karina.

Ia menatap pria itu terlalu lama.

Arya menangkap tatapannya ketika mobil berhenti di lampu merah.

"Ada apa?"

Anindya cepat-cepat memandang ke depan. "Nggak ada."

"Wajahku kena sesuatu?"

"Nggak."

"Lalu kenapa kamu melihatku seperti itu?"

Ujung telinga Anindya menjadi merah terang. Ia meraih layar navigasi, pura-pura memeriksa rute yang tidak berubah.

"Lampunya sudah hijau, suamiku."

Arya menatap lampu lalu kembali menatap Anindya sekilas. Banyak hal tentang hari itu tidak masuk akal baginya.

Namun satu hal mulai mengusik pikirannya.

Tatapan Anindya sama sekali tidak terlihat seperti bagian dari sandiwara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!