Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Ga, mama ga tau mau masak apa, nasi goreng aja cukup kan?" tanya Sinta. Ia menimang-nimang ragu apakah cocok memberikan hidangan nasi goreng untuk acara sederhana itu.
"Udah ma gapapa, ga usah panik tenang aja," nasehat Rega. Karena bukan apa, melihat ibunya seperti ini dia pun ikut pusing dan ikut panik juga, makanya lebih baik ibunya ditenangkan biar dia juga ikut tenang.
"Beneran ya, duh mending mama cek kakak kamu dulu deh." Sinta mulai bergegas ke kamar Zakia, ia mengetuk pelan pintu kamar putrinya itu.
"Zakia, udah selesai kan?"
"Udah," jawab Zakia sedikit berteriak. Dia saat ini masih mematut diri di cermin, tak ada sedikitpun senyum yang terpampang, padahal ini termasuk momen yang membahagiakan, Zakia duduk di depan meja riasnya dan sejenak ia teringat percakapan mereka beberapa hari yang lalu.
*****
Sekitar jam delapan malam, Daren memberanikan diri untuk datang ke rumah Zakia, ia ingin memperjelas semuanya dan menyatakan niat baik yang ia pendam kepada wanita itu.
Di sini dia sekarang, di depan pintu pagar namun tak berani masuk, berulang kali ingin membuka kunci pagar namun tangannya selalu tertahan dan akhirnya berdiri diam, tak ada panggilan atau pergerakan, dia diam bak patung.
Tin tin
Tak lama kemudian terdengar suara klakson motor, Daren menoleh ke belakang, itu Rega yang menatapnya bingung.
"Lah bang Daren? Ngapain di sini?" tanya Rega bingung. Pakaian pria ini terlihat rapi, celana bahan berwarna krim dipadukan kemeja berwarna coklat dan juga sepatu tali yang menutupi kakinya.
"Mau nongki bang?" tanya Rega sekali lagi. Pasalnya Daren tak menjawab pertanyaan pertama, dia hanya mengulum bibir dan sesekali menggaruk tengkuknya.
"Mau ketemu kakak gue?" tebak Rega lagi. Daren mengangguk pelan dan menggoyangkan kakinya, rasa gugupnya benar-benar tak bisa diajak kompromi saat ini.
"Ada?" tanya Daren.
"Ya ada, masuk aja, lo berdiri di depan gini ga bakalan bisa nembus ke dalem elah, orang di dalam itu kalau ga dipanggil ga bakal ke luar, capek berdiri lo bang," nasehat Rega diiringi kekehan kecil setelahnya.
Daren ikut tersenyum kikuk mendengar itu,benar juga, kenapa rasanya dia sekarang seperti orang bodoh. Rega membuka kunci pagar dan memasukkan motornya ke halaman rumah.
"Assalamu'alaikum Ma, bang Daren datang," teriak Rega.
Sinta yang sedang memasak di dapur berjalan tergopoh ke ruang tamu, matanya membelalak ketika yang datang benar Daren, anak itu berjalan ke arahnya, menyalim tangannya dan tersenyum manis.
"Eh maaf tangan tante agak kotor abisnya lagi masak makan malam," kata Sinta tak enak. Dia sadar tangannya bau cabai, takut nanti anak itu tidak nyaman.
"Iya tante gapapa, eumm Zakia ada?" tanya Daren pelan. Sinta menelan ludah, tak ada sepatah kata apapun, dia hanya menatap pintu kamar anaknya yang tertutup, bahkan nasi yang diletakkan sedari siang tak sedikitpun disentuh oleh anak itu.
"Tante maaf kalau ini mendadak, tapi Daren ingin melamar Zakia dengan cara yang halal, yang sah, yang diridhoi oleh Allah," kata Daren mantap.
Sinta menggenggam tangannya ragu, karena masalahnya bukan ada pada dirinya, melainkan pada Zakia apakah mau menerima lamaran itu.
"Daren, dengan kamu mau menyelamatkan Zakia aja tante udh syukur banget, itu berarti kamu udah nolongin dia, apalagi sampai kamu bertanggung jawab begini, cuman semua itu tergantung oleh Zakia anak tante, kami hanya akan menemaninya saja," tutur Sinta.
"Bentar ya, biar saya panggilin dulu." Sinta berjalan ke arah pintu kamar Zakia, mengetuknya dua kali dan pintu itu pun terbuka lebar. Menampilkan Zakia yang berpakaian sederhana juga dengan rambut yang diikat asal.
Sinta sempat berdehem canggung, masih tak menyangka bahwa anaknya ini akan ke luar dari kamar hanya dengan dua ketukan pintu saja. Ia menatap Daren dan juga ibunya, seolah-olah bertanya apa yang dilakukan Daren di rumah mereka jam segini.
"Ada yang mau Daren omongin," jawab Sinta. Zakia menunduk dan pergi melewati Sinta, Daren melihat itu tak tinggal diam, dia menyusul Zakia yang pergi ke luar, wanita itu mungkin lebih nyaman bicara ketika mereka berdua saja, pikirnya.
Benar saja, ketika di depan pintu, Zakia duduk di kursi yang ada di teras, menatap ke depan tanpa mengatakan apapun.
Daren pun begitu, dia diam tapi ikut duduk di samping Zakia. "Gue .... ga tau harus mulai dari mana," celetuk Daren.
"Tapi yang pastinya, tuntutan warga sampai sekarang masih terus ada dan bahkan semakin parah, beberapa orang yang datang ke toko sengaja membeli sambil nuntut gue buat nikahin elo."
"Gue yakin, lo juga pasti tertekan sama keadaan ini, makanya gue berpikir buat nikahin lo langsung," katanya tegas.
Zakia tetap diam, pandangannya lurus tapi tubuhnya seperti kaku, sepertinya wanita ini memendam semua masalahnya terlalu lama, pikir Daren.
"Ini bukan salah lo bang Daren, jangan nikahin gue, impian gue masih banyak," jawab Zakia. Apa yang dikatakannya betul-betul kalimat yang selama ini ia simpan, Zakia lebih takut jika impiannya hancur daripada tidak menikah.
Daren menarik nafas, ia menyenderkan punggungnya di sandaran kursi dan ikut terdiam beberapa detik. "Gue tau, ini bukan salah gue, di sini kita ga ada yang salah, lo korban dan gue dijadikan kambing hitam, tapi biarin gue, mempertanggungjawabkan semuanya, setidaknya omongan dan gunjingan para manusia itu bisa mulai mereda kalau kita udah terikat di hubungan yang halal," jawabnya pelan.
"Dan masalah impian, lo ga usah takut, semua impian lo bakal gue dukung, gue tau lo pasti takut kalau udah nikah semua impian lo bakal terkubur, tapi gue ga punya pemikiran kayak gitu, gue dukung dan bakal gue bantu sebisanya," katanya mantap.
Bagaimanapun juga Daren tau wanita yang dia nikahi ini merupakan orang yang mempunyai banyak keinginan, sedikit banyaknya Daren mendengar dari bibir Zakia dan Reza, bahwa Zakia sudah tidak punya ayah dan semua impian yang ingin dicapai akan diusahakan oleh dirinya sendiri.
"Termasuk kalau suatu hari nanti gue berhasil kuliah di luar negeri?" tanya Zakia.
Daren terdiam, namun tak lama kemudian dia menarik nafas dan mengangguk mantap. "Iya, termasuk kalau suatu hari nanti lo bisa kuliah di luar negeri," jawabnya sambil menatap mata Zakia.
Zakia pun ikut membuang nafas kembali dan memainkan jari-jarinya. "Kalau gitu, lusa bawa bapak sama ibu ke sini, kita bicarakan semuanya secara kekeluargaan," suruh Zakia.
Daren diam sebentar, ia pun mengangguk dan tak berkata apapun. Sedangkan Zakia langsung masuk ke dalam rumah, tak berkata apapun dan tak menoleh sedikitpun.
Holla semuanya, ya ampun udah ga terasa udha bab 12 aja kisah Daren sama Zakia dan kykny Zakia dan Daren udh msuk ke tahap hubungan serius deh, pantau terus ya gimana kelanjutannya.