NovelToon NovelToon
Luka Tak Terlihat

Luka Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Illana Clr

Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.

Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua keluarga, Dua keadaan

Dirumah sakit, tepatnya dikamar rawat inap Vino Safa dan Johan berdebat kecil namun suaranya terdengar oleh Vino.

Safa mondar-mandir sambil pegang HP.

“Aku ada pemotretan. Itu udah dijadwalin dari lama, Johan!”

Johan juga nggak kalah. Jasnya masih dipakai.

“Aku juga ada meeting penting. Ini penentu perusahaan kita!”

Safa berhenti. Noleh ke Johan.

“Ya pokoknya aku gak mau tau. Vino kamu yang urus!”

Di ranjang, Vino melerai orangtuanya.

“...Mom, Dad...”

Vino bangun dari tidurnya, dengan wajah pucat dan kaos kebesaran rambutnya masih berantakan.

Dia udah bangun dari tadi denger semua

Kedua orang tuanya langsung diem.

Vino senyum. Senyum yang dipaksa biar mereka nggak ribut lagi.

“Vino sama Mbak Sri aja. Atau sendirian juga gak apa-apa.

Mommy sama Daddy kerja aja. Vino mau istirahat.”

Kalimat itu. Tenang. Dewasa. Terlalu dewasa buat anak 7 tahun.

Dada Johan kerasa ditusuk.

“Vino sayang... maafin Daddy nak. Kali ini aja ya.

Daddy janji, setelah semua selesai Daddy sama Mommy temenin kamu.”

Safa buru-buru ambil HP. Tangannya gemetar.

“...Mommy telpon Mbak Sri ya nak.”

Vino cuma ngangguk. Terus balik ke kamar.

Nutup pintu pelan. Nggak ngebanting.

Di dalam, dia duduk di pinggir kasur.

Berbisik ke dirinya sendiri:

_“Gapapa Vino... Kamu udah gede. Bisa sendiri.”_

Di luar, Johan dan Safa masih saling liat.

Tapi nggak ada yang minta maaf. Nggak ada yang peluk Vino.

Jam lima sore. Rafa sudah menunggu di parkiran kantor Alana. Jasnya ia lepas dan diletakkan di jok belakang.

Begitu melihat Alana keluar, Rafa langsung turun dan membukakan pintu mobil untuknya.

“Terima kasih, sayang,” ujar Alana sambil tersenyum dan masuk ke dalam mobil.

Rafa mengecup kening Alana sekilas sebelum menutup pintunya. Setelah itu ia masuk ke kursi pengemudi dan menjalankan mobil dengan pelan.

“Kita ke rumah Ayah dulu ya. Tadi Cia dijemput Ayah,” kata Rafa.

“Iya. Tadi dia juga telepon aku,” jawab Alana. “Katanya sudah makan es krim sama Kakek.”

Rafa melirik sekilas ke arah istrinya. “Kamu sudah makan?”

“Belum. Meeting-nya molor,” jawab Alana sambil menghela napas.

Alis Rafa bertaut. “Ya sudah, nanti kita makan bareng Cia. Biar rame.”

Alana mengangguk dan menggenggam tangan Rafa. “Oke, sayang. Makasih ya sudah jemput.”

Di luar jendela, langit Jakarta mulai berwarna jingga. Di dalam mobil suasananya tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada pintu yang dibanting. Hanya ada tanya “sudah makan belum” dan genggaman tangan yang menguatkan.

Mobil Rafa berhenti di halaman rumah Dirga.

Begitu masuk ke ruang tamu, isinya kosong. Sunyi.

Rafa dan Alana saling pandang. Dari arah ruang makan terdengar suara tawa kecil.

Ternyata Cia ada di sana. Duduk di kursi tinggi sebelah kakeknya. Di depannya ada nasi, telur, dan sayur.

“Ayah, Cia... Kalian di sini ternyata,” kata Rafa.

Alana langsung membungkuk memberi hormat. “Selamat sore, Ayah.”

Dirga menoleh. Sambil nyuapin Cia dia bilang,

“Nih, Cia lapar katanya. Kalian udah makan?”

Rafa menggeleng. “Belum, Yah.”

Dia jongkok di depan Cia. “Cia makan apa, sayang?”

Cia nunjuk piringnya sambil mangap. “Telor.”

Dirga tertawa. Lalu menatap Alana.

“Alana... kamu makan dulu di sini ya. Tuh lauk sayurnya banyak. Tadi Bi Ira masak. Masakannya jempol empat.”

Alana dan Rafa saling lirik. Bingung.

Dirga sadar. Dia langsung nambahin sambil nunjuk jempolnya.

“Enak maksudnya. Jempol kan ada empat.”

Spontan Rafa ketawa. Alana ikut senyum sambil menutup mulutnya.

Cia malah ikutan nunjukin jempolnya ke Kakek. “Jempol empat!”

Suasana rumah itu rame. Hangat.

Beda banget sama ruang rumah sakit tadi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!