NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

janji berteman

Cristian berdiri cukup lama di depan kamar Evelyn. Awalnya ia berpikir nona muda itu hanya membutuhkan beberapa menit. Namun waktu terus berjalan hingga cahaya jingga sore perlahan menghilang dari jendela lorong.

Langit berubah gelap. Lampu-lampu mansion mulai menyala satu per satu, menerangi lorong panjang yang sunyi itu. Dan Cristian masih berdiri di sana. Menunggu.

Kalau dipikir-pikir, dirinya tampak seperti orang bodoh yang rela berdiri lama hanya demi seorang gadis yang baru dikenalnya. Namun anehnya… Ia tidak marah sama sekali. Bahkan ada rasa tak sabar yang sulit dijelaskan, menunggu pintu itu terbuka dan melihat Evelyn keluar.

Cristian mengembuskan napas pelan sambil memijat tengkuknya. “Apa sebenarnya yang terjadi padaku…” gumamnya lirih.

Semakin lama, pikirannya semakin dipenuhi Evelyn. Senyumnya. Tatapannya. Wajah pucatnya saat pingsan. Seolah ada ikatan tak terlihat yang perlahan membelenggu pikirannya.

Klik.

Pintu kamar akhirnya terbuka. Cristian langsung mengangkat kepala. Evelyn keluar bersama Kelly.

Gadis itu terlihat jauh lebih segar setelah mandi. Rambut panjangnya yang sedikit lembap jatuh lembut di bahunya. Ia mengenakan gaun navy panjang hingga mata kaki yang membuat kulit pucatnya tampak semakin bersih dan elegan.

Untuk sesaat Cristian terdiam. Tatapannya terpaku tanpa sadar. Kelly yang menyadari itu langsung menahan senyum kecil sebelum akhirnya membungkuk pada Evelyn.

“Nona, kalau begitu saya kembali ke kamar.”

Evelyn mengangguk pelan. “Terima kasih, Kelly.”

Kelly pun pergi meninggalkan mereka berdua di lorong.bKini suasana terasa jauh lebih sunyi.

“Nona, Anda baik-baik saja?” tanya Cristian akhirnya.

Evelyn menatapnya beberapa detik lalu tersenyum kecil. “Aku baik.”

Lalu dengan nada lebih lembut ia menambahkan, “Terima kasih atas bantuannya, Ian.”

“Ian?”

Cristian langsung mengernyit samar. Evelyn tampak sedikit canggung.

“Iya… itu panggilan kecilku untukmu,” katanya pelan. “Apa kamu keberatan?”

Entah kenapa, mendengar panggilan itu membuat dada Cristian terasa hangat dengan cara yang aneh. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali seseorang memanggilnya dengan begitu akrab.

Cristian tersenyum tipis.

“Tidak,” jawabnya pelan. “Saya menyukainya.”

Evelyn tampak lega mendengarnya.

“Ian,” panggilnya lagi, kali ini lebih natural. “Aku ingin mengembalikan buku ke perpustakaan. Bisakah membawakannya?”

“Tentu.”

Cristian segera mengambil setumpuk buku dari meja kamar Evelyn. Beberapa buku terlihat cukup tebal hingga memenuhi lengannya. Setelah itu ia berjalan mengikuti langkah Evelyn keluar dari kamar.

Lorong mansion terasa tenang malam itu. Langkah kaki mereka bergema pelan di lantai marmer. Evelyn berjalan perlahan karena tubuhnya belum sepenuhnya pulih, sementara Cristian tanpa sadar menyesuaikan langkahnya agar tetap sejajar dengannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah Alberto… Cristian merasa damai.

Mereka akhirnya sampai di depan pintu perpustakaan pribadi keluarga Alberto. Evelyn membuka pintu kayu besar itu perlahan lalu menyalakan lampu.

Klik.

Ruangan luas langsung terang. Rak-rak buku tinggi berjajar rapi memenuhi hampir seluruh sisi dinding. Aroma khas buku lama bercampur kayu memenuhi udara, menciptakan suasana tenang dan hangat. Beberapa sofa empuk tersusun di sudut ruangan lengkap dengan meja kecil dan lampu baca.

Cristian melangkah masuk sambil membawa setumpuk buku di tangannya. Tatapannya menyapu seluruh perpustakaan itu dengan tenang.

“Untuk ukuran perpustakaan keluarga, ini sangat Besar…” gumamnya pelan.

Evelyn tersenyum kecil.

“Yang aku dengar dari orang-orang, Ibu suka membaca,” katanya lirih sambil mengambil beberapa buku dari tangan Cristian. “Sebagian besar koleksi di sini milik beliau.”

Cristian melirik Evelyn sesaat sebelum mengangguk pelan. Mereka mulai mengembalikan buku satu per satu ke rak masing-masing.

Evelyn tampak hafal letak semua buku di ruangan itu. Jemarinya bergerak pelan menyusun buku-buku dengan hati-hati sementara Cristian membantu mengambilkan atau mengembalikan buku yang berada di rak lebih tinggi.

Namun di balik sikap tenangnya… Mata Cristian diam-diam terus mengamati keadaan sekitar. Satu CCTV di sudut kanan atas. Satu lagi dekat pintu masuk. Dan satu kamera kecil tersembunyi di dekat rak bagian tengah. Tatapannya bergerak pelan menghitung sudut jangkauan kamera-kamera itu tanpa terlihat mencurigakan.

Sejak pertama kali masuk mansion Alberto, Cristian memang diam-diam mulai memetakan area rumah itu. Mencari titik buta. Tempat-tempat yang tidak terjangkau CCTV. Area yang bisa ia gunakan nanti untuk menjalankan rencananya… atau menghubungi seseorang tanpa diketahui.

Tangannya tetap membantu Evelyn menyusun buku seolah tak memikirkan apa pun. Namun pikirannya bekerja jauh lebih dalam. Sementara itu Evelyn yang sedang berdiri di depan rak sastra perlahan melirik Cristian diam-diam.

Ia tahu. Ia sangat tahu apa yang sedang dilakukan pria itu. Karena di kehidupan sebelumnya…

Cristian memang mulai mempelajari mansion ini sedikit demi sedikit sebelum semuanya berubah menjadi bencana.

Jemari Evelyn menegang pelan di sisi bukunya. Perubahan takdir memang sudah dimulai. Dan ia harus menemukan cara menghentikannya sebelum terlambat.

Evelyn diam beberapa detik sambil memperhatikan Cristian yang sedang menyusun buku di rak bagian atas. Tatapannya dalam. Penuh pikiran yang tak bisa ia ucapkan.

Aku harus mendekatinya… bahkan lebih jauh. Menyentuh hatinya. Mungkin dengan begitu aku bisa menghentikan rencana jahatnya.

Karena Evelyn tahu satu hal pasti—Cristian bukan orang jahat sejak awal. Ia hanya seseorang yang terlalu dipenuhi luka dan dendam. Jika ada seseorang yang benar-benar menariknya keluar sebelum semuanya terlambat… Mungkin takdir buruk itu bisa berubah.

“Nona?”

Suara Cristian membuyarkan lamunannya.

Pria itu menoleh sambil memegang beberapa buku di tangannya. “Kenapa Anda menatap saya seperti itu?”

Evelyn langsung tersadar. Namun bukannya gugup, ia justru tersenyum manis. Senyum lembut yang membuat Cristian sedikit terpaku.

“Aku hanya berpikir…” Evelyn menurunkan buku pelan ke rak, “…akan sangat baik kalau kita bisa menjadi teman.”

Cristian tampak sedikit terkejut. “Teman?”

Evelyn mengangguk kecil.

“Selama ini aku tidak punya teman untuk bercerita selain Kelly,” ucapnya pelan.

Dan ucapan itu bukan kebohongan. Sejak kecil hidup Evelyn terlalu terisolasi. Mansion besar ini memang penuh orang, tetapi tak pernah benar-benar memberinya seseorang untuk berbagi cerita.

Rachel dan Lauren sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Charlie bahkan jarang bicara padanya. Sementara Alberto…

Evelyn bahkan tidak tahu apakah pria itu benar-benar menganggapnya anak.

Tatapan Cristian perlahan melembut. Entah kenapa, mendengar pengakuan itu membuat dadanya terasa aneh. Gadis di depannya ini ternyata lebih kesepian daripada yang ia bayangkan.

“Kalau itu keinginan Anda…” ucap Cristian pelan sambil tersenyum tipis, “saya dengan senang hati menerimanya.”

Wajah Evelyn langsung sedikit berbinar. Benar-benar seperti anak kecil yang senang mendapatkan sesuatu sederhana.

Lalu tiba-tiba Evelyn mengangkat tangan kecilnya. Jari kelingkingnya terulur ke arah Cristian.

“Kalau begitu… janji berteman?”

Cristian menatap kelingking kecil itu beberapa detik. Lalu tanpa sadar ia tertawa kecil.

“Ini Seperti tingkah anak kecil,” gumamnya pelan.

“Tapi menyenangkan bukan?,” balas Evelyn cepat.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya malam itu Cristian tertawa tulus. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan mengaitkan kelingkingnya dengan milik Evelyn.

“Janji.”

Sentuhan kecil itu membuat Evelyn tersenyum lega.bSementara Cristian tidak menyadari… Sedikit demi sedikit, pertahanan di hatinya mulai retak karena gadis itu.

1
sasip
penggambaran adegannya begitu detail, jadi berasa lagi nonton neh thor.. mantab.. 👍🏻😍
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!