Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seno Sekolah
Nada tunggu berhenti. Layar berganti menjadi menampilkan video buram patah-patah. Wajah anak sulung Hanis, Seno, muncul di layar.
“Ibu! Lihat! Seno pake seragam!” seru Seno memamerkan seragam TK kotak-kotak merahnya. Anak itu terlihat sangat bangga akhirnya bisa memakai seragam sekolah.
“Wah! Seno sudah mau sekolah ya? Udah sarapan?”
Sudut bibir Hanis terangkat, bahagia akhirnya bisa memberikan anak sulungnya pendidikan awal. Sesuatu yang memang sudah seharusnya bisa ia dan Rino sediakan sebagai orang tua.
“Udah, Bu. Makan ayam goreng,” jawab Seno.
Di belakangnya, muncul anak lain, Dino. Bocah itu membawa piring berisi nasi dan ayam goreng crispy.
“Enak ayamnya?”
Kedua anak tersebut mengangguk bersamaan.
Senyum Hanis semakin lebar, senang anakannya bisa makan ayam. Meski sebenarnya itu tidak sehat, namun Haniyah yang selama ini hidup di bawah garis kemiskinan memang belum melek gizi. Baginya, bisa makan daging adalah kemewahan.
“Seno yang pinter ya sekolahnya. Dino juga, tahun depan sekolah juga ya?”
Sang anak kedua mengangguk bersemangat. “Ya, Bu. Dino juga mau sekolah.”
“Sekarang Kak Seno dulu, Dino tahun depan ya… Si Dior kok nggak kelihatan dimana?” Hanis bertanya, mencari anak ketiganya yang tumben tidak terlihat di video call.
“Dior lagi mandi, Bu,” Seno yang menjawab, matanya melirik ke bagian dalam rumah, mungkin ke arah kamar mandi.
Mereka terus lanjut berbincang, Hanis senang sekali melihat anak-anaknya sekarang lebih terawat dan Seno yang sudah bisa sekolah. Sesuatu yang akhirnya ia dapatkan dengan menyewakan rahimnya, menjadi ibu pengganti bagi orang yang membayar kehidupan keluarganya.
“Seno! Ayo sekolah!” teriakan Rino terdengar, tertangkap oleh speaker ponsel di tangan Seno. “Dino, jaga adik-adik ya. Ayah antar Kak Seno sebentar.”
Setelah Seno melakukan lambaian tangan perpisahan pada Hanis barulah Rino sadar kalau mereka sedang berada dalam panggilan video.
“Lho? Hanis? Gimana? Aman kan?”
Hanis hanya mengangguk. “Aman, Mas. Sudah, sana buruan antar Seno. Hari pertama sekolah jangan sampai terlambat. Nanti kalau mau jajan depan sekolah biar beli, jangan lupa yang lain juga dibelikan.”
“Iya, Nis. Aku jalan dulu. Seno ayo.”
Rino menghilang dari layar, diikuti dengan Seno yang menjauh sambil melambaikan tangan. Kini ponsel dipegang oleh Dino, dan Dior ikut masuk ke dalam frame.
“Ibu! Mau ibu pulang!” tanya Dior yang rambutnya masih basah sehabis mandi.
“Tunggu ya, Dino Dior. Ibu bakal pulang besok kalau kerjaannya sudah selesai, ibu cari uang biar bisa sekolah juga nanti.”
“Ya, Bu…” Dior mengangguk mengerti.
“Tapi Dino kangen, Bu.”
“Tunggu ya. Kita bisanya video call gini dulu. Kalian sama ayah kan bisa makan enak di sana, bisa jajan sekarang.”
“Iya, Bu… Tiap hari makan ayam. Ibu makan apa?” Dino balik bertanya.
Hanis sedikit sedih mendengarnya, ia makan jauh lebih enak dengan lauk bervariasi disini. Bahkan mengkonsumsi vitamin dan buah-buahan mahal.
Ia merasa semestinya anak-anak juga mendapatkan vitamin, makanan bergizi yang lauknya ganti setiap hari dan buah-buahan. Tiba-tiba Hanis teringat pada buah di bawah yang sering kali sisa, tidak termakan dan terbuang karena Jinny sudah membeli yang baru.
“Nak, kalau ibu kirim buah-buahannya mau, kan?”
Anak-anak mengangguk bersamaan bersemangat.
“Dino suka apel, ibu mau kirim apel?” tanya Dino ceria.
“Ibu usahakan ya.”
Mereka lanjut mengobrol, hingga terdengar suara pintu terbuka. Rino kembali dari mengantar Seno.
“Han, Hanis,” panggil Rino, berjongkok di belakang Dino yang memegang ponsel. “Ini Seno sama sekolahnya wajib bawa bekal, harus ada buahnya tiap hari. Terus tadi Seno aku beliin pisang karamel, pokoknya ada buahnya.”
“Lha pisang karamel, Mas?!” Hanis menepuk jidatnya sendiri. “ Iya maksudnya buah segar to, Mas. Bukan buah yang dimasak, digoreng begitu. Besok aku kirimkan buah-buah ya, Mas.”
“Ya, Nis. Bagus kalau kamu kirim, soalnya kan aku enggak ada motor ini, enggak bisa beli buah ke pasar.”
“Iya, Mas. Sabar ya, Mas, pelan-pelan. Buahnya dulu ya besok.”
Hanis bertekad, ia akan memberanikan diri mengatakan pada Sean buah-buahan yang tidak termakan dapat dikirimkan ke rumahnya saja ketimbang dibuang.
...****************...