Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06.
Keesokan paginya, Kevin dan Alesha berangkat bersama menuju sekolah.
Tak lama kemudian, motor Kevin memasuki area sekolah. Kehadiran mereka sontak menarik perhatian. Tatapan para siswa langsung tertuju pada sosok gadis yang duduk di belakang Kevin.
"Siapa, ya, cewek yang bareng Kevin?" bisik salah seorang siswa.
"Nggak pernah lihat sebelumnya."
Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah, sementara Alesha sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
Di sisi lain, di area parkir, Arka, Alvian, dan Reza juga baru saja tiba. Ketiganya langsung menoleh ke arah Kevin yang baru memarkir motornya.
Arka melirik sekilas ke arah gadis yang baru turun dari motor Kevin.
"Itu adik lo?" tanyanya datar.
Kevin mengangguk singkat.
"Iya."
"Pantes kemarin buru-buru pulang," sahut Alvian.
Reza langsung menyeringai.
"Kenalin, dong."
Kevin menatapnya tanpa ekspresi.
"Buat apa?"
"Ya... nambah temen."
Kevin hanya menggeleng pelan. Sementara itu, Arka sudah lebih dulu melangkah menuju gedung sekolah, seolah tidak terlalu tertarik ikut mengobrol.
Di sisi lain, Alesha berdiri di samping motor sambil memandangi sekolah barunya dengan rasa penasaran.
Kevin menoleh ke arah Alesha.
"Ayo, gue anterin ke ruang kepala sekolah dulu."
Alesha mengangguk pelan.
"Oke."
Kevin mulai melangkah lebih dulu, sementara Alesha mengikutinya dari belakang. Sepanjang perjalanan menuju gedung utama, tak sedikit siswa yang diam-diam mencuri pandang ke arah mereka.
"Kayaknya dia murid baru."
"Iya, tapi kok bareng Kevin?"
Bisik-bisik kembali terdengar dari berbagai sudut koridor.
Alesha yang menyadari banyak tatapan hanya menggaruk pipinya pelan.
"Perasaan gue nggak ngapa-ngapain deh..."
Kevin yang mendengarnya hanya terkekeh kecil.
"Biasain aja. Lama-lama juga mereka berhenti merhatiin."
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan ruang kepala sekolah. Kevin mengangkat tangannya dan mengetuk pintu beberapa kali.
"Permisi."
"Masuk."
Suara dari dalam terdengar jelas.
Kevin membuka pintu lebih dulu, lalu memberi jalan kepada Alesha untuk masuk.
"Permisi, Pak."
Kepala sekolah yang sedang memeriksa beberapa berkas langsung mengangkat pandangannya. Senyum ramah pun terukir di wajahnya.
"Oh, Kevin. Silakan masuk."
Kevin mengangguk.
"Pak, saya mengantar murid pindahan yang kemarin sudah didaftarkan."
Kepala sekolah lalu mengalihkan pandangannya kepada Alesha.
"Kamu Alesha Wijaya, ya?"
Alesha mengangguk sopan.
"Iya, Pak."
"Selamat datang. Berkas perpindahanmu sudah kami terima. Sebentar lagi wali kelasmu akan datang menjemputmu."
"Baik, Pak."
Alesha berdiri dengan tenang di samping Kevin sambil menunggu guru yang akan mengantarnya ke kelas.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu.
"Permisi, Pak."
"Masuk."
Seorang guru wanita masuk ke dalam ruangan sambil membawa beberapa berkas.
"Oh, Bu Rina. Pas sekali," ujar kepala sekolah. "Ini murid pindahan yang saya maksud."
Bu Rina tersenyum ramah ke arah Alesha.
"Jadi kamu Alesha Wijaya?"
"Iya, Bu."
"Baik. Mulai hari ini kamu akan bergabung di kelas XI IPA 1."
Alesha mengangguk pelan.
"Siap, Bu."
Bu Rina lalu menoleh kepada Kevin.
"Terima kasih sudah mengantarnya."
Kevin mengangguk singkat.
"Sama-sama, Bu."
Kalau begitu, ayo ikut Ibu."
Alesha menoleh sebentar ke arah Kevin.
"Gue duluan, ya."
Kevin mengangguk kecil.
"Semangat."
Alesha membalas dengan senyum tipis, lalu mengikuti Bu Rina keluar dari ruang kepala sekolah menuju kelas barunya.
Bu Rina berjalan di depan, sementara Alesha mengikutinya menyusuri koridor sekolah. Selama perjalanan, beberapa siswa yang berpapasan diam-diam melirik ke arah Alesha.
"Nah, itu murid baru."
"Yang tadi bareng Kevin, kan?"
Bisik-bisik kembali terdengar, tetapi Alesha memilih mengabaikannya. Matanya justru sibuk mengamati lingkungan sekolah yang masih terasa asing.
Tak lama kemudian, Bu Rina berhenti di depan sebuah kelas.
"Ini kelasmu."
Beliau mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya.
"Permisi."
Guru yang sedang mengajar langsung menghentikan penjelasannya dan menoleh ke arah pintu.
"Oh, Bu Rina. Silakan."
Bu Rina tersenyum tipis.
"Maaf mengganggu. Saya ingin mengantar murid baru."
Seketika perhatian seluruh siswa di dalam kelas langsung beralih ke arah Alesha yang berdiri dengan tenang di samping Bu Rina.
Guru itu mengangguk pelan.
"Silakan masuk."
Alesha melangkah ke depan kelas. Puluhan pasang mata langsung tertuju kepadanya. Ada yang penasaran, ada yang tersenyum ramah, dan ada pula yang hanya memperhatikan tanpa berkata apa pun.
"Anak-anak," ujar Bu Rina, "mulai hari ini kalian punya teman baru."
Bu Rina kemudian menoleh kepada Alesha.
"Silakan perkenalkan diri."
Alesha mengangguk pelan. Ia menarik napas singkat sebelum menatap teman-teman sekelasnya.
"Halo, semuanya. Nama gue Alesha Wijaya. Senang bisa jadi bagian dari kelas ini. Mohon bantuannya, ya."
Beberapa siswa langsung membalas sapaannya dengan tepuk tangan kecil, sementara yang lain masih memperhatikannya dengan rasa penasaran.
"Baik," ujar guru itu sambil tersenyum. "Sekarang cari bangku yang masih kosong."
Alesha mengangguk, lalu mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kelas.
Alesha menyapu pandangan ke seluruh kelas. Hampir semua bangku sudah terisi, hanya menyisakan satu kursi kosong di dekat jendela, tepat di samping seorang siswi yang sedang membaca buku.
"Itu masih kosong, Alesha. Kamu bisa duduk di sana," ujar guru.
"Baik, Bu."
Alesha berjalan menuju bangku tersebut. Beberapa pasang mata masih mengikutinya hingga ia meletakkan tas di atas meja dan menarik kursinya.
Siswi di sampingnya menutup buku yang sedang dibaca, lalu menoleh.
"Hai."
Alesha tersenyum ramah.
"Hai juga."
Setelah itu, guru kembali melanjutkan pelajaran, sementara Alesha mulai berusaha menyesuaikan diri dengan suasana kelas barunya.
Beberapa menit kemudian, bel pergantian jam pelajaran berbunyi.
"Teng... teng... teng..."
Guru menutup buku yang dibawanya.
"Baik, kita cukupkan sampai di sini. Jangan lupa kerjakan tugas yang tadi Ibu berikan."
"Baik, Bu," jawab seluruh siswa hampir bersamaan.
Setelah guru keluar dari kelas, suasana yang semula tenang langsung berubah ramai. Beberapa siswa mulai mengobrol, sementara yang lain berjalan menghampiri bangku Alesha.
"Hai, gue Nabila," sapa salah seorang siswi sambil tersenyum ramah.
"Gue Dinda."
"Kalau gue Farel."
Alesha tersenyum kecil.
"Gue Alesha."
"Gimana? Udah mulai betah?" tanya Dinda penasaran.
Alesha mengangguk pelan.
"Baru juga datang, tapi sejauh ini oke, kok."
Obrolan mereka pun mulai mengalir, membuat suasana di sekitar bangku Alesha perlahan menjadi lebih akrab.
Di tengah obrolan mereka, salah seorang siswa tiba-tiba bertanya,
"Eh, tadi yang nganterin lo itu Kevin, kan?"
Alesha mengangguk.
"Iya."
"Masa? Berarti kalian kenal?"
"Dia kakak gue."
Seketika suasana mendadak hening.
"Hah?!"
Beberapa siswa langsung saling berpandangan, sementara yang lain tampak terkejut.
"Serius? Kevin kakak lo?"
"Iya."
"Lah, kok baru tahu?"
Alesha hanya mengangkat bahu.
"Kan gue baru masuk hari ini."
Beberapa siswa terkekeh pelan. Rasa penasaran mereka terhadap Alesha justru semakin bertambah.