Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manuver tak terduga
Hari ini adalah hari bahagia bagi para siswa. Mereka memang masuk seperti biasa, namun tidak ada kegiatan belajar-mengajar sama sekali khusus untuk hari ini.
Acara rapat dalam rangka datangnya kepala sekolah baru membuat para guru serta perwakilan siswa berkumpul dalam aula, membuat siswa lainnya bebas seharian—asal tidak membuat kegaduhan berlebih.
Ada yang nongkrong di kantin. Beberapa di taman sekolah. Sebagian ada yang malah berolahraga. Hanya sebagian kecil yang masih ada di kelas. Bagas contohnya.
Keputusannya untuk menghabiskan waktu di kelas sudah bulat. Saat teman-temannya pergi entah kemana, ia malah duduk sendirian di kursinya.
Ia yakin teman-teman akrabnya pasti akan mencari kelompok gadis lainnya untuk bercanda ria. Apa yang ingin mereka lakukan bertentangan dengan keinginannya. Makanya ia beralasan kalau sedang tidak enak badan.
Tadinya ia berpikir untuk ke UKS agar semakin meyakinkan. Namun, saat mendapati tak ada seorang pun di kelasnya, ia berubah pikiran.
Bagas cukup bisa menikmati kesunyian selama hampir satu jam ini. Sebelum akhirnya seseorang tiba-tiba memecahkannya.
"Ternyata ada." gumam suara dari arah pintu yang terbuka.
Meski hanya sebuah gumaman, karena ruang kelas yang sepi, gemanya sampai pada telinganya. Menimbulkan helaan kecil.
Gema langkah kaki mulai terdengar. Kian lama, kian kencang. Tanpa melihatnya, ia tahu kalau orang itu kini berada di kursi kosong di depannya. Duduk dengan santainya.
Bagas mencoba mengabaikan sosok itu; fokus ke buku pelajaran yang sedang ia baca. Beberapa menit berjalan, tak ada suara yang keluar. Kesunyian yang sempat pergi, kini timbul kembali.
Justru Bagas heran akan hal itu. Tidak pernah terpikir kalau pemilik suara itu akan hadir tanpa melakukan apapun. Semakin lama, bukannya ia semakin tenang, malah makin was-was. Ketenangan yang ia rasakan seolah pertanda badai akan datang.
Linda bingung harus mulai dari mana. Padahal sejak tadi malam ia sudah memikirkannya. Ternyata lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Ia hanya bisa memelintir ujung rambutnya saja sedari tadi.
Tapi, dorongan mulai muncul dari dalam lubuk hatinya. Mumpung waktunya tepat. Mumpung tidak ada siapapun. Sekarang atau tidak sama sekali.
"Aku selalu kepikiran kalau kamu itu pemalu. Tapi, belakangan ini, aku merasa kalau kamu sebenarnya menghindar dengan perempuan karena sudah punya pacar 'kan?"
Bagas sudah tak terlalu kaget. Ia sudah mempersiapkan diri sebelumnya kalau-kalau gadis itu akan melakukan sebuah manuver tak terduga. Ternyata memang masih dalam dugaannya.
"Andai memang seperti yang kamu bilang, hidupku pasti akan jauh lebih bahagia." sahut Bagas sekenanya.
Linda merasa lega saat mendengar kalimat Bagas barusan. Kalimat yang ia dengar adalah kalimat yang memang ia harapkan keluar dari mulutnya.
"Lalu kenapa kamu menghindariku?"
"A-aku cuma ... tidak biasa berada di dekat perempuan." kilah Bagas.
"Apa jangan-jangan kamu membenciku?"
Bagas ingin sekali mengiyakan. Namun, ia tidak bisa bilang kalimat segamblang itu dengan mudah.
Selain untuk menghindari murka dari gadis itu, ia juga tidak merasa benci seperti yang seharusnya.
Bagas selalu merasa kalau hubungan di antara mereka penuh dengan kesalahan pahaman saja. Lalu hal itu juga diperburuk olehnya yang tidak bisa meluruskannya.
Jadi iya bukanlah jawaban yang tepat baginya.
"Aku tidak membencimu."
Linda terkejut dengan jawabannya. Kebencian memang seharusnya ia terima. Namun, kenyataan berhasil menyadarkannya.
"Kenapa? Seharusnya wajar kalau kamu membenciku."
"Tidak, dari awal memang salahku yang tidak bisa berinteraksi dengan baik."
Linda tersadar kalau Bagas adalah sosok yang selalu seperti itu. Ia tidak pernah memandang kesal kepada dirinya, atau bahkan membalasnya.
Bahkan jauh sebelum hari ini, ia sudah paham seperti apa sifat lelaki itu.
Linda sudah memperhatikannya sejak semester awal tahun pertamanya. Lelaki itu, tak pernah genit. Tak pernah ingin mencuri perhatian dari gadis lain padahal hal itu umum bagi lelaki sebayanya.
Terlebih bagi dirinya yang primadona, didekati lelaki adalah makanan sehari-harinya. Hanya Bagas satu-satunya lelaki yang nampak tak tertarik padanya.
Awalnya ia penasaran. Semakin kemari, ia semakin paham kalau lelaki itu tak hanya menghindarinya, namun menghindari semua gadis.
Meski dipandang aneh oleh sebagian orang, Linda justru merasa kalau lelaki itu amatlah unik. Hingga dua tahun berlalu pun tak ada yang berubah dari penilaiannya.
Bahkan matanya hanya tertuju pada lelaki itu. Hingga setahun belakangan ini, ia merasa harus mengambil inisiatif.
Terkadang ia merasa bersalah. Terkadang juga ia puas seolah sudah membalas perlakuannya.
Sekarang ia sadar kalau perasaannya kepada lelaki itu ternyata sudah tertanam jauh daripada yang ia duga.
Lelaki yang tidak pernah berubah itu adalah sosok yang tidak bisa ia lepaskan.
"Kalau begitu, kita jadian saja yuk!"
Bola mata Bagas melebar penuh. Ia memang sempat mempersiapkan diri, namun kali ini, ia tidak siap dengan ajakannya barusan yang benar-benar di luar dugaannya,
"Hm? Apa maksudmu?" tanyanya. Baru kali ini ia berharap telinganya salah dengar.
"Seperti yang kamu dengar. Kita pacaran."
Keisengan macam apa lagi ini?
"H-hah? K-kamu pasti sedang bercanda 'kan?"
"Tidak, aku serius."
"Hah—"
TENG ...
Bunyi bel panjang berbunyi. Pertanda waktu pulang telah tiba. Bagas yang kebingungan sontak mengambil tas lalu bergerak cepat menuju pintu.
Linda yang sadar akan gerak-geriknya justru bergerak lebih sigap. Bagas belum sempat keluar, ia justru keluar lebih cepat lalu menutup pintu dari luar.
Berat dari tubuhnya ia gunakan untuk menahan pintu agar tidak bisa di dorong dari dalam.
Bagas mencoba mendorongnya. Hanya bergerak kecil. Beberapa gedoran ia lakukan, masih tak ada tanda-tanda akan dibukakan.
"Cepat jawab dulu! Iya atau tidak?"
Bagas kebingungan setengah mati. Ia tidak merasa sudah melakukan hal yang bisa menimbulkan ketertarikan gadis itu. Bahkan selama ini, ia selalu berpikir kalau gadis itulah yang sebenarnya membencinya.
Helaan nafas tak terhindarkan. Tidak ada cara lain selain mencari jalan lain.
Bagas menelisik ke sekeliling. Menemukan jalan yang bisa dilalui dengan mudah.
Ada banyak jendela yang bisa ia lewati. Itu artinya banyak jalan keluar yang bisa ia ambil.
Jika ia ingin kabur dari situasi tak terduga ini, mau tidak mau, ia harus melakukannya. Ia memilih jendela terdekat. Ia buka sedikit, menyelipkan tubuhnya. Keluar dengan terburu.
Meski beberapa orang melihatnya nampak seperti menyelinap keluar dari kelas, namun Bagas tidak peduli. Ia tetap berlari kecil menuju gerbang.
Bagas semakin tidak paham apa yang telah terjadi. Ia segera pulang ke rumah dengan kepala yang nyeri.