NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Batuk Asti 3

Yelak mendekati jendela dan membuka sedikit daun pintu jendelanya, dia ingin melihat siapa kira-kira yang datang, tidak terlihat siapapun, suara itu juga hilang.

Yelak menggeleng, mama Lira mengangguk, dia lalu mengeluarkan serbuk dedaunan yang dia bawa dari rumah, lagi-lagi dia berbohong, bukankah tadi dia hanya mau lihat katanya, tapi ternyata dia membawa serbuk daun penyembuh itu.

Serbuk itu dibuat dari beberapa jenis daun yang sudah dikeringkan kemudian ditumbuk sampai sangat halus. Bagi manusia biasa, bentuknya tidak lebih dari bubuk tanaman yang tidak memiliki sesuatu yang istimewa, tetapi bagi Dekekuoi, tanaman tertentu dapat digunakan sebagai bahan untuk membantu tubuh ketika saluran pernapasan sedang mengalami gangguan. Nyonya Yelak tidak menyebutnya sebagai obat yang bisa menyembuhkan penyakit, karena dia sendiri tahu bahwa bubuk itu hanya membantu membuka jalan pernapasan untuk sementara.

Dia mengambil sedikit serbuk tersebut dengan ujung jarinya, lalu mendekatkannya ke hidung Asti yang sedang tertidur.

“Pelan-pelan, Nak.”

Nyonya Yelak kemudian meniupkan serbuk itu ke sekitar ruangan agar sepanjang hari nanti Asti bisa menghirup serbuknya dan batuknya bisa menjadi jauh lebih ringan. Serbuk halus tersebut masuk bersama udara yang dihirup Asti, melewati hidung dan kemudian masuk ke saluran pernapasan. Tujuan Nyonya Yelak bukan membuat penyakit itu hilang, melainkan membantu mengurangi gangguan yang membuat udara sulit keluar masuk dengan baik.

Ia tahu batuk sebenarnya adalah reaksi tubuh ketika saluran pernapasan mengalami gangguan. Ketika ada lendir, iritasi, pembengkakan atau sesuatu yang mengganggu jalan udara, tubuh akan berusaha mengeluarkannya melalui batuk. Karena itu, kalau jalan pernapasan bisa dibuat lebih lega untuk sementara, batuk Asti juga seharusnya berkurang.

Asti menarik napas, sekali, kemudian lebih dalam. Dada kecilnya yang sejak tadi bergerak cepat mulai perlahan turun naik dengan lebih teratur. Nyonya Yelak memperhatikan. Tidak ada batuk. Beberapa detik kemudian Asti kembali menarik napas. Masih tidak batuk.

“Berhasil.”

Nyonya Yelak tersenyum kecil, namun dia tidak terlalu senang.

Dia tahu serbuk itu bukan penyembuhan sebenarnya. Bubuk tersebut hanya membantu membuat saluran pernapasan terasa lebih lega sehingga Asti bisa bernapas tanpa terus menerus memicu batuk. Kalau penyebabnya masih ada, maka setelah pengaruh bubuk itu hilang, batuk bisa kembali.

“Ini hanya sementara, serbuk ini akan membantunya bernapas dengan baik saja dulu. Kita pulang, aku perlu memastikan sesuatu, ini seharusnya bukan masalah medis, karena masalah medisnya sudah ditangani jauh sebelum batuknya parah, obatnya sudah benar, tapi sakitnya terus datang, karena mereka dikerjai! Bukan santet atau semacamnya, tapi ini masih kecurigaanku saja.”

Tangannya kembali menyentuh dada Asti, kali ini napas anak itu jauh lebih tenang.

Papa, mama dan Lira keluar dari pintu belakang, karena pintu belakang rumah mereka belakangnya adalah hutan bambu dan semalam ini tak mungkin ada yang lewat, beberapa orang percaya hutan bambu adalah rumah kuntilanak, itu membuat 3 Dekekuoi itu jadi lebih aman untuk pergi.

Tapi sebelum pergi, Lira melihat ada kandang, kandangnya aneh, tapi karena disuruh mama cepat, Lira akhirnya mengabaikan kandang itu.

Mereka bertiga pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, mama meminta Lira untuk tidur, karena besok Lira harus sekolah, maka Lira patuh dan mencoba tidur, sementara papa dan mama masuk ke kamar, mama perlu mendiskusikan sesuatu.

“Pa, bagaimana kalian tahu aku pergi ke rumah Asti?” Mama bertanya.

“Lira terbangun katanya dia haus lalu saat dia melewati Gracula, beo itu berkata ‘aku pergi dulu ya, jangan berisik’, Lira lalu berlari ke kamar kita dan melihat kau tak ada, Lira menebak kau pasti ke rumah Asti, temannya yang sakit. Lira tahu, kau pasti penasaran dengan sakit tak sembuh itu. Jadi kami menyusulmu.”

“Lain kali aku takkan pamit padanya, beo itu ternyata tukang mengadu!” Mamanya Lira kesal, padahal itu hewan sihir peliharaannya, kenapa dia malah mengadu pada Lira.

“Kalau ada lain kali aku marah loh! Kok bisa sih kamu pergi sendirian, itu bahaya loh, kalau ada Jagabaya Kasipin gimana? Ok lah kalau mereka nggak ada, tapi kalau ada tentara gimana? Kau kan tahu mereka memberlakukan jam malam di ibu kota, nanti kau dituduh PKI, makanya aku nggak mau kamu celaka, jangan sendirian lagi pokoknya.”

Yelak memang marah dengan tepat, karena di saat seperti ini, ketika PKI masih diburu, jam malam diberlakukan di ibu kota, meski tidak seperti ketika hari utama terjadi, tapi di hari ini meski konflik telah terlewati 1 bulan, tetap saja jam malam diberlakukan, dari jam 7 malam hingga jam 5 pagi, tidak ada satu warga pun yang boleh berkeliaran di luar.

Jika keluar, maka bisa jadi ditangkap lalu diinterogasi. Selama jam malam berlaku, aktivitas warga lumpuh total pada malam hari. Suasana kota menjadi sangat sepi dan mencekam karena jalanan sepenuhnya dikuasai oleh patroli tentara.

Jadi Yelak takut istrinya ditangkap oleh Tentara.

“Tenang saja, aku kan bisa memantrai mereka.”

“Tidak dalam jumlah banyak sayang, kau pikir para Tentara hanya satu dua orang seperti papa dan mamanya Asti, mereka banyak dan bisa jadi tidak semua bisa terkena sihir, bagi beberapa orang yang jiwanya kuat, bisa jadi mereka takkan terpengaruh, jadi lebih baik hati-hati. Ingat mama, tujuan kita ke ibu kota adalah untuk hidup tengan dan aman.

Jadi, kalau mama sekiranya mau bergerak, apalagi mengeluarkan ilmu sihir yang tentu butuh Sila, mama harus beritahu kami dulu, tadi aku dan Lira yang menghapus jejak Sila dari sihir yang mama gunakan.”

“Iya, iya bos, aku hanya kasihan saja pada Asti, kau tahu kan, hamil sembilan bulan, melahirkan anak dan akhirnya membesarkan, membuat kami para ibu tahu kalau anak sakit itu ada waktu di mana mereka pasti sembuh, kalau ada perkara medis kami usahakan, tapi kalau tak kunjung sembuh, rasanya dunia kami hancur, aku hanya merasa bahwa mereka butuh bantuan kita.

Kau tahukan, sebagai Penyihir Dekekuoi kita tak boleh abai dengan penyakit yang bisa kita bantu sembuhkan, bahkan jika tak ada penyebab sihir di dalamnya.”

“Ok, ok, aku kan nggak larang, tapi kasih tahu saja, jangan mengendap-endap. Kalau begitu, apa yang kau curigai dari sakitnya Asti setelah memeriksannya tadi?”

“Ada sesuatu di saluran pernapasannya yang terus membuatnya kesulitan bernapas, benda itu terus muncul dan akhirnya dia harus batuk untuk melepaskan benda asing itu, aku merasakan getaran aneh saat memegang dadanya, seperti energi yang datang, lalu pergi, datang lagi, tapi aku tak tahu asalnya, aku harus memeriksa seluruh rumah pa, aku harus melihat kesalahan apa yang dilakukan orang tua Asti sampai kesalahan itu menghukum anaknya.

Meski aku tak mau menghakimi, tapi pasti ada yang salah yang mereka lakukan, sakit itu datang dari Tuhan juga kan Pa, maka ketika kita sudah berusaha sembuh dengan berobat, tak ada salahnya mulai mempertanyakan kemungkinan lain, seperti sihir yang lahir dari kesalahan yang fatal.

Aku akan coba cek lagi nanti, tapi Lira jangan ikut campur pa, aku takut dia nanti salah bicara dengan teman-temannya, kau tahu kan, anak itu selalu merasa bangga menjadi penyihir tapi harus menyembunyikannya.”

“Ya, kau fokus mencari sebabnya, tapi tetap beritahu aku kau akan pergi, supaya aku tak khawatir, sementara itu aku juga akan mencari cara supaya saat kau melakukan sihir dengan bantuan Sila, tak ada Jagabaya Kasipin yang bisa mendeteksimu.”

“Baiklah, Pa, semoga kita bisa membantu, kasian Asti, sudah sangat kurus dan aku takut kita terlambat.”

1
Vie Vie Sue
/Good/
Vie Vie Sue: iya. sama2 kk. aku masih disini cuma nungguin karya² kk. sukses selalu ya
total 2 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!