`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12_Tugas Pertama Sang Tiran
BAB 12_Tugas Pertama Sang Tiran
Keheningan yang mencekam masih bergema di seluruh area aula utama Ozawa School. Murid-murid yang berkumpul mematung dengan mulut ternganga, sama sekali tidak berani bernapas keras. Udara di dalam ruangan itu serasa membeku, menghimpit dada siapa pun yang menyaksikan momen sejarah tersebut.
Reno dan Bagas berdiri memucat di sudut ruangan, ponsel yang tadinya disiapkan untuk merekam kejatuhan Alia kini gemetar di genggaman mereka. Senyuman mengejek yang biasa menghiasi wajah kedua perundung itu telah lenyap tanpa sisa, berganti dengan sorot mata panik yang penuh ketidakpercayaan.
Di tengah panggung, Teo Ozawa berdiri membeku. Wajah tampannya yang biasanya dipenuhi keangkuhan kini pucat pasi, diwarnai oleh campuran antara rasa malu yang luar biasa, amarah yang membakar, dan ketidakpercayaan yang menusuk egonya hingga ke dasar paling dalam. Pria yang selama ini disembah, ditakuti, dan dipuja sebagai penguasa mutlak Ozawa School baru saja dihancurkan secara akademis dan mental oleh gadis yang pernah ia jadikan bahan taruhan murah.
`"Apa kamu bilang...?"` desis Teo, suaranya begitu rendah dan bergetar menahan murka yang siap meledak kapan saja. Matanya yang memerah bagaikan bara api menancap tajam pada Lea. `"Pelayan...?"`
Lea tidak berkedip sedikit pun. Sama sekali tidak ada getaran ketakutan di dalam dirinya. Ia justru melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum manis yang sangat merendahkan. Dengan gaya anggun khas anak `high society` Melbourne, Lea memiringkan kepalanya sedikit, menatap Teo dari ujung rambut hingga ujung sepatu mewahnya dengan pandangan penuh superioritas.
`"Kenapa, Tuan Muda? Pendengaranmu mendadak bermasalah karena syok kalah telak?"` sindir Lea halus, namun setiap kata diproyeksikan dengan sangat jelas hingga terdengar oleh murid-murid yang berkerumun di barisan depan. `"Janji adalah janji. Seluruh sekolah jadi saksi taruhan kita. Atau... seorang Teo Ozawa cuma pembual penakut yang tidak punya harga diri buat menepati kata-katanya sendiri?"`
Bisikan-bisikan kecil yang mulanya teredam mulai pecah di antara kerumunan murid bagaikan riak air.
`"Anjay... Kak Teo beneran disuruh jadi pelayan?!"`
`"Tapi kan mereka bertaruh secara terbuka di koridor tadi pagi..."`
`"Sumpah, sejarah pertama di Ozawa School ada yang berani menyuruh Kak Teo!"`
`"Gila, Alia yang sekarang beda banget! Dia bener-bener gak takut mati!"`
Mendengar bisikan-bisikan yang meragukan ketegasannya itu, rahang Teo mengeras hingga urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol tajam. Sebagai anak dari pemilik yayasan sekolah, Teo belum pernah dipermalukan selevel ini sepanjang hidupnya. Jika ia menolak dan melanggar taruhan ini sekarang, harga dirinya sebagai penguasa sekolah akan hancur total dan ia akan dicap sebagai pengecut di depan seluruh anak murid Ozawa School.
Dengan langkah berat dan napas memburu, Teo memutar tubuhnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan menerobos kerumunan murid yang langsung terbelah memberikan jalan karena takut terkena amukan tiran yang sedang terluka itu. Langkah kakinya yang lebar-lebar menuju lurus ke arah gedung kelas 11.
`"Kak Teo! Mau ke mana, Kak?!"` panggil Reno panik, mencoba mengejar bosnya dari belakang bersama Bagas.
`"Lakukan tugasmu, Teo! Jangan lama-lama!"` seru Lea santai dari tengah aula, menyilangkan kakinya dengan tawa kecil yang sangat puas.
Di dalam telinganya, suara Liam kembali terdengar pelan melalui earpiece rahasianya: `"Lea, sayang, itu tadi suara riuh apa? Apa pria yang mengganggumu itu sudah kalah?"`
Lea berjalan perlahan menuju bangku panjang di tepi aula, duduk bersandar seraya berbisik sangat pelan agar tidak ada yang curiga, `"Sudah, sayang. Dia baru saja pergi mengambilkan tasku. Kamu hebat sekali hari ini. Nanti malam aku telepon ya, I love you."`
`"I love you too, Sweetheart. Hati-hati di sana, ya,"` balas Liam penuh rasa puas dan bangga sebelum memutus sambungan internasional tersebut.
Lea melepas earpiece sekecil biji beras itu secara sembunyi-sembunyi dan menyimpannya rapi di dalam saku blazernya. Ia lalu mengusap kuku jarinya yang terawat dengan santai, menunggu 'pelayan barunya' kembali menjalankan perintah.
Lima menit kemudian, langkah kaki yang menggelegar kembali terdengar di koridor aula. Aura yang dibawanya begitu pekat akan kemarahan.
Teo berjalan kembali dengan aura membunuh yang sangat kuat. Wajahnya gelap bagaikan langit mendung yang siap mencurahkan badai. Di tangan kanannya, ia mencengkeram tali tas sekolah milik Lea dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih dan urat nadinya mencolok. Semua murid menahan napas saat Teo berjalan menembus barisan dan berhenti tepat dua langkah di hadapan Lea.
`BRAK!`
Teo melempar tas itu ke atas meja kayu di sebelah tempat duduk Lea. Tumpukan buku dan tempat pensil di dalam tas itu menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras di tengah aula yang sepi.
`"Tasmu,"` desis Teo dingin, menatap Lea dari atas dengan kilat mata yang sanggup membakar siapa pun yang berani menantangnya.
Lea menatap tas sekolahnya di meja, lalu beralih menatap wajah Teo dengan gelengan kepala pelan. Lea memperlihatkan raut wajah kecewa yang sengaja dibuat-buat, memancing batas emosi Teo ke titik paling rawan.
`"Ckckck... sopan santunmu buruk sekali, Teo,"` tegur Lea santai, mempermainkan kesabaran pria di hadapannya. `"Seorang pelayan yang baik tidak melemparkan barang milik majikannya begitu saja. Dan satu lagi..."`
Lea menegakkan posisi duduknya di atas bangku, menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain, lalu menunjuk ke arah tali sepatu seragamnya yang sedikit melonggar.
`"Kencangkan tali sepatuku. Tanganmu kan masih utuh dan berfungsi?"`
`Deg!`
Seluruh aula mendadak seperti kehabisan pasokan oksigen. Reno dan Bagas bahkan sampai memegang kepala mereka karena tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari mulut Lea. Menyuruh Teo mengambil tas di kelas saja sudah tergolong gila, tapi menyuruh seorang Teo Ozawa berlutut untuk membenarkan tali sepatu?! Itu sama saja menyulut api tepat di atas gudang mesiu!
`"Kamu.....sudah bosan hidup Alia!!? Jangan kelewatan!"` Teo mencengkeram tepi meja kayu di sebelah Lea dengan sangat kuat hingga kayu itu berderik. Pria itu memajukan tubuhnya, memotong sisa jarak di antara mereka hingga napas hangatnya yang memburu menyapu pipi Lea. `"Aku sudah mengambilkan tasmu, jangan pernah berpikir kamu bisa memperlakukanku seperti anjing!"`
Lea tidak mundur atau mengedipkan mata sedikit pun. Manik mata karamelnya justru memancarkan keberanian yang dingin. Senyum beracun Lea makin terkembang tajam, memperlihatkan betapa ia sangat menikmati dominasi baru ini.
`"Lho? Siapa yang bilang tugas pelayan cuma mengambilkan tas?"` bisik Lea pelan dan intim tepat di depan wajah Teo. `"Kamu sendiri yang menetapkan taruhan itu di koridor tadi pagi, Tuan Muda. Kamu bilang kamu siap melakukan apa saja kalau kalah. Kalau kamu tidak mau menurut... bilang saja secara jujur ke seluruh sekolah kalau Teo Ozawa hanyalah seorang penakut yang tidak sanggup memegang kata-katanya sendiri."`
Teo menatap mata karamel Lea yang berkilat penuh kebanggaan dan kenikmatan atas penderitaannya. Dadanya bergemuruh hebat, menahan kemarahan luar biasa yang bisa meledak kapan saja menjadi kekerasan. Namun di saat yang sama, di balik amarah yang membakar itu, ada perasaan asing yang aneh menyeruak di dasar hati Teo. Sebuah sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya: untuk pertama kalinya, ada seorang gadis yang tidak bertekuk lutut padanya, seorang gadis yang sanggup menekan, mengendalikan, dan menginjak-injak egonya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Pandangan Teo menyapu ke sekeliling aula. Puluhan pasang mata murid-murid Ozawa School sedang menatapnya, menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh sang tiran. Jika ia mundur sekarang, reputasi yang dibangun keluarganya selama berintegrasi dengan sekolah ini akan hancur menjadi abu.
Dengan gigi tergetuk rapat hingga rahangnya mengeras tajam dan tatapan mata yang tak lepas mengunci pandangan Lea, Teo perlahan-lahan menurunkan posisi tubuhnya.
`BRAK.`
Satu lutut Teo menyentuh lantai marmer dingin aula utama.
Jeritan tertahan dan kasak-kusuk shock spontan memenuhi aula. Reno menutup mulutnya tidak percaya. Seorang Teo Ozawa—sang tiran tak tersentuh yang paling ditakuti di Ozawa School—benar-benar berlutut di lantai di hadapan gadis yang selama ini ia tindas.
Jemari Teo yang gemetar oleh kemarahan yang tertahan meraih tali sepatu hitam milik Lea. Dengan gerakan yang sedikit kasar namun sangat terlatih, ia merapikan dan mengikat tali sepatu itu kembali hingga kencang. Napas Teo terdengar memburu keras, berhembus mengenai ujung kaki Lea.
`"Sudah puas?"` desis Teo dari bawah, mendongak menatap Lea dengan mata yang memerah dan napas menahan amarah.
Lea menatap pria penguasa sekolah yang kini benar-benar berada di bawah kakinya. Kepuasan pekat dan rasa menang yang membakar memenuhi dada Lea. Dalam hatinya, Lea berbisik pelan, membayangkan betapa Alia yang asli—saudara kembarnya yang pernah menangis tersedu-sedu karena perundungan Teo—pasti akan merasa terbalaskan melihat pemandangan yang sangat langka ini.
Lea tersenyum paling anggun, lalu menepuk-nepuk pelan puncak kepala Teo beberapa kali seolah sedang mengelus hewan peliharaan yang baru saja menyelesaikan perintah.
`"Pintar,"` bisik Lea renyah dengan tawa tipis yang mematikan. `"Itu baru tugas pertama untuk hari ini. Bersiaplah untuk tugas-tugas berikutnya, Pelayanku."`