NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 18 : SENJA DI ANCOL DAN DEBARAN YANG KIAN NYATA

Radit tidak langsung membawa Kalea pulang ke rumahnya atau ke hotel setelah drama penolakan pernikahan di tepi jalan tadi. Mobil sedan mewah itu justru melaju membelah jalanan tol menuju ke arah Jakarta Utara. Suasana di dalam kabin mobil lambat laun mulai mencair setelah ketegangan emosi yang luar biasa meledak di antara mereka berdua.

Kalea bersandar pada kaca jendela, menatap plang petunjuk jalan yang terpasang di atas tol. "Mas... kita ini sebenarnya mau ke mana sih? Ini kan jalan ke arah pesisir laut?" tanya Kalea dengan nada suara yang masih ketus, mencoba menutupi rasa canggungnya yang tersisa.

Radit melirik Kalea dari balik kemudinya, sebuah senyuman tipis terukir di wajah tampannya, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam secara samar. "Kita mau jalan-jalan, Kalea. Menenangkan pikiranmu yang kusut itu sebelum besok kita benar-benar harus menghadapi kenyataan hidup yang baru."

"Jalan-jalan?" Kalea mendengus pelan, memalingkan wajahnya kembali ke jendela. "Memangnya seorang Direktur Utama tidak punya pekerjaan lain selain membuang waktu mengajak kucing liar seperti aku jalan-jalan siang begini?"

"Pekerjaanku banyak," sahut Radit santai. "Tapi mengurus calon istri yang keras kepala sepertimu saat ini adalah prioritas utamaku. Jadi, nikmati saja perjalanannya."

Beberapa menit kemudian, mobil mewah Radit berbelok memasuki kawasan wisata Pantai Ancol. Setelah memarkirkan mobilnya di area yang teduh, Radit turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Kalea dengan gerakan yang sangat sopan. Begitu kaki Kalea menginjak area pedestrian pantai, embusan angin laut yang kencang bercampur aroma garam langsung menerpa wajah cantiknya, menerbangkan ujung jilbab voal hitamnya yang anggun.

Suasana di sekitar pantai sore itu sangat ramai oleh pengunjung. Banyak keluarga yang membawa anak-anak mereka bermain pasir, sepasang kekasih yang berjalan beriringan, hingga para pedagang yang menjajakan kelapa muda. Begitu mereka melangkah menyusuri dermaga kayu, Radit dengan gerakan refleks yang sangat alami langsung meraih dan menggenggam erat jemari tangan mungil Kalea ke dalam telapak tangannya yang besar dan hangat.

Kalea tersentak kaget, langkah kaki tegapnya terhenti seketika. Dia menatap jalinan tangan mereka, lalu mendongak menatap wajah Radit yang menjulang tinggi di sampingnya. "Heh, Mas! Kenapa harus pakai gandengan tangan segala sih?! Di sini ramai sekali, memalukan kalau ada staf hotelku yang melihat!" bisik Kalea dengan wajah yang mendadak kembali merona kemerahan karena malu.

Radit tidak melepaskan genggamannya, dia justru menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam mata biru jernih Kalea sambil tersenyum jahil. "Justru karena di sini ramai pengunjung, Kalea. Kalau aku tidak menggenggam tanganmu, bagaimana kalau kamu tiba-tiba hilang diculik atau melompat kabur lagi seperti tadi? Aku cuma menjaga aset kontrakku agar tetap aman."

"Aset kontrak matamu peyang!" ketus Kalea kesal. Dia merasakan detak jantungnya kembali berdegup kencang secara tidak karuan akibat tatapan dekat Radit. Sifat keras kepalanya memuncak; Kalea mengangkat tangan kirinya lalu memukul lengan kekar Radit dengan pukulan pelan yang gemas, bersamaan dengan sentakan kasar yang berhasil melepaskan jalinan tangan mereka. "Jangan cari kesempatan ya, Dokter Sombong! Aku bisa jalan sendiri tanpa perlu dituntun seperti anak balita!"

Kalea langsung mempercepat langkah kakinya, berjalan menjauh mendahului Radit dengan entakan high heels 5 sentimeter miliknya yang terdengar penuh tantangan mutlak.

Radit yang ditinggalkan di belakang justru meledakkan tawa renyah pertamanya di tempat umum. Kekehan gelinya terdengar begitu merdu, mengundang beberapa pengunjung wanita di sekitar dermaga untuk menengok terpesona melihat ketampanan sang dokter yang memiliki lesung pipi mematikan tersebut. Radit melangkah lebar dengan kakinya yang panjang, mengejar pergerakan Kalea dengan sangat mudah. Hanya dalam tiga hitungan langkah, tubuh tinggi besar Radit sudah kembali berdiri tegak di samping Kalea, dan tanpa memberikan aba-aba, tangan kekarnya kembali menyusup, mengunci jemari Kalea dalam genggaman erat yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"Sudah saya bilang, jangan mencoba menjauh dari saya, Kalea," bisik Radit dengan nada suara bariton yang rendah namun penuh dengan penekanan wibawa yang tidak bisa dibantah. "Patuhi saja aturannya kalau kamu tidak mau saya gendong di depan semua orang."

Kalea melirik ke sekelilingnya, menyadari beberapa pasang mata pengunjung memang sedang menatap ke arah mereka dengan pandangan iri melihat kemesraan mereka. "Iya, iya! Dasar pria pemaksa yang menyebalkan!" gerutu Kalea pasrah, membiarkan tangannya tetap terkunci di dalam kehangatan jemari Radit dengan debaran dada yang kian kencang.

Mereka berjalan hingga tiba di ujung dermaga yang menghadap langsung ke arah hamparan laut lepas yang biru. Semburat cahaya matahari sore yang mulai tenggelam menciptakan gradasi warna keemasan yang luar biasa indah di langit Ancol. Radit menghentikan langkahnya, melepaskan genggaman tangan kasarnya perlahan, lalu merogoh saku kemeja hitamnya untuk mengambil ponsel pintarnya.

"Kalea, berdiri di dekat pembatas kayu itu sekarang," perintah Radit sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah Kalea.

Kalea mengernyitkan dahinya bingung. "Mau apa, Mas?"

"Aku mau memfotomu. Pemandangan senja di belakangmu bagus sekali, sangat cocok dengan warna mata birumu," jawab Radit jujur tanpa kedok kaku lagi.

Mendengar pujian yang keluar begitu saja dari mulut Radit, Kalea sempat tertegun. Namun, sifat percaya diri dan wibawa seorang manajer hotel langsung mengambil alih. Kalea melangkah mendekati pembatas kayu dermaga. Tanpa rasa canggung, dia langsung berpose dengan gaya andalannya—memiringkan tubuhnya sedikit, tangan kanannya merapikan ujung jilbab hitamnya yang tertiup angin laut, lalu wajah cantiknya mendongak melemparkan sebuah senyuman manis yang sangat tulus ke arah kamera, memperlihatkan binar mata birunya yang berkilat indah laksana permata di bawah siraman cahaya senja.

Ckrekk! Ckrekk!

Radit menekan tombol rana kameranya berkali-kali, mengabadikan setiap sudut kecantikan alami Kalea yang terpancar sore itu. Di balik layar ponselnya, mata Radit menatap hasil foto tersebut dengan binar kekaguman yang teramat sangat mendalam. Wanita bermata biru di depannya ini benar-benar bidadari nyata yang dikirimkan takdir untuk meruntuhkan seluruh kekakuannya.

"Bagaimana hasilnya, Mas? Bagus tidak? Jangan sampai kamu memfotoku dengan hasil yang blur ya, awas saja!" ketus Kalea sambil melangkah mendekat, mencoba mengintip layar ponsel Radit.

Radit dengan cepat menjauhkan ponselnya dari jangkauan Kalea, menyimpannya kembali ke dalam saku sambil tersenyum misterius. "Hasilnya terlalu bagus untuk diperlihatkan kepada model amatir sepertimu, Kalea. Nanti kamu malah besar kepala."

"Iihh! Pelit sekali sih kamu jadi cowok!" sungut Kalea sambil mengerucutkan bibirnya gemas, membuat Radit kembali terkekeh geli melihat tingkah laku bar-bar calon istrinya tersebut.

Waktu bergerak semakin malam, dan perut mereka berdua mulai mengeluarkan suara keroncongan yang lapar. Radit mengajak Kalea menuju ke salah satu restoran hidangan laut (seafood) premium yang terletak di tepi pantai dengan area makan terbuka (outdoor). Radit memesan beberapa menu andalan mulai dari kepiting saus padang, udang bakar madu, hingga dua buah kelapa muda segar.

Mereka menikmati makan malam bersama di bawah naungan langit malam yang mulai bertabur bintang, diiringi oleh suara deburan ombak laut yang menenangkan hatinya. Di meja makan kayu tersebut, rentetan penuh candaan, adu mulut yang jenaka, serta getaran asmara yang manis terus mengalir di antara kedua anak manusia yang sama-sama keras kepala ini.

...****************...

Di rumah keluarga Wijaya, hawa ketegangan perlahan mereda berkat kelicikan Fandi. Setelah berhasil meredam kecurigaan Fitri di dalam kamar dengan pelukan dan janji manis, Fandi melangkah turun ke ruang tengah dengan senyum yang dipaksakan. Dia melihat Fitri sudah mulai tenang, meskipun matanya masih sedikit sembap.

"Sayang," panggil Fandi lembut, menghampiri Fitri yang sedang duduk di sofa. "Daripada kita sumpek di rumah terus mikirin omongan nggak jelas dari Kalea tadi, gimana kalau malam ini kita makan malam di luar? Mas mau ajak kamu ke restoran favorit kita. Kamu pasti laper, kan?"

Fitri mendongak, menatap suaminya dengan binar mata yang perlahan melembut. Dia tersenyum senang, merasa sangat dihargai oleh suaminya. "Beneran, Mas? Kamu nggak capek setelah urusan kantor tadi?"

"Nggak sama sekali buat istri Mas yang paling hebat ini," rayu Fandi manis sambil mengelus puncak kepala Fitri.

Tiba-tiba, Shinta keluar dari arah dapur dengan pakaian kasualnya yang modis. Begitu mendengar Mas Fandi mau mengajak Mbak Fitri makan di luar, sifat egois dan cemburunya langsung kumat. Shinta melangkah mendekat dengan wajah merengut manja. "Lho, Mas Fandi mau makan di luar ya? Shinta ikut dong! Kebetulan Shinta lagi bosen banget di rumah, mau ikut kulineran sekalian bikin konten!"

Fandi seketika menegang, namun dengan cepat dia menguasai ekspresi wajahnya. Di depan Fitri, dia harus menjaga jarak aman dari Shinta agar sandiwara mereka tetap rapi. Fandi menggelengkan kepalanya dengan tegas, melemparkan tatapan mata penuh kode tersembunyi ke arah Shinta. "Nggak bisa, Shinta. Malam ini Mas mau quality time berdua aja. Mas mau makan malam romantis sama istri tercinta Mas. Kamu makan di rumah aja dulu sama Mama, ya."

Fitri tersenyum manis mendengar ucapan suaminya, merasa menang di atas segalanya. "Iya, Shinta. Maaf ya, malam ini Mbak mau berduaan dulu sama Mas Fandi. Kamu di rumah aja temenin Mama arisan."

Shinta yang mendengar jawaban Fandi langsung menyipitkan matanya tajam. Dia menatap Fandi dengan pandangan dongkol dan cemburu yang membakar dada. Namun, karena di sana ada Fitri, Shinta cuma bisa mendengus kesal. "Ih, pelit banget sih! Ya udah terserah!"

Satu jam kemudian, Fitri turun dari lantai dua setelah bersiap-siap. Malam ini Fitri kelihatan cantik banget. Dia mengenakan gaun terusan elegan berwarna biru navy yang baru dibelikan oleh Fandi minggu lalu. Rambut hitam panjangnya sengaja digerai indah, memancarkan pesona seorang dokter spesialis yang berkelas. Shinta yang masih duduk di ruang tengah melihat penampilan kakaknya langsung melirik dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa iri, dengki, dan tidak suka. Shinta merasa tersaingi, meskipun pakaian itu dibeli menggunakan uang hasil manipulasi Fandi.

Sesampainya di sebuah restoran hidangan barat premium di kawasan Jakarta Selatan, Fandi benar-benar totalitas menjalankan perannya sebagai suami teladan. Dia memesan meja terbaik di sudut ruangan yang romantis, lengkap dengan pendar cahaya lilin yang hangat.

"Kamu cantik banget malam ini, sayang," puji Fandi sambil menggenggam tangan Fitri di atas meja, matanya menatap lekat wajah istrinya penuh kepalsuan. "Baju biru itu bener-bener pas di tubuh kamu. Mas jadi makin nggak bisa mandang ke arah lain."

Fitri tersipu malu, pipinya merona kemerahan. "Mas bisa aja deh. Makasih ya udah beliin baju ini. Aku seneng banget akhirnya kita bisa punya waktu berdua lagi setelah beberapa minggu ini aku sibuk terus di ruang operasi rumah sakit."

"Iya, Mas paham kok kesibukan kamu sebagai dokter spesialis jantung," sahut Fandi, suaranya dibuat selembut mungkin. "Makanya, kamu nggak usah dengerin lagi fitnahan dari Kalea tadi siang ya. Dia itu cuma iri sama keharmonisan kita. Dia sengaja mau adu domba kita pakai bawa-bawa nama Shinta segala. Jahat banget emang anak itu."

Fitri menghela napas panjang, mengingat kejadian di taman tadi pagi. "Iya, Mas. Aku sempet kaget banget pas Kalea teriak begitu. Tapi pas liat kamu langsung meluk aku dan ngejelasin semuanya di kamar, aku percaya sama kamu. Nggak mungkin kan kamu tega khianatin aku sama adik kandungku sendiri? Shinta kan masih kecil, lagian dia adik ipar kamu."

"Nah, pinter istri Mas ini," rayu Fandi lagi sambil tersenyum manis. "Kita fokus sama masa depan kita aja, ya. Mas bakal selalu ada di samping kamu, dukung karir kamu sampai kapan pun."

Mereka menikmati makan malam itu dengan obrolan yang hangat, didominasi oleh rayuan maut Fandi yang berhasil membuat benteng kecurigaan Fitri runtuh sepenuhnya, tertutup rapat oleh rasa cinta yang buta.

Setelah selesai makan malam dan keluar dari restoran, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di dalam mobil, Fitri mendadak teringat ada beberapa kebutuhan bulanan dan vitamin kesehatannya yang sudah habis di rumah.

"Mas, anterin aku ke supermarket besar di depan kompleks perbelanjaan itu dulu yuk," ajak Fitri sambil menunjuk ke arah gedung swalayan premium yang lampunya menyala terang benderang. "Aku mau beli buah segar sama beberapa camilan buat stok di rumah."

"Boleh, sayang. Yuk kita mampir sebentar," jawab Fandi, memutar setir mobilnya memasuki area parkir supermarket tersebut.

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam supermarket yang cukup luas itu, berjalan menyusuri lorong bagian buah dan sayuran segar dengan tangan yang saling bertautan mesra. Namun, baru saja mereka berbelok di dekat rak apel impor, langkah kaki Fitri dan Fandi mendadak membeku secara bersamaan.

Tepat di hadapan mereka, berdiri Raditya Evan Baskara bersama Kalea. Rupanya, sehabis pulang dari pantai Ancol tadi, Radit sengaja menemani Kalea mampir ke supermarket ini untuk membeli beberapa keperluan pribadi. Radit yang mengenakan kemeja hitam santai tampak sedang mendorong troli belanjaan, sementara Kalea sibuk memilih beberapa kemasan kotak susu di hadapannya. Jalinan kedekatan di antara Radit dan Kalea kelihatan sangat alami dan intim.

Fitri yang mengenali sosok bos besarnya langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat formal dan penuh hormat. Dia melangkah maju satu langkah, melepaskan genggaman tangan Fandi sebentar. "Selamat malam, Dokter Radit," sapa Fitri dengan senyuman ramah seorang bawahan kepada Direktur Utama tempat dia bekerja.

Radit menghentikan gerakannya, mendongak perlahan lalu menatap Fitri dengan sepasang mata elangnya yang sangat datar dan kaku. "Malam, Dokter Fitri," jawab Radit pendek, suaranya bariton dan sedingin es seperti biasanya di rumah sakit.

Namun, begitu pandangan mata Fitri beralih ke arah Kalea yang berdiri di samping Radit, senyuman ramahnya langsung lenyap seketika, berganti dengan tatapan mata yang sangat sinis, tajam, dan dipenuhi kebencian. "Nggak nyangka ya, kita bisa ketemu di sini. Hebat banget kamu, Kalea. Baru juga tadi siang bikin keributan dan fitnah busuk di rumah Papa, sekarang malam-malam udah keluyuran sama Dokter Radit. Pinter banget ya kamu cari gantungan hidup yang kaya raya."

Kalea yang mendengar sindiran pedas dari kakak angkatnya itu sama sekali nggak kelihatan ciut atau takut. Sisi tangguh dan bar-barnya langsung bangkit. Kalea melipat kedua tangannya di depan dada, menatap balik wajah cantik Fitri dengan sebuah senyuman yang nggak kalah sinis, bahkan cenderung mengejek.

"Wah, halo juga Mbak Fitri si dokter pinter tapi berhati buta," balas Kalea dengan nada suara yang sengaja dibuat santai namun terdengar sangat menusuk indra pendengaran. "Pakaian birumu bagus banget malam ini, Mbak. Cantik, pas di tubuhmu. Tapi sayang ya... secantik apa pun pakaian yang kamu pakai malam ini, tetep nggak bisa nutupin fakta kalau suami terhormatmu itu sebenernya lagi pusing mikirin cara gimana biar rahasia busuknya nggak terbongkar lagi. Nikmatin aja ya makan malam palsumu itu, sebelum semuanya bener-bener hancur."

"Kalea! Jaga mulutmu ya! Kamu—" Fitri baru saja mau berteriak marah karena merasa tersinggung, namun Fandi dengan cepat melangkah maju menengahi situasi sebelum urusan perselingkuhannya kembali diungkit di depan Radit.

Fandi langsung melingkarkan lengan kekarnya di sekeliling pinggang Fitri, menarik tubuh istrinya merapat penuh protektif seakan-akan dia adalah sosok suami yang sangat tulus dan luar biasa mencintai istrinya di depan umum. Fandi menatap Kalea dengan pandangan mata yang dibuat seolah-olah dia kecewa. "Udah, Fitri sayang, nggak usah diladenin omongan orang yang sirik kayak Kalea ini. Mas nggak bakal biarin dia ngerusak malam indah kita. Mas cuma cinta sama kamu, Fitri, kamu tahu itu kan? Ayo kita pindah ke lorong lain aja, nggak usah buang waktu di sini." Fandi sengaja mengeraskan suaranya sambil mencium pelipis Fitri sekilas, mencoba memamerkan kemesraan mereka demi menutupi rasa paniknya dari tatapan mata elang Radit.

Kalea yang menyaksikan adegan pelukan dan ciuman penuh kepalsuan dari Fandi langsung meledakkan sebuah kekehan yang sangat sinis dan penuh rasa muak. "Bwahaha! Sandiwara yang luar biasa hebat, Mas Fandi! Sumpah, aktingmu malam ini bener-bener pantes dapet piala penghargaan! Terusin aja meluk Mbak Fitri sekencang-kencangnya, biar rasa bersalahmu karena abis keluar dari kamar Shinta tadi siang bisa agak berkurang! Menjijikkan banget!"

Mendengar sindiran tajam dari Kalea yang mulai merembet ke arah yang berbahaya, rahang Radit mengeras kaku. Dia tahu Kalea sedang menahan emosi yang luar biasa besar menghadapi kepalsuan iparnya. Radit tidak ingin calon istrinya membuang energi meladeni manusia munafik di supermarket ini.

Radit melangkah maju satu langkah, menempatkan tubuh tinggi besarnya yang setinggi 185 sentimeter tepat di depan Kalea, memotong pandangan mesum Fandi yang sejak tadi diam-diam masih mencuri pandang ke arah tubuh Kalea. Radit menatap Fandi dan Fitri bergantian dengan pandangan mata elang yang penuh aura intimidasi mutlak yang mematikan.

"Dokter Fitri, urus saja suamimu dengan baik sebelum waktu yang menjawab semuanya," ucap Radit dengan suara bariton yang rendah, dingin, dan sangat menusuk relung hati. Dia beralih menatap Kalea, meraih jemari tangan mungil Kalea dengan genggaman yang sangat erat dan hangat. "Yuk kita pergi, Kalea. Belanjaan kita udah selesai. Nggak usah buang waktu meladeni polusi udara di tempat ini."

Kalea menatap jalinan tangan mereka yang hangat, lalu melemparkan tatapan sinis terakhirnya ke arah wajah pucat Fandi dan wajah bingung Fitri. "Yuk, Mas. Aku juga udah mual banget berdiri di sini lama-lama," sahut Kalea dengan senyum kemenangan yang manis.

Radit membimbing langkah kaki Kalea berjalan menjauh meninggalkan lorong buah menuju ke arah kasir dengan langkah yang tegap dan berwibawa, meninggalkan Fandi yang sedang mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah karena lagi-lagi dihancurkan posisinya oleh sang Direktur Utama, serta Fitri yang kembali berdiri terpaku dengan kabut kecurigaan yang perlahan-lahan mulai merayap kembali di dalam benaknya di bab berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!