NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Di antara Berlian, Malaikat dan Tanggung Jawab

Seorang pelayan menuntun Darren menyusuri koridor panjang di dalam rumah keluarga Han yang memang luasnya jika dipikir-pikir secara hiperbola bisa dibilang sebelas duabelas dengan bandara. Bagaimana tidak, hampir di setiap sudut ruangan, bahkan di balik setiap pintu yang mereka lewati, Darren bisa melihat pria-pria berjas hitam dengan postur tegap berdiri bersiaga. Jumlah pengawal itu jauh lebih banyak dari yang dia duga sebelumnya. Wajah mereka sama sekali tidak ramah, sementara mata mereka terus bergerak secara konstan memindai sekeliling area guna memastikan keamanan.

Darren menggenggam tangannya sendiri, berusaha mengatur napas agar tetap tenang. “Jangan panik, Darren. Lu udah melewati yang lebih buruk dari ini,” batinnya mencoba menguatkan diri.

Dua pintu putih dengan ukiran ombak berwarna hitam terbuka secara perlahan sebelum dia masuk ke dalam ruangan yang terasa hangat oleh lampu kristal yang menggantung di langit-langit meski setiap AC-nya menyala. Di sanalah, Han Jin Ho duduk di kursi utama dengan wajah tegas yang tidak menyunggingkan senyum sedikit pun. Ibu Maria duduk di samping suaminya, terlihat lebih lembut namun tetap memancarkan kewaspadaan yang tinggi. Adapun Seo yeon duduk di sisi kiri, lalu Wonyoung berada di sisi kanan.

Wonyoung tampak seperti baru saja selesai menangis. Matanya terlihat merah dan pipinya masih menyisakan jejak basah. Gadis itu bersandar pada bahu ibunya sembari menceritakan kembali kejadian mencekam semalam dengan ketakutan yang nyata.

“Eomma, mereka benar-benar menembaki mobil kami secara membabi buta. Oppa hampir saja kehilangan nyawanya demi melindungi kami,” isak Wonyoung.

Ibu Maria pun segera berdiri dan menghampiri Darren. Wanita itu menjabat tangan Darren dengan sangat erat sembari mengucapkan terima kasih berkali-kali dengan mata yang berkaca-kaca. Darren menyambutnya dengan tundukan hormat yang sangat sopan.

“Silakan duduk, Darren,” kata Ibu Maria sembari mempersilakan.

Han Jin Ho segera menutup laptop yang ada di hadapannya. Kedua tangannya disatukan di atas meja kayu yang dipelitur halus. Sedangkan tatapannya yang tajam menatap Darren tanpa berkedip sedikit pun.

“Ceritakan semuanya padaku. Dari awal sampai akhir,” perintah Han Jin Ho.

Darren mulai memberikan penjelasan, menceritakan saat pertama kali menyadari mobil-mobil hitam itu mulai melakukan pengepungan, dan juga menjelaskan kengerian saat melihat moncong pistol yang diarahkan ke arah kabin penumpang, hingga keputusan nekatnya untuk melarikan diri melalui celah sempit di antara dua truk besar yang sedang parkir.

“Saya memutuskan untuk memanfaatkan celah sempit di antara dua truk itu, Tuan. Saat itu, saya merasa itulah satu-satunya jalan keluar yang tersedia bagi kami,” jelas Darren.

“Lalu bagaimana kau bisa tahu ada celah di sana?” Han Jin Ho terlihat penasaran kala matanya menyipit.

“Saya melihatnya secara langsung, Tuan.”

“Di tengah malam yang buta? Di jalanan yang sangat gelap seperti itu?” cecar Han Jin Ho lagi.

Seo yeon segera memberikan pembelaan sebelum ayahnya menekan lebih jauh. “Ayah, saat itu Darren sedang berada di bawah posisi yang sangat tertekan. Tidak mungkin dia bisa berpikir sejernih itu jika tidak memiliki kemampuan yang mumpuni serta ketenangan yang luar biasa.”

Lantas Han Jin Ho tidak segera memberikan tanggapan meski matanya masih tertuju lekat pada Darren. “Lanjutkan ceritanya.”

Darren melanjutkan penjelasannya dengan hati-hati. Setiap kali dia memaparkan satu poin kronologis, Han Jin Ho akan memotongnya dengan pertanyaan baru yang menjebak. Alhasil, Seo yeon yang memiliki pembawaan lebih tegas sering kali membantu menjelaskan detail teknis yang sulit disampaikan oleh Darren secara verbal. Setelah beberapa saat, wajah Han Jin Ho terlihat sedikit melunak.

“Sekarang katakan padaku, dari mana pendapatan utama kamu berasal?” tanya Han Jin Ho tiba-tiba saja.

Tentu Darren tidak siap untuk mendengar pertanyaan berbahaya itu. Selama ini, dia sudah memiliki kesepakatan pribadi dengan Seo yeon untuk menjaga kerahasiaan sumber keuangannya dari siapa pun.

Oleh karena itu, Seo yeon kembali mencoba menengahi. “Ayah, Darren saat ini bekerja sebagai asisten pribadiku. Selain itu, bisnis properti yang baru saja kami rintis juga sedang—”

“Aku sedang bertanya kepadanya, bukan kepadamu,” sela Han Jin Ho dengan menaikkan suara.

Darren menarik napas panjang guna menenangkan degup jantungnya. “Tuan, pendapatan saya selama ini bersumber dari hasil investasi pribadi serta gaji rutin sebagai asisten Nona Seo yeon. Saya memohon maaf karena tidak bisa menjelaskan lebih mendetail karena hal ini menyangkut kerahasiaan pihak ketiga yang harus saya jaga.”

Han Jin Ho pun menatap Darren dalam waktu yang cukup lama, memang jawaban asisten putrinya itu terdengar kurang memuaskan. Kendati demikian, pria itu akhirnya memilih untuk bersandar kembali ke kursinya.

“Selama ini, apa saja yang sebenarnya kamu lakukan bersama putriku di dalam penthouse itu?” tanya Han Jin Ho jauh lebih mengintimidasi.

Inilah momen yang akhirnya membuat Darren kelimpungan. Mulutnya sempat terbuka namun tidak ada satu pun suara yang sanggup keluar. Pikirannya pun buyar di waktu yang sama.

“Ayah, Darren adalah asisten pribadiku. Kami berada di sana murni untuk urusan pekerjaan, tidak lebih dari itu.” Beruntung Seo yeon hadir di waktu yang tepat pula.

“Tapi kenyataannya kalian tinggal di bawah satu atap yang sama,” cecar Han Jin Ho lagi.

“Ruang kantor berada di lantai bawah, sementara kamar tidur berada di lantai atas. Semuanya terpisah secara jelas, termasuk kamar tidur kami,” tegas Seo yeon. “Belum lagi aku membebaskan Shinta keluar-masuk untuk melayaniku.”

Han Jin Ho merapatkan bibirnya pada kedua tangannya yang menyatu di atas meja. “Jujur saja, menurut Ayah, William sebenarnya jauh lebih cocok untuk menjadi pendampingmu.”

Wonyoung yang sedari tadi hanya menonton pun kini terlihat tegang. Tatapannya ke arah Darren sekilas sebelum dia kembali menundukkan kepala. Alih-alih membantah, Seo yeon hanya terdiam menanti kelanjutan ucapan sang ayah. Han Jin Ho mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat agar tidak ada yang menyela.

“Tapi,” lanjut Han Jin Ho sembari memperbaiki posisi duduknya. “Aksi heroik yang Darren tunjukkan selama ini, termasuk keberhasilannya menangani masalah batu beracun dari Priyo tempo hari, membuatku mulai berpikir ulang.”

Han Jin Ho menatap tajam ke arah mata Darren. “Sejauh mana bisnis properti yang kamu kelola itu bisa maju di masa depan?”

Darren memberikan gelengan kepala setelh mengedipkan mata dua kali. “Mohon maaf, Tuan. Saya kurang mengerti arah dari pertanyaan Anda?”

“Aku berencana untuk menjodohkanmu dengan Seo yeon. Namun, aku memberikan satu syarat mutlak. Bisnis properti milikmu itu harus sukses besar dalam waktu dekat. Selain itu, orang-orang yang berani mengganggu keamanan kedua putriku harus segera dibereskan sampai tuntas,” ucap Han Jin Ho dengan lugas.

Seo yeon jelas kaget sampai melotot bisa dibilang. “Ayah? Apa maksud semua ini?”

Han Jin Ho mengabaikan protes putrinya. “Sebagai imbalan atas keberhasilanmu nanti, sebagian dari lini bisnis keluarga Han akan aku percayakan sepenuhnya di bawah kendalimu.”

Ruangan mewah itu mendadak menjadi sangat senyap kala Seo yeon masih mengerutkan dahi, tampak jelas tidak menyetujui keputusan sepihak ayahnya. Akan tetapi, Wonyoung justrubangkit berdiri dengan wajah yang tertunduk lesu.

“Aku ingin ke kamar mandi sebentar,” ucap si bungsu. Cara jalannya saat meninggalkan ruangan saja terlihat menunjukkan rasa kesal yang tidak bisa disembunyikan.

Sementara Maria menoleh ke arah Seo yeon dengan heran. “Ada apa sebenarnya dengan adikmu itu?”

Seo yeon memilih untuk tidak memberikan jawaban.

Di sisi lain, Darren berdiri menghadap Han Jin Ho. Pikirannya masih berputar memikirkan kabar dari Rina di Singapura. Kabar tentang kehamilan dan penolakan Alvino yang membuatnya didera perasaan hancur yang masih membekas. Kendati demikian, dia menyadari bahwa pria di hadapannya ini tidak akan peduli dengan masalah asmara pribadinya. Han Jin Ho hanya peduli pada hasil nyata.

“Tuan, saya memohon maaf karena tidak bisa menyetujui rencana perjodohan ini secara sepihak begitu saja,” kata Darren dengan mantap, meski dalam hatinya dia terus merutuki dirinya sendiri karena membuang kesempatan menjalani kehidupan dengan malaikat seperti Seo yeon.

Sedangkan gadis itu menatap Darren dengan kebingungan.

“Akan tetapi, mengenai keberhasilan bisnis properti serta penanganan terhadap pihak-pihak yang mengancam keamanan keluarga Han, saya berjanji akan mengatasi semuanya. Saya akan melindungi keluarga Anda sampai titik darah penghabisan,” lanjut Darren penuh penekanan.

Han Jin Ho menatap Darren lekat-lekat tanpa bicara. Tak lama kemudian, dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu hitam yang elegan, lalu menyodorkannya ke arah Darren.

“Terimalah ini sebagai bentuk awal dari kepercayaanku kepadamu,” kata Han Jin Ho.

Kartu itu bukan sekadar kartu kredit biasa. Itu adalah kartu akses khusus menuju berbagai fasilitas serta properti eksklusif milik keluarga Han, yang di dalamnya sudah tersimpan dana sebesar beberapa miliar rupiah. Mau tidak mau Darren menerima kartu itu dengan tangan yang sedikit bergetar.

“Uang tunai dan akses fasilitas keluarga Han? Ini adalah kesempatan emas untuk naik level dengan cepat setelah masa penalti berakhir,” batin Darren sembari menatap kartu di genggamannya dengan ambisi yang mulai membara. “Sungguh-sungguh keajaiban.”

“Terima kasih banyak atas kepercayaan Anda, Tuan. Saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda sedikit pun,” tegas Darren.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!