(Unmei Series)
Genre: Romance, Drama, Action, Shounen, Harem.
Unmei to Shiawase yang artinya takdir dan kebahagiaan menceritakan tentang takdir Kaito yang diulang kembali oleh kekuatan Fate Restart milik Yume.
Kaito sudah berhasil membuat takdir kacau balau karena kekuatan miliknya. Yume dan Naya telah mengorbankan diri mereka untuk bisa membuat dunia tetap aman dan damai. Sang malaikat mimpi telah menggunakan Fate Restart, kekuatan terlarang bagi para malaikat.
Kaito terlahir kembali dengan tubuh dan takdir yang juga pastinya berbeda. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Kaito mendapat hukuman dari sang dewa. Ia akan mendapat berbagai kesulitan dan tantangan di hidupnya.
Hidup tanpa kebahagiaan, itulah kutukan dari sang Dewa. Walau Kaito memiliki kekuatan yang luar biasa dan disebut sebut sebagai orang yang terpilih. Dia sama sekali tak bisa merasakan kebahagiaan.
Apakah ia akan melawan takdirnya lagi?
Atau dia akan menyerah?
sekuel dari Ai No Koe (Voice of Love)
°Note: cerita original penulis terinspirasi dari anime dan kehidupan nyata.
Jadwal up: tiap hari
Warning: Cover dan Ilustrasi karakter bukan milik penulis, penulis mengambil ilustrasi karakter dari berbagai judul anime.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okino Kazura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Prak ... Whush ...
Suara barang berjatuhan dan api yang melahap apapun yang ia sentuh. Panas, aku tak bisa bernafas dengan lega. Dada ku sangat sesak. Aku mungkin terlalu lama menghirup asap yang memenuhi koridor yang hancur berantakan karena ledakan tadi.
Aku duduk lemas bersandar di tembok ditemani Ema yang duduk di depanku sembari terus menggenggam tanganku. Gadis aneh dengan wajah datarnya itu. Tatapan kosong yang ia pancarkan dari bola mata birunya itu. Aku semakin bingung dengan kejadian demi kejadian yang aku alami belakangan ini.
"Ema ... ayo cari jalan keluar," ucapku lemas.
"Maaf ... tapi aku buta"
Aku langsung terbelalak saat mendengar kata-katanya itu. Mana mungkin gadis buta bisa berlari masuk ke gedung ini dan melawan iblis. Pertama tuli, kedua bisu, ketiga buta, apa apaan dunia ini?!
"Ema ..."
"Tolong!!!" Suara teriakan gadis kecil yang berasal dari dalam pintu ruangan yang ada di depan kami.
"Ema ... tetap pegang tanganku!" Pintaku lalu kembali berdiri.
Brak!!!
Aku menendang pintu yang setengah terbakar itu hingga ambruk supaya aku bisa masuk ke dalam ruangan itu.
"Halo!!! ... apa ada orang?" Tanyaku sembari melihat ke segala arah.
"Akhir nya ada orang juga," tiba-tiba gadis kecil dengan serangan sekolah dasar keluar dari lemari besi yang ada di ujung ruangan itu.
"Woh ... untung kamu gak apa apa ...," aku mengelus dadaku karena gadis kecil ini selamat dari ledakan yang aku buat tadi.
"Wah ada kakak bule ...," ucap gadis kecil itu dengan matanya yang berbinar setelah melihat Ema.
"Ya udah ayo ...kita keluar ... papa sama mama kamu pasti udah cariin kamu di luar,"
Gadis kecil itu hanya diam dan melihat ke arah kaki kirinya yang terluka. Kakinya sedikit tergores benda tajam dan pasti rasanya sakit untuk gadis kecil seumurannya.
"Siapa nama mu?" Tanyaku sembari melangkah mendekatinya dan jongkok di depannya supaya tinggi badan kami setara.
"Ame ...," jawab gadis kecil itu dengan matanya yang berkaca kaca.
"Ohh ... Ame ... nama kakak Kaito ... sekarang kakak bakal bantu kamu keluar dari sini," ucapku dengan sedikit senyum supaya ia tenang.
"Aku takut kak Kaito," ujarnya.
"Ya udah sini kakak gendong," aku membalikkan badanku dan mempersilahkannya untuk naik ke punggungku.
"Hmm ...," Ame hanya mengangguk dan naik ke punggungku dan melingkarkan tangannya di leherku.
"Ya dah ... kalo kamu takut ... tinggal merem aja," kataku sembari kembali berdiri tegak.
"Ema ... ayo," tak lupa aku jugaa menggandeng Ema dengan tangan kiriku.
"Kakak berdua ini pacaran ya?" Pertanyaan yang biasa keluar dari mulut gadis seumurannya.
"Pacaran itu apa?" Pertanyaan Ema yang membuatku terkejut.
"Enggak kok ... kami cuma temen," ucapku lalu kembali melanjutkan langkah untuk menuju ke tangga darurat.
Rasa ya aku ingin cepat-cepat untuk keluar dari gedung yang sudah diselimuti api ini. Di saat kami hendak melewati tangga darurat, petugas pemadam yang tadi berjaga di depan pintu datang bersama dengan beberapa temannya yang juga petugas pemadam.
"Woh ... ternyata kalian bisa selamat ...," ujara petugas itu.
"Ano ... ini ... mungkin dia di cari orang tua nya di luar," aku menyerahkan Ame kepada para petugas untuk membuatnya lebih terjamin keamanannya.
"Ya udah ayo turun ... yang lain tetap padamkan api nya!"
"Siap pak!" Jawab tiga orang yang membawa satu selang panjang yang berat itu secara serentak.
Sang petugas pemadam itu pun membimbing kami untuk menuruni tangga. Akhirnya kami pun berhasil keluar dari gedung itu dengan selamat.
"Apa kalian baik baik saja?" Tanya petugas itu setelah membawa kami keluar dari gedung itu.
"Makasih banyak pak," ucapku sembari membungkukkan badanku.
Di saat yang sama Ema hanya melangkah pergi tanpa sepatah kata pun.
"Kalo gitu ... kami permisi dulu ya ...," ucapku pamit.
"Makasih kak Kaito!", Ame yang digandeng oleh petugas itu melambaikan tangan padaku.
"Iya"
Aku segera mengejar langkah Ema dan menarik tangan kanannya agar ia menghentikan langkah kakinya itu.
"Ada apa Okino-sama?" Tanyanya dengan wajah datar dan pandangannya yang mengarah lurus ke depan.
"Hoi ... gimana cara mu pulang coba?" Tadi saja dia memintaku untuk menggandengnya keluar dari gedung.
"Pulang?" Dia malah memiringkan kepalanya sedikit dan tetap tak ada ekspresi di wajahnya.
Sebenarnya siapa dia?
Sebenarnya siapa Mirai?
Sebenarnya siapa Ai?
Dan apa yang sebenarnya terjadi padaku di masa lalu?
maaf cuma nanyak:v
Siapa tau kalian suka.
Jangan lupa juga Like Sama Fav nya ya😉