Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Pertama
Layar monitor di ruangan bawah tanah itu menyala satu per satu. Bukan cahaya terang yang hangat, melainkan sinar kebiruan dingin, yang membuat wajah Alessandro tampak pucat.
Deretan kode bergerak cepat di layar hitam, sementara suara mesin server berdengung rendah seperti napas monster yang tertidur.
Alessandro berdiri diam di tengah ruangan, tatapannya terpaku pada simbol merah di monitor utama:
HELL SIGMA — LEGACY ACCESS DETECTED.
Jari Alessandro mengepal perlahan, ruangan ini tersembunyi di bawah gedung tua, milik perusahaan logistik kosong di pinggiran kota.
Tempat yang bahkan tidak muncul di peta digital mana pun, dan sekarang dia tahu alasannya. Ini milik Leonardo Valerio, warisan terakhir ayahnya.
"Jadi ini yang dia sembunyikan selama ini," gumam Alessandro pelan.
Di belakangnya suara pintu besi terbuka. Perempuan itu masuk tanpa suara, tatapan tajamnya langsung berhenti pada layar utama.
"Aku sudah bilang," katanya. "Ayahmu tidak pernah benar-benar mati."
Alessandro menoleh sedikit.
Aurora De Luca berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan mantel hitam panjang dengan pistol terselip di pinggang.
Rambut gelapnya masih sedikit berantakan, sejak mereka kabur dari penyerangan tadi malam. Tatapan mereka bertemu, dan seperti biasa, tidak ada rasa aman di sana. Hanya ada kewaspadaan dan rahasia.
"Aku belum percaya sama kamu," kata Alessandro.
"Aku juga begitu."
Monitor-monitor itu terus menyala sendiri, menampilkan file lama. Transaksi rahasia, daftar nama organisasi, hingga foto orang-orang yang sudah mati bertahun-tahun lalu.
Alessandro berjalan mendekat pada layar utama, lalu matanya berhenti pada satu folder.
HEIR PROTOCOL.
Jantungnya berdegup lebih lambat, entah kenapa, dia sudah tahu folder itu untuk siapa.
Tangannya bergerak membuka file tersebut, video lama muncul di layar.
Gambar sempat rusak beberapa detik, sebelum wajah Leonardo Valerio terlihat. Tatapan dingin itu, langsung memenuhi ruangan.
Aurora menahan napas kecil, bahkan setelah bertahun-tahun mati, pria itu masih terasa mengerikan.
Leonardo duduk di kursi gelap, sambil menatap kamera tanpa ekspresi.
"Kalau kamu melihat video ini, berarti dunia gagal membiarkanmu hidup normal."
Alessandro membeku. Suara itu, suara yang selama ini hanya hidup dalam mimpi buruk Nadira.
"Aku mengenal dunia ini lebih baik daripada siapa pun, mereka tidak akan pernah membiarkan darah Valerio menghilang."
Layar berganti, foto Alessandro kecil muncul. Lalu data tentang dirinya, sekolah, perjalanan hidup, bahkan semua tentang Alessandro ada di sana.
Aurora langsung menatap Alessandro, "Jadi selama ini dia sudah mengawasi hidupmu."
Alessandro tidak menjawab, tatapannya masih terkunci pada layar.
"Suatu hari nanti, mereka akan datang mencarimu. Dan saat hari itu tiba, maka kamu hanya punya dua pilihan."
Ruangan terasa semakin dingin.
"Kabur atau hidup sebagai mangsa."
Wajah Leonardo mendekat sedikit ke arah kamera. "Atau masuk ke dunia ini, dan buat mereka takut untuk menyebut namamu."
Video berhenti mendadak, Alessandro menatap layar kosong beberapa detik tanpa bergerak.
Aurora melangkah mendekat, "Sekarang kamu sudah mengerti, kenapa Viktor nggak pernah berhenti untuk mengejarmu?"
Alessandro mengusap wajahnya kasar, kepalanya terasa penuh. Selama ini dia berpikir semua ini hanya sisa masa lalu.
Tapi ternyata tidak, Leonardo sudah mempersiapkan semuanya sejak awal. Sistem, jaringan, bahkan pewaris.
"Aku bukan dia," ucap Alessandro pelan.
Aurora tertawa kecil, "Semua orang juga bilang begitu di awal."
Kalimat itu membuat Alessandro menatap tajam, Aurora membalas tatapan itu tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku sudah melihat, bagaimana caramu ketika membunuh orang kemarin," katanya. "Dan jujur saja, itu bukan pertama kali seseorang mati di depanmu, tapi kamu tetap terlihat begitu tenang."
Rahang Alessandro mengeras, kilasan darah di lorong parkir tadi malam muncul di kepalanya.
Pria yang menyerangnya, suara tulang retak, tatapan kosong koran itu, dan bagian paling mengerikan, Alessandro tidak merasa menyesal.
Ia hanya merasa lega, karena berhasil bertahan hidup.
Aurora mendekat satu langkah lagi, "Masalahnya bukan karena kamu mirip, Leonardo. Tapi kamu mulai nyaman menjadi seperti dia."
Alessandro langsung membalikkan badan dan menjauh. Tangannya menekan meja server kuat-kuat, napasnya berat.
Ia membenci fakta bawah Aurora benar, sejak semua ini dimulai, ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan bangkit. Sesuatu yang dingin, sesuatu yang menikmati kendali.
Tiba-tiba alarm merah menyala di seluruh ruangan.
WARNING: EXTERNAL BREACH DETECTED.
Aurora langsung mencabut pistol, "Someone ’s here."
Monitor keamanan kamera aktif otomatis, beberapa pria bersenjata terlihat memasuki gedung atas. Simbol ular hitam tampak di rompi mereka.
Mata Alessandro menyipit, "Anak buah Viktor."
"Sial! Mereka menemukan tempat ini lebih cepat dari dugaanku," umpat Aurora.
Suara tembakan mulai terdengar dari lantai atas, Alessandro menatap layar monitor utama sekali lagi.
Di sana, folder HEL SIGMA masih terbuka, sistem itu menunggu keputusan.
Aurora menarik tangan Alessandro, "Kita harus pergi sekarang."
Namun Alessandro tidak bergerak, tatapannya justru tertuju pada satu tombol di layar.
ACTIVATE LEGACY SYSTEM.
Aurora menyadari arah pandangannya, "Jangan lakukan itu."
Alessandro tetap diam.
"Kalau kamu aktifkan sistem itu," lanjut Aurora. "Maka kita nggak ada jalan untuk kembali."
Suara tembakan semakin dekat, pintu atas mulai dihantam.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
Alessandro memejamkan mata sebentar, lalu bayangan Nadira muncul di kepalanya.
Wajah ibunya yang selalu ketakutan, tangannya yang gemetar setiap mendengar nama Valerio.
Selama ini Nadira hanya ingin satu hal, agar Alessandro tidak menjadi monster seperti Leonardo.
Namun dunia tidak pernah memberinya pilihan hidup normal. Mereka terus datang, terus memburu, dan terus memaksanya masuk ke dalam ke kegelapan.
Aurora menatapnya serius, "Alessandro, cepat pilih sekarang."
Kabur atau masuk lebih dalam.
Suara pintu besi mulai retak, detik berikutnya Alessandro membuka mata, tatapannya berubah dingin.
Lalu perlahan jarinya menekan tombol merah di layar.
SYSTEM ACTIVATED.
Seluruh monitor langsung hidup bersamaan, kode-kode memenuhi layar.
Peta jaringan kriminal internasional muncul otomatis, lampu ruangan berubah merah gelap. Dan suara AI terdengar memenuhi ruangan bawah tanah itu.
"Welcome back, Valerio Heir."
Aurora membeku. Sementara di depan layar menyala merah itu, Alessandro tersenyum tipis untuk pertama kalinya.