NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Garis Biru

Malam beringsut makin larut saat Naya mengurung diri di dalam kamar mandi rumahnya. Suara gemericik air dari kran bak mandi menjadi satu-satunya pertanda kehidupan di ruangan sempit berubin dingin itu.

Di atas permukaan wastafel, tiga jenis testpack berbeda merk--hasil pembeliannya di apotek tadi sore terjejer rapi. Jemari Naya bergetar begitu hebat hingga beberapa kali wadah sampel yang dipegangnya hampir terlepas dari genggaman.

Naya memandangi lembar petunjuk penggunaan kecil di tangannya dengan napas yang makin memburu. Matanya tertuju pada satu baris kalimat yang tercetak tebal di sana: 'Untuk hasil paling akurat, gunakan sampel urine pertama di pagi hari.'

Naya terpaku. Tangannya melorot lemas ke samping tubuhnya. Ada rasa lega yang amat tipis menyusup di antara gelombang paniknya, sebuah dalih kecil untuk mengulur waktu dari kenyataan mengerikan yang menunggunya.

Naya membereskan kembali alat-alat uji itu dengan tangan gemetaran, menyembunyikannya rapat-rapat di dasar laci meja kamarnya. Malam itu, Naya tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Ia hanya telentang menatap langit-langit kamar yang gelap, menghitung tiap detik yang berdetak menuju pagi dengan tersiksa.

Sungguh, ketakutannya memakan dirinya sendiri. Seolah tak izinkannya menutup mata barang sedetik pun.

Saat azan subuh berkumandang, Naya langsung bangkit dalam keremangan. Langkah kakinya begitu berat menuju kamar mandi, membawa tiga alat uji yang kini terasa bagai bom waktu.

Dengan bibir yang digigit erat-erat menahan tangis dan napas patah-patah, Naya akhirnya meneteskan sampel cairan pertama pagi itu ke atas masing-masing alat uji.

Satu detik. Tiga detik. Lima detik.

Cairan itu perlahan meresap, membawa warna merah keunguan yang merambat naik di sepanjang kertas indikator.

Naya memejamkan matanya rapat-rapat, tak sanggup melihatnya secara langsung. Ia menyandarkan dahi ke dinding keramik yang dingin, meremas pinggiran wastafel sampai terasa sedikit sakit. Hatinya yang hancur terus menjeritkan doa yang sama berkali-kali.

Tolong... anggap ini cuma mimpi buruk. Tolong, satu garis aja... cuma satu...

Setelah menunggu beberapa menit yang terasa bagai siksaan tanpa akhir, Naya perlahan membuka matanya, mengulur waktu juga bukan apapun selain menghadapinya. Pandangannya yang kabur sebab berkaca-kaca, pelan-pelan berfokus pada tiga alat uji di atas wastafel.

Dua garis merah tegas di testpack stik pertama.

Dua garis merah tebal di testpack celup kedua.

Dan simbol tulisan 'PREGNANT' yang terpampang nyata di layar digital alat ketiga.

Ketiganya menunjukkan hasil yang sama persis.

Tidak ada keraguan, tidak ada kesalahan, tidak ada kekeliruan.

Untuk beberapa detik, Naya hanya terdiam. Tidak ada tangis, tidak bersuara. Bahkan napasnya seakan tertahan di tenggorokan, seolah tubuhnya sendiri menolak menerima apa yang baru saja dilihatnya.

Usai semua tercerna dengan sempurna, rasanya dunia Naya runtuh, seketika. Seluruh persendian di tubuhnya meloloskan tenaga hingga ia merosot jatuh ke lantai kamar mandi yang dingin. Air mata yang tertahan akhirnya luruh, diiringi isakan tangis yang berusaha ia redam rapat-rapat dengan meremas mulutnya sendiri.

Ketakutan terbesarnya sudah menjadi nyata, mengerikan. Masa depannya, karirnya, keluarganya. Semuanya membayang hancur berantakan, di hadapannya.

Tangan Naya yang gemetaran perlahan turun, meraba perut ratanya yang kini menyimpan sebuah kehidupan baru dari malam musibah itu.

Naya meringkuk di sudut dinding, menangis dalam diam sampai dadanya teremas ngilu. "Kenapa? Kenapa harus begini?" Naya sampai memukul-mukul dadanya.

Pagi yang sejak semalam ia tunggu justru membawa jawaban yang paling ingin ia hindari. Dan Naya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa setelah ini.

Sementara itu, Ibra akhirnya melangkah masuk ke dalam apartemennya yang sepi dan gelap, tepat ketika jam menunjuk angka empat. Pria itu melemparkan kunci mobilnya ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup.

Sepanjang malam, Ibra juga tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Sepulang dari kantor, Ibra duduk di tepian, menghabiskan beberapa batang rokok, juga pergi ke bar, untuk minum. Untunglah tidak sampai teler.

Kini, pria itu hanya duduk di tepi tempat tidur, menatap layar ponselnya yang tetap bisu hingga fajar menyingsing. Ketidakpastian dan rasa tidak nyaman membakar habis seluruh ketenangannya.

***

Keesokan paginya di kantor, ketegangan itu mencapai puncaknya. Ibra duduk di mejanya dengan wajah kusam dan mata yang memerah akibat tidak tidur semalaman, menunggu Naya yang tak kunjung membalas pesannya, batang hidungnya juga tidak kelihatan ada di kantor.

Sampai ketika Ibra menghadiri rapat, ia duduk, tak mendengarkan segala ucap dari atasan, ia tidak bisa fokus sebab pikirannya berkelana entah kemana.

Selesai rapat, pun masih tak ada pesan atau kabar. Ibra sampai menjenguk ke ruang seberang, dan Naya tidak ada. Hanya ada Lady dan Marina, yang berdiskusi bersama. Dua orang laki-laki dan satu perempuan lain, yang kemungkinan perempuan itu yang kini sedang di dekati oleh sahabatnya.

Ketika hendak berbalik, Ibra mendengar suara denting notifikasi, serta getar di dadanya. Segera Ibra mengambil ponselnya di saku. Layar ponsel Ibra menyala, dan sebuah pesan singkat dari Naya akhirnya masuk, yang ia tunggu sejak semalam.

|Naya

Ke lift sekarang, Pak.

Ibra membaca pesan itu dua kali. Singkat dan sangat dingin. Tidak ada penjelasan apa pun. Namun entah mengapa, dadanya justru terasa semakin jejal.

Tanpa berpikir dua kali, Ibra langsung melangkah cepat menuju koridor area lift.

Tepat ketika pintu lift terbuka, Naya berdiri di dalam sana sendirian. Wajahnya tertutup masker rapat-rapat, matanya sembap dan pucat. Naya sama sekali tidak menatap mata Ibra saat pria itu melangkah masuk.

Pintu lift tertutup. Di dalam ruang sempit yang bergerak turun itu, keheningan terasa begitu menyiksa.

Tanpa berucap sepatah kata pun, tangan Naya yang gemetaran merogoh saku hoodie-nya. Ia menarik satu buah benda berlapiskan tisu dan menyodorkannya ke arah Ibra. Ia membisu, membuang muka ke samping seraya menahan laju air mata yang mulai menggenang kembali di pelupuk matanya.

Ibra meneguk ludahnya susah payah, menyambutnya dengan sedikit ragu. Menatap dari samping Naya yang enggan padanya.

"Kamu enggak kerja?" tanya Ibra dengan suara rendah. Melihat Naya yang tidak memakai pakaian kerja, hanya kenakan celana hitam sebatas lutut, hoodie hitam, masker dan topi berwarna senada.

Naya tidak menyahut, seolah dia sama sekali tidak mendengar pertanyaan Ibra. Ia memang tidak datang untuk bekerja hari ini. Sejak berangkat dari rumah, satu-satunya tujuan Naya hanyalah menyerahkan benda itu kepada Ibra. Setelahnya, ia ingin pergi sebelum pria itu sempat menanyakan apa pun.

Juga Naya hanya harus segera pergi sebelum jam makan siang. Ia menghindari rekan-rekan kerjanya, terlebih Bian, yang sejak pagi menghubunginya.

Saat lift sampai di area lobi, pintu membentang terbuka. Tanpa menunggu respon atau apapun dari Ibra, Naya langsung melangkah keluar begitu saja, berjalan cepat meninggalkan area kantor.

Ibra berdiri mematung saja, sementara hatinya dilanda gelisah luar biasa. Dengan jemari yang gemetar, ia menggenggam benda itu rapat-rapat. Matanya masih memperhatikan Naya yang menjauh, yang hampir tertabrak pintu kaca sebab tergesa. Naya pun kini hilang dari pandang, usai membelok ke kiri.

Barulah Ibra menunduk, menatap benda yang masih tergenggam di tangannya. Sejak tadi ia belum berani membukanya, dan tak mungkin juga disana. Jadilah Ibra berbalik cepat, menuju toilet terdekat.

Klek.

Ibra mengunci pintu toilet rapat-rapat. Dengan napas yang memburu dan dada yang bergemuruh hebat, pria itu perlahan membuka genggaman tangannya untuk melihat benda di telapak tangannya. Melepaskan tisu itu, yang sejak awal ia sudah menebak apa isi di dalamnya.

Dan... tebakannya benar.

Mimpi buruk itu, menjelma, nyata, seperti yang seharusnya. Yang sudah ia perkiraan sejak awal sekali.

Dua garis kebiruan tercetak amat jelas disana. Sangat jelas, tidak ada kesamaran sama sekali.

Napas Ibra mendadak tercekat. Matanya redup menatap dua garis itu, perlahan menyandarkan kepalanya ke dinding pintu toilet, menatap langit-langit. Rasa resah, putus asa dari kenyataan pahit itu menghantam dadanya begitu keras, hingga sudut matanya berair.

Ibra menyandarkan seluruh punggungnya sebelum akhirnya merosot disana. Pria tegap itu terpuruk di lantai yang dingin, terduduk pasrah seraya mengusap kepalanya frustrasi.

Dua garis biru di atas alat uji itu masih tergenggam erat di tangan kanannya, tampak begitu jelas, begitu nyata, dan begitu menghancurkan.

Segala keangkuhan, segala ucapan lantang penuh keyakinan tentang 'tanggung jawab' yang kemarin-kemarin ia lontarkan di depan Naya... kini menguap begitu saja.

Kemarin, ia berkata seolah ia adalah pria dewasa paling hebat, yang sanggup berdiri. Kemarin, ia berbicara seolah ia sudah siap menghadapi konsekuensi terburuk dari ini. Seolah, ia bisa bertanggungjawab seperti yang ia ucap.

Namun hari ini, saat kenyataan itu benar-benar mendarat tepat dihadapannya, Ibra menyadari betapa kecil dan rapuhnya ia. Ia ternyata tidak seperti yang ia ucapkan. Ia hanya pria biasa, yang hanya pandai berkata, juga, terluka.

Ibra seperti kehilangan pijakannya. Kini keadaan seolah melemparkannya ke dalam jurang tak berdasar. Rasa takut yang teramat sangat menyergap seluruh aliran darahnya. Takut akan masa depan dirinya, masa depan Naya, juga rencana-rencana yang telah dibuatnya.

Dan nama baik keluarga, yang juga dipertaruhkan, takut pada kekecewaan mereka terhadapnya, dan ketakutan mengerikan pada bayangan sebuah nyawa kecil yang kini benar-benar ada karena perbuatannya, meski tak ia sengaja.

Bagaimana semuanya?

Ibra menutup wajahnya dengan sebelah tangan yang bergetar, bahunya pun sama, dan dari sela-sela jemarinya, lolos satu isakan yang selama ini ia tahan. Pria yang selalu tampak sempurna dan memegang kendali atas segalanya itu, kini seperti pengecut yang bahkan menangis di sudut toilet.

Benar-benar lemah, tidak berdaya.

Di luar sana, kantor tetap berjalan seperti biasa. Suara langkah kaki, percakapan, dan dering telepon masih terdengar samar dari balik pintu. Ya, dunia tidak berhenti hanya karena dunianya baru saja berubah.

Dan di dalam toilet sempit itu, Ibra hanya mampu menatap dua garis biru di tangannya--kenyataan yang tidak lagi bisa ia anggap sebagai kemungkinan itu adalah keadaannya sekarang.

Berantakan.

1
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!