Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 BAYU YANG TIDAK TERCATAT
Bayu tidak tercatat sebagai pegawai Mahardika Medika. Namanya juga tidak ada dalam daftar pegawai kontrak Prima Karya Solusi. Tapi, dua jejak berbeda mengarah pada orang yang sama. Ia mengambil paket dari rumah Veyra. Ia juga menerima laptop Kaluna dari Damar Wicaksana.
“Bisa saja Bayu hanya nama panggilan,” kata Salindri.
Mereka kembali ke kantor setelah meninggalkan rumah kontrakan Damar. Di atas meja terdapat foto buku catatan Bu Yati, salinan formulir penyerahan laptop, dan pesan lama yang diterima Veyra.
Nama Bayu muncul tanpa nama belakang. Tidak ada nomor pegawai. Tidak ada alamat. Nomor telepon yang digunakannya bahkan terdaftar memakai identitas orang lain.
Naren memperbesar tulisan tangan pada formulir Damar.
“Diserahkan kepada B. sesuai arahan.”
“Damar sengaja tidak menulis nama lengkap,” katanya.
“Atau dia memang hanya mengenalnya sebagai Bayu,” jawab Kaluna.
“Kalau Bayu memang biasa kerja di sekitar sekretariat dewan, harusnya ada yang pernah lihat.”
“Belum tentu,” kata Salindri. “Perusahaan besar memakai banyak pekerja lepas. Pengemudi, kurir, teknisi, tenaga acara. Sebagian hanya datang beberapa kali.”
Kaluna menggeser foto Damar ke samping.
“Prima Karya menempatkan Damar. Mungkin Bayu juga datang melalui mereka, hanya tidak terdaftar sebagai pegawai.”
Naren membuka data kontrak lama yang dikirim Arsen. Prima Karya Solusi tidak hanya menyediakan staf administrasi. Perusahaan itu juga memakai beberapa penyedia tenaga pendukung lain untuk memenuhi kebutuhan mendadak. Salah satunya bernama Satria Layanan Mandiri. Perusahaan kecil yang menyediakan kurir, pengemudi, dan tenaga pemindahan dokumen.
“Masih beroperasi?” tanya Kaluna.
“Alamat kantornya masih ada,” jawab Naren. “Tapi izin usahanya sudah tidak aktif sejak tahun lalu.”
“Kita ke sana.”
Salindri melirik jam.
“Sudah lewat jam kerja.”
“Kalau kita tunggu besok, memang ada yang berubah?”
“Tidak banyak. Itu sebabnya kita bisa datang besok dengan surat resmi.”
Kaluna hendak membantah, tetapi teleponnya lebih dulu bergetar.
Pesan dari Elara masuk.
Besok jadi datang?
Kaluna melihat kalender. Besok ia sudah punya jadwal dua jam bersama Elara yang sebelumnya disepakati dengan Arsen dan Veyra. Ia hampir lupa.
Jadi. Kamu mau main apa?
Elara membalas dengan foto tiga kotak permainan yang diletakkan berjajar di lantai.
Pilih satu. Tapi jangan pilih kartu hewan karena suara ayammu jelek.
Kaluna tanpa sadar tersenyum.
Naren menangkap perubahan wajahnya.
“Elara?”
“Iya.”
“Besok jadwalmu dengannya.”
“Aku ingat.”
Padahal beberapa menit lalu ia hampir lupa.
Kaluna mematikan layar telepon. Urusan ini bisa terus menyeretnya dari satu nama ke nama lain. Perusahaan, rekening, orang-orang yang menghapus hidupnya. Elara tidak boleh kembali menjadi bagian yang ia lewatkan.
“Kita ke Satria Layanan besok pagi,” katanya. “Sebelum aku menemui Elara.”
Salindri mengangguk pelan.
“Dan malam ini?” tanya Naren.
“Cari semua data yang masih bisa ditemukan tentang Bayu.”
Kantor Satria Layanan Mandiri menempati lantai dua sebuah ruko lama. Papan namanya sudah dilepas. Hanya bekas sekrup dan warna cat yang berbeda menunjukkan pernah ada sesuatu di atas pintu.
Lantai pertama kini dipakai sebagai toko perlengkapan listrik. Pemilik toko mengatakan ruangan atas masih disewa oleh mantan pemilik perusahaan untuk menyimpan arsip.
Seorang lelaki bernama Haris datang hampir satu jam setelah dihubungi. Usianya sekitar lima puluh tahun. Ia mengenakan kemeja sederhana dan membawa kunci dalam kantong plastik.
“Perusahaan sudah tutup,” katanya sambil membuka pintu besi. “Kalau soal utang, saya sudah selesaikan semuanya.”
“Kami bukan menagih,” jawab Salindri.
Mereka naik melalui tangga sempit yang berdebu. Ruangan di lantai dua hampir kosong. Beberapa kursi plastik ditumpuk di sudut. Lemari besi berdiri dekat dinding, sementara kardus-kardus dokumen memenuhi lantai.
Haris membuka jendela agar udara masuk.
“Cari data siapa?” tanyanya.
“Seorang pekerja yang memakai nama Bayu,” kata Kaluna. “Sekitar tiga tahun lalu dia pernah ditugaskan ke Mahardika Medika.”
Haris mengernyit.
“Nama Bayu banyak.”
“Pria sekitar tiga puluh tahun. Rambut pendek. Ada bekas luka kecil di dagu.”
Haris berhenti sebentar.
“Bu Kaluna?”
Kaluna mengangguk.
“Saya pernah lihat Ibu waktu acara perusahaan.”
“Apakah saat itu Bayu juga bekerja?”
Haris berjalan ke salah satu kardus, lalu membukanya.
“Kami sering kirim tenaga tambahan untuk acara dan pengiriman dokumen. Nama di lapangan kadang tidak sama dengan nama di daftar.”
“Kenapa?”
“Sebagian pekerja harian dibawa koordinator. Kami tinggal membayar sesuai jumlah orang yang dikirim.”
“Tanpa mencatat identitas?”
“Dulu aturannya tidak seketat sekarang.”
Salindri tampak tidak menyukai jawaban tersebut.
“Siapa koordinator untuk Mahardika Medika?” tanyanya.
Haris mencari sebuah map biru.
“Untuk gedung utama biasanya Joko. Kalau kebutuhan dewan, ada orang lain.”
“Siapa?”
Haris berhenti membalik halaman.
“Saya sudah lama tidak mengurus pekerjaan itu.”
“Kami hanya meminta nama,” kata Kaluna.
“Bukan pegawai saya.”
“Siapa?”
Haris menutup map.
“Namanya Pak Rendi.”
Naren mencatat nama itu.
“Pegawai Mahardika?”
“Saya tidak tahu. Dia yang menelepon kalau butuh orang. Kadang minta pengemudi, kadang kurir.”
“Nomornya masih ada?”
“Sudah ganti telepon.”
“Alamat?”
“Tidak tahu.”
Kaluna mulai kesal. Setiap jawaban Haris seperti berhenti sebelum nama atau alamat yang mereka cari.
“Bagaimana dengan Bayu?” tanyanya. “Apakah Anda mengenalnya?”
Haris akhirnya membuka lemari besi. Ia mengeluarkan buku besar berisi daftar pembayaran pekerja harian. Nama-nama di dalamnya ditulis tangan, disertai tanggal dan jumlah upah. Sebagian hanya memakai nama panggilan.
Mereka menemukan beberapa nama Bayu.
Bayu T.
Bayu Kecil.
Bayu Ciledug.
Lalu satu nama yang hanya ditulis sebagai Bayu D.
Di sampingnya ada catatan:
Penempatan khusus—sekretariat.
“Bayu D. siapa?” tanya Naren.
Haris mendekat.
“Saya tidak ingat nama lengkapnya.”
“Bekas luka di dagu?”
Haris mencoba mengingat.
“Mungkin.”
“Bapak ingatnya samar, atau memang pernah lihat?”
Haris mengusap dagunya sambil berpikir.
“Sudah tiga tahun.”
“Apakah ada fotonya?” tanya Kaluna.
“Pekerja harian tidak selalu difoto.”
“Nomor telepon?”
Haris membuka lembar pembayaran lain.
Pada salah satu halaman terdapat nomor yang berbeda dari nomor Bayu dalam buku Bu Yati. Naren langsung memotretnya. Nomor itu juga sudah tidak aktif.
“Siapa yang membawa Bayu masuk?” tanya Salindri.
“Koordinator lapangan.”
“Joko atau Rendi?”
Haris memeriksa kode kecil di sisi halaman.
“Rendi.”
Kaluna menunjuk daftar penugasan.
“Apa pekerjaannya?”
“Antar dokumen. Kadang membawa perangkat kantor.”
“Laptop?”
“Bisa.”
“Apakah pekerja harian boleh membawa laptop direksi keluar gedung?”
Haris mengangkat kedua tangan.
“Kami hanya menyediakan orang. Surat jalan dan izin barang dibuat pihak Mahardika.”
“Bayu pernah ditugaskan setelah kecelakaanku?”
Haris membalik beberapa halaman. Catatan pembayaran pada masa itu tidak lengkap. Ada bagian yang terkena air dan tinta memudar.
Meski begitu, nama Bayu D. muncul tiga kali dalam dua minggu.
Pertama, empat hari sebelum kecelakaan Kaluna.
Kedua, dua hari setelah kecelakaan.
Ketiga, sembilan hari setelahnya.
Tanggal pertama bertepatan dengan hari paket rekening diterima Veyra. Tanggal kedua adalah hari laptop Kaluna dibawa keluar gedung.
Naren menunjuk tanggal terakhir.
“Dia melakukan apa pada penugasan ketiga?”
Tidak ada keterangan tugas.
Hanya tertulis:
Pengambilan arsip personal.
“Arsip siapa?” tanya Kaluna.
Haris menggeleng.
“Tidak ditulis.”
“Dibayar oleh siapa?”
“Pembayaran tunai melalui koordinator.”
“Rendi?”
“Iya.”
Kaluna teringat kardus dokumen Damar yang diambil Bayu sekitar dua minggu setelah Damar pergi. Tanggalnya mungkin tidak sama persis, tetapi cukup dekat.
Bayu menerima paket rekening. Bayu menerima laptop. Bayu mengambil arsip pribadi setelah Damar menghilang.
Semua tugas itu datang lewat Rendi.
“Apakah Bayu terus bekerja setelah itu?” tanya Naren.
Haris membalik halaman-halaman berikutnya.
Namanya tidak muncul lagi.
“Berhenti?”
“Saya tidak tahu. Pekerja harian datang dan pergi.”
“Rendi pernah minta orang lain yang namanya sama?”
“Tidak ingat.”
Kaluna mengambil foto catatan pembayaran.
“Siapa nama lengkap Rendi?”
Haris tidak menjawab.
Salindri memperhatikan wajahnya.
“Bapak sebenarnya kenal Rendi, ya?”
“Saya cuma nggak mau ikut terseret urusan perusahaan besar.”
Haris menunduk.
“Saya tidak tahu soal itu.”
“Tapi Bapak kenal Rendi.”
Haris berjalan ke dekat jendela. Suara kendaraan dari jalan masuk ke ruangan.
“Dia bukan pegawai tetap Mahardika,” katanya akhirnya. “Tapi orang-orang di sana mengenalnya.”
“Bekerja untuk siapa?”
“Saya tidak pernah bertanya.”
“Siapa yang membayarnya?”
“Kadang uang datang dari rekening operasional. Kadang tunai.”
“Dari unit mana?”
Haris ragu.
“Sekretariat dewan?”
Haris tidak mengangguk, tetapi juga tidak menyangkal.
Naren menunjukkan foto Damar.
“Pernah melihat orang ini?”
Haris memperhatikannya beberapa detik.
“Pernah.”
“Kapan?”
“Dia beberapa kali bersama Bayu.”
“Di mana?”
“Parkiran belakang gedung Mahardika.”
“Apakah mereka berteman?”
“Saya tidak tahu.”
“Apakah Damar bekerja di bawah Bayu?”
“Sepertinya begitu. Bayu yang banyak kasih perintah.”
Kaluna dan Naren saling pandang.
Selama ini mereka mengira Damar hanya menyerahkan laptop kepada Bayu setelah mendapat arahan dari orang lain. Dari cerita Haris, justru ada kemungkinan Bayu yang memberi perintah kepada Damar.
“Di mana Bayu sekarang?” tanya Kaluna.
Haris mengembuskan napas panjang.
“Saya tidak tahu.”
“Kapan terakhir melihatnya?”
“Sekitar dua minggu setelah kecelakaan Ibu.”
“Apa yang terjadi?”
“Dia datang mengambil pembayaran.”
“Sendiri?”
“Dengan Rendi.”
“Setelah itu?”
Haris menunduk ke buku pembayaran di tangannya.
“Bayu bilang dia tidak akan bekerja lagi.”
“Kenapa?”
“Katanya mau pulang kampung.”
“Kampung mana?”
“Dia tidak pernah bilang.”
“Apakah Anda percaya?”
Haris diam.
Kaluna mendekat.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Saya hanya mendengar kabar dari pekerja lain.”
“Kabar apa?”
“Bayu tidak pulang kampung.”
“Lalu?”
“Dia diminta pergi.”
“Oleh Rendi?”
Haris tidak menjawab.
“Apakah Bayu masih hidup?” tanya Salindri.
“Saya tidak tahu.”
Tak ada yang segera menanggapi.
Haris membuka halaman terakhir yang memuat nama Bayu. Di bagian bawah terdapat tanda terima pembayaran tunai. Jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan upah pengiriman biasa.
“Untuk apa uang ini?” tanya Naren.
“Bayaran terakhir.”
“Kenapa sebanyak itu?”
“Rendi bilang termasuk uang tutup kontrak.”
Nama penerima ditulis Bayu D. Tanda tangan di bawahnya berbeda dari tulisan tangan dalam buku Bu Yati.
“Bayu sendiri yang menandatangani?” tanya Kaluna.
Haris memperhatikan tanda tangan tersebut.
“Seingat saya, Rendi yang membawa bukti penerimaan.”
“Berarti Bapak sendiri nggak lihat Bayu menerima uang?”
Haris menggeleng.
Mereka tidak memiliki bukti bahwa pembayaran terakhir benar-benar sampai kepada Bayu.
Salindri meminta salinan seluruh catatan penugasan. Haris awalnya menolak, tetapi akhirnya mengizinkan mereka memotret halaman yang berkaitan dengan Mahardika Medika.
Sebelum pergi, Naren bertanya satu hal lagi.
“Bayu D. Nama belakangnya apa?”
Haris berdiri lama di depan lemari, seolah berusaha mengingat sesuatu yang pernah didengarnya.
“Darmawan,” katanya akhirnya. “Atau Darma. Saya tidak yakin.”
Nama tersebut belum cukup untuk menemukan seseorang.
Kini Bayu mulai punya sedikit bentuk. Seorang pekerja lapangan dengan bekas luka di dagu. Dibawa masuk oleh Rendi. Mengurus paket, laptop, dan dokumen pribadi. Muncul pada hari-hari penting di sekitar kecelakaan Kaluna. Lalu menerima pembayaran besar yang tidak pernah terbukti sampai ke tangannya.
Saat Kaluna turun dari ruko, teleponnya kembali bergetar.
Elara mengirim pesan.
Jangan terlambat. Aku pilih permainan dokter.
Kaluna melihat waktu.
Ia hanya memiliki satu jam sebelum jadwal pertemuan.
Kali ini, ia tidak membuka lagi map di tangannya.
“Aku harus menemui Elara.”
Naren mengangguk.
“Aku akan lanjut mencari Rendi dan Bayu.”
Kaluna masuk ke mobil.
Di perjalanan menuju rumah Mahardika, Salindri menerima hasil pemeriksaan nomor lama Bayu dari operator.
Nomor itu terakhir aktif dua belas hari setelah kecelakaan Kaluna. Nomor itu terakhir terlacak di terminal bus antarkota.
Setelah itu, kartu tidak pernah digunakan lagi.
Tidak ada catatan perjalanan atas nama Bayu Darmawan, alamat yang bisa dipastikan, ataupun pekerjaan baru.
Seolah setelah tiga tugas itu, Bayu menghilang dari semua catatan.
Ia bukan cuma berhenti bekerja.
Beberapa hari setelah kecelakaan Kaluna, Bayu juga menghilang.