Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: SENAM PAGI
Breeem... bremm... krosakkk!
Suara deru mesin motor yang dipaksakan menarik beban berat terdengar meraung-raung dari arah luar pagar. Aldi, Pak Dadang, dan Bu Baren serempak menoleh ke arah halaman. Tak lama kemudian, muncul sebuah kendaraan roda tiga yang di bagian belakangnya terdapat bak gerobak besi berukuran besar—tipe motor angkutan barang bentor yang biasa dipakai petugas kebersihan wilayah.
Di atas jok kemudi, Sendy tampak duduk dengan gaya sok keren, mengenakan kacamata hitam dan handuk kecil yang melilit di lehernya. Sementara di dalam bak gerobak besi belakang, Kenan duduk selonjoran di antara tumpukan sapu lidi, tiga buah cangkul, dan dua buah sekop.
"Misi paket, Sayang! Pagi, Om Dadang, Tante Baren!" teriak Sendy kencang dari atas motor setelah berhasil memarkirkan kendaraan roda tiga itu tepat di sebelah pohon mangga.
Pak Dadang langsung melangkah keluar teras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Loh, loh... kalian ini niat kerja bakti atau mau pindahan rumah, toh? Kok sampai bawa motor gerobak kecamatan segala?"
Kenan melompat turun dari bak besi dengan lincah, lalu menyalami Pak Dadang. "Ini ide cemerlangnya Pak Ketua kita kemarin, Om. Si Bedul bilang kalau cuma pakai motor bebek biasa, ntar repot bawa cangkul sama angkut sampah material dari saluran irigasi. Makanya tadi sehabis mandi, saya sama Sendy langsung meluncur ke kantor kecamatan buat minjem motor dinas ini, kebetulan penjaganya kenal sama omnya Sendy."
Aldi berjalan keluar dari dalam rumah sambil memanggul speaker aktif jumbo yang baru saja selesai diperbaiki. Otot lengannya tampak menyembul karena beban pengeras suara itu cukup berat. "Nah, mantap! Datang di waktu yang tepat lu pada. Ayo bantu gue angkut ini speaker ke lapangan tengah, ibu-ibu komplek pasti udah pada nungguin."
"Siap, Pak Ketua! Sini biar gue yang pegang kabel gulungnya," sahut Sendy gercep.
Dengan mengendarai motor gerobak pinjaman itu, ketiga pemuda tersebut meluncur perlahan menuju lapangan utama kompleks perumahan RT 04 yang terletak di tengah-tengah pemukiman. Benar saja, sesampainya mereka di sana, suasana lapangan sudah mulai ramai oleh hiruk-pikuk warga. Karpet-karpet plastik besar sudah digelar di atas rumput, dan di sudut lapangan tampak beberapa anggota Karang Taruna lainnya sedang berkumpul.
Ada Bagas, wakil ketua karang taruna yang bertubuh jangkung, sedang sibuk mencatat daftar hadir pemuda. Ada juga Rian dan Dika, anggota divisi peralatan yang sedang asyik memakan gorengan sisa rapat semalam di atas pembatas jalan.
"Woy, Al! Gila, niat amat lu bawa armada tempur kecamatan," seru Bagas tertawa saat melihat Aldi turun dari motor gerobak.
"Harus totalitas, Gas. Kita kan mau babat alas di saluran irigasi," balas Aldi meletakkan speaker aktif di atas panggung beton kecil yang biasa dipakai buat acara tujuh belasan. "Rian, Dika! Jangan makan mulu lu berdua, sini bantu colokin kabel ini ke tiang listrik!"
"Siap, Bos!" sahut Rian langsung melempar sisa tahu isinya dan bergerak cepat membantu Aldi.
Tak lama setelah musik instrumen senam mulai terdengar menggema dari pengeras suara, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul dari ujung gang. Jasmine berjalan dengan langkah anggun, membuat beberapa pemuda Karang Taruna yang sedang memegang cangkul langsung otomatis menghentikan aktivitasnya dan melongo berjamaah.
Pagi ini, Jasmine tampil sangat segar dan sporty. Ia mengenakan setelan celana training hitam dengan jaket parasut berwarna merah muda yang senada dengan sepatu larinya. Rambut panjangnya dikuncir kuda ke belakang, menampilkan leher jenjangnya yang putih bersih tanpa cela.
"Selamat pagi, semuanya! Maaf ya saya agak telat, tadi harus nyiapin sarapan buat Nadeo dulu," sapa Jasmine ramah begitu sampai di pinggir lapangan, senyum manisnya langsung merebak membuat Aldi yang sedang memegang mikrofon mendadak lupa caranya bernapas.
"Pagi, Bu RT cantik!" sahut Sendy dan Kenan kompak dari barisan belakang, memicu sikutan keras dari Aldi di perut Sendy.
Di barisan saf ibu-ibu yang sudah bersiap di tengah lapangan, kehadiran Jasmine langsung memicu pergerakan radar julid. Bu Ratna yang memakai daster navy andalannya dan Bu Widuri yang sibuk mengipas-ngipas wajahnya menggunakan buku arisan langsung saling mendekatkan kepala.
"Jeng, liat tuh si Jasmine. Mau kerja bakti atau mau fashion show? Dandannya modis bener, sengaja banget biar bapak-bapak pada salah fokus," bisik Bu Ratna dengan bibir yang agak dimanyunkan.
"Iya, Jeng. Liat tuh, jaketnya ketat banget. Hih, gak tahu tempat banget emang janda satu itu, caper mulu bawaannya," timpal Bu Widuri sinis, matanya melotot memperhatikan setiap gerak-gerik Jasmine yang kini sedang menyapa Pak RW di dekat meja panitia.
Pak RW kemudian naik ke atas panggung kecil, memegang mikrofon. "Tes, tes. Selamat pagi warga RT 04 yang saya cintai. Sebelum kita memulai memeras keringat untuk membersihkan lingkungan dan saluran irigasi, mari kita lemaskan otot-otot dulu dengan senam pagi. Dan untuk instruktur senam kita hari ini, kebetulan Bu RT Jasmine sudah bersedia untuk memimpin di depan. Silahkan, Bu Jasmine."
Mendengar pengumuman itu, bisik-bisik di barisan ibu-ibu semakin memanas. "Loh, kok si Jasmine yang di depan? Biasanya kan Jeng Ratna yang memimpin senam?" protes Bu Widuri memanasi temannya.
Bu Ratna mendengus kencang, melipat kedua tangannya di dada. "Tau ah! Males saya kalau dia yang memimpin, gerakannya paling cuma geal-geol gak jelas."
Jasmine dengan tenang melangkah naik ke atas panggung beton. Ia menerima mikrofon dari Pak RW dengan sopan, lalu melempar pandangan ke arah barisan warga. Saat matanya berpapasan dengan mata Aldi yang berdiri di dekat speaker, Jasmine memberikan sebuah anggukan kecil dan senyuman tipis yang sangat manis, sukses membuat jantung Aldi berdisko melebihi ketukan musik senam.
"Selamat pagi, Bapak, Ibu, dan teman-teman Karang Taruna semuanya," buka Jasmine lewat pengeras suara, suaranya terdengar lantang. "Pagi ini kita akan melakukan senam kesegaran jasmani dulu ya. Mohon bapak-bapak dan ibu-ibu merapatkan barisannya. Mas Aldi, tolong musiknya bisa dimulai sekarang?"
Aldi yang posisinya berada di samping laptop operator langsung gelagapan. "E-eh, iya, Bu RT! Siap, dilaksanakan!" jawab Aldi setengah berteriak karena gugup, membuat Kenan di sebelahnya menepuk jidat pasrah melihat ketua mereka mendadak bego di depan wanita idaman.
Musik senam berirama rancak mulai mengalun keras dari speaker. Jasmine di atas panggung mulai menggerakkan kedua tangannya ke atas dan ke bawah, memberikan contoh gerakan pemanasan dengan sangat luwes dan bertenaga.
"Ayo, semuanya ikuti gerakan saya! Satu... dua... tiga... empat..." seru Jasmine dengan semangat, badannya bergerak seirama dengan ketukan musik.
Di barisan pemuda, Sendy sibuk menyenggol lengan Bagas. "Gas, lu liat gak? Bu RT kalau lagi senam cakepnya keluar semua ya. Pantes si Bedul sampa ke semsem."
Bagas tertawa kecil sambil menirukan gerakan tangan Jasmine yang kaku. "Gila lu, Sen. Tapi emang bener sih, pinter Pak RW milih instruktur. Kalau Bu Ratna yang di depan, yang ada kita bukan senam, tapi malah dengerin ceramah komplek."
Sementara itu, di barisan ibu-ibu, ketegangan faksi ghibah masih berlanjut. Bu Ratna sengaja melakukan gerakan senam dengan setengah hati, tangannya hanya digerakkan asal-asalan. "Jeng Widuri, liat tuh bapak-bapak di saf belakang, matanya pada gak kedip liat si Jasmine. Suami saya si Joko awas aja ya kalau pulang matanya bintitan!"
"Hahaha, makanya jagain suaminya, Jeng, jangan sampai melirik ke sebelah," ledek Mbak Catur yang tiba-tiba sudah berada di samping mereka, ikut senam dengan gerakan yang sangat heboh dan penuh energi. "Udah ah, Bu Ratna, Bu Widuri, mending gerakin badannya yang bener. Biar lemak-lemak julid di perut pada luntur, jangan cuma mulutnya aja yang senam pagi-pagi!"
"Hih, apa sih kamu, Catur! Ikut-ikut aja!" omel Bu Ratna wajahnya kecut setengah mati karena skenario ghibahnya dipatahkan lagi oleh Mbak Catur.
Di sisi panggung, Aldi terus menatap ke arah Jasmine yang sedang melakukan gerakan inti senam. Keringat tipis mulai terlihat membasahi kening dan leher Jasmine, membuatnya terlihat semakin menawan di bawah siraman cahaya matahari pagi. Saat gerakan senam menuntut Jasmine untuk berputar menghadap ke arah operator, mata mereka berdua kembali bertemu selama beberapa detik. Jasmine tersenyum lebar melihat Aldi yang ikut menggerakkan kepalanya mengikuti ritme musik, sebuah interaksi tanpa suara yang membuat pagi hari di kompleks RT 04 terasa jauh lebih bermakna bagi sang Ketua Karang Taruna.
"Ayo, gerakan terakhir! Pendinginan... tarik napas dalam-dalam... buang perlahan..." seru Jasmine menutup sesi senam pagi itu dengan tepuk tangan meriah dari seluruh warga yang memenuhi lapangan.
Peluh dan tawa menyatu di tengah lapangan, menandakan bahwa ritual pembuka telah usai, dan medan perang kerja bakti yang sesungguhnya di saluran irigasi dan taman proyek komplek sudah siap menanti kontribusi nyata dari Aldi dan monyet-monyet kesayangannya.