Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Sebenarnya, pemandangan ini sama persis seperti sebelumnya. Selama lima tahun ini, setiap kali terjadi perselisihan, Aldrian akan selalu menutup diskusi secara sepihak dengan topeng kelembutan yang memuakkan, lalu melangkah pergi seolah-olah dia adalah suami paling penyabar di dunia. Dia tidak pernah benar-benar mendengarkan isi hati Kyna. Baginya, penolakan Kyna hanyalah bumbu dari "merajuk" dan "cemburu" seorang istri yang terlalu mencintainya.
Kyna menatap langit-langit kamar tamu yang polos setelah langkah kaki Aldrian menjauh dan pintu depan berdentum tertutup. Kalimat Anara semalam kembali terngiang, membuat sudut bibir Kyna melengkung membentuk senyuman pahit yang dingin.
"Dia tinggal di rumahmu, tapi aku tinggal di hatimu."
"Kalau begitu, ambillah rumah ini beserta isinya, Anara," bisik Kyna pada keheningan kamar. "Aku bahkan tidak sudi menyentuh selembar benang pun yang pernah ditinggali oleh bayang-bayang kalian."
Kyna bangkit dari tempat tidur. Kepalanya masih agak pening, namun rasa mual yang melandanya tadi perlahan memudar, digantikan oleh dorongan adrenalin yang kuat. Hari ini adalah H-29. Waktunya terus berjalan, dan Kyna tidak boleh membuang satu detik pun untuk meratapi pria yang hatinya sudah mati untuknya.
Dia berjalan tertatih menuju kamar utama untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Di ruang tamu, vas bunga pemberian juniornya tadi malam masih berdiri anggun, memancarkan aroma segar yang kontras dengan atmosfer rumah yang menyesakkan ini. Kyna membelai kelopak bunga itu sejenak, mengambil energinya, lalu mengeluarkan laptop dari dalam tasnya.
Dia harus segera menyelesaikan detail rencana keberangkatannya. Rombongan Sonia akan mengurus segala keperluan logistik pertunjukan di Eropa, dan Kyna hanya perlu memastikan semua dokumen pribadinya legal dan tidak bisa dilacak oleh jaringan bisnis keluarga Wibowo. Saat jemarinya menari di atas papan ketik, sebuah notifikasi surel masuk. Itu dari Sonia.
[Kyna, berkas visamu sudah masuk tahap finalisasi. Pihak agensi di Paris juga sudah menyetujui jadwal wawancaramu sebagai kurator tamu begitu kita tiba bulan depan. Fokuslah pada persiapanmu, jangan biarkan urusan domestik mengganggumu.]
Melihat surel itu, dada Kyna seketika bergemuruh oleh rasa haru yang luar biasa. Dunianya yang sebenarnya sedang menantinya di luar sana, jauh dari Kota Hatam, jauh dari labirin kebohongan Aldrian.
Menjelang siang, Sani mengetuk pintu kamar dengan pelan. Wajah asisten rumah tangga itu tampak serba salah, matanya melirik cemas ke arah luar.
"Ada apa, Bi?" tanya Kyna sambil menutup laptopnya.
"Nyonya... itu, di luar ada kurir yang mengantarkan beberapa paket besar atas nama Tuan Aldrian. Tapi, kurirnya bilang paket-paket ini dikirim dari alamat apartemen di sebelah," ujar Sani dengan suara lirih, takut menyinggung perasaan Kyna.
Kyna mengernyitkan dahi. Apartemen sebelah? Bukankah itu tempat tinggal baru Anara?
Kyna melangkah perlahan menuju area lobi depan. Di sana, tiga kardus besar berlogo merek perabotan mewah sudah bertumpuk. Di atas salah satu kardus, terselip sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang sangat Kyna kenali. Tulisan tangan Anara.
Kyna mengambil kertas catatan itu dan membacanya. “Aldri, terima kasih ya sudah menemaniku belanja dan memilihkan semua perabotan ini kemarin sore. Tapi setelah kupikir-pikir, oven dan mesin kopi ini terlalu besar untuk apartemenku yang kecil. Aku kembalikan ke rumahmu saja, sekalian bonus beberapa piring keramik yang coraknya kembar dengan milik kita dulu di kampus.” Kyna meremas kertas itu dengan tangan gemetar, bukan karena cemburu, melainkan karena rasa muak yang memuncak. Namun, belum sempat ia menyuruh Sani membuang kardus-kardus itu ke tempat sampah, ponselnya yang tergeletak di meja pantry bergetar hebat menampilkan sebuah pesan teks dari nomor tidak dikenal, berisi lampiran foto akta nikah siri tertanggal tiga tahun lalu atas nama Aldrian Wibowo dan Anara Putri.