Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Mereka bersama-sama hendak turun ke ruang makan. Hasby mengulurkan tangannya meraih pergelangan tangan istrinya pelan, Hawa menoleh cepat dan melihat suaminya.
"Maaf," segera Hasby melepaskan tangan istrinya, takut Hawa salah paham.
"Ada apa kak?"
"Di bawah ada Om Damar, adik Papa," papar Hasby datar.
"Apa tamu tadi sore itu?"
"hm,,, iya. Om baik kok, nanti kenalan aja,"
"iya kak, ayo kita turun, kasian nanti Om menunggu lama," ucapnya lembut.
Mereka jalan beriringan, seperti pasangan yang akrab, tapi mereka belum seakrab itu. Masih banyak kecanggungan diantara mereka.
Suara langkah kaki yang menuruni tangga terdengar menggema di lantai rumah yang sepi ini. Membuat seorang laki-laki yang sudah duduk di meja makan menoleh, tatapannya tertuju pada gadis cantik yang berjalan di samping keponakannya.
Gadis itu setinggi pundak Hasby, wajahnya putih bersih, pipinya sedikit chubby, matanya bulat cantik sekali. Kepalanya di balut dengan kerudung berwarna peach yang senada dengan gamisnya. Seperti buah peach, terlihat segar dan manis.
Mereka berjalan mendekat, Om Damar segera mengontrol ekspresinya. Karena sangat terlihat dari tadi Om Damar melihat Hawa terus.
"Assalamu'alaikum Om," Hawa mengucap salam lembut.
"Wa'alaikumsalam," Om Damar menjawab ramah.
"kenalin Om, ini Hawa Maheswari, istriku," Hasby mengenalkan Hawa dengan tenang.
"Salam kenal Om," Hawa menangkupkan kedua tangannya, tersenyum manis.
"Salam kenal kembali Hawa," senyum Om Damar melebar "ayo duduk, kita makan malam bersama,,, Om sudah sangat lapar," lanjutnya lagi.
"Iya Om," Hawa dan Hasby duduk berdampingan.
Mereka menikmati makan malam dengan penuh keakraban. Memakan semua hidangan sampai ludes.
Om Damar dan Hasby berpindah ke ruang tv, sedangkan Hawa membantu Bik Im membersihkan bekas makan malam tadi.
"Bik, setelah makan malam biasanya Om minum kopi atau teh anget?" Hawa mengelap tangannya yang basah.
"Tuan Damar biasanya kopi hitam panas Neng, bentar! biar Bibik yang bikin aja. Neng duduk dulu. Kasian dari tadi bantuin Bibik terus," ucap Bibik tersenyum ramah, dengan cekatannya Bibik membuatkan kopi hitam panas dan susu hangat dua gelas.
Hawa mengamati cara membuat minumannya. Ia diam-diam mengingatnya, sewaktu-waktu membuatkan untuk suaminya.
Hawa membawa nampan yang berisi minuman yang telah dibuat Bik Im tadi keruang tv. Ia melihat Hasby dan Om Damar sedang membahas sesuatu yang tidak dimengerti Hawa. Dimeja pendek depan tv banyak kertas-kertas, ada juga yang tengah di baca Om dan sesekali Hasby menyahuti.
Sudut mata Hasby menangkap gerakan Hawa yang mendekat, ia segera meletakkan kertasnya dan mengambil alih nampan tersebut. Om menumpuk kertas-kertas itu menjadi satu.
"Makasih kak," Hawa tersenyum lembut. Hasby mengangguk pelan.
Hasby meletakkan nampan diatas meja bersisihan dengan tumpukan kertas.
"Silahkan di minum Om!" ucap Hawa sembari mengambilkan gelas kopi lalu menyerahkan pada Om Damar.
"Terima kasih Wa," Om Damar mengulurkan tangannya menerima pemberian Hawa.
"Ini untuk Kak Hasby," senyum Hawa terlihat manis sekali.
"Hmm, makasih," Hasby memegang gelasnya.
Mereka menikmati minuman hangat itu sembari sesekali bercerita. Suasana hangat tersebut harus terinterupsi dengan bunyi bel rumah.
Mereka saling pandang, seolah bertanya melalui tatapan mata, siapa yang bertamu malam-malam. Hasby dan Om Damar mengangkat bahu dan kembali membicarakan kerjaan kantornya.
Bik Im yang mendengar langsung berjalan keluar dari dapur hendak membuka kan pintu. Hawa mengikutinya, ingin melihat siapa gerangan yang bertamu pada waktu orang hendak beristirahat.
Pintu rumah terbuka lumayan lebar, Bik Im dan Hawa beranjak menuju gerbang. Hawa melihat Pak Sam tengah berbicara dengan seorang perempuan yang masih diluar gerbang.
"Maaf cari siapa ya Neng?" tanya Pak Sam penasaran pada gadis muda itu.
"Cari Hasby pak, apa dia dirumah?" ucapnya tenang, tersenyum ketika melihat Bik Im dan Hawa mendekat.
"Kalau boleh tahu ada keperluan apa ya kak?" sela Hawa tenang. Ia merasa tidak nyaman ketika melihat perempuan itu. Ada rasa tak biasa dari sorot matanya.
Perempuan itu sangat cantik, kulitnya putih bersih, hidung mancung, tinggi hampir sama dengan dirinya. gadis tersebut memakai gaun lengan pendek berbentuk balon dengan panjang selutut warna mustard, terlihat bagus dan sangat cocok untuknya. Membuat Hawa merasa insecure.
"Ingin ketemu dan melepas kangen," jawabnya tersenyum lembut.
Hawa tersentak ketika mendengar jawaban dari perempuan yang tidak dikenalnya.
"Nama Neng siapa ya?" kali ini Bik Im yang bertanya.
Hawa terdiam, entah apa yang ada di pikirannya. Jawaban itu seakan membuktikan mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hal tersebut membuatnya merasa bingung sendiri. Hatinya merasa terancam. Entah karena apa, ia tidak mengerti.
"Nama saya Tiar Azani bik, tolong sampaikan pada Hasby, aku datang mencarinya,"
"Baik Neng, tunggu sebentar," segera Bik Im berjalan cepat masuk kedalam rumah lagi hendak menyampaikan kepada tuan mudanya itu.
"Kamu siapa?" tanya Tiar melihat Hawa dari atas sampai bawah, tatapan seperti menilai.
"Perkenalkan kak, saya Hawa," jawab Hawa tersenyum ramah sembari mengulurkan tangannya kepada Tiar.
"Iya salam kenal ya, aku pacarnya Hasby?!" ungkapnya tegas. Seolah memberi tanda kepemilikan.
Duaaarr...
Bak disambar petir, Hawa menahan napas, dirinya mematung tak bergeming. Rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya membuatnya sulit untuk bernapas dengan baik. Segera ia menarik napas dan mengeluarkannya. Ia ulang-ulang sampai merasa normal lagi. Pikirannya entah melayang kemana-mana.
"Hawa masuk!" suara bariton milik Hasby mengembalikan kesadaran Hawa yang sempat berkelana jauh memikirkan ucapan perempuan yang mengaku sebagai kekasih dari laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.
Hawa melihat Hasby dengan mata yang sudah memerah, air yang menggunung di matanya siap terjun bebas dengan sekali berkedip, dirinya berjalan dengan cepat masuk kedalam rumah.
Tanpa menghiraukan panggilan Bik Im yang memanggilnya dari tadi. Ia berlari menaiki tangga dan masuk ke kamar dan menguncinya rapat.
Om Damar hanya melihat Hawa tanpa ingin menghentikannya naik ke kamar. Ia mengerti apa yang tengah di rasakan oleh istri keponakannya tersebut. Om Damar sudah tahu siapa tamu itu, karena Bik Im yang memberi tahu Hasby dan dirinya tadi.
Dia[Om Damar] membiarkan Hasby yang menyelesaikan permasalahnya sendiri. Dia menjadi pengamat terlebih dahulu.
Dibalik pintu kamar tubuhnya merosot bersandar pada pintu, air mata yang di tahannya meluncur dengan derasnya. Ia terisak pelan, menahan suaranya supaya tidak sampai terdengar.
Ia tidak tahu karena apa, tapi hatinya terasa sakit. Di ruangan yang luas ini ia merasa sesak dan kesulitan bernapas. Hawa beranjak ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Segera ia mengaji, ia butuh ketenangan hati.
Awal membaca juga masih sesak tapi lama kelamaan ia mulai tenang.
Pintu Gerbang sebagai pembatas...
Hasby menatap tajam dan dingin kepada Tiar. Dia sangat tidak menduga kalau Tiar akan mendatanginya seperti ini. Dan ia marah karena mendengar Tiar mengaku sebagai pacarnya.
Hasby menghela napas dengan kasar, seolah emosinya tengah meluap.
"Hy By,, tolong bukain pintu,,, capek aku dari tadi berdiri terus diluar pagar," ucapnya lembut tapi bernada manja, seperti seorang kekasih.
"Mau apa kamu kesini?" hasby benar-benar berlaku dengan dingin dan terasa kasar pada seorang tamu. Yah, tamu yang tak di harapkannya.
"Kamu nggak kangen sama aku By? Dulu setiap kita ketemu kamu nggak mau jauh dari aku, kenapa sekarang kamu berubah By?" ungkapnya sedih, raut wajahnya terlihat murung.
"Jangan sembarangan bicara!" gertak Hasby marah.
"Apa kamu sudah lupa semua kenangan kita dulu?" desaknya lagi.
"Lupakan semuanya! Sekarang pergi dan jangan ganggu aku lagi!" katanya dingin.
"Nggak, aku nggak akan pernah lupain semua tentang kita By,,, siapa perempuan tadi? Apa dia pacar barumu?" teriakan Tiar menggema di malam yang sunyi ini.
"Bukan urusanmu. Masalalu kita sudah selesai, jadi aku minta tolong kamu tinggalkan rumah ini. Kita sudah selesai!" tegas Hasby berbalik ingin masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Tiar di luar pintu gerbang.
"Tunggu By,,, By tolong jangan seperti ini, AKU CINTA SAMA KAMU BY?!" suara lantang Tiar terdengar begitu jelas di indra pendengarannya.
Hasby berhenti tidak jauh dari Tiar, ia menahan napas, memejamkan matanya. Mengepalkan jemarinya, rahangnya mengeras, sorot matanya berubah tajam dan dingin.