Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monisha Affan 09.
Selepas mandi pagi, Affan langsung bernafas lega saat mama mertuanya mengirim pesan kalau Mona habis menginap di rumah Andin. Mona memberi tahu kalau hp nya mati waktu sampai di rumah Andin, hingga membuatnya loss kontak saat semalam mama Anggun ikut menghubungi Mona hampir ada sepuluh kali nya karena khawatir.
Affan mengira Mona bakal pulang ke rumah pagi ini, oleh karena itu ia pergi ke kamar Mona untuk membantu menyiapkan seragam dengan mengatur jadwal pelajaran.
Hanya saja saat Affan membuka lemari baju, seragam Mona yang akan dipakai hari ini tidak ada. Terlebih saat ngubek-ngubek laci lemari buku pelajaran yang dijadwalkan hari ini juga semuanya menghilang.
Affan yakin kalau Mona akan langsung pergi ke sekolah. Karena itu, Affan akan bersiap diri menyambut Mona disekolah.
Dua puluh menit kemudian...
Affan sudah berada di sekolah lebih awal. Di hari kamis ini Affan kembali menjaga gerbang untuk memantau cara berpakaian dari para murid. Hari kamis di sekolah Affan tidak memakai seragam batik, mereka menerapkan kemeja putih polos dengan luaran rompi berwarna cream yang di sampingnya terukir corak ornamen geometris khas Betawi.
Affan kini ditempel ketat oleh Selly yang ada di sampingnya, bersama barisan anggota OSIS sebagian yang ada di sebrang mereka.
Seseorang yang semalam menghilang dari rumah, hari ini kembali datang ke sekolah di bonceng oleh Andin pakai sepeda motor.
Hanya saja saat melewati Affan dengan Selly, Mona langsung membuang wajah ke samping gedung kantin sekolahan. Menolak memandang Affan sebagaimana mestinya.
Affan terus memperhatikan Mona. Mulai dari saat ia turun dari motor, menguncir rambut sambil nunggu Andin memarkirkan motor, hingga berjalan bersama Andin menuju ke gerbang utama.
Sayangnya, perhatian Affan di balas cuek saat Mona melewati Affan yang sedang menyapa nya.
Bel masuk sekolah sudah berbunyi.
Kelas sembilan A yang tadinya riuh dengan obrolan random dari para murid, mendadak hening saat wali kelas datang membawa satu murid baru. Seorang laki-laki, tubuhnya tinggi, wajah nya tampan, bahkan membuat siswi yang jomblo kelas itu kesemsem sendiri.
"Saya Rendy Pratama, saya murid pindahan dari academia global di kanada, salam kenal"
"Wow!"
"Hai Rendy"
"Hai"
"Salam kenal bro"
Murid lain langsung takjub kalau murid baru di depannya pindahan dari sekolahan luar negeri, sebagian lagi yang tidak peduli memilih menyapa balik. Hanya saja Mona sendiri yang terdiam dan membeku saat mendengar nama Rendy Pratama.
"Rendy, apa yang sudah membuat kamu memilih sekolah disini?" Tanya wali kelas sembilan A.
"Menurut informasi dari orang tua saya, di sekolah ini ada Monisha. Saya datang hanya untuk dia" Jawab Rendy terang-terangan.
Mendengar nama Monisha yang tercetus dari mulut Rendy, tatapan seantero kelas langsung menoleh ke arah Monisha, termasuk Rendy dan Affan yang mendadak merasakan ada retakan hati yang tak wajar.
"Kamu Monisha ya?" Tanya Rendy.
Mona mengangguk senyum. Senyuman itu lantas dilihat oleh Affan.
Rendy melambaikan tangan dengan senyum senang nya. "Hay Monisha, kita bertemu lagi setelah delapan tahun pisah"
Mona balas lambaian tangan Rendy dengan senyuman yang serupa. "Hallo Rendy, hehe iya ya kita ketemu lagi"
Affan tiba-tiba berdehem memutus mereka saling nyapa. "Kalau sudah perkenalan nya tolong beri dia duduk Bu" Semena-mena Affan menyuruh wali kelas nya.
Hanya saja wali kelas yang sudah segan pada Affan justru menyuruh Rendy untuk duduk di bangku kosong yang ada di samping meja Mona.
"Mona, kamu pindah duduk di depan" Titah Affan setelah Rendy duduk.
"Kok kamu ngatur sih?" Protes Mona tidak terima, akhirnya situasi kelas itu mendadak menjadi arena perang dingin antara Mona dan Affan.
"Rhea, sekarang kau pindah duduk di meja Mona" Pinta Affan menyuruh Rhea, teman perempuan kelas nya yang duduk di bangku samping Affan.
Secara, Rhea langsung berdiri dari tempat duduk. gadis berkuncir kuda itu takut kalau ketos di hadapannya akan menghukum kalau dia menolak.
Sementara Mona ingin jauh lebih protes, tapi tangan nya lebih dulu disentuh oleh Affan untuk membawa nya ke tempat duduk Rhea.
"Cepat duduk" Pinta Affan.
"GAMAU MONYET!" Amuk Mona.
"DUDUK!" Amuk Affan.
Membuat sepasang mata dari seluruh teman sekelasnya menaruh curiga dengan kelakuan Affan yang tidak biasa pada Mona, dia yang dikenal tenang menghadapi gadis itu, entah kenapa kali ini bertindak lebih agresif.
"Fan, kamu cemburu ya?. Sebenarnya punya hubungan apa sih sama Mona?" Tanya Andin penasaran.
"Saya nggak cemburu, cuma kalau Mona duduk di belakang disana sering tidur. Kebetulan saya disuruh sama guru BK untuk memantau Mona di kelas secara khusus, cuma dia satu-satunya gadis nakal disekolah ini" Jawab Affan penuh dusta.
"Sudah tenang jangan ribut!" Tegur wali kelas yang ada di depan. Mereka lupa kalau masih ada wali kelasnya.
Keadaan kelas mulai mencair saat kedua murid yang terlibat pertengkaran itu sudah tidak lagi berselisih. Pada akhirnya Mona pindah tempat duduk di meja samping Affan atas perintah wali kelas.
Mona dan Affan diam-diaman di kelas hingga jam pulang sekolah.
Affan seharian memantau pergerakan Mona di sekolah hingga kebebasan nya perlahan mengikis.
Bahkan saat Selly datang menjemput Affan di kelas untuk kumpulan OSIS seperti biasanya selepas pulang sekolah. Affan memutuskan untuk pulang ke rumah saat melihat Mona dibonceng pulang oleh Rendy.
Affan mencegah sepeda motor Rendy saat di lampu merah. Lalu Affan semena-mena menarik Mona untuk dibonceng pulang ke rumah dengan paksaan.
Hingga Mona berhasil dibawa oleh Affan ke rumah nya. Keributan besar terjadi saat Mona masuk duluan ke dalam rumah lalu memecahkan gelas tepat di bawah kaki Affan sebagai ledakan amarah.
"Hey MONA!"
"Kamu bonceng selly aja saya gak marah, tapi saya di bonceng rendy kamu malah ngamuk! KAMU EGOIS!!!!" Jerit Mona.
"Gak marah katamu?" Affan mendengkus geli seakan tidak setuju dengan perkataan Mona "Kalau gak marah, kenapa kemarin kamu kabur dari rumah?!" Lanjut nya murka.
"Itu karena kamu lebih mentingin dunia osis kamu! mentingin Selly kebanggaan kamu, iya saya paham jangan ikut campur urusan pribadi, saya sadar hubungan ini hanya sekedar warisan kakek. Tapi asal kamu tahu kalau saya juga masih punya perasaan! Saya tuh manusia!" Jawab Mona dengan dramatis.
"..." Affan terdiam.
"Terserah kamu lah monyet! Benci saya sama kamu!" Mona pergi ke kamar dengan menggebrak pintu yang begitu kencang. Di dalam sana, Mona langsung menumpahkan semua tangisan yang di pendam sejak di sekolah.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan