Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Tiga orang itu kini berada di hadapan empat laki-laki di dalam kamar rawat sebuah rumah sakit yang tak jauh dari lokasi kejadian. Mereka menatap tajam sekaligus bingung melihat kondisi ke-empatnya yang tidak baik-baik saja.
Wajah mereka penuh memar, beberapa bagian tubuh mereka dibalut karena mengalami patah tulang. Mereka mengatakan mengalami kecelakaan tunggal di jalanan. Tidak membahas tentang pengiriman seorang anak ke rumah sakit jiwa.
"Siapa yang melakukan ini kepada kalian?" tanya Shakira, dahinya mengernyit dalam.
"I-itu ... seorang gadis yang mengaku sebagai ibu anak itu," jawab salah satu dari mereka sembari memegangi pipinya yang berdenyut sakit.
Shakira dan sepasang suami istri itu saling menatap satu sama lain. Amarah di hatinya meledak karena merasa dibohongi oleh mereka.
"Katakan yang sebenarnya. Apakah Hadrian yang melakukan ini? Dia juga yang telah membawa Rasya pergi? Jangan mengada-ada atau mengarang cerita. Ibu anak itu sudah lama pergi ke neraka. Dia tidak akan pernah kembali lagi," desis Shakira lebih mendekat kepada mereka.
Rahangnya mengeras, kebingungan yang sempat muncul di hatinya lenyap. Rasa takut datang mendominasi, khawatir akan pembalasan yang akan dilakukan Hadrian kepadanya.
"Yang kami katakan memang benar. Tidak ada tuan Hadrian di antara mereka. Hanya seorang gadis kecil yang mempunyai kekuatan besar dan mengalahkan kami semua. Anak itu memanggilnya ibu," sahut mereka lagi lebih tegas.
Tatapan mata keempat laki-laki itu begitu tajam. Ada kebencian juga ketakutan yang tak biasa memancar di sana. Tubuh Shakira limbung, nyaris jatuh ke lantai seandainya Ziyan tidak segera menopangnya.
"Kalian yakin Rasya memanggilnya ibu?" Kali ini Sely yang bertanya. Dia terlihat jauh lebih tenang dari pada Shakira dan suaminya.
Shakira memegangi dadanya yang terasa sesak, wajahnya pucat dalam hitungan detik. Berita kemunculan Rania adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal. Di ruang laboratorium itu, dia sendiri yang menyuntikkan cairan kematian ke tubuhnya. Lalu, tubuh Rania dibedah dan seluruh organnya dikeluarkan untuk dijual kepada mereka yang membutuhkan.
Tidak mungkin dia kembali, bukan? Mataku melihat sendiri semua prosesnya. Tidak mungkin!
Hati Shakira bergumam cemas, keringat dingin bermunculan di wajahnya. Napasnya semakin terasa sesak, hatinya dilanda ketakutan. Bagaimana jika ternyata Rania benar-benar kembali? Dia datang untuk menuntut balas kepadanya atas semua yang telah dia lakukan dulu.
"Kami sangat yakin. Tapi, gadis itu masih sangat belia. Mungkin usianya baru belasan tahun. Kami menduga anak itu hanya menipu untuk membuat kami lengah," jawab salah satu dari mereka.
Jawaban itu lebih bisa diterima oleh akal. Rasya sengaja memanggil gadis itu ibu hanya untuk membuat mereka lengah. Ya, benar begitu.
Shakira tercenung, detak jantungnya perlahan normal mendengar ucapan mereka. Sesak yang merebak perlahan hilang, senyum terbit di bibirnya.
Sudah aku duga, mana mungkin orang yang sudah mati bisa kembali lagi.
"Ini masuk akal. Rasya melakukan itu untuk mengecoh kalian. Sekarang, di mana anak itu? Apakah kalian sempat membawanya ke rumah sakit jiwa?" ucap Ziyan terburu-buru.
Hatinya sedikit lebih tenang dengan dugaan mereka sendiri. Terlebih bukan Hadrian yang melakukannya. Hanya orang asing yang tidak akan pernah tahu tentang kehidupan mereka.
"Kami tidak sempat membawa anak itu ke rumah sakit jiwa karena mereka menghadang di jalan. Sepertinya mereka bukan orang biasa. Gadis itu memang masih sangat muda, tapi seperti seseorang yang sudah terlatih. Aksinya mengingatkan kami kepada seorang agen rahasia Red-O 001." Mereka tercenung saat menyadari sesuatu.
"Ya, itu benar. Kami pernah bertemu dengannya sekali. Setiap gerakannya memang mirip dengan agen rahasia itu," sahut yang lain ikut menyadari juga.
Shakira dan dua orang lainnya saling menatap satu sama lain. Semakin rumit bagi mereka untuk mencari keberadaan Rasya. Apalagi jika benar yang membawanya adalah seseorang yang tak bisa disentuh seperti agen rahasia Red-O 001 itu.
Siapa yang tidak mengenalnya. Seorang agen misterius dari tim penyelamat, pemimpin pasukan khusus ketentaraan kota Anggrek. Berhasil memecahkan ratusan kasus besar, dan menangkap puluhan penjahat kelas kakap.
Namun, tidak pernah ada yang melihatnya secara langsung. Tidak ada yang tahu siapa dia dan bagaimana rupanya? Apakah perempuan ataukah laki-laki? Yang pasti sosoknya sangat ditakuti di dunia bawah. Idola setiap anak-anak. Namanya diagungkan dan diabadikan di sebuah museum sebagai seorang pahlawan. Sayang, sudah beberapa tahun sosok besar itu menghilang dan tak terdengar lagi kabarnya.
"Tidak mungkin! Setidaknya jika dia benar agen rahasia itu maka usianya tidak akan semuda itu. Mungkin kalian salah, dia hanya gadis kecil yang memiliki kemampuan saja," tolak Shakira.
Agen rahasia itu sudah bergelut begitu lama, usianya setidaknya sama dengan mereka. Tiga puluh tahun lebih. Tidak mungkin hanya seorang gadis kecil.
"Itu benar. Lagi pula, agen rahasia itu sudah lama tidak terdengar namanya lagi. Dia sudah pensiun dan pergi dari kota Anggrek. Kenapa tiba-tiba kembali, sedangkan negara sedang baik-baik saja?" timpal Ziyan menambah logis pemikiran mereka.
Keempat laki-laki itu saling menatap, kemudian menganggukkan kepala membenarkan.
"Sekarang, ke mana kita harus mencari Rasya? Jika Hadrian tahu, maka satu pun dari kita tidak akan ada yang selamat," ucap Sely dengan perasan cemas yang kembali datang merundung.
Mereka semua berpikir, kemudian salah satu penjahat teringat akan supir yang membantu Rania.
"Sepertinya aku mengenal salah satu dari mereka. Dua orang itu memang bukan penduduk kota Anggrek, tapi salah satunya adalah penduduk asli dan bekerja sebagai supir. Mungkin kalian bisa mencarinya di tempat laki-laki itu," ucapnya saat mengenali sosok supir sebelum balok kayu menghantam kepalanya.
"Itu bagus. Sekarang juga kita pergi ke sana!"
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄