Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.
Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.
Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.
Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.
Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.
Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Ane Smith
Aku sendirian di rumah sekali lagi, tapi aku tidak akan sebodoh itu bernyanyi dan menari lagi sampai ketahuan. Kalau kakakku memergokiku, aku bisa dipukuli atau diusir dari rumah ini, yang toh juga rumahnya.
Aku berkeliling mansion besar ini dengan bosan... melihat sekeliling, dan tidak ada yang bisa dikerjakan di tempat sebesar ini. Luar biasa... Kadang aku bertanya-tanya kenapa orang kaya bisa depresi padahal mereka punya segalanya. Mungkin karena terlalu banyak waktu luang. Pikiran jadi kosong lalu kau gila. Atau mungkin karena suami-suami kasar yang baru diketahui para perempuan ini setelah menikah. Dan perempuan dangkal mana yang mau melepas kemewahan seperti ini? Kakakku jelas tidak.
Kutatap kolam renang besar itu, airnya berkilau seolah memanggilku. Kucelupkan kakiku ke dalam air, dan wah, hangat sekali. Aku ingin menyelam, tapi aku tidak punya bikini, rasanya tidak pantas masuk dengan pakaian. Aku hanya memakai celana dalam. Dengan blus sebesar ini, aku biasanya tidak memakai bra. Untuk apa? Toh tidak kelihatan. Kutengok kiri-kanan dan rumah benar-benar kosong. Tidak ada siapa pun di lorong. Mungkin aku harus nekat untuk pertama kali dalam hidupku. Kutanggalkan blusku lewat kepala dan celana training-ku, kuletakkan di kursi santai di samping kolam. Kutengok ke segala arah, dan masih tidak ada penjaga di dekat sini. Kesimpulanku, aku memang sendirian dalam kesunyian bak kuburan. Aku masuk ke air dan merasakan hangatnya melemaskan ototku satu per satu. Aku menyelam sampai ujung kolam, merasakan ringannya membawa tubuhku. Aku tidak memakai kacamata, aku tak bisa melihat dengan baik tanpanya, sebenarnya aku tidak bisa melihat apa-apa.
Aku mulai berenang dan mengambang, merasakan tubuhku yang ringan terbawa ke samping-samping. Kupejamkan mata menikmati sensasi nyaman itu.
"Hmm, aku mau ikut masuk, tapi aku kotor kena darah."
Ya Tuhan, jangan lagi! Aku tenggelam saking paniknya mendengar suara Salvatore di tepi kolam yang mengamatiku sambil tertawa. Apa sih yang dia punya di sol sepatunya sampai tak pernah ketahuan datang ke mana pun, hah?
Aku mencoba bicara, tapi malah terbatuk. Aku menelan banyak air karena kaget. "Sa-saya..."
"Tenang saja. Kau tidak menyinggungku karena berenang hampir telanjang di rumahku. Sebenarnya kau harus lebih sering melakukannya. Sulit melihat tubuh indah di balik pakaian longgar yang selalu kaupakai." Dia memasukkan tangan ke saku.
"Tuan Salvatore. Anda sangat tidak sopan. Anda suami kakak saya. Tidak seharusnya Anda mengatakan hal-hal itu pada saya."
Dia tertawa keras. "Aku tidak sopan?" Dia menggeleng. "Dan Nona, kau tidak seharusnya menggodaku. Kau mungkin tidak akan suka apa yang terjadi kalau terus memprovokasiku."
"Saya menggoda Anda? Saya tidak melakukan apa-apa!"
"Entahlah, sesuatu memberitahuku celana dalam Winnie the Pooh-mu tidak setuju." Dia tertawa terang-terangan melihat betapa kagetnya aku menatapnya.
"Oh, tolong. Berbalik supaya saya bisa keluar dan berpakaian."
"Nona masuk ke sana tanpa mempedulikan itu. Sekarang harus keluar dengan cara yang sama, dan aku tidak akan bergerak sesenti pun."
Dia tertawa, mendongak menatap langit. Kulihat garis lehernya yang indah dan jantan. Aku mendesah. Tapi rasa takutku padanya masih besar. Ya Tuhan, kenapa aku memperhatikan hal-hal begini?
Kuringkukkan tubuhku sebisa mungkin agar dia tidak melihat lebih dari yang tak terhindarkan, dan berjingkat dengan kaki kecilku, kuraih pakaianku, mengenakan blus longgar yang menutupi sampai setengah pahaku lebih dulu.
"Kau seharusnya berpakaian seperti itu terus. Kau tampak cukup seksi untuk seseorang sepertimu." Dia menyeringai sambil memandangku dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa malu-malu.
Kupakai celana training-ku dengan panik, hampir terjatuh beberapa kali. Aku jelas malu sekali, tapi Salvatore tampak benar-benar menikmati situasi ini.
"Kau menggemaskan kalau memerah begitu. Itu pesona tambahan."
Kupakai kacamataku tergesa-gesa dan mencoba pergi secepat mungkin sambil memeras kelebihan air dari rambutku. Aku lewat di samping Salvatore, yang menarik lenganku.
"Mau ke mana? Aku tidak memberimu izin pergi dari sini."
"Maaf, saya kira..."
"Kira apa...? Aku suka ditemani olehmu, Kecil."
"Jangan mengejek saya, Tuan Salvatore."
"Kalau aku mengejekmu, Kecil, akan kukatakan terang-terangan. Aku tidak suka bertele-tele."
Dia memegang tengkukku sambil menatapku intens, rambut panjangku yang berantakan dan basah diterpa angin. Mukaku makin merona.
"Apa yang Anda lakukan?"
"Tenang, Kecil. Percayalah padaku."
Percaya padanya? Percaya adalah hal terakhir yang seharusnya kulakukan pada orang seperti dia. Tapi tanpa kuduga, dia menarik tengkukku mendekat ke tubuhnya. Dan menciumku. Tapi tidak romantis. Sebenarnya agresif dan putus asa. Seakan penuh gairah yang tertahan. Kuletakkan kedua tanganku di dadanya, mencoba mendorongnya menjauh, tapi dia tetap menahanku.
Kugigit bibirnya. "Lepaskan aku!" Dan akhirnya dia melepas tangannya dari pinggangku.
Aku berlari dari tempat itu secepat mungkin, tak peduli kakiku yang basah membuatku kehilangan keseimbangan.
"Lari, Kecil. Lari sepuasmu. Tapi kau tetap milikku."
Aku menaiki tangga, dan caraku menginjak anak tangga menimbulkan suara berat. Aku panik. Kubuka pintu kamarku, yang dekorasinya sepolos diriku selama bertahun-tahun ini. Kuhempaskan tubuhku ke ranjang, membiarkan rambut basahku merendam bantal. Kusentuh bibir merah mudaku dengan rasa takut yang belum pernah kurasakan sekuat ini. Dan entah kenapa, aku tetap memikirkan ciuman itu. Mungkin karena hormon yang kini berhenti kuminum, atau karena aku belum pernah dicium seperti itu.
Kakakku membuka pintu kamar dan menatapku seolah tahu semua rahasiaku. Kuangkat kepala menatapnya, sementara dia menyerbu kamarku, berjalan ke arahku. Ya Tuhan, bagaimana kalau dia melihat kami?