Fiana Adams tak pernah menduga akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertemuan yang singkat di reuni sebuah SMA telah membuatnya terus memikirkan Arjuna Zefanya Tekins. Siapa sangka keduanya justru tak bisa dipisahkan sejak malam itu walaupun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga mereka adalah orang yang paling berkuasa dan paling bermusuhan sejak zaman dulu. Berbagai tantangan datang dan berusaha memisahkan keduanya. Sampai akhirnya keduanya berada di sebuah pilihan yang sulit. Mempertahankan cinta mereka atau menjaga nama baik keluarga.
Ceritanya di jamin sangat romantis dan bikin baper. Walaupun memang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Satu
Tubuh Fiana bergetar saat Arjuna melepaskan semua pernak-pernik yang ada di kepalanya. Tangan Arjuna dengan lembut memperbaiki rambut Fiana yang tadinya disanggul saat pemberkatan nikah. "Aku suka rambutmu, sayang. Halus, harum dan sedikit bergelombang." puji Arjuna lalu ia menunduk dan mencium puncak kepala istrinya.
Fiana tersenyum malu.
Arjuna kemudian berdiri di depan istrinya. Ia membelai pipi Fiana dengan punggung tangannya. "Dalam hidupku, aku sudah banyak ketemu dengan wanita cantik, namun tak ada satu pun yang mampu membuat ku jatuh cinta. Namun malam itu, saat aku melihatmu, aku bagaikan melihat bidadari yang turun dari sorga. Kamu mempesona diriku hanya dengan sekali melihatmu saja."
Fiana memeluk suaminya. "Aku tak menyangka akan langsung jatuh cinta padamu."
"Kita sama-sama jatuh cinta, sayang." bisik Arjuna. Ia kemudian mencium pipi Fiana. Bergantian kiri dan kanan. Fiana memejamkan matanya. Kedua tangannya memegang pinggiran kemeja Arjuna.
"Kita sekarang saling memiliki, sayang." kata Arjuna lagi lalu kini mencium bibir istrinya. Fiana membalas ciuman itu dengan perasaan yang bahagia.
Tangan Arjuna kini menarik perlahan resleting gaun pengantin Fiana. Ciuman mereka terlepas. Mata mereka saling menatap. Lalu Arjuna melepaskan gaun itu dari tubuh Fiana. Membuat gadis itu merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri.
Mata mereka masih saling menatap saat Fiana melepaskan satu persatu kancing kemeja putih yang Arjuna kenakan. Setelah kemeja itu dilepaskan dari tubuhnya, Arjuna membuka sabuk celananya lalu kemudian membuka celana kain hitam itu dari tubuhnya.
Lalu Arjuna mengangkat tubuh Fiana dan meletakannya di atas ranjang.
"Arjuna, aku takut akan mengecewakanmu karena ini pengalaman pertama untukku." kata Fiana dengan malu-malu.
"Ini juga yang pertama untukku, sayang. Aku tak pernah bercinta dengan gadis manapun juga. Aku selalu tak memiliki gairah saat bersama mereka. Namun denganmu, hanya melihat bibirmu saja, seluruh hasrat dan keinginan ku untuk merasakan hubungan intim ini begitu nyata." Arjuna kembali mencium bibir Fiana. Kini tanpa ragu, tanpa menahan dirinya.
Tanpa ada pengalaman dengan orang lain, mereka belajar untuk menemukan indahnya sentuhan raga.
Arjuna memang banyak tahu dari cerita teman-temannya. Namun kini ia merasakannya sendiri.
Fiana tak menjerit kesakitan saat Arjuna menyatukan milik mereka. Ia hanya memeluk Arjuna dengan erat dan ada air hangat yang membasahi pipinya.
Arjuna tahu, Fiana kesakitan. Makanya ia tak mau tergesa-gesa. Ia ingin istrinya itu siap. Sampai akhirnya ia kembali mulai bergerak.
Tak ada kata, hanya suara desahan manja yang menandakan kalau mereka sedang menikmati keintiman itu.
Sampai akhirnya puncak kenikmatan itu tiba. Fiana dan Arjuna sama-sama menjerit. Perasaan mereka bagaikan di bawa ke atas langit yang tinggi.
"Sayang ...." Arjuna mencium pipi istrinya berulang kali. "Terima kasih untuk pengalaman pertama yang sangat indah ini."
"Terima kasih untukmu yang membuat aku bahagia." Fiana, dengan sedikit malu, mengecup bibir suaminya.
Malam itu semuanya terasa sangat indah. Seperti tak ada lelah ketika mereka kembali memulai untuk babak kedua. Sampai akhirnya mereka tertidur bersama dalam pelukan hangat tanpa ada pembatas apapun di tubuh mereka. Cinta dan gairah telah membuat Arjuna dan Fiana tak pernah memeriksa ponsel mereka yang nampak sudah ramai panggilan dan chat tentang apa yang terjadi di ibu kota.
*************
Bunyi ketukan di jendela kaca membuat Fiana dan Arjuna sama-sama bangun walaupun tubuh mereka masih sangat lelah. Mereka juga tahu kalau hari belum pagi.
"Ini jam 4 subuh. Siapa yang mengetuk?" tanya Arjuna lalu bangun dan mengenakan celananya.
"Fiana.....!"
Fiana yang tadinya masih berbaring kini ikutan bangun. "Itu suara Reyna."
Arjuna membuka tas pakaian dan mengeluarkan sebuah gaun untuk Fiana pakai.
Keduanya sama-sama keluar dari kamar. Arjuna yang membuka pintu villa. Nampak Reyna, Tita, Jelita dan Kenzo ada di sana.
"Ada apa?" tanya Arjuna melihat wajah mereka yang tegang.
"Jelo, ditembak oleh Jordy Adams. Kondisinya koma." kata Zack dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa?" Arjuna kaget.
"Kita sekarang kembali ke ibu kota karena keadaan di sana sangat tegang." kata Reyna.
"Kalian pergilah! Nanti aku dan Tita yang akan membereskan pakaian kalian di sini." kata Jelita.
"Kakakku menembak Jelo?" Fiana nampak kaget. Ia langsung menangis.
"Sebaiknya kita naik mobil terpisah karena anak buah keluarga Adams sedang dalam perjalanan menjemput Fiana." kata Reyna.
Arjuna memeluk Fiana. "Kita akan bertemu lagi, sayang." katanya lalu segera mengikuti langkah Zack menuju ke mobil lelaki itu.
Sepanjang jalan, Fiana menangis. Ia takut dengan apa yang akan terjadi.
"Mengapa kakakku bisa menembak Jelo?" tanya Fiana.
"Yang aku dengar, mereka ketemu di klub dan sama-sama mabuk. Jelo mengatakan bahwa Arjuna sudah mencium kamu. Jordy tak terima. Mereka awalnya aduh mulut. Jelo menghina Jordy dengan mengatakan bahwa kamu akan segera menjadi keluarga Pekins. Jordy terprovokasi dan akhirnya melepaskan tembakan."
Mereka berjumpa dengan bodyguard keluarga Adams di perjalanan. Untungnya Zack dan Arjuna mengikuti jalan lain.
Begitu sampai di rumah, pagi baru saja datang. Namun penghuni rumah di keluarga Adams tak ada satupun yang tertidur. Wajah mereka nampak lelah dan tegang.
Jerry menatap adiknya. "Apa benar kalau kamu ada hubungan dengan Arjuna Adams?" tanyanya sambil berteriak melihat kedatangan adiknya.
Fiana menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya. Ia lupa melepaskan cincin pernikahannya.
"Maksudnya apa ini?" Fiana pura-pura bingung pada hal jantungnya berdetak sangat kencang.
Johnny menatap putrinya. "Untuk meredakan semua cerita ini, maka papa sudah menyetujui apa yang raja katakan semalam saat kami bertemu. Bahwa pangeran Jeremi tertarik ingin berhubungan dengan Fiana. Pergilah ke kamarmu. Siapkan dirimu karena malam ini pangeran akan mengajakmu makan malam."
"Di mana kak Jordy?" tanya Fiana.
"Dia sedang berada di tempat yang aman bersama anak dan istrinya."
Reyna langsung menarik tangan Fiana untuk menaiki tangga.
"Aku tidak mau menemani pangeran untuk makan malam." kata Fiana saat berada di kamar.
"Tenanglah nona. Berdoalah agar Jelo tidak meninggal. Pangeran belum akan menikah denganmu sekarang. Karena aturan kerajaan, butuh waktu 6 bulan masa pertunangan sebelum seorang pangeran bisa menikah."
Fiana mengambil ponselnya. Ia menelepon Arjuna. Namun lelaki itu tak mengangkatnya. Ia hanya bisa menangis sambil menggenggam cincin pernikahan itu di tangannya.
*********
Arjuna merasakan hatinya sakit melihat Jelo yang terbaring lemah dengan wajah yang pucat seperti tak ada aliran darah. Dokter sudah berhasil mengeluarkan 2 peluru yang bersarang di tubuhnya namun belum menjamin apakah lelaki itu akan selamat atau tidak.
"Hei dude! Jangan tutup matamu, ayo buka. Aku ada di sini. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu." kata Arjuna sambil memegang tangan sepupunya itu.
Mereka di besarkan bersama. Arjuna waktu kecil sangat pemalu sehingga Jelo yang selalu tampil membelanya jika ada anak-anak nakal di sekolah. "Please....jangan tinggalkan aku sendiri." tangis Arjuna. Ia tak mau kehilangan saudara sekaligus sahabatnya itu.
Tak lama kemudian ia keluar dari ruangan ICU itu. Mamanya, Maura Pekins langsung mendekatinya.
"Juna, katakan pada mama, apa benar kamu ada hubungan dengan putri keluarga Adams?"
Arjuna tak bicara. Maura jadi tambah kesal. "Apakah benar? Arjuna, ada begitu banyak gadis cantik kenapa harus dia? Kamu mau membuat mamamu ini mati karena serangan jantung?" Maura yang memegang dadanya.
"Bibi .., berikan obat mama." teriak Arjuna pada pelayan setia mamanya itu.
Tiba-tiba terdengar kekacauan di ruang ICU.
"Ada apa?" tanya Arjuna.
"Alat pendeteksi jantung dari Jelo menunjukan angka nol." jawab Zack lalu terduduk lesu dengan tangis yang perlahan terdengar.
Apa yang akan terjadi ?