NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghindari Misi.

Senin malam, pukul 19:30.

Shadiq duduk di sofa plastik reyot di ruang tamu kontrakan. Lampu bohlam kuning redup menyala di atas kepala, membuat bayangan panjang di tembok retak. Rumah terasa lebih kosong dari biasanya—tidak ada suara Irva berlari, tidak ada Arva di dapur. Hanya kipas angin berputar lambat dan suara jangkrik dari luar.

Ponsel jadulnya bergetar di meja. Nama “Farhank” berkedip di layar. Shadiq tatap nama itu lama, jantung berdegup kencang. Undangan ke vila Agung malam ini—interogasi Harman & Taplo. Ia tahu kalau datang, kebohongannya tentang peti pertama bisa terbongkar. Ia tahu kalau dia hadir, Farhank akan tanya lagi soal kontainer hilang. Dan kalau Harman & Taplo terbukti tidak bersalah, tuduhan balik ke dia.

Shadiq angkat telpon setelah nada kelima. Suara Farhank langsung kasar.

“Lo di mana? Rapat mulai 30 menit lagi. Lo wajib datang. Harman & Taplo sudah di vila. Agung nunggu.”

Shadiq suara dibuat lemah, pura-pura batuk. “Boss… gue sakit berat. Demam tinggi sejak sore. Kepala pusing, badan dingin. Dokter bilang istirahat total. Gue nggak bisa datang malam ini.”

Farhank diam sebentar. Lalu teriakan meledak.

“Lo bohong lagi?! Ini kesempatan kita interogasi Harman & Taplo! Lo tahu kontainer hilang! Lo harus ada di sana!”

Shadiq batuk pura-pura lagi, suara serak. “Boss, gue nggak bohong. Gue demam 39 derajat. Gue kirim orang ganti kalau perlu. Gue nggak mau nularin ke tim.”

Farhank menggeram. “Lo telat kemarin. Sekarang sakit? Lo pikir gue bodoh? Kalau lo nggak datang, lo mati duluan besok pagi!”

Shadiq suara memohon. “Boss… gue beneran sakit. Gue kirim foto resep dokter kalau lo mau bukti.”

Farhank diam lagi. Lalu suara dingin. “Lo kirim foto sekarang. Kalau bohong, lo mati.”

Shadiq buru-buru ambil foto resep obat demam lama dari galeri ponsel (foto lama saat Irva sakit). Kirim ke Farhank.

Farhank lihat foto. Diam sebentar. “Baik. Lo istirahat. Tapi besok pagi lo ke pelabuhan. Gue nggak mau alasan lagi.”

Call mati.

Shadiq taruh ponsel. Napas lega, tapi dada tetap sesak.

*Gue hindar interogasi karena takut kebohongan gue terbongkar. Tapi sekarang gue aman sementara. Farhank marah, tapi belum curiga gue pengkhianat.*

Di vila Agung (bersamaan waktu):

Harman dan Taplo tiba dengan mobil diplomatik hitam. Pengawal dua orang. Mereka masuk vila, pikir ini pertemuan bisnis gelap. Agung sambut ramah. Farhank dan Baron sudah di dalam.

Interogasi dimulai di ruang bawah tanah.

Agung: “Kontainer biru ‘Bandung’ hilang. Isi diganti Nvidia. Lo tahu apa?”

Harman geleng. “Kami nggak tahu. Kami cuma diplomat. Kami nggak pegang pengiriman.”

Taplo tambah: “Kami terbang ke Amerika malam itu. Kami nggak ada di Singapore.”

Farhank tatap mereka lama. Bukti CCTV dan log kapal mendukung. Mereka tidak bersalah.

Agung marah besar. Meja ditabrak. “Kalau bukan kalian, siapa?!”

Farhank diam. Matanya menyipit. “Ada pengkhianat di dalam.”

Interogasi bubar. Harman & Taplo dilepas (karena diplomat, tidak bisa ditahan lama). Agung dan Farhank frustrasi. Shadiq lolos tuduhan—tapi Farhank semakin curiga.

Di rumah kontrakan, Shadiq duduk di sofa. Ponsel Kelinci Perak bergetar. Pesan dari “KP1”:

“Bagus lo nggak datang. Besok malam rapat di hotel Tanah Abang. Kita rencanakan ambil pengiriman ke-3 (keberangkatan dari New York).”

Shadiq tatap pesan itu.

*Gue aman dari Farhank malam ini. Tapi besok gue masuk lebih dalam ke Kelinci Perak.*

Ia tatap peti di bawah kasur.

*Gue harus pilih. Tapi kalau salah pilih… gue mati.*

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!