"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana di Balik Meja Bundar
Riuh lolongan kepatuhan di aula luar perlahan menyurut, berganti dengan kesibukan para prajurit yang kembali ke pos penjagaan masing-masing. Pengadilan darah telah usai, menyisakan peringatan keras bagi siapa saja yang berniat membelot. Namun bagi Yudha, eksekusi Malik dan pembuangan Rina hanyalah permulaan dari babak pembersihan yang sesungguhnya.
Musuh terbesar mereka masih berkeliaran di luar sana, bersembunyi di balik lebatnya hutan perbatasan: Hendra, sang pemimpin *Rogue*.
Di ruang pertemuan utama menara selatan, sebuah meja bundar besar dari kayu jati kuno kini dipenuhi oleh peta wilayah kekuasaan *Silver Moon*. Yudha duduk di kursi kebesaran dengan jubah kelamnya yang tersampir di sandaran. Di sekelilingnya, para panglima perang terbaik berdiri dengan wajah serius.
Pintu ruang rapat terbuka sedikit, memperlihatkan sosok Luna yang melangkah masuk dengan ragu, didampingi oleh Maya. Luna masih mengenakan jubah bulu merah muda lembutnya. Dia tidak ingin mengganggu, namun Yudha sendiri yang memintanya hadir setelah pengadilan selesai.
"Kemari, Luna," panggil Yudha lembut. Sifatnya yang semula sedingin es di hadapan para panglima langsung mencair saat melihat gadis itu. Dia mengulurkan tangan kekarnya, menuntun Luna untuk duduk di kursi kosong tepat di sebelah kanannya.
Para panglima perang sempat saling pandang, namun tak ada satu pun yang berani memprotes kehadiran seorang manusia di ruang strategi perang mereka. Kejadian semalam telah membuktikan bahwa menyentuh Luna sama saja dengan memicu murka terdalam dari Alpha mereka.
"Hendra tidak akan tinggal diam setelah dua anak buahnya kita bantai dan jalur rahasianya ditutup," buka Panglima Genta, pria bertubuh tegap dengan bekas luka bakar di lengannya, sembari menunjuk sebuah titik merah di peta yang menandai area lembah berkabut.
"Dari laporan intelijen kita, Hendra sedang mengumpulkan sisa-sisa serigala buangan dari wilayah barat. Jumlah mereka diperkirakan mencapai puluhan ekor."
Yudha menatap titik merah tersebut dengan sepasang mata elang yang menyipit tajam.
"Hendra adalah pengecut yang licik. Dia tidak akan menyerang secara terbuka jika tahu kekuatan kita penuh. Dia memanfaatkan Malik dan Rina karena dia tahu kastil ini terlalu kokoh untuk ditembus dari luar."
Luna memperhatikan peta tersebut dengan saksama. Meskipun dia tidak memahami taktik perang bangsa serigala, dia bisa merasakan ketegangan yang pekat di ruangan ini.
"Yudha..." panggil Luna lirih, membuat sang Alpha langsung menoleh total ke arahnya.
"Jika mereka mengincarku untuk melemahkanmu... apakah tidak lebih baik jika aku..."
"Jangan pernah melanjutkan kalimat itu, Luna," potong Yudha cepat, suaranya berat dan penuh penekanan, namun jemarinya menggenggam jemari kecil Luna di bawah meja, meremasnya lembut untuk menyalurkan kepastian.
"Aku sudah mengatakannya berkali-kali. Kamu adalah belahan jiwaku, takdirku. Menyerahkanmu pada mereka sama saja dengan menyerahkan jiwaku sendiri untuk dihancurkan."
Yudha kembali menatap para panglimanya, auranya kembali berubah menjadi sangat dominan dan mutlak. "Kita tidak akan menunggu sampai Hendra menyerang kita terlebih dahulu. Kita yang akan membawa medan pertempuran ke tempat mereka bersembunyi."
"Maksudmu... kita akan melakukan serangan mendadak ke Lembah Kabut, Alpha?" tanya Genta dengan mata berbinar penuh semangat bertarung.
"Benar," angguk Yudha dingin.
"Dua hari dari sekarang, saat bulan mencapai fase setengah, kita akan mengepung perkemahan mereka. Genta, siapkan tiga batalion pasukan pemukul utama. Kita hancurkan kaum *Rogue* sampai ke akar-akarnya, agar tidak ada lagi makhluk yang berani bermimpi untuk mengusik kedamaian *Silver Moon* dan belahan jiwaku."
Mendengar keputusan berani dari sang Alpha, para panglima perang serentak mengepalkan tangan ke dada mereka, siap melaksanakan titah tanpa ragu. Di samping Yudha, Luna hanya bisa terdiam sembari menatap profil samping wajah tegas pria itu. Di dunia yang baru ini, badai pertempuran besar sudah di depan mata, dan dia tahu, dia harus belajar untuk menjadi kuat demi mendampingi sang Alpha sejati.
---