Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 20
Mangkuk keramik bertatahkan ukiran kuno itu sudah kosong, menyisakan kerak hijau kehitaman yang beraroma pahit tajam. Namun, pemuda terluka dari Keluarga Liu yang terbaring di atas ranjang kayu itu masih belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Wajahnya tetap pucat pasi bak kertas , napasnya pendek-pendek, dan denyut nadinya hanya berdenyut lemah setiap beberapa detik, seolah-olah nyawanya dipatok di ambang kematian yang sangat rapuh.
Tianchen melepaskan jemarinya dari pergelangan tangan pemuda itu. Alisnya yang tebal bertaut rapi, memancarkan guratan keheranan yang amat dalam.
Ziyan, yang sejak tadi menyandarkan tubuhnya di pinggir pintu sambil memutar-mutar pedang kayunya dengan bosan, melangkah mendekat. Matanya menatap tubuh pemuda itu dengan kening berkerut.
"Guru, ramuan dari Rumput Akar Naga dan Bunga Hati itu kan obat pemulih tingkat tinggi," celeguk Ziyan, suaranya dipenuhi rasa penasaran yang tak bisa ditahan. "Bahkan kultivator Ranah Fondasi pun bisa langsung melompat segar setelah minum setengah mangkuk. Tapi orang ini? Jangankan melompat, merintih pun tidak! Lagipula..." Ziyan menyipitkan mata, menyalurkan sedikit persepsi spiritualnya untuk memeriksa tubuh pemuda itu. "Dia ini sama sekali tidak punya akar spiritual! Bagaimana mungkin seseorang tanpa akar spiritual bisa bertahan hidup dari Mantra Darah Pemusnah? Dan lagi... kenapa di dalam dadanya seperti ada kehangatan yang sangat aneh? Bagaimana bisa orang biasa tanpa akar spiritual mempunyai tulang sakti?"
Tianchen menoleh lambat, menatap murid pertamanya itu dengan sudut mata yang dingin namun sarat akan ilmu.
"Pengamatanmu tidak buruk, Ziyan," sahut Tianchen tenang. Tangannya mengusap perlahan dada pemuda terluka itu, membiarkan energi spiritualnya meresap dalam-dalam ke dalam jaringan tulang si pemuda. "Tapi tebakanmu terlalu dangkal. Tulang yang tertanam di dalam dadanya bukan sembarang tulang sakti biasa. Itu adalah Tulang Naga Surgawi, salah satu dari tiga tulang sakti terlarang yang keberadaannya bertentangan langsung dengan takdir alam."
Ziyan melotot, matanya membelalak lebar. "T-Tulang Naga Surgawi?!"
"Benar," lanjut Tianchen, suaranya memberat, bergema halus di dalam kamar pengobatan yang sunyi. "Karena keberadaannya adalah anomali yang dibenci oleh Hukum Alam, maka sejak lahir, ada hukum tatanan langit yang secara konstan menekan kekuatannya agar tidak bangkit. Tulang ini adalah binatang buas yang sangat haus. Untuk berkembang dan mempertahankan keberadaannya, ia membutuhkan energi yang luar biasa besar. Dan karena pemuda ini tidak berlatih kultivasi sejak kecil untuk menyuapkan energi dari luar, Tulang Naga Surgawi di dalam tubuhnya secara perlahan memakan dan menguras habis akar spiritual pemiliknya sendiri hingga tak bersisa."
Ziyan menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya merinding. "M-Memakan akar spiritualnya sendiri?! Jadi... dia bukan lahir sebagai orang tanpa bakat, tapi bakatnya ditelan hidup-hidup oleh tulangnya sendiri?!"
"Begitulah hukum alam bekerja," jawab Tianchen datar. "Tulang itu menyerap semua nutrisi herbal yang kita berikan tadi. Makanya tubuhnya tidak menunjukkan perubahan signifikan, seluruh khasiat obatnya ditelan habis oleh Tulang Naga Surgawi untuk memperbaiki retakan pada struktur tulangnya."
"Lalu... lalu bagaimana, Guru?" tanya Ziyan panik, tiba-tiba merasa kasihan pada nasib tragis pemuda di depannya. "Jika terus begini, dia tidak akan pernah bangun! Tulang itu akan terus menyerap jiwanya sampai dia menjadi mayat kering!"
"Kita membutuhkan Pil Pemurnian Sumsum tingkat Murni," ujar Tianchen pelan.
Mendengar nama pil tersebut, ekspresi Ziyan makin tegang. Pil Pemurnian Sumsum adalah obat magis tingkat tinggi yang mampu mendobrak batasan fisik, membasmi racun takdir, dan menumbuhkan kembali jaringan energi yang hancur. Namun, untuk meraciknya...
"Tapi Guru," bisik Ziyan pelan, "memakan pil tingkat itu... bukankah akan memicu Fenomena Langit? Petir kesengsaraan dan kilatan cahaya ilahi pasti akan membumbung tinggi ke angkasa!"
"Tepat," Tianchen berdiri tegak, merapikan jubahnya. "Begitu ramuan pil itu terbentuk, uap keabadiannya akan memancar puluhan mil. Sekte Lembah Sunyi dan sekte-sekte tua lainnya pasti akan menyadarinya dalam sekejap. Sebelum hal itu terjadi, aku harus memperkuat dulu formasi pertahanan sekte dan menutup rapat aura alam di lembah ini, agar hal-hal yang terjadi di dalam tidak bocor sedikit pun sampai ke luar."
Tianchen menatap pemuda itu sekali lagi sebelum melangkah menuju pintu. "Untuk sementara waktu, biarkan obat herbal bekerja perlahan. Biarkan pemuda ini menyembuhkan luka fisiknya secara total terlebih dahulu."
Tianchen menoleh ke arah Ziyan yang masih berdiri termangu. "Ziyan, sebaiknya kamu ikut aku."
"Eh? Aku, Guru?" Ziyan menunjuk dadanya sendiri dengan polos.
"Jangan banyak tanya. Ikut saja."
Ziyan menyeringai kecil lalu mengekor rapat di belakang gurunya. Mereka berjalan melewati koridor kayu Balai Leluhur, melintasi kebun herbal yang asri, lalu melangkah semakin jauh ke dalam hutan bambu di belakang bukit yang belum pernah dikunjungi Ziyan sebelumnya. Udara di sekitar mereka perlahan berubah menjadi lebih berat, dipenuhi oleh tekanan spiritual yang mengintimidasi.
Setelah berjalan beberapa ratus langkah, langkah Tianchen terhenti di depan sebuah bangunan kuno berlumut. Bangunan itu berbentuk menara batu segi delapan yang tidak terlalu tinggi, hanya terdiri dari tiga tingkat namun memancarkan aura purba yang seolah-olah telah berdiri sejak zaman penciptaan dunia.
Ziyan mendongak, matanya menatap pintu besi tebal menara yang diukir dengan simbol-simbol runik yang bergetar redup.
"Guru... tempat apa ini?" tanya Ziyan pelan, matanya berkedip-kedip takjub sekaligus gentar.
"Ini adalah Menara Sepuluh Waktu," jawab Tianchen, suaranya tenang namun bergema tegas. "Ini adalah tempat yang sangat bagus untuk berlatih dan menguji pengalaman bertarung secara nyata. Waktu di dalam menara ini bergerak sangat berbeda dengan dunia luar. Satu hari di luar... sama dengan sepuluh tahun di dalam."
"APA???!"
Ziyan terlonjak kaget sampai melompat dua jengkal dari tanah. Matanya hampir keluar dari tempatnya. "S-Satu hari di luar sama dengan... Sepuluh tahun di dalam?!"
Selama ini, Ziyan kerap membaca gulungan sejarah. Dia tahu ada artefak atau menara ruang-waktu semacam itu di dunia kultivasi. Namun, bahkan di sekte-sekte terbesar dan terkuat di benua ini, seperti Sekte Awan Langit atau Istana Surgawi, menara ruang-waktu terbaik milik mereka paling-paling hanya memiliki rasio satu hari berbanding satu bulan! Itu pun sudah dianggap sebagai harta karun tingkat benua yang dilindungi mati-matian!
Tapi menara di hadapannya ini... Satu hari berbanding sepuluh tahun?! Bukankah ini berarti jika dia berada di dalam selama tiga hari, dia telah hidup dan berlatih selama tiga puluh tahun?!
"G-Guru... Anda tidak sedang bercanda, kan?" suara Ziyan bergetar gila-gilaan.
"Apakah wajahku terlihat seperti sedang melucu?" balas Tianchen dingin. Ia mengibaskan lengannya, dan seketika itu juga, pintu besi tebal menara berdecit berat, terbuka perlahan memperlihatkan kegelapan yang pekat di dalamnya, disertai pusaran energi spasial yang mengintimidasi.
"Masuklah ke dalam," perintah Tianchen tanpa ragu. "Berlatihlah dengan baik dan gunakan kesempatan emas ini sebaik mungkin. Di dalam sana, kamu tidak akan bersantai. Kamu akan menghadapi gelombang boneka mekanisme purba dan binatang buas spiritual yang tingkatannya disesuaikan secara otomatis dengan tingkatan kultivasimu saat ini. Jika kau malas, kau akan mati terbantai berkali-kali di dalam sana."
Ziyan meneguk ludahnya. Rasa takut menari-nari di dadanya, namun membayangkan dirinya bisa menguasai seni pedang sempurna dan menjadi kultivator hebat dalam waktu singkat membuat matanya mendadak menyala oleh tekad yang membara.
"Baik, Guru! Aku tidak akan mengecewakanmu!" seru Ziyan mantap. Ia mengepalkan tangan, memeluk gagang pedang besinya erat-erat, lalu melangkah lebar menerobos masuk ke dalam pusaran kegelapan Menara Sepuluh Waktu.
KKRRIIIEETTT!!! BUMMM!
Pintu besi menara tertutup rapat seketika. Tianchen menatap menara itu sejenak, menghela nafas halus. "Sepuluh tahun di dalam... Kita lihat sejauh mana potensi sejatimu bisa mekar, Ziyan."
tenann yunnn... tuan Tian sangat tampan kokk JD nikmatin aja🤭
murid yg pintar langsung bisa tepat sasaran 🤣🤣🤣
ziyan ayo pasti bisa kamu ngelewatin ini 🤣
udah pada datang sendiri..
hanya tinggal bersatuu dan bangkit