Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 001 : Wanita yang Selalu datang Terbakar
Krekkkk
Krekkkk
Suara rerumputan kering itu terpijaki oleh langkah kaki manusia. Lima orang dari dunia nyata bermimpi sama. Ini adalah mimpi mereka yang entah sudah berapa kali?
Perkenalkan nama mereka adalah Rifki, Haikal, Desta, Aldi, dan Farah. Mereka berlima masing-masing berbeda usia selisih satu tahun.
Awalnya mereka tidak saling mengenal. Namun sebab mimpi yang membawa mereka ke sebuah belantara dengan huruf arab Pegon yang mereka jumpai menempel di pepohonan.
Mimpi itu masih sama. Memanggil mereka dalam satu tempat sama selama bertahun-tahun.
"Haikal!" panggil Aldi ketika menyibak rerumputan liar yang menghalangi arah pandangnya.
Haikal yang duduk di rerumputan itu pun menoleh. Dia tersenyum lalu mengangguk. Aldi ikut bergabung di sana. Dia juga duduk.
Tak lama muncullah Farah, Rifki, dan Desta. Mereka hafal tempat di mana mereka berkumpul tiap kali mimpi ini datang.
Mereka kemudian ikut duduk sambil menatap sebuah bangunan yang letaknya jauh namun masih nampak.
"Lagi-lagi mimpi ini ya?" ujar Rifki selaku yang paling tua usianya di sana.
Warna langitnya gelap. Tidak ada angin di sana. Hanya gelap tak suara hening sekali. Mungkin yang terdengar saat ini hanyalah suara mereka yang saling berbisik. Hanyalah suara deruh nafas mereka.
Farah mencengkram rerumputan liar tempatnya duduk saat ini. Dia selalu takut tiap kali berada di tempat ini.
Bagaimana tidak? Segala hal di sini cukup suram serta mencekam. Di antara sela ketakutannya. Farah teringat bahwa mimpi ini selalu sama. Sebentar lagi akan datang seseorang.
"Wanita di dalam cermin itu! Dia meminta kita masuk?" tanya Farah sambil menatap lekat bangunan tua di depan sana.
"Aku tidak pernah mengenal kalian! Tapi aku yakin kita terhubung oleh sesuatu. Wanita di dalam cermin itu berhutang jawaban pada kita!" ujar Haikal.
Dialah yang paling tenang di sini. Sekalipun seluruh suasana di sini mencekam. Haikal tetap tenang. Sebab dia tau ini hanyalah mimpi.
Dan ketika pagi menjelang maka mereka pasti akan terbangun kembali seperti biasanya. Tapi ada satu hal yang sama sekali tidak Haikal mengerti.
Mimpi ini selalu sama. Mimpi ini juga tidak hilang dalam kepalanya. Dia selalu ingat pertemuannya dengan empat bocah yang ikut berada di mimpi ini. Bahkan, selalu mereka yang datang dan tidak pernah berubah.
"Arghhhhhhhhh!!!" teriak satu suara besar dari arah bangunan tua itu.
"Huh!" pekik ke lima bocah yang tadinya terduduk spontan berdiri terbelalak sambil menatap bangunan tua itu.
Itu adalah suara teriakan. Bak manusia yang disiksa.
"Hiks..." Farah menangis ketakutan sambil menutup kedua telinganya. Suara itu di sana masih terus berteriak.
Haikal masih menatap bangunan itu. Tidak ada pergerakan apapun di sana. Hanya suara. Hanya suara teriakan yang terus berteriak menggema.
Haikal memperhatikan pijakannya. Lalu dia memandangi ada garis batas di sana. Wanita di dalam cermin itu. Tiap kali dia muncul dia selalu berada di dalam sebuah lingkaran.
"Lingkaran ini!" ucap Haikal sambil menunjuk batas berwarna putih yang ada di bawahnya.
Sontak keempat bocah yang bersamanya itu menunduk mencoba melihat apa yang Haikal hendak tunjukkan.
"Lingkaran yang ada di bawah kaki sosok yang berada di dalam cermin!" ujar Haikal lagi.
Ketika kelima bocah itu masih terfokus pada pola lingkaran di bawahnya. Ketika mereka kembali mendongak.
"Hah!!!" teriak kelimanya terkejut, takut bukan main rasanya ketik melihat beberapa langkah dari tempat mereka berdiri.
Telah berdiri di sana satu sosok makhluk yang teramat sangat mengerikan. Wujudnya masihlah manusia.
Pakaiannya compang-camping. Dia seorang perempuan. Berambut sebahu dengan rambut yang selalu basah.
Bawah matanya hitam. Wajahnya lebam seperti baru saja di pukuli. Kaki-kakinya terantai.
Kelima bocah itu memperhatikan sosok itu. Dialah sosok yang selalu mereka lihat tiap kali bercermin. Sosok wanita yang mengaku sebagai seorang ibu.
"Tolo.. Tolong..." lirih wanita itu sembari mengangkat kedua tangannya seakan dia berusaha meraih kelima anak itu.
"Tolong... Tolong... Tolong aku!" lirih wanita itu lagi.
Darah segar tiba-tiba mengucur deras. Darah itu keluar dari dalam perutnya. Oh, sungguh! Ini bukan pemandangan yang ditonton bagi anak seusia mereka.
"Siapa kamu?" tanya mereka berlima bersamaan.
Kedua mata sosok itu kemudian membulat. Dia menatap kelima anak itu. Kemudian dia menangis.
Tangannya yang terulur tiba-tiba terbakar begitu saja. Entah dari mana asal muasal apinya?
Brshhhhhhh
Brshhhhhhh
"Hah... Hah... Tidak.. Tidak.. Aku tidak bersalah! Tolong selamatkan aku!" teriak sosok itu histeris ketika api mulai menjalari tubuhnya membakarnya hingga tidak menampakkan wujudnya.
Sosok itu terjatuh seakan dihisap oleh tanah di sana. Ketika sosok itu terjatuh maka kelima anak ini seakan ditarik oleh sesuatu. Mereka terpejam kemudian.
Ketika mereka membuka mata kembali. Mereka berada di dunia mereka. Mereka kembali di tempat asal mereka. Tempat tidur nyaman yang mereka tiduri sejak tadi.
Cahaya pagi menyongsong dan alarm pun berbunyi. Pertanda bahwa mereka berlima di tempat berbeda harus melaksanakan aktivitas. Atau jika tidak para ibu mereka akan memarahi mereka.
"Mimpi yang aneh!" ujar kelima anak itu di tempat yang berbeda.
Rifki mengacak-acak rambutnya. Kenapa tiap kali dia tertidur dia memimpikan tempat itu? Rifki yang masih berada di atas tempat tidur pun menoleh ke arah cerminnya.
Perlahan di dalam cermin itu dia mulai melihat rumah yang seperti dia lihat di mimpinya tadi. Sungguh itu membuat dia frustasi rasanya.
"Kelihatannya ini sudah tidak bisa didiamkan lagi! Aku harus mencari tau tempat apa itu?" ujar Rifki. Kemudian dia pun beranjak dari atas tempat tidurnya.
Sedangkan di tempat lain. Farah yang saat ini sedang melakukan sarapan bersama keluarganya terdiam. Dia melamun masih memikirkan sosok yang terbakar itu.
"Farah!" panggil sang Ayah lembut.
Satu kali panggilan dan Farah masih tidak bergeming. Sang Ayah menatap Istrinya yang berada tepat duduk di sampingnya.
"Dia kenapa?" tanya Sang Ayah Pada Istrinya.
Sang Istri mengangkat kedua bahunya. Dia sendiri juga tidak mengerti alasan di balik diamnya Farah pagi ini. Biasanya gadis itu selalu riang.
"Aku tidak tau! Sayang, kamu kenapa?" tanya Sang Mama kali ini mencoba melempar pertanyaan.
Tapi tetap saja Farah diam.
"Farah!" panggil Sang Ayah kali ini sambil menyentuh tangan anaknya.
Ketika merasakan sentuhan di tangannya barulah Farah saat itu tersadar. Dia melihat ke arah kedua orang tuanya.
"Ya, Ayah!" jawab Farah padanya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Sang ayah padanya.
"Tidak apa Ayah! Aku hanya sedang memikirkan sesuatu!" jawab Farah padanya.
"Sesuatu apa itu? Sepertinya sangat mengganggu pikiranmu anakku!" ucap Sang Ayah ingin tau.
Farah menunduk dia kembali mengingat seluruh mimpi yang selalu dia dapatkan.
"Ayah... Aku melihat hantu!" ucap Farah.
Itu membuat Sang Ayah juga Istrinya di sampingnya terkejut. Mereka menghentikan aktivitas mereka serentak sambil menatap Farah. Menjadikan Farah satu-satunya pusat perhatian mereka berdua saat ini.
"Aku selalu bermimpi hal yang sama! Tentang manusia sama. Seorang wanita yang selalu menangis di dalam cermin!" ucap Farah menjelaskan.
"Itu mungkin hanya mimpi biasa anakku!" tutur Ayahnya mencoba menghibur Farah.
Farah dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak ayah! Orang-orang yang aku temui di mimpi. Itu ada di dunia nyata! Aku yakin mereka ada dan mereka bingung juga sebab mimpi mereka selalu sama denganku. Dan tiap kali bercermin ada bayangan sosok wanita itu juga!" ujar Farah mencoba menjelaskan lagi pada Ayahnya.
Sang Ayah kemudian membuka tasnya. Di sana dia mengeluarkan sebuah buku gambar dan beberapa krayon.
Ayahnya adalah seorang seniman hebat. Seorang seniman yang namanya cukup tersohor serta karya lukisnya banyak sekali dikagumi orang-orang.
"Ayah akan pulang malam! Tapi, bisakah kamu menggambarkan tempat itu untuk ayah? Ayah akan melihat itu ketika pulang! Ayah berangkat dulu!" ucap Sang Ayah menyerahkan buku gambarnya lalu mengambil segelas minum dan meneguknya.
Sang Ayah berdiri mencium lembut kening istrinya. Setelah itu beranjak ke arah Farah dan mencium lembut keningnya. Kemudian dia pun pergi.
"Mari kita lanjutkan sarapannya sayang!" Sang Ibu mengajak Farah yang saat itu masih memperhatikan kertas lukis yang diberikan Ayahnya kepadanya.
Mendengar suara Sang Ibu. Farah mendongak. Dia tersenyum kepada Ibunya. Lalu memilih melanjutkan sarapan paginya yang sempat terjeda.
__________
ternyata dia lebih tua dari aku🤣