𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30| Rahasia Aluna
Kejadian di lorong lima menit yang lalu menyeret mereka berempat duduk di satu meja yang sama, Aluna beberapa kali mencuri pandang ke arah Gavian—mendadak muncul. Kerutan di dahi Aluna terlihat ketika atensinya tertuju pada Gavian, entah kenapa ia mulai merasa jika kepribadian Gavin lebih sering terlihat dibandingkan Gavino. Merasa ditatap Gavian membalas tatapan mata Aluna, sebelah matanya berkedip disertai seringai nakal terbit di bibirnya.
Aluna menggerjab, terburu-buru menunduk menatap nasi goreng di depannya. Sementara Jayden yang duduk di samping Aluna sibuk melotot ke arah Kai, pria yang dipelototi malah cengengesan tanpa dosa. Kai memang pada dasarnya masa bodoh dengan penilaian orang lain, tak terkecuali pria yang duduk di samping pujaan hatinya. Namun, berbeda jika harus dihadapi dengan pria yang kini duduk di sampingnya.
Sosok Gavino yang pernah dilihat Kai saat menghajar lelaki sebaya dengan mereka, saat Kai melihat sosok Gavino yang menghajarnya dengan kilatan menyeramkan. Untuk kali pertamanya Kai bertanya-tanya, bagaimana bisa sahabatnya itu tersenyum seperti psikopat ketika memukuli orang. Tidak ada ampun ketika sosok Gavino memukul, semenjak saat itu Kai telah menanamkan dalam dirinya. Lebih baik untuk tidak memprovokasi sahabat di sampingnya ini, jika tak ingin melihat tatapan gila itu lagi.
"Kenapa kalian pada saling melotot, apa nggak niat makankah?" Aluna melirik Jayden sebelum beralih ke depan menatap Kai.
"Makan kok Sayang, ini liat gue udah mau nyendok baksonya," sahut Kai sebelum mengerakkan tangannya menyendok bola bakso di mangkok.
Jayden berdecak, "Nggak usah pakek panggil 'Sayang-sayang' deh sama Aluna. Geli gue dengarnya."
Kai mengunyah bakso yang baru masuk ke dalam mulutnya, tersenyum polos pada Jayden.
"Lah kenapa? Toh, Aluna belum nikah sama lo. Asalkan lo tau Jayden, selagi lo masih belum punya status sah sama Sayang-nya gue. Aluna masih milik bersama, ah—maksudnya gue itu. Bukan milik siapa-siapa, gue berhak maju buat berjuang," bantah Kai setelah menelan makanan yang telah halus ia kunyah. "Bahkan kalo pun udah nikah masih bisa cerai. Apa lo nggak pernah dengar lagu 'Ku tunggu jandamu' nah, itu lagu juga jadi panutan gue dalam ngejar Aluna."
Teh hangat yang baru saja disesap hampir saja menyembur keluar dari mulutnya, Aluna menatap Kai dengan tatapan tak percaya. Ternyata selain otak mesum Kai juga cukup gigih, tak salah lagi Kai bisa masuk ke dalam cerita thriller-harem di novel. Dengan kegigihan seperti ini, Aluna yakin siapa pun gadis yang ia kejar sudah pasti ia dapatkan.
"Pala lo peang! Nggak bisa gitu. Kalo gue nanti nikahin Aluna, nggak bakalan gue ceraiin. Bahkan kalo dia jadi mayat sekali pun gue awetin," sahut Jayden memasang ekspresi serius menatap lurus ke depan.
Kepala Aluna menoleh ke samping dengan pupil mata melebar, bulu tubuhnya mendadak merinding mendengar kata-kata serius Jayden. Pria ini pun tak kalah sintingnya, bagaimana bisa dia mengawetkan mayatnya.
'Aduh Jayden! Gue kira lo waras tapi siapa yang sangka kalo pikiran lo nggak kalah gilanya ketimbang si Gavian di depan gue ini. Hah! Terkutuklah buat Author yang bikin ini novel. Nggak ada yang benar apa?' Aluna hanya mampu mengeluh dalam diam, dan mendesah berat.
Setiap guratan ekspresi Aluna, dari cara gadis itu mengerutkan dahi sampai pupil matanya melebar. Diamati dengan saksama oleh manik mata hitam legam Gavian, garis sudut bibirnya terangkat tinggi. Gemas, satu kata yang bisa digambar oleh Gavian. Alangkah lebih menyenangkan lagi jika gadis cantik satu ini bisa dikurung di dalam kamarnya, dirantai di tempat tidurnya. Menjadi miliknya, hanya miliknya.
'Aduh Mak, seram kali senyuman Gavian. Gue takut.' Aluna menundukkan kepalanya, matanya melotot di saat betisnya terasa bersentuh dengan tungkai kaki.
Ia melirik ke bawah kolong meja kantin, lalu melirik ke depan. Seringai nakal Gavian tertangkap atensinya, Aluna membeku.
...***...
Kuku bercat merah meron itu terlihat mengapit sebatang rokok di sela jari jemari lentiknya, asap rokok berterbangan. Sementara tangan lainnya mengangkat selembar foto pria tampan yang tersenyum lebar, ibu jarinya mengusap permukaan foto dengan tatapan penuh kerinduan, kesedihan, dan kebencian menjadi satu. Ia jatuh cinta dan mengilai pria itu namun, apa yang dilakukan pria itu. Ia menolaknya tanpa keraguan, bersikukuh untuk tak menginginkan dirinya.
"Betapa malangnya, seorang wanita penghibur dengan harga fantastis permalam. Malah menginginkan pria yang tak menginginkannya," celetuk wanita dengan rambut bercat merah menyala mendekati mini bar di ruangan bangunan mewah.
"Kenapa Mami ada di sini?" tanyanya mengerutkan dahi, meletakkan kembali foto di tangannya di atas meja mini bar.
"Sudah delapan belas tahun lebih Mawar, kamu masih menginginkan pria beristri. Apakah kamu tidak melihat betapa kamu digilai oleh para pejabat. Jika kamu mau, kamu bisa langsung menjadi istri sah mereka para konglomerat."
Mawar terkekeh getir, dan meraih botol red wine. Menuangkan cairan merah keunguan itu ke dalam gelas kosong, rokok yang masih menyala di letak di pinggir asbak. Ia menyesap red wine di gelasnya, tanpa harus membalas perkataan sang mucikari.
"Kalo Mami yang jadi kamu, Mami akan lebih memilih menjadi istri muda pria konglomerat yang jelas mampu mengeluarkan Mami dari tempat ini. Setidaknya itu yang pernah Mami pikirkan dulu sekali, sebelum menjadi seperti sekarang. Sementara kamu? Kamu malah terperosok ke jurang ini semakin dalam, kamu melahirkan anak mereka. Tapi, kamu juga yang memisahkan mereka. Hah, apalagi yang kamu inginkan Mawar? Apakah sudah tidak cukup selama delapan belas tahun ini?" Anin membujuk Mawar dengan nada lembut.
Mawar menatap kosong ke arah botol red wine, di usia awal dua puluhan ia didatangi oleh sepasang suami istri. Mereka menawarkan untuk menjadi ibu pengganti, ia ditawari menjadi gestational surrogate. Karena tuntutan keuangan, siapa sangka sosok pria dewasa yang begitu tampan dan mempesona itu mencuri hatinya. Mawar yang mengandung, menginginkan pria beristri itu menjadi miliknya.
Sayang seribu kali sayang, pria itu hanya mencintai istrinya yang lemah fisik. Kemarahan dan kecemburuan menjadi satu, saat ia hamil tujuh bulan. Mawar kabur, saat itulah ia bertemu Anin—mucikari yang hanya melayani para pria konglomerat sampai pejabat. Mawar bersembunyi atas bantuan Anin, ia melahirkan anak itu. Anak pasangan suami-istri yang sudah membayarnya mahal, betapa benci dan cinta menjadi satu pada diri Mawar.
"Tapi mereka kembali mengambilnya," gumam Mawar lirih.
Anin menepuk kecil pundak Mawar, dan berkata, "Anak itu anak kandung mereka, rahimmu hanya menampung anak itu agar bisa lahir dengan selamat. Kamu sudah memisahkan mereka sampai anak itu hampir berusia remaja. Mereka berdua bahkan tak bisa mengungkapkan jika mereka adalah orang tua biologis anak itu. Sudah saatnya kamu melepaskan masa lalu Mawar."
Mata Mawar memerah, satu sisi ia merasa Aluna adalah putrinya. Anak yang ia kandung, ia lahirkan, dan ia besarkan sebelum ia buang ke panti asuhan. Sementara di satu sisi lain ia pun paham anak itu sama sekali tak memiliki gennya, bukan anak biologisnya.
Air mata yang jatuh berderai di pipinya mengundang desahan berat dari Anin, Mawar terlalu keras kepala. Ada banyak lelaki dari yang muda sampai yang sudah akhir lima puluhan ingin memilikinya. Bersedia menikahinya secara sah, asalkan Mawar mau berhenti dari pekerjaan kotornya. Tapi Mawar menolak semuanya, ia tetap melakukan pekerjaan ini.
...***...
Suara bell menggema di seluruh gedung sekolah, erangan dan sorak-sorai terdengar dari dalam. Sebelum disusul oleh derap langkah kaki di lorong-lorong gedung, satpam sekolah mulai membuka pintu gerbang lebar-lebar. Siswa-siswi mulai berhamburan keluar dari gedung, beberapa mobil pribadi telah berderet rapi di depan gedung sekolah menjemput para tuan dan nona muda setiap keluarga.
Aluna bergandeng tangan dengan Karina sesekali tampak terkekeh entah apa yang tengah keduanya bicarakan, keduanya baru saja melewati gerbang pintu sekolah.
"Aluna!" seruan lantang terdengar jelas.
Aluna dan Karina melongok ke arah asal suara, Fandi melambai ke arah putrinya. Aluna dan Karina berpisah, Aluna melangkah lebar ke arah mobil ayahnya.
"Daddy?" Aluna melirik Fandi dengan tatapan tak percaya. "Wah! Benar Daddy yang menjemputku."
Fandi terkekeh, ia mengusap lembut puncak kepala putrinya. "Kenapa terkejut?"
Kepala Aluna mengangguk, dan menjawab, "Ya, sedikit. Tapi aku senang karena Daddy yang datang!"
Fandi membuka pintu mobil untuk Aluna, sebelum ikut masuk ke kursi belakang. Tatapan tajam di balik jendela mobil memperhatikan keduanya dari awal sampai menghilang bersama mobil sedan, kilatan kebencian dan kerinduan terlihat jelas.
"Mereka berdua harusnya menjadi milikku," gumamnya getir.
Kedua telapak tangan Mawar mengepal, api kebencian dan ketidakrelaan masih menyala di dadanya.
•Gestational surrogate (ibu pengganti gestasional) adalah seorang wanita sehat yang bersedia mengandung dan melahirkan bayi untuk orang atau pasangan lain, di mana bayi tersebut tidak memiliki hubungan genetik dengannya karena embrio diciptakan dari sel telur dan sperma orang tua yang dituju (atau donor) melalui program bayi tabung (IVF) dan ditanamkan ke rahimnya. Intinya, ia hanya "menyewakan rahim" (gestational surrogacy) dan tidak menyumbangkan sel telur, menjadikannya berbeda dengan traditional surrogacy.