Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Renang Pagi
Kania dan Ardi mendapatkan kado tiket bulan madu dari Ibu Rani dan Dokter Wijaya. Kania dan Ardi pun pergi berbulan madu sehari setelah pernikahan mereka. Sementara Dita dan keluarga angkatnya kembali ke kota Y dengan tangisan dari keponakan-keponakannya yang meminta ikut bersama Ibu Rani. Mereka menyangka jika Dita akan pergi berlibur.
"Bye... Bye... Ante mau liburan sama Oma Opa." Ledek Dita yang semakin membuat para keponakannya menangis.
"Adek,, kebiasaan kamu. Udah sana ah... Bikin repot aja." Tegur Nanda.
"Yaah... Payah Daddy kalian masa bilang Ngga boleh kalian ikut." Ledek Dita semakin menjadi.
"Nggak udah Ante itu mau kuliah Opa sama Oma juga mau kerja. Kalian nanti saja liburan sama Kakek sama Nenek ya." Bujuk Pak Wirawan.
"Tapi ke negara S kaya ante sama Opa Oma." Jawab salah satu keponakan Dita.
"Waduh! Iya nanti kita beli peta nya dulu." Jawab Pak Wirawan.
"Kenapa beli peta Kek? Kenapa bukan beli Tiket?" Tanya Putri Hendrik.
"Ngga perlu beli tiket kalo udah beli peta mah gampang." Pak Wirawan.
Semua pun tertawa mendengar bujukan Pak Wirawan yang selalu ampuh membuat para cucunya lebih tenang. Hendrik hanya menggelengkan kepalanya melihat putrinya merajuk. Dokter Wijaya, Ibu Rani dan Dita pun segera masuk ke dalam mobil yang sudah siap mengantarkan mereka ke bandara.
Walau jarak kota Y dan kota M bisa di tempuh dengan jalur darat namun untuk mempersingkat waktu mereka memilih moda pesawat untuk mengantarkan mereka. Di bandara kota Y supir pribadi Ibu Rani sudah menunggu kedatangan mereka bertiga.
"Alhamdulillah kita sampai." Ibu Rani.
"Kita di jemput Pak Pur Mi?" Dita.
"Iya. Udah ada ya dia?" Ibu Rani.
"Itu Pak Pur udah berdiri di sana." Tunjuk Dita pada supir pribadi Ibu Rani.
"Wah, Pak Pur sudah datang rupanya." Dokter Wijaya.
Selamat datang Bapak, Ibu, Non.Dita." Sapa Pak Pur.
"Terima kasih Pak." Dita.
"Sudah lama Pur?" Dokter Wijaya.
"Baru 5 menit yang lalu Pak." Pak Pur.
"Terima kasih ya Pak." Ibu Rani.
"Sama-sama Bu."
Sampai di rumah Dita langsung membersihkan tubuhnya dan bersiap tidur siang karena mereka sudah mampir makan siang selepas dari bandara tadi. Dan sepertinya Dokter Wijaya dan Ibu Rani pun memilih untuk beristirahat setelah beraktifitas yang lumayan padat beberapa hari kebelakang.
Pagi hari Dita sudah berenang di belakang rumahnya membuat Ibu Rani misuh-misuh. Ibu Rani takut Dita kedinginan dan sakit karena perut ya yang kosong.
"Dita sudah makan roti Mi sama susu tadi." Jawab Dita.
"Beneran? Mending udah ah renangnya mandi air hangat sana. Mami ngga mau kamu sakit lagi." Bujuk Ibu Rani.
"Mami tapi Dita udah makan." Rengek Dita.
"Sayang nanti lanjut renang lagi setelah sarapan." Ibu Rani.
"Nanti panas Mi." Keukeuh Dita.
Karena Putrinya tak ingin berhenti berenang Ibu Rani pun tak kalah. Dia masuk ke dalam rumah dan membawakan sarapan untuk Dita. Ibu Rani pun memaksa Dita untuk membuka mulutnya. Dengan terpaksa Dita pun sarapan di suapi Ibu Rani sambil berenang.
Dokter Wijaya yang melihat pemandangan paginya dari balkon kamarnya hanya tersenyum bahagia. Kehadiran Dita benar-benar memberi warna di rumah tangganya. Kebahagiaan istri tercintanya telah kembali walau Dania selalu di hati mereka. Dania tidak pergi melainkan tetap tinggal di hati mereka.