NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 23

Fajar baru saja menyingsing, menyiramkan warna keunguan di langit pasar yang mulai sibuk. Arumi sedang menata gulungan benang emas di rak depan ketika sebuah suara rintihan yang sangat dramatis terdengar dari balik pintu ruko A.R Design.

Pintu itu digedor dengan lemah, namun berisik. Saat Arumi membukanya, ia mendapati Mas Danu tergeletak di lantai semen, memegangi perutnya dengan wajah yang dipoles keringat dingin buatan. Di sampingnya, Mbak Sari menangis tersedu-sedu, memegang sebuah sapu tangan yang ia tempelkan ke matanya yang sama sekali tidak basah.

"Rum... tolong, Rum... Mas Danu-mu..." Sari meratap dengan suara yang sengaja dikeraskan agar para pedagang pasar yang lewat menoleh. "Dia kena serangan jantung, Rum! Tolong, jangan jadi adik yang durhaka. Kasih kami uang tabunganmu sedikit saja untuk biaya operasi!"

Arumi berdiri mematung di ambang pintu. Ia tidak panik. Ia tidak berteriak mencari bantuan. Ia hanya melipat tangannya di dada, menatap sosok kakaknya yang mengerang-erang di tanah seperti aktor teater kelas teri.

"Serangan jantung?" Arumi bertanya dengan nada datar yang mengerikan.

"Iya, Rum! Tadi malam dia pingsan berkali-kali! Cepat, ambilkan uang di dalam brankasmu! Kami tahu kamu simpan banyak uang tunai di sana!" Sari mencoba merangsek masuk, tangannya sudah menggapai-gapai ke arah meja kasir.

Arumi menghalangi langkah Sari dengan satu gerakan tenang namun kokoh. Ia kemudian menunduk, menatap Danu yang matanya terpejam rapat sambil sesekali mengintip sedikit untuk melihat reaksi Arumi.

"Mas Danu," panggil Arumi lembut. "Kalau ini benar-benar serangan jantung, kenapa tanganmu memegang perut sebelah kanan? Jantung itu di dada sebelah kiri, Mas. Dan kalau kamu sesak napas, kenapa napasmu masih sangat teratur dan berbau rokok kretek yang baru saja kamu hisap di tikungan tadi? Kamu itu orang kaya, Mas. Usahamu ada dimana-mana. Kenapa masih mau memeras harta milik orang lain?"

Erangan Danu mendadak berhenti sesaat. Ia menelan ludah, lalu mencoba memperbaiki aktingnya dengan memindahkan tangannya ke dada kiri secara kikuk. "Aduh... sakitnya menjalar, Rum! Menjalar ke seluruh badan!"

Arumi tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang lebih tajam dari jarum jahit paling runcing miliknya. "Sakitnya menjalar ke seluruh badan, atau dompetmu yang menjalar ingin menyentuh uangku?"

Melihat akting suaminya mulai terbongkar, Sari mengubah taktik. Ia tidak lagi meratap, melainkan membentak. "Sudahlah, Arumi! Jangan banyak tanya! Kami ini keluargamu! Apa susahnya kasih sepuluh atau dua puluh juta? Kamu itu kaya karena keberuntungan saja! Uang itu juga harusnya milik keluarga, milik kami!"

Sari mencoba mendorong bahu Arumi untuk masuk ke ruang belakang tempat Arumi menyimpan tas kerjanya. Namun, Arumi tidak goyah satu inci pun. Ia justru memegang pergelangan tangan Sari dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga Sari memekik.

"Dengar baik-baik, Mbak Sari. Mas Danu," Arumi berbicara dengan volume yang rendah namun penuh penekanan. "Uang yang ada di ruko ini bukan keberuntungan. Ini adalah hasil dari jari-jariku yang berdarah tertusuk jarum setiap malam. Ini adalah hasil dari air mataku yang sudah mengering."

Arumi melepaskan tangan Sari dengan kasar. "Kalian datang ke sini berpura-pura sakit untuk mencuri uangku? Kalian benar-benar tidak punya harga diri, ya? Setelah membuangku seperti sampah, sekarang kalian menjilat ludah sendiri demi segepok kertas?"

Danu tiba-tiba bangkit berdiri, tidak ada lagi jejak serangan jantung di wajahnya. Wajahnya kini penuh kebencian. "Kalau kamu tidak kasih uang itu secara baik-baik, aku akan teriak di pasar ini kalau kamu itu pencuri! Aku akan bilang kamu dapat uang ini dari hasil menjual diri! Biar ruko ini dihancurkan massa!"

Arumi tidak gentar. Ia justru masuk ke dalam ruko, mengambil sebuah botol air mineral yang masih penuh, lalu menyiramkannya tepat ke wajah Danu.

"Bagus. Berteriaklah," tantang Arumi. "Teriaklah sampai seluruh pasar ini mendengar. Biar mereka tahu bahwa Danu, kakak kandung Arumi, adalah seorang pembohong yang berpura-pura mati demi uang adiknya. Biar mereka tahu bahwa kamu adalah pria yang tidak mampu menghidupi istrimu sampai harus mengemis pada janda."

Arumi melangkah maju, membuat Danu dan Sari terpaksa mundur ke jalanan pasar yang mulai ramai.

"Kalian pikir aku masih Arumi yang dulu? Arumi yang akan sujud di kaki kalian memohon ampun?" Arumi menunjuk ke arah papan nama A.R Design yang bersinar megah. "Identitasku dilindungi oleh kontrak hukum yang sangat ketat. Sekali saja kalian membuat keributan di depan propertiku, aku punya hak untuk memanggil petugas keamanan pasar dan menuntut kalian atas pencemaran nama baik serta percobaan pemerasan."

Arumi mengeluarkan ponselnya, seolah-olah hendak menekan nomor darurat. "Pilihannya dua - Kalian pergi sekarang dan jangan pernah terlihat di radius seratus meter dari ruko ini, atau kalian bermalam di sel kantor polisi dengan tuduhan penipuan?"

Sari melihat wajah Arumi yang begitu dingin dan tegas. Ia sadar, adik iparnya yang penurut itu sudah benar-benar mati. Yang ada di depannya adalah seorang pengusaha yang tidak memiliki celah untuk dimanipulasi.

"Ayo, Mas! Kita pergi!" Sari menarik lengan Danu dengan malu karena orang-orang pasar mulai menertawakan mereka. "Dasar adik durhaka! Kamu akan kena azab!"

"Azabku sudah lewat saat aku tinggal di trotoar karena kalian, Mbak," teriak Arumi saat mereka berdua lari menjauh. "Sekarang, giliran kalian yang menikmati azab yang kalian buat sendiri!"

Setelah mereka menghilang di kerumunan, Arumi menghela napas panjang. Ia merapikan pakaiannya, memastikan tidak ada satu helai rambut pun yang berantakan. Ia tidak merasa sedih. Ia merasa bersih. Beban masa lalunya seolah ikut terbawa angin bersama perginya kedua parasit itu.

Arumi kembali ke mejanya. Di sana, sudah duduk Madam Ling yang rupanya sudah datang sejak tadi lewat pintu belakang, memperhatikan semuanya dalam diam.

"Kamu lulus ujian hari ini, Arumi," ucap Madam Ling sambil menyesap tehnya. "Mengusir musuh dari luar itu mudah. Mengusir darah sendiri yang berkhianat, itu baru luar biasa."

Arumi duduk di depan mesin jahitnya, menyentuh kain sutra hitam yang akan ia jadikan gaun paling mematikan. "Mereka bukan darah saya lagi, Nyonya. Darah saya hanya ada pada Kirana."

"Bagus," Madam Ling meletakkan sebuah koran bisnis di depan Arumi. "Karena hari ini, saham perusahaan Reza turun lagi. Ini saatnya kita masuk secara diam-diam. Kamu sudah punya cukup uang untuk membeli lima persen saham mereka melalui broker anonim yang saya siapkan. Kamu ingin menjadi pemilik sebagian dari penderitaan mereka?"

Arumi menatap foto Reza dan Dinda di koran itu. Matanya berkilat dengan api yang terkendali.

"Bukan hanya lima persen, Nyonya," jawab Arumi sambil mulai mengayuh mesin jahitnya dengan cepat. "Saya ingin memiliki segalanya. Sampai Reza harus datang ke ruko ini, berlutut, dan memohon padaku untuk tidak menghancurkan rumahnya. Sama seperti saat aku bersujud padanya."

Suara mesin jahit yang menderu, layaknya suara detak jantung sebuah rencana besar yang kini sudah tidak bisa dihentikan oleh siapa pun, termasuk keluarganya sendiri.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!