Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Yuna
Langit sudah sepenuhnya berwarna jingga keemasan. Merambat lurus melewati sela pepohonan. Lalu menyentuh atap-atap pemukiman tetangga.
Di depan sebuah pekarangan rumah dengan pohon mangga yang berdiri kokoh, seorang gadis dengan seragam khas sekolah dengan rompi berwarna oranye dan kemeja putih gading, memarkirkan motor maticnya yang berwarna merah-putih.
Ia melepas helm bogonya. Seketika langsung menampilkan rambut Bob yang sudah sepenuhnya berantakan dan sedikit mencuat kemana-mana.
"Assalamualaikum," ucapnya singkat. Sesaat setelah ia membuka pintu.
"Waalaikumsalam!"
Sayup terdengar suara hangat dari ruang dapur menjawab salam Yuna.
Seperti kebiasaan, ia melepas sepatu hitamnya ke samping rak kecil yang ada disamping pintu. Lalu berjalan menuju kamarnya yang terletak di sisi kanan ruang keluarga.
Ceklek!
Tas disandarkan pada dinding di ujung ranjang. Rompi dilepas. Menyisakan kemeja putih gading dengan rok panjang berwarna oranye.
Tak sampai lima menit kemudian, handuk sudah tersampir di bahu kirinya. Tanpa menoleh ke ruang tamu, Yuna langsung melangkah menuju kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah.
Beberapa menit kemudian, setelah sosok Yuna telah menghilang di sebalik tembok, seorang lelaki juga telah kembali pulang.
"Assalamu'alaikum."
Suara Yuda terdengar bersamaan dengan bunyi pintu yang menutup pelan.
"Wa'alaikumussalam."
Nazwa segera menjawab salam itu. Mengusap jemarinya yang lentik dengan kain lap yang menggantung di samping rak piring. Dan bergegas menyambut suaminya.
Seperti biasanya, ia menerima tas kurir yang dibawa Yuda, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
Yuda tersenyum kecil. Melepaskan helm, menaruhnya di atas meja ruang tamu, lalu membuka resleting jaket kurirnya yang masih terasa hangat setelah seharian berkeliling kota.
Baru saja ia hendak duduk—
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah sandal dari lorong belakang membuat mereka berdua menoleh. Mendapati Yuna melintas begitu saja tanpa ada niatan untuk menyambut kedatangan abangnya.
Ia berjalan sembari menyeka perlahan sisi rambut bobnya dengan handuk yang masih tersampir di bahu. Dengan wajah datar yang biasanya tentunya.
Ceklek.
Pintu kamar Yuna tertutup. Meninggalkan tanda tanya dari kedua kepala yang masih terpaku pada daun pintu.
"Tumben udah mandi?"
Ia melirik jam dinding.
"Masih jam tiga lewat sedikit."
Biasanya, adiknya itu akan rebahan dulu di sofa, membuka ponsel, atau sekadar membaca sesuatu sebelum mandi menjelang magrib.
Hari ini justru kebalikannya.
"Mau ke mana dia?" tanya Yuda heran.
Nazwa ikut memperhatikan pintu kamar yang kini tertutup rapat.
"Entahlah."
Ia tersenyum kecil.
"Nanti kita tanya kalau Yuna sudah keluar."
Yuda hanya mengangguk percaya. Kemudian kembali ke aktivitas masing-masing.
...
Klik.
Yuna keluar dengan setelan yang biasanya. Mengenakan Hoodie hitam yang sering menemaninya ke sekolah. Dipadu dengan celana jeans biru muda sebagai bawahannya .
Tanpa make-up.
Tanpa parfum.
Membiarkan aroma wangi sabun dan shampo menjadi pengharum tubuhnya.
Lalu berjalan menuju dapur untuk berpamitan kepada kakak iparnya.
"Mau kemana, Dek?" tanya Nazwa, sembari meletakkan satu piring yang masih berbusa pada sisi wastafel.
"Hari ini ada tugas kelompok yang mengharuskanku untuk pergi ke galeri seni, Kak," jawabnya jelas dan lugas.
Mendengar jawaban itu, Nazwa justru menatap Yuna sedikit lebih lama. Kedua lengannya tiba-tiba naik dan bersedekap di depan dada.
"Jam berapa kumpulnya?"
"Jam empat."
"Jam empat?"
Yuna mengangguk.
Nazwa kemudian melihat ujung kepalanya. Lalu turun ke ujung kaki. Bagaikan satpam yang memindai setelan busana tiap pengunjung dengan teliti.
"Kamu mau ke galeri seni..."
Ucapannya menggantung. Satu tangannya bergerak menopang dagunya.
"Apa mau pergi mancing dah?"
.....
Di ruang tamu, Yuda kini sudah berganti pakaian.
Kaos hitam bergambar seekor bebek putih berkacamata membalut tubuhnya. Dipadukan dengan sarung hijau muda bermotif kotak-kotak yang membuat penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat dari kurir yang tadi terlihat sibuk di jalan.
Ia bersantai di sofa ruang tamu. Di atas meja kayu kecil di depannya telah tersedia secangkir kopi hitam panas yang sebelumnya disiapkan Nazwa.
Yuda mengangkat cangkir itu.
"Duh... syahdu banget sore-sore gini nyantai sambil ngopi."
Ia menyeruputnya panjang.
"Sluurpp..."
"Ahhkk..."
"Mantab."
Cangkir kembali ia letakkan. Sebatang rokok yang sejak tadi terselip di sela jarinya kembali dihisap dalam-dalam.
"Asli... jadi pengen nyanyi gue."
Ia menarik napas panjang. Lalu mulai bernyanyi dengan suara sumbangnya yang sama sekali tidak berubah sejak bertahun-tahun lalu.
"Kala ku seorang diri..."
Brak!
Suara pintu kamar Yuna mendadak terbuka.
"Goblok, kaget! Depan mata!"
Yuda sampai tersedak asap rokoknya sendiri. Matanya spontan menoleh ke arah lorong.
Dan seketika...
Ia membeku.
Di ambang pintu berdiri dua orang. Yang menampilkan Nazwa, dengan senyum puas seorang kakak yang baru menyelesaikan sebuah karya.
Yuda berkedip dua kali.
"Lah..."
Ia menoleh ke Nazwa. Lalu kembali ke Yuna.
"Lah?!"
Matanya membelalak.
"Itu... adek gue?"
Gadis yang biasanya hanya mengenakan hoodie hitam longgar dan celana jeans sederhana itu kini tampak benar-benar berbeda.
Rambut bob hitamnya dibiarkan terurai rapi, membingkai wajah mungil dengan poni tipis yang membuat sorot matanya terlihat lebih lembut.
Ia mengenakan kaus oversized berwarna krem polos di bagian dada. Lengan kaus yang sedikit longgar membuat penampilannya terlihat santai.
Bagian bawahnya berupa rok plisket warna khaki yang jatuh hingga atas lutut. Tidak terlalu feminin, tetapi juga tidak terlalu tomboy. Tepat berada di tengah-tengah.
Sepasang sneakers putih sederhana melengkapi penampilannya.
Di punggungnya tergantung ransel hitam kecil yang tampak praktis. Seolah-olah siap membawa buku catatan, peralatan tulis, bahkan penggaris lipat kalau sewaktu-waktu dibutuhkan. Botol minum berwarna merah muda terselip di kantong sisi kiri yang telah dipersiapkan oleh Nazwa. Meski berkali-kali Yuna tolak untuk membawanya.
Ditambah gantungan kunci berbentuk beruang putih yang bergoyang kecil ketika Yuna bergerak.
"Gimana?"
Yuda masih belum berkedip.
"...Anjir."
"Lucu banget adek gua!"
Pandangannya naik ke riasan tipis yang memulas wajahnya. Menampilkan kesan segar dan natural yang tidak berlebihan. Bibirnya pun sedikit merona. Membuatnya langsung tahu siapa periasnya.
Di belakang Yuna, Nazwa menyentuh kedua pundak adik iparnya itu, sembari tersenyum penuh kemenangan.
Tetapi Yuna? Justru menunduk melihat pakaiannya sendiri.
"Menurutku... ini agak berlebihan."
Nazwa mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
"Tidak berlebihan, Sayang. Ini namanya niat."
Yuna berkedip sekali. Kepalanya miring sedikit untuk mencerna kata-kata itu.
"Ohh..."
Jawaban polosnya membuat ruang tamu hening selama dua detik.
Kemudian...
"Hahahaha!"
Yuda dan Nazwa tertawa bersamaan.
Sementara Yuna malah bertopang dagu sembari menatap wajah Abang dan kakak iparnya bergantian. Sama sekali tidak mengerti bagian mana dari ucapannya yang dianggap lucu.
Tawa mereka spontan berhenti ketika mendengar suara mesin motor perlahan memasuki halaman rumah. Lalu berhenti tepat di depan pagar.
Sontak kedua kepala yang sedang berada di ruang tamu menoleh bersamaan. Kecuali Yuna.
Yuda sedikit memajukan tubuhnya untuk melihat lebih jelas ke luar. Lalu mendapati seorang remaja lelaki duduk di atas motor matik berwarna hitam metalik.
Sweater krem dengan lengan putih gading membalut tubuhnya. Celana chinos berwarna senada dipadukan dengan sneakers hitam sederhana membuat penampilannya terlihat rapi tanpa berlebihan.
Ia bahkan belum sempat turun dari motornya.
Namun...
"Wahh"
Mata Nazwa langsung berbinar. Senyumnya perlahan melebar.
Ia pun menyenggol pelan bahu Yuna.
"Yun..."
Yuna menoleh.
"Huh?"
Nazwa mengangguk pelan ke arah halaman.
"Pas juga selera kamu."
Yuda yang masih mengintip dari sebalik gorden, langsung mendengus kasar.
"Eleh."
"Masih gantengan gue kali."
Ia bahkan sempat merapikan rambutnya sendiri dengan telapak tangan, seolah sedang mengikuti kompetisi yang tidak pernah dimulai.
Nazwa langsung memicing sembari menahan tawa.
"Apa sih? Aku loh nggak ngajak ngomong kamu."
Yuda tetap tidak mau kalah.
"Lah aku denger?"
Sementara itu, Yuna hanya mengikuti arah pandangan mereka. Matanya jatuh pada motor hitam yang masih menyala.
Kemudian ke posisi jok.
Lalu ke tinggi kendaraan.
Ia mengamati beberapa detik.
"Hm..."
Nazwa menunggu jawaban dengan penuh antusias.
Pasti...
Yuna pasti akan malu.
Atau minimal tersipu.
Namun yang keluar justru...
"Untuk kenyamanan dalam berboncengan..."
Yuda dan Nazwa sama-sama menoleh.
"...memang pilihan motornya cukup pas menurutku."
"Hah?"
"Jok belakangnya cukup lebar. Posisi pijakan kaki juga rendah. Sehingga aku masih bisa duduk menyamping dengan stabil."
"Lebih baik begitu ketimbang motor sport yang cukup tinggi untuk diriku."
Yuna mengangguk kecil, seolah sedang menyimpulkan hasil observasi.
"Jadi..."
"Pilihanku memang pas. Benar kan?"
Hening.
...
Nazwa perlahan menepuk dahinya.
"Ya Allah..."
"Maksud Kakak bukan itu..."
Yuda yang sejak tadi mendengarkan dengan serius justru perlahan mengangkat kedua jempolnya.
"Nah!"
"Tuh!"
"Gue bilang juga apa!"
Wajah Yuda langsung berubah penuh kemenangan.
Tubuhnya perlahan condong ke depan wajah Nazwa. Senyumnya menyeringai penuh kemenangan.
"Jadi..."
Ucapan Yuda menggantung. Nazwa refleks menaikkan alisnya.
"Kamu jangan cekokkin Yuna sama konten-konten Drakormu itu deh."
Yuda pun memundurkan tubuhnya. Lalu kembali mengintip kearah cowok yang kini melepas helmnya. Seperti seorang detektif abal-abal yang memindai target.
Nazwa yang melihat itu pun hanya memutar bola matanya pasrah.
"Ya Allah..."
"Padahal ku kira bakalan ada sisi romantismenya loh Yuna."
Yuna berkedip bingung.
"Memangnya..."
"...ada yang salah dengan analisisku?"
Pertanyaan polos itu justru membuat Yuda cekikikan di samping ambang pintu. Bahunya bergetar. Jelas sedang menahan tawanya agar investigasinya tak ketahuan.
Sementara Nazwa hanya bisa menggeleng pelan sembari menghela napas panjang.
"Semoga suatu hari nanti ada orang yang bisa bikin anak ini berhenti menganalisis semuanya."
sebelumnya lebar lapangan