NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Dirumah sakit Lagi

Di kamar rawat inap VIP, suasana terasa jauh lebih tenang.

Aurel masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya terlihat pucat. Kelopak matanya masih tertutup rapat. Infus tergantung di samping tempat tidur. Napasnya sudah jauh lebih stabil dibanding beberapa jam sebelumnya, tetapi ia masih belum sadar sepenuhnya akibat obat yang dipaksakan oleh para penculik.

Di dekat ranjang nya Aurel berdiri Arvano. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Aurel. Bahkan sejak dokter mengatakan bahwa Aurel selamat dan tidak mengalami hal yang lebih buruk, Arvano masih belum bisa benar-benar tenang. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat dadanya sesak. Bagaimana jika mereka terlambat? Bagaimana jika rumah kosong itu tidak ditemukan? Bagaimana jika Aurel benar-benar terluka?

Semakin dipikirkan, semakin besar amarah yang muncul dalam dirinya. Dan itu semua tertuju pada satu orang yaitu Erika.

Di luar kamar rawat. Indah duduk di kursi tunggu sambil mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Bagaskara berdiri di dekat jendela. Alga, Devon, dan Fero juga masih berada di sana. Sedangkan Tara duduk sedikit terpisah, karena tidak mengenal siapa pun selain Aurel.

Suasana sempat sunyi cukup lama. Hingga akhirnya Devon membuka suara. "Aurel beruntung."

Fero mengangguk. "Iya. Kalau kita terlambat sedikit saja..." Ucapannya tidak dilanjutkan.

Semua sudah memahami maksudnya. Indah menghela napas panjang. "Ibu masih enggak habis pikir."

Bagaskara menatap ke luar jendela. "Aku juga."

Namun yang membuat mereka heran bukan hanya soal penculikan itu. Melainkan, Arvano. Karena sejak tadi benar-benar terlihat berbeda.

Biasanya Arvano adalah orang yang dingin, sulit menunjukkan perasaan, bahkan ketika sakit dulu, jarang menunjukkan kelemahan.

Namun malam ini, semua orang melihat sendiri bagaimana paniknya Arvano, bagaimana Arvano berlari lebih dulu menuju rumah kosong, bagaimana wajahnya berubah saat melihat Aurel menangis, bagaimana Arvano menggendong Aurel sampai ke rumah sakit, dan bagaimana sejak tadi Arvano tidak pernah mau menjauh dari kamar rawat.

Alga akhirnya melirik Bagaskara, lalu menatap Indah, kemudian kembali menatap pintu kamar. Ekspresi yang sama muncul di wajah mereka, ialah curiga.

Tara yang melihat semua itu justru diam, karena hanya dirinya cuman yang tahu jawabannya dan Aurel sudah menceritakan semuanya. Tentang hubungan rahasia mereka, tentang bagaimana Arvano mencintai Aurel, tentang bagaimana mereka berpacaran diam-diam.

Karena itu Tara tidak heran sedikit pun. Namun juga tahu bahwa itu bukan rahasianya untuk dibocorkan, jadi memilih untuk diam.

Kemudian Arvano keluar dari kamar. Semua mata langsung menoleh kepadanya.

"Aurel belum sadar." Tanya Indah.

Suara Arvano terdengar pelan. "Iyaa."

Namun Bagaskara masih memperhatikan anaknya. Semakin lama, semakin aneh, dan akhirnya bertanya. "Kamu sangat khawatir."

Arvano langsung menatap ayahnya. Beberapa detik, lalu menjawab dengan datar. "Karena dia bekerja di rumah kita."

Bagaskara masih menatapnya. "Tidak sesederhana itu." Dalam hatinya.

Arvano mengalihkan pandangan. Justru itu membuat kecurigaan semakin besar.

Sebenarnya Arvano tahu. Cepat atau lambat semuanya akan menyadari sesuatu. Arvano memang berusaha menyembunyikannya.

Namun malam ini emosinya benar-benar lepas kendali. Saat mendengar Aurel diculik, Arvano bahkan tidak sempat berpikir. Yang ada di kepalanya hanya satu, yaitu menemukan Aurel dan menyelamatkan Aurel. Tidak peduli apa pun yang harus dilakukan.

Dan tindakan itu dilihat oleh semua orang, Kini mulai sadar. Rahasia mereka mungkin tidak akan bertahan lama.

Topik pembicaraan beralih, Ke orang yang menjadi penyebab semua kekacauan itu ialah Erika.

Wajah Arvano langsung mengeras saat nama itu disebut.

Bagaskara duduk di kursi, dengan tatapannya yang tajam. "Aku tidak akan membiarkan Erika lolos."

Indah mengangguk setuju. "Apa yang dia lakukan sudah keterlaluan."

Alga ikut bicara. "Kalau polisi dapat semua bukti, dia bakal susah keluar."

Fero menambahkan. "Belum lagi soal penculikan."

Arvano mengepalkan tangannya. "Aku yang akan mengurusnya."

Semua langsung menoleh. Tatapan Arvano terlihat sangat dingin, bahkan lebih dingin dari biasanya. "Aku enggak akan diam."

Bagaskara langsung menggeleng. "Tidak."

Arvano menatap ayahnya. "Maksud Papa?"

"Biarkan Papa yang mengurus." Sahut Bagaskara.

"Tapi—" Ucap Arvano belum sempat bicara.

"Arvano." Suara Bagaskara tegas. "Aku yang akan memberi hukuman." Lanjutan Bagaskara.

Bagaskara melanjutkan. "Kesalahan ini terjadi karena aku terlalu percaya pada mereka." Nada suaranya terdengar penuh penyesalan. "Jadi biarkan aku yang menyelesaikannya."

Arvano tidak langsung menjawab. Namun rahangnya terlihat mengeras. Arvano masih marah.

Kalau bukan karena mereka datang tepat waktu, Aurel mungkin mengalami sesuatu yang jauh lebih buruk. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa Arvano maafkan.

Tara Memutuskan Pulang, Jam sudah semakin malam. Tara melihat waktu di ponselnya, lalu berdiri perlahan. "Saya pulang dulu."

Indah menoleh. "Mau pulang sekarang?"

Tara mengangguk. "Iya Bu. Besok saya datang lagi."

Indah tersenyum lembut. "Terima kasih sudah datang memberi tahu."

Kalau bukan karena Tara, mereka mungkin tidak akan tahu apa yang terjadi pada Aurel.

Tara menggeleng cepat. "Saya cuma melakukan yang seharusnya." Tara sempat melirik ke arah kamar rawat, lalu tersenyum kecil. "Cepat sembuh ya, Aurel."

Setelah berpamitan pada semua orang, Tara akhirnya pergi. Tak lama kemudian, teman-temannya Arvano juga Pergi.

Alga berdiri. "Kita juga pulang dulu."

Devon mengangguk. "Kalau ada apa-apa langsung telepon."

Fero menepuk bahu Arvano. "Jaga diri Lo, juga."

Arvano mengangguk pelan. "Makasih."

Mereka bertiga lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Menyisakan keluarga Argas.

Indah melihat jam dinding. "Sudah malam."

Bagaskara mengangguk. "Kita pulang."

Mereka semua berdiri.

Namun Arvano tetap diam di tempatnya.

Bagaskara mengernyit. "Kamu enggak ikut?"

Arvano menggeleng. "Aku di sini."

Indah langsung menatapnya. "Untuk apa?"

Arvano menjawab cepat. "Menjaga Aurel."

Bagaskara menyipitkan mata. "Dokter dan perawat kan ada."

"Aku tetap di sini." Tegas Arvano.

Indah dan Bagaskara saling berpandangan. Kecurigaan mereka semakin besar.

Namun Arvano buru-buru menambahkan alasan. "Dulu waktu aku dirawat di rumah sakit..." berhenti sebentar. "Aurel yang merawat aku."

Indah langsung teringat kejadian itu, saat kecelakaan ringan beberapa waktu lalu.

Memang benar, Aurel selalu berada di sana. Membantu, menjaga, memaksa Arvano makan, dan memberikan obat.

Arvano melanjutkan. "Sekarang gantian."

Indah perlahan mengangguk.

Alasannya masuk akal. Namun tetap saja, tatapan Bagaskara belum berubah. Masih penuh curiga, tatapannya yang tidak Biasa.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang bicara, hanya ada tatapan diam antara Bagaskara dan Indah. Mereka seperti sedang memikirkan hal yang sama. Sesuatu tentang Arvano, sesuatu tentang Aurel, dan sesuatu yang belum mereka ketahui.

Arvano menyadari itu. Namun pura-pura tidak tahu, karena belum saatnya, belum sekarang, dan belum ketika Aurel masih terbaring di rumah sakit.

Akhirnya Indah berdiri. "Kalau begitu Mama pulang dulu."

Bagaskara mengangguk. "Istirahat juga."

Arvano hanya menjawab pelan. "Iya."

Tak lama kemudian. Mereka pergi meninggalkan rumah sakit. Langkah kaki mereka perlahan menghilang di ujung lorong.

Kini hanya tersisa Arvano dan Aurel. Malam terasa sangat sunyi. Arvano kembali masuk ke kamar rawat. Arvano duduk di kursi dekat ranjang, menatap wajah Aurel yang masih tertidur. Tangannya perlahan menggenggam tangannya Aurel yang hangat.

Arvano menghela napas lega. setelah itu Arvano tidur didekat Aurel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!