Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Code Red
Happy reading
"Ngeong! Ngeong!"
"Untung kucingnya gak ketabrak ya, kak" Ucap seorang gadis yang tengah mengusap lembut kepala kucing saat ia berada di pinggir jalan. Kucing dengan bulu halus berwarna putih yang hampir saja akan tertabrak oleh mobil mereka.
"Salah kucingnya sendiri, siapa suruh nyebrang gak hati-hati" Ketus pemuda yang tengah berdiri dan bersandar pada pohon besar dengan wajah tanpa dosa. Ia hanya diam memperhatikan sang gadis yang sedang mengusap-usap kucing putih menggemaskan itu.
"Ih kak Zevan gak boleh gitu! Boleh gak aku bawa pulang kucingnya? Lucu banget soalnya" Pintanya dengan wajah riang.
"Gak! Gimana kalo kucing itu sebenarnya punya keluarga? Punya anak? Kamu mau ngerebut dia dari keluarganya?" Ujarnya santai dengan menyilangkan kedua tangan didada.
"Iya yah, yaudah! Yang penting kucingnya selamat! Yuk kak, lanjut pulang!" Ajaknya kemudian beranjak dari duduknya.
"Ayok kak! Ngapain diem?" Panggilnya ketika hendak membuka pintu mobil. Ia menyadari bahwa sang pemuda malah terus terdiam. Ia terlihat seperti sedang hawatir dan terus menatap sekelilingnya dengan was-was.
"Oke" Akhirnya ia pun memilih untuk mengikuti sang gadis daripada menjawab pertanyaannya.
"Kak Zevan kenapa? Kok kayak gak tenang gitu hidupnya?" Tanyanya cengo membuat sang pemuda menatapnya lurus. Apa-apaan pertanyaan seperti itu?
"Gapapa" Jawabnya singkat. Gadis itu hanya manggut-manggut saja karena tidak mau ambil pusing.
"Kak! Awas!"
Ckiiik!!
Hampir saja ia akan menabrak lagi, kali ini pedagang kaki lima yang tengah menyebrang.
"Uhk udah tau lampu merah masih aja terus jalan!" Teriak sang pedagang kaki lima marah.
"Maaf ya pak! Maaf banget!" Ujar sang gadis dengan hanya mengeluarkan kepala dijendela mobil.
"Okelah neng, lain kali hati-hati tuh sama pacarnya, bawa mobilnya jangan ugal-ugalan. Nanti bisa celaka!" Pesannya kemudian mendorong kembali gerobak dagangannya.
"Iya pak! Makasii!" Gadis itu pun kembali memasukan kepalanya dan menutup kaca jendela mobilnya. Lalu ia menatap sang pemuda penuh selidik. Ada apa denganya? Tidak seperti biasanya.
"Maaf, gue lagi... Yah..." Ia sedikit menahan diri untuk tidak terlalu peduli pada firasat buruknya. Tapi entah kenapa semakin ia memendamnya, semakin besar pula rasanya. Kenapa harus begitu? Bukankah hal-hal yang terkubur harusnya mudah terlupakan?
"Kak?" Netranya tak henti-henti menatapnya sendu. Apa semua ini karena ulahnya?
"Bakalan gue beresin semuanya! Gue janji! Gue bakal jagain lo dari siapa pun dan apapun itu!"
Sang gadis semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada kakaknya ini. Seolah semuanya akan berakhir?
"Makasih kak!" Gadis itu pun memeluknya erat. Ia tidak menyangka bahwa Zevan yang sekarang berbeda. Meskipun terlihat acuh, tapi dia sebenarnya sangat pedulian. Atau kadang terlihat dingin, namun ia sangat hangat diwaktu yang bersamaan.
Drrttt
Drrttt
Suara getaran ponsel dari saku jaket Zevan. Lantas gadis itu pun melepaskan pelukannya.
"Sebentar" Kata Zevan saat hendak menjawab panggilan dari ponselnya.
"Hallo?"
"..."
"Hm, oke! Tapi..."
"..."
"Hm!"
"..."
"Bakal gue beresin semuanya!"
"...."
Nut
Nut
Nut
Panggilan pun berakhir dengan helaan nafas lega yang terdengar dari Zevan. Ia menoleh menatap wajah sang gadis dengan mengangkat kedua sisi bibirnya dengan tulus.
'Zevan ganteng juga kalo lagi senyum tulus. Baru kali ini dia senyum kayak gitu' Batin sang gadis_Lily dengan membalas senyumannya.
"Sekarang gue gak terlalu khawatir, tenang aja, oke!" Ia mengusap surai halus Lily lalu melanjutkan perjalanannya. Lily semakin bingung dengan sikap Zevan yang selalu tiba-tiba mendadak manis seperti ini. Ada apa dengannya? Lalu, siapa orang yang berbicara padanya diponsel tadi?
• • •
Disebuah tempat yang jauh dari hiruk-pihuk kesibukan kota, terdapat sebuah bangunan tua yang berada sedikit lebih jauh membawanya ke hutan. Suasana asri namun menakutkan berpadu disana. Pohon-pohon besar, bangunan tua bak tak diisi ribuan tahun, dan juga beberapa makam terdapat dibelakangnya menambah sensasi horor pada tempat itu. Namun siapa sangka, disana terdapat sebuah pintu rahasia yang tersembunyi. Seorang laki-laki misterius dengan style serba hitam, ditanganya bertengger koper besar, tengah mengendap-endap menuju pintu rahasia itu. Ia seperti sedang mencuri.
Drap
Drap
Drap
"Bwahahaha! Lihatlah wajahnya! Dia menyenangkan bukan!" Tawa keras dari seorang laki-laki menggema disepanjang koridor, padahal laki-laki itu berada didalam sebuah ruangan. Ia sedang menatap sebuah layar monitor didepanya. Ia terus menerus menunjuk pada wajah seorang pemuda dilayar itu. Sesekali ia meneguk minuman anggur dimejanya.
"Saya membawakan barang yang anda butuhkan"
Tiba-tiba hening ketika seorang laki-laki misterius serba hitam itu datang. Ia meletakkan koper besar hitamnya diatas meja panjang yang berada ditengah ruangan tersebut.
"Apa kau tau apa yang sedang ku inginkan?" Tanyanya dengan dingin pada orang misterius itu.
"Ya" Jawabnya santai seakan yakin.
"Baiklah, bawa koper itu padaku" Suruhnya dengan wajah sombong. Ia menyilangkan kakinya keatas satu dan menatap bodoh orang misterius itu.
"Cuih!" Laki-laki sombong itu meludahkan minuman anggurnya kesamping.
"Bukalah"
Laki-laki misterius itu pun membukanya dengan perlahan. Lalu matanya langsung berbinar ketika melihat nominal-nominal angka yang ada didalam koper itu.
"Ya! Bagus! Akan ku bereskan apapun maumu!" Ujarnya sambil tersenyum lebar dan bertepuk tangan. "Wellcome to my code red"
"Mau ku hanya satu, bereskan kedua orang ini" Ucapnya sembari menyerahkan dua poto manusia. Laki-laki yang sedang duduk itu pun langsung menyeringai melihat kedua poto tersebut. Seolah mengerti apa yang diinginkan oleh orang misterius itu.
"Tenang saja, kau mau kapan aku membereskannya? Hm?" Tanyanya sambil terus meminum anggur.
"Kalo bisa, hari ini!"
"Gampang! Kupastikan malam ini kau akan mendengar berita baik!" Ujarnya dengan penuh percaya diri lalu meneguk kembali tetesan terakir anggurnya.
"Kuharap kau tak mengecewakanku. Kau adalah organisasi pembunuh terkuat kedua setelah keluarga si nomor 1, jalankan misimu secara profesional! Aku pamit!" Orang misterius itu pun langsung pergi meninggalkan sang pembunuh bayaran beserta orang-orang yang berada didalam sana.
"Terkuat kedua ya... Hmmm" Laki-laki yang tengah mabuk itu merenung mengingat kata-kata orang misterius tadi. Matanya nampak merah dan ia kini merasa sangat mual.
"Yah... Keluarga brengsek itu merebut posisiku!" Ia melempar gelas kacanya Kedinding dengan keras hingga pecah berserakan.
"Aku punya tugas untuk kalian!" Ia menatap pada dua orang yang ada didalam sana.
•••••
Drrttt
Drrttt
Suara ponsel berbunyi. Tangan mulus putih itu merayap kearah meja laci disamping kasurnya. Matanya masih terpejam rapat. Namun sesekali ia melenguh kesal ketika ponselnya tak kunjung ia temukan.
Nut!
Akhirnya ponselnya ditemukan. Ia pun menempelkannya disamping telinga dengan masih setengah sadar tidak sadar.
"Hmmm??" Sahutnya mencoba bersuara.
"Lily! Tolong!"
Suara familiar itu langsung saja membangunkannya dari tidur yang lelap. Ia langsung terduduk dan menyalakan lampu kamarnya.
"KAK AUSTIN?!"
Teriak Lily ketika mendapati respon menakutkan dari balik ponsel. Apa yang terjadi padanya?! Mengapa terdengar suara barang-barang dihancurkan secara brutal?
"Kak Austin dimana?!" Tanya Lily entah kenapa cemas.
"Jangan terlalu keras! Hubungi polisi ke lokasi ini! Katakan padanya bahwa ada sekelompok orang aneh membawa senjata tajam dan api!"
Nut!
Panggilan pun berakhir. Lily malah rempong gak jelas karena tidak tahu harus berbuat apa. Ini pertama kalinya ia mendapati orang yang menelponnya minta bantuan dengan kasus serius. Ia pun melihat lokasinya dan mencoba menghubungi polisi.
"Walaupun aku gak ada rasa sama kak Austin, tapi tetep aja deg-degan kalo dimintai tolong kek begini! Jadinya was-was takut aku gak berhasil nyelamatin dia...." Ujarnya sembari menunggu respon panggilannya dari polisi.
BERSAMBUNG