NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Kepulangan Sang Ratu Purnama

​Matahari sore tenggelam di balik cakrawala Jakarta, menyisakan semburat warna keemasan yang memantul mewah pada dinding kaca gedung pencakar langit utama Purnama Group. Gedung menara setinggi lima puluh lantai yang berdiri kokoh di pusat distrik bisnis ibu kota itu tampak begitu megah. Di sinilah urat nadi perekonomian nusantara dikendalikan secara senyap.

​Sebuah mobil sedan mewah berlogo elang perak berhenti tepat di depan lobi utama yang steril dari publik. Pintu belakang terbuka, dan seorang wanita melangkah turun dengan keanggunan yang teramat memukau.

​Wanita itu adalah Aruna. Ia tidak lagi mengenakan pakaian sederhana yang biasa ia pakai saat mengepel lantai di rumah Adiwangsa. Sore ini, tubuhnya dibalut oleh setelan blazer formal berwarna hitam pekat dengan potongan adibusana yang sangat berkelas. Rambut panjangnya yang biasa dikuncir asal kini digerai indah, membingkai wajahnya yang memancarkan aura dingin, tegas, dan penuh wibawa seorang penguasa. Di tangannya, koper kain usang yang ia bawa dari rumah Adrian telah beralih ke tangan ajudan berbadan tegap.

​Begitu pintu lobi otomatis terbuka, barisan manusia bersetelan jas rapi telah berdiri berjejer membentuk pagar betis yang panjang. Di ujung karpet merah, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut dandy—Paman Aldo.

​Di samping Paman Aldo, puluhan staf eksekutif, dewan direksi, dan jajaran ajudan pribadi membungkuk hormat secara serempak.

​"Selamat datang kembali, Nona Aruna Wijaya," ucap mereka dengan nada suara yang lantang dan serempak, menggema di seluruh ruang lobi yang megah.

​Paman Aldo melangkah maju, sepasang matanya yang tajam tampak berkaca-kaca menatap keponakan kesayangannya yang selama lima tahun ini rela hidup menderita demi cinta yang buta. Aldo merentangkan kedua tangan, menyambut Aruna ke dalam pelukan keluarga yang hangat.

​"Kamu akhirnya pulang, Aruna... Putri mahkota keluarga Wijaya telah kembali," bisik Paman Aldo dengan nada melankolis yang sarat akan rasa haru.

​Paman Aldo kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah seluruh jajaran staf eksekutif Purnama Group. Dengan suara yang menggelegar penuh kebanggaan, ia mengumumkan, "Hari ini, mari kita sambut kedatangan Chief Executive Officer—CEO utama Purnama Group yang sesungguhnya... Nona Aruna Wijaya!"

​Prokkk... Prokkk... Prokkk!

​Tepuk tangan yang riuh dan bergemuruh seketika memecahkan keheningan gedung. Seluruh jajaran staf memberikan penghormatan tertinggi kepada wanita yang selama ini dicitrakan "hilang" oleh publik, namun sebenarnya sedang menjalani ujian hidup yang ia pilih sendiri. Aruna menatap wajah-wajah di hadapannya dengan senyuman tipis yang sangat anggun. Rasa rendah diri dan kepahitan sebagai menantu tertindas telah lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kekuatan mutlak sebagai pemilik takhta tertinggi di korporasi raksasa ini.

​Paman Aldo menuntun Aruna menuju ruang kerja utama di lantai paling atas, sebuah ruangan eksklusif yang menyajikan pemandangan seluruh kota Jakarta dari ketinggian. Pintu mahoni tertutup rapat, menyisakan Aruna, Paman Aldo, dan kepala tim hukum mereka di dalam ruangan.

​Paman Aldo berjalan menuju meja bar, menuangkan teh hangat untuk keponakannya, lalu duduk di hadapan Aruna. Wajah pria tua itu mendadak berubah serius, kilat amarah bisnis terpancar dari matanya.

​"Selanjutnya... bagaimana rencanamu, Aruna?" tanya Paman Aldo, suaranya ditekan rendah namun sarat akan intrik. "Tim hukum kita sudah menyiapkan seluruh berkas kejahatan finansial Adrian. Kita juga sudah memegang bukti otentik rekam medis rumah sakit dua tahun lalu yang menyatakan bahwa Adrian-lah yang infertil, serta rekaman makian ibunya kemarin siang. Apa kita perlu langsung menghabisi mereka besok di persidangan? Kita bisa membuat hak kepemilikan Adiwangsa Logistik batal demi hukum dalam waktu satu jam."

​Aruna menyesap tehnya perlahan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mewah, menatap pemandangan kota di luar jendela kaca besar dengan pandangan mata yang teramat jernih namun dingin.

​"Jangan, Paman..." jawab Aruna, suaranya terdengar begitu tenang, ketenangan yang justru terasa mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya. "Jika kita langsung menghabisi mereka besok di persidangan, itu terlalu mudah dan terlalu cepat buat mereka. Rasa sakitnya hanya akan terasa instan."

​Paman Aldo mengernyitkan dahi, ketertarikan terpancar dari wajahnya. "Maksudmu?"

​Aruna membalikkan pandangannya, menatap pamannya dengan sepasang mata yang penuh akan strategi manipulatif. "Aku ingin mereka hancur secara perlahan-lahan, Paman. Aku ingin mental mereka terkikis hari demi hari, dari puncak keangkuhan menuju jurang kehancuran yang paling dalam. Biar mereka tahu dengan siapa sebenarnya mereka bermain-main selama ini. Dan yang paling penting... biar suamiku, Adrian, merasakan penyesalan yang membakar batinnya seumur hidup. Ketulusan dan pengorbanan yang aku berikan padanya selama lima tahun ini... kini akan berubah menjadi mimpi buruk yang akan mengejarnya di setiap helaan napasnya."

​Dilema melankolis sempat melintas di wajah Aruna saat mengingat pengorbanannya dulu, namun perasaan itu segera mengeras menjadi beton dendam yang kokoh.

​"Lalu... bagaimana detail rencanamu untuk persidangan besok pagi?" tanya Paman Aldo lagi.

​Aruna tersenyum—sebuah senyuman manis yang sarat akan racun intrik. "Besok, aku akan datang ke pengadilan agama seperti wanita biasa yang kalah. Sesuai dugaanku dan pembicaraan Adrian dengan ibunya semalam, Adrian pasti hanya akan memberikan sedikit saja dari harta yang dianggapnya sebagai gono-gini 'belas kasihan'. Dia pasti akan menyembunyikan surat wasiat asli dan berkas kepemilikan saham Adiwangsa yang dia klaim milik keluarganya."

​Aruna menjeda kalimatnya, jemarinya mengetuk permukaan meja kaca dengan ritme yang teratur.

​"Biarkan saja, Paman. Biarkan mereka merasa menang dulu besok. Beri mereka waktu untuk merayakan 'kemenangan palsu' itu bersama Valerie. Beri mereka ruang untuk bernapas dengan lega... tepat sebelum oksigen itu sendiri enggan untuk masuk dan mengalir ke dalam paru-paru mereka."

​Aruna menjelaskan taktiknya dengan sangat rapi. "Sore ini, Adrian telah menandatangani kesepakatan jaminan proyek tambang pulau seberang dengan memberikan 30% sahamnya kepada perusahaan papa Valerie demi dana talangan. Dia mengira itu penyelamat. Padahal, dia tidak tahu bahwa perusahaan papa Valerie itu sebenarnya adalah bidak catur yang sudah lama kita kunci pasokannya. Setelah sidang besok selesai, aku akan mulai mengambil kembali seluruh asetku... sedikit demi sedikit, dari dalam dan dari luar, sampai Adrian menyadari bahwa seluruh harta, wanita selingkuhannya, dan kebanggaan ibunya... semuanya berada di bawah kendali telapak tanganku."

​Paman Aldo menatap keponakannya dengan rasa kagum yang luar biasa. Aruna tidak hanya mewarisi kecantikan ibunya, tetapi juga mewarisi otak strategi korporasi yang tajam dari almarhum kakeknya.

​"Baik... jika itu maumu, Aruna. Paman akan menahan tim hukum kita untuk tidak langsung membuka kartu as besok. Kita ikuti permainan 'menang' mereka untuk babak pertama ini," putus Paman Aldo dengan senyuman puas.

​Aruna kembali menatap ke luar jendela. Kegelapan malam kini telah sepenuhnya merebut langit Jakarta, sama seperti takdir kelam yang kini sedang merayap mendekati leher Adrian dan ibunya yang masih tertidur dalam ilusi keserakan mereka. Hari esok di pengadilan bukanlah akhir, melainkan babak pembuka dari sebuah simfoni penghancuran yang dirajut dengan keindahan yang teramat mematikan.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!