Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagas Yang Ikut Menghilang
Kabut di hutan larangan semakin tebal saat Adrian dan Bagas mulai melangkah membelah kegelapan. Modal mereka cuma sebuah senter yang cahayanya mulai meredup dan kamera rusak milik Dinda yang digenggam erat oleh Adrian.
Melihat kedua mahasiswa itu berjalan masuk ke area yang lebih dalam, Aki Sukra langsung menepuk pundak Pak RT dan Kang Kosim.
"Kita tidak bisa diam saja di sini. Energi tempat ini makin liar. Pak RT, Kang Kosim, kita kembali ke balai desa sekarang. Kumpulkan warga yang tersisa. Kita harus buat pagar gaib lewat doa dan ritual tawasulan di sana, biar Nak Adrian sama Nak Bagas punya jalan buat kembali. Kalau tidak, jiwa mereka akan tersesat selamanya di dalam Jarian.". Kata Aki Sukra, terlihat wajahnya tegang.
Pak RT dan Kang Kosim mengangguk cepat. Mereka bertiga langsung berlari sekencang mungkin menuju batas desa, bersiap mengumpulkan warga untuk menggelar ritual penyelamatan di balai desa.
Sementara itu, suasana di dalam hutan larangan makin tidak masuk akal. Langkah kaki Adrian dan Bagas terasa berat sekali, seperti ada yang menahan kaki mereka dari dalam tanah lembap itu. Bau busuk sampah yang bercampur wangi melati membuat mual.
"Gas. Kamu ngerasa gak? Suasananya beda banget dengan kita survei kemarin siang,". Bisik Adrian. Suaranya agak gemetaran, tapi pandangannya tetap lurus ke depan.
"Aku ngerasa, Yan. Fokus aja. Tempat sekop mu nancep udah deket di depan,". Sahut Bagas yang jalan di sebelah Adrian, mencoba menguatkan sahabatnya itu.
Tapi, baru aja Bagas menyelesaikan omongannya, mendadak angin mati total. Suara jangkrik dan kodok hutan langsung hilang. Sunyi senyap.
DUAAGGGHH!
Tanah yang mereka injak bergetar hebat. Di depan mereka, kabut tebal berputar-putar kayak angin puting beliung kecil, lalu memadat. Dari dalam pusaran kabut itu, muncul sebuah bayangan yang tingginya hampir menyentuh dahan-dahan pohon beringin di atas mereka.
Sesosok makhluk tinggi besar, hitam legam, dan berbulu lebat berdiri menghadang jalan. Sepasang matanya menyala merah darah di tengah kegelapan, menatap Adrian dan Bagas dengan pandangan penuh amarah. Aura mistis yang keluar dari makhluk itu pekat banget, bikin dada rasanya sesak sampai susah buat napas.
Makhluk itu menggeram rendah, suaranya bikin rontok mental siapa pun yang mendengar.
“Mau apa kalian ke sini, manusia-manusia penuh pamrih?! Tempat ini sudah menerima apa yang menjadi haknya!”Suara makhluk itu menggema, bukan cuma di telinga, tapi langsung menghantam dada mereka.
Bagas langsung tiarap, badannya syok dan refleks mundur beberapa langkah. "Yan! Itu yang nunggu Jarian!". Teriak Bagas panik.
Adrian sempat mematung, lututnya lemas seperti ingin roboh lagi. Namun, ketika dia melihat kamera Dinda di tangannya, ada rasa bersalah yang mendadak berubah jadi keberanian nekat. Dia tahu, kalau dia mundur sekarang, Dinda tidak akanpernah kembali, dan dia akan hidup seumur hidup dengan bayang-bayang penyesalan.
Adrian maju satu langkah, menantang balik tatapan mata merah makhluk raksasa itu.
"Saya tahu kami salah! Tapi saya ke sini bukan buat nantang kamu. Saya ke sini untuk menebus kelalaian saya! Pergii !”. Teriak Adrian lantang, mencoba mengalahkan rasa takutnya sendiri.
Mendengar teriakan lantang Adrian, makhluk tinggi besar itu tidak mundur, melainkan mengeluarkan geraman yang semakin menggetarkan tanah di bawah kaki mereka. Sepasang mata merah darahnya berkilat murka, seolah merasa terhina oleh keberanian nekat manusia di hadapannya.
Adrian tahu dia tidak punya banyak waktu. Mengabaikan rasa sesak yang menghantam dadanya, pandangannya langsung tertuju pada lubang Jarian yang terletak tepat di belakang bayangan raksasa tersebut. Tempat sekopnya menancap sudah terlihat samar di antara kepulan kabut.
Sambil menggenggam erat kamera rusak milik Dinda, Adrian mengambil ancang-ancang. “Ini demi kamu, Dinda!” batinnya dalam hati.
Dengan seluruh sisa tenaga yang dia miliki, Adrian mengayunkan lengannya kuat-kuat, melemparkan kamera itu melambung melewati bahu sang makhluk, mengarah lurus ke dalam kegelapan lubang Jarian.
Sebelum kamera itu sempat menyentuh dasar lubang, sebuah kibasan lengan hitam berbulu yang luar biasa besar memotong jalur udaranya. Brakkk! Kamera Dinda hancur berkeping-keping di udara, puing-puingnya terlempar ke segala arah.
Belum sempat Adrian mencerna kegagalannya, makhluk penunggu Jarian itu sudah bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya yang raksasa.
"MANUSIA KECIL YANG LANCANG!"
DUUAAAGHH!
Satu hantaman keras dari lengan legam makhluk itu mendarat tepat di dada Adrian. Tubuh Adrian langsung terhempas ke udara, melayang beberapa meter sebelum akhirnya jatuh berdebam di atas tanah lembap dan akar-akar pohon yang keras. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat pandangannya langsung buram dan napasnya tersedak di tenggorokan. Adrian terbatuk darah, tubuhnya lumpuh tak bisa digerakkan.
Dalam kesadaran yang mulai menipis, Adrian mendengar suara jeritan histeris.
"Yan! Adrian!!!". Teriak Bagas panik. Bagas yang sejak tadi tiarap mundur, mencoba merangkak menggapai tubuh sahabatnya yang tak berdaya.
Namun, makhluk itu belum selesai. Makhluk berbulu itu berbalik, mengalihkan pandangan merahnya langsung ke arah Bagas. Sebelum Bagas sempat melarikan diri, sebuah tangan raksasa mencengkeram kerah jaket Bagas dan mengangkatnya ke udara seperti selembar kertas.
"Yan! Tolong, Yan! Lepasin!!! Adrian!!!". Bagas meronta-ronta, kakinya menendang udara kosong dengan histeris.
Makhluk itu tidak memedulikan rontaan Bagas. Dia mengeluarkan raungan panjang yang memekakkan telinga, bergema memecah kesunyian hutan larangan. Bersamaan dengan itu, kabut tebal di sekeliling mereka mendadak berputar hebat, menggulung tubuh raksasa tersebut bersama Bagas yang berada di cengkeramannya.
Wuuussshhh!
Dalam hitungan detik, angin kencang itu lenyap. Kabut tebal kembali tenang, menyisakan kesunyian yang mencekam. Makhluk penunggu Jarian itu telah hilang, membawa Bagas masuk jauh ke dalam kegelapan abadi hutan larangan yang tak tertembus.
Adrian, yang terbaring lemah di atas tanah, hanya bisa menatap kekosongan di depannya. Air mata mengalir di sela pipinya yang kotor oleh tanah. Di tengah rasa sakit yang mendera dan kesadaran yang perlahan menghilang, hanya ada satu penyesalan yang tersisa di benaknya, kini bukan hanya Dinda yang hilang, tapi Bagas pun ikut menjadi korban kelalaian mereka.