Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 20.
"Okay, karna lo udah maafin gue, jdi terima handphone ini."
"Tapi kak, ini mahal banget hp aku aja yg dulu nggak semahal ini bahkan jauh banget harganya."
"Nggak apa apa, gue tau ini kan hp impian lo." Tatapan Gama yang dalam tidak bisa di pungkiri oleh Aurora bahwa ia merasa salah tingkah.
"Beneran kak?."
"Iya."
"Makasih banyak ya kak."
Gama mengangguk pelan dengan senyum kecil yang nyaris tak terlihat. Aneh rasanya, tapi jauh di dalam hatinya ada perasaan hangat yang muncul begitu saja saat melihat Aurora tersenyum segirang itu. Tatapan matanya yang biasanya dingin tanpa ekspresi perlahan melunak, seolah semua hal yang sempat memenuhi pikirannya mendadak terasa ringan hanya karena melihat gadis itu bahagia di depannya.
"Mau ikut gue lagi?." Tanya Gama.
Aurora menatap Gama dengan tatapan riangnya." Kemana?."
"Ke rumah gue."
Aurora diam beberapa detik belum mengiyakan ajakan Gama untuk ke rumahnya.
"Nggak ada siapa siapa kok, paling ada ART aja." Gama seperti paham ke khawatiran Aurora.
Akhirnya Aurora mengangguk, mereka meninggalkan Mall setelah memutuskan untuk ke rumah Gama sebentar.
Setelah malam harinya mereka berencana untuk ke pasar malam, tenang saja sebelum memutuskan untuk ke pasar malam Gama sudah meminta izin kepada ibu dan ayah Aurora langsung. Dan mereka mengizinkan Aurora bersama dengan Gama seharian penuh, asal jangan sampe pulang tengah malam.
Gama mengendarai mobil dengan kecepatan normal.
Setelah sampai Aurora di buat tercengang dengan interior yang terlihat mewah, elegant, bahkan Aurora tanpa sadar menahan napas sejenak melihat rumah megah ini.
Rumah itu berdiri megah di balik pagar besi hitam yang tinggi, diterangi lampu-lampu hangat yang membuat suasana malam terasa lebih hidup. Dari luar saja sudah terlihat kalau rumah itu bukan rumah biasa—terlalu besar, terlalu mewah, dan punya kesan elegan yang langsung mencuri perhatian.
Halaman depannya luas dan rapi, dengan deretan pohon palem yang membuat tempat itu terlihat makin mahal. Cahaya dari dalam rumah keluar lewat jendela-jendela besar, memantul lembut di lantai halaman yang mengilap. Semuanya terlihat sempurna, tenang, dan nyaris tanpa cela.
Tapi di balik kemegahan itu, ada suasana sepi yang terasa samar. Rumah sebesar itu justru terlihat terlalu sunyi, seolah penghuninya lebih terbiasa hidup dengan kesibukan masing-masing daripada berkumpul bersama.
"Ayo keluar."
Aurora yang terlalu fokus melihat sekeliling rumah megah ini, tanpa sadar Gama sudah berada di sampingnya dengan membukakan pintu mobil di samping Aurora.
Aurora turun dengan pandangan yang masih takjub dengan mulut setengah terbuka seolah kagum, seperti seseorang menemukan harta karun.
Gama terkekeh pelan tangannya bergerak untuk menutup mulut Aurora yang terbuka sedikit.
Aurora tersadar dari ke terkaguman ini mengatupkan bibirnya, menatap Gama malu Aurora merasa ia seperti orang kampung dan katro. Tapi, memang benar sih Aurora memang gadis kampung.
Aurora sebenarnya penasaran kenapa Gama memilih di sekolah Sma Mandala yang notabenenya bukan sekolah elit. Kalau Gama mau dia bisa di sekolah elit atau bahkan sekolah internasional, tapi malah milih sekolah di Sma Mandala yang biasa biasa saja.
Aurora juga tidak mengerti dengan cara berpikirnya orang kaya seperti Gama. Zara. Dan Veronica keluarga mereka adalah donatur Di Sma Mandala.
"Lagi mikirin apa?." Tanya Gama.
Aurora menatap Gama dengan tatapan kagum." Kak, ini rumah kakak?."
"Bukan."
"Eh?."
Gama mengusak rambut Aurora gemas, entah sudah berapa kali Gama mengusak rambut Aurora hari ini," iya ini rumah gue, masa rumah tetangga."
"Ish... rumahnya megah banget." Aurora sambil membenarkan rambutnya yang sempat acak acakan akibat ulah Gama yang mengusak rambutnya.
"Lo suka?." Tanya Gama.
Aurora tanpa sadar mengangguk.
"Nanti gue bisa kasih lo rumah yang lebih bagus dari pada ini." Lanjut Gama.
"Eh?."
"Setelah jadi istri gue." Lanjut Gama.
Aurora memalingkan wajahnya karna malu setelah mendengar ucapan barusan yang Gama utarakan, bahkan sekarang Aurora yakin pipinya sudah semerah tomat.
Mereka akhirnya sampai di pintu utama rumah megah ini ada seseorang yang membukakannya, terlihat pria agak tua mungkin kisaran umur 40 an.
Pria tua itu membungkuk sedikit setelah melihat Gama dengan senyum tipis yang menghiasi wajah pria tua itu.
"Selamat siang tuan muda."
Entah berapa kali Aurora di buat terkejut hari ini, apakah memang seperti ini hidup menjadi orang kaya.
Gama hanya mengangguk dengan tangan Aurora ia genggam dan masuk ke dalam.
Aurora membiarkan tangannya di genggam oleh Gama, langkahnya mengikuti langkah Gama yang menuju lift. Bahkan rumahnya ada lift.
Ternyata Gama membawanya ke kamarnya, Aurora menghentikan langkahnya. Gama yang tahu Aurora menghentikan langkahnya mengerutkan kening bingung.
"Kenapa?." Tanya Gama.
"Masa aku masuk kamar kakak."
"Ya nggak apa apa."
Aurora menggeleng masih tidak mau masuk, Gama yang seolah tahu apa yang di khawatirkan Aurora terkekeh pelan.
"Gue nggak akan macem macem."
"Apa sih bukan itu." Aurora merengut kesal, meski memang itu yang sedari tadi Aurora pikirkan.
Gama tertawa." Yaudah lo tunggu aja di kursi sana gue mau ambil sesuatu di kamar."
Aurora mengangguk berjalan menuju kursi yang letaknya tidak jauh dengan kamar Gama.
Gama kembali lagi entah apa yang Gama ambil Aurora tidak tahu.
"Ayo."
Meski Aurora ingin bertanya tapi Aurora urung bertanya.
Mereka berjalan ke arah belakang rumah megah ini.
Aurora membelalakkan mata terkejut melihat di depan matanya terdapat rumah pohon.
Rumah pohon itu berdiri megah di balik pagar besi hitam yang tinggi, diterangi lampu-lampu hangat yang membuat suasana malam terasa lebih hidup. Dari luar saja sudah terlihat kalau rumah itu bukan rumah pohon biasa—terlalu besar, terlalu mewah, dan punya kesan elegan yang langsung mencuri perhatian.
Gama menuntun Aurora ke rumah pohon itu.
Aurora di buat terkejut lagi ada seseorang yang membukakan pintu rumah pohon itu.
"Eh, ada neng Aurora di sini." Sapa Billy.
"Keluar." Ucap Gama.
Billy cemberut." Jangat banget di usir, guys kita di usir nih." Teriak Billy entah kepada siapa seolah di dalam tidak hanya ada Billy saja.
Dan memang benar bukan hanya Billy saja. Tapi, Alviano, dan Elvano ada di sini.
Elvano yang sadar tatapan Aurora yang terkejut melihat dirinya ada di sini, mengerlingkan mata jenaka.
"Hai."
Aurora tidak menjawab masih terkejut dengan apa yang terjadi hari ini.
"Turun jangan di sini."
Mereka semua akhirnya mengangguk dan pergi keluar rumah pohon ini
Gama menggenggam tangan Aurora membawa Aurora masuk ke dalam rumah pohon, di dalam rumah pohon ini terdapat kamar king size seperti rumah pada umumnya, bahkan ada dapur kecil kulkas.
Gama menuntun Aurora untuk duduk di kasurnya, sementara Gama menuju kulkas membawakan minuman untuk mereka berdua.
Setelah itu Gama ikut duduk di samping Aurora.
"Kak, kenapa mereka ada di sini?."
"Temen gue."
"Kalian dari kapan dekat, aku baru tau kakak dekat sama mereka."
"Dari SMP."
"Hah? dari SMP. Tapi, kenapa di sekolah kalian kayak nggak saling kenal?." Tanya Aurora.
"Itu memang kemauan gue."
"Loh kenapa?."
"Nanti juga lo tau sendiri."
Mereka berdua kembali diam entah dari kapan mereka sudah berbaring di kasur itu.
Gama menatap Aurora dengan tatapan dalam dan Aurora balik menatapnya entah siapa yang mulai, Gama tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Aurora. Bahkan Aurora bisa merasakan hembusan napas Gama menerpa kulit wajah Aurora.
Aurora tanpa sadar menutup matanya dan merasakan basah di bibirnya ada sebuah bibir lain yang menempel di bibirnya, tidak bergerak hanya menempel. Aurora menahan napas beberap detik, setelah Gama merasa Aurora kembali tenang bibirnya yang tadi hanya menempel mulai bergerak secara pelan melumat bibir Aurora penuh kelembutan, memagut bibir Aurora atas dan bawah tangan Gama di bawa ke belakang leher Aurora menekannya untuk memperdalam ciuman. Dan tangan Aurora tanda bisa di cegah menuju kepala Gama meremas rambut Gama, Aurora tidak membalas ciuman itu karna Aurora tidak tahu caranya, Aurora membiarkan Gama yang mendominasikan ciuman mereka.