NovelToon NovelToon
Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ungkapan Perasaan

Anjani sedang melipat pakaian saat terdengar ketukan di luar pintu.

Wajahnya melongok, lalu melirik jamー pukul 20.15.

Pertanyaannya, "Siapa yang datang di jam segini?"

Jika pemilik rumah berbagi makanan, biasanya selalu pagi hari sebelum dia pergi bekerja. Apakah Ahn Woojun?

Lipatan di tangan ditaruh dulu, kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu yang tua dan lusuh itu.

Saat bunyi deritnya terdengar dan pintu terbuka, wajah seseorang langsung terekam di penglihatan.

“Jeong! Kau sudah puー”

SRUUUK!

Seperti waktu itu, Jeong menumpukan kepala ke pundaknya tanpa permisi.

Setelah terkejut, sekarang Anjani bimbang, antara menyentuh punggungnya atau tidak.

“Ada apa denganmu?” Pada akhir memutuskan bertanya dulu, tanpa menyentuh.

Jeong bukan pingsan, tidak berniat jatuh seperti itu. "Aku lelah." Suaranya parau, tidak ada tenaga. “Bolehkah aku menumpang istirahat sebentar saja?”

Beberapa saat kemudian ....

Secangkir teh hangat ditenteng Anjani menuju kamar.

Jeong merebah di sanaーdi atas kasur berukuran medium. Matanya terkatup rapat sekali.

"Dia benar-benar tidur."

Jadi bingung, kenapa pria itu datang dalam keadaan seperti itu setelah lima hari tidak muncul, sekaligus juga penasaran, pekerjaan apa yang sebenarnya dilakoni Jeong hingga mengharuskan ke luar kota dan pulang dalam keadaan habis tenaga?

Dari berdiri, tubuh dia rendahkan untuk mengambil posisi duduk, cangkir di tangan diletakkan di meja kecil yang terjangkau jarak.

Dari ujung rambut sampai kaki lelaki itu, disapu dua matanya sepenuh pengamatan.

“Dia lelah dan kusut, tapi aroma parfum-nya tidak memudar, aroma yang sangat enak.”

Dia berpikir, Jeong mungkin melakukan hal yang berat hingga kelelahan sampai separah itu, tapi penampilannya sama sekali tidak tergores, kemeja dan jas yang sepertinya bukan barang murahan. Jadi pekerjaan sejenis apa yang dijalani? Hati Anjani terus bertanya-tanya.

Namun setelah sekian waktu, dia tak menemukan apa pun dalam telisik, akhirnya memutuskan keluar untuk melanjutkan pekerjannya melipat pakaian. Tapi sebelum itu, lebih dulu menarik selimut dan membalutkannya ke tubuh Jeong. Sedikit pria itu terusik, namun tenang kembali dengan dengkuran halus.

Detak jarum jam bergerak jauh, membawa waktu hingga ke pukul 22.00 malam.

Artinya sudah dua jam berlalu sejak saat kedatangan Jeong. Anjani sudah menyiapkan dan melakukan segala hal di dua jam itu, termasuk memasak sedikit bahan makanan untuk disuguhkan pada tamu aneh yang masih lelap.

Beruntung hari ini jadwalnya libur kerja di toserba, jadi Anjani tak keberatan diganggu seperti ini.

Secangkir kopi diseduh untuk dirinya sendiri, lalu diletakkan di atas meja di ruang tengah.

Dia akan ke beranda untuk menikmati angin malam di musim panas. Sebelum itu, lebih dulu melongok ke dalam kamar, Jeong masih terlelap dengan posisi berubah miring meringkuk. Seulas senyum tersabit di bibirnya, tipis dan samar.

Jadi merasa lucu. Bisa-bisanya orang terlelap di rumah orang lain tanpa terganggu.

Tapi ya sudahlah.

Kopi yang sudah diseduh diraih lalu melangkah keluar, sesuai niat.

Ada sebuah bangku kayu panjang di sudut beranda, Anjani duduk di sana menghadap gemerlap malam. Tempatnya yang berada di loteng membuat semua lampu di pemukiman seperti tertelan mata.

Bergeser dari sana, kepalanya mendongak, langit terasa dekat sampai rasanya bisa dijangkau, wanita 28 tahun itu tersenyum. Kopi disesapnya sesekali, rasa manis dan hangat segera mengaliri tenggorokannya.

"Entah kenapa aku merasa tenang sekarang. Berpisah dengan Ahn Woojun, terasa bukan bencana seperti yang selalu aku takutkan selama ini. Aku salah, hidupku berjalan lebih mudah dari yang aku kira.”

Angin berembus dari arah selatan.

"Apa itu karena aku?"

Jreng!

Itu menyentak sampai Anjani terperanjat dari posisi.

 "Kenapa kau selalu muncul dengan cara yang mengejutkan?!" semburnya.

Jeong tersenyum tanpa dosa, dengan santai berjalan lalu duduk di samping Anjani. "Suaraku sangat halus, kenapa kau seterkejut itu?" tanyanya sambil menatap wajah yang masih terentak karena ulahnya.

Selipan percaya diri dalam pertanyaan, Anjani mendengus menyikapinya. "Justru karena terlalu halus, aku sampai merasa geli."

"Kau berteriak, bukan kegelian."

“Lupakan.” Tak mau meladeni lebih, Anjani memilih bertanya, "Kenapa kau keluar? Terakhir kulihat kau tidur seperti orang mati.”

Jeong terkekeh. “Aku merasakan kesepian tiba-tiba, dingin dan terasa ada yang hilang. Saat aku terbangun, ternyata kau tidak ada di dalam. Aku cemas, namun saat mendorong pintu untuk mencarimu, aku malah menyesal karena bergerak dengan cara rusuh. Seharusnya aku diam lebih lama agar kau bisa menikmati moment-mu sendiri di sini.”

Anjani menoleh dan menatapnya, tercenung sesaat, lalu berdecak, "Ck, seharusnya sekalian kau melompat-lompat sambil membawa sapu, lalu bernyanyi dan berteriak, dengan begitu aku bisa mengusirmu dengan cara kasar."

"Pffftt ... memangnya kau akan sanggup? Aku ini kuat tahu!”

“Aku lebih galak dari yang kau bayangkan."

“Kurasa tidak! Kau lembut seperti roti temanmu.”

“Yang benar saja!"

Candaan berlangsung, Jeong menggiring keadaan menjadi sangat cair. Itu keajaiban untuk seorang Anjani. Selama ini sulit perasaannya untuk sebebas sekarang.

Sampai pada satu bagian yang membuat Jeong tergelak keras, yang suaranya mengacau hening. Membuat Anjani terpaksa bangkit untuk membekap mulut pria itu dengan dua telapak tangan.

“Pelankan suaramu, kau bisa membangunkan bayi-bayi dan lansia yang sudah tidur!"

“Pfft!” Tawa Jeong mereda sekaligus, tapi bukan karena peringatan atau bekapan tangan Anjani, melainkan ... posisi yang sedekat ini.

Suasana jadi berbalik beku. Dua pasang mata bertemu di ruang hampa. Jeong yang mendongak, sementara Anjani merunduk karena berdiri.

Ada badai yang saling tarik menarik di antaranya.

Hingga ...

"Ah, maaf.” Anjani yang lebih dulu tersadar, segera menarik cepat tangannya dari bibir Jeong dan langsung tegak berdiri, perasaan malu tersebar di muka.

Namun ....

GREB!

Jeong menarik tubuhnya kembali, mengejutkannya sampai refleks melingkarkan lengan di leher lelaki itu. Mata melebar disusul degupan tak beraturan di dalam dada. Posisi kali ini lebih sensitif dibanding tadi. Dia terempas di pelukan, berakhir duduk di atas pangkuan Ryu Jeong dengan posisi miring dan wajah sejajar lurus.

Sialnya, kali ini mendadak tidak bisa memaki.

Napas saling membentur, mencipatakan aroma hangat yang kemudian terlahir menjadi perasaan anehーkeduanya.

Tatapan Jeong memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Ada keinginan yang menggelora namun sulit dideskripsikan. Sesaat Anjani hilang akalnya.

Sampai kebekuan di antaranya pecah dengan;

“Anjani ... aku menyukaimu.” Jeong mengungkapkan perasaannya.

 Anjani terkesiap. “A-apa kau bilang?”

Greb!

Melebar lagi bola matanya, Jeong merapatkan jarak.

Hidung dan hidung hanya tersisa setengah senti, dua pasang mata saling membentur sorot. Bedanya, Anjani bergulir acak, sedang Jeong lurus menatap serius.

“Kubilang ... aku menyukaimu.”

Dunia di sekeliling Anjani mendadak berhenti bergerak, hanya ada suara Jeong yang menggema dalam kepala. Dalam sesaat, dia merasa seluruh keberaniannya lenyap ditelan waktu.

“Aku tidak bercanda! Aku bersungguh-sungguh menyukaimu,” tegas Jeong menambahkan. “Anjani ... jadilah wanitaku.”

1
Batsa Pamungkas Surya
woojoon.. kau yg buat luka seolah olah kau yg jadi korban... hadeeech😄
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hadeuh banget emang, Kak
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
👍 mantap
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan⏩ laah🙏
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap, Kak.
makasih masi membaca. Up-nya agak slow. aku sedang menggarap satu buku pria--action--lagi. do'akan lancar ya.
total 1 replies
Machan
kesian amat ya. padahal banyak yg nganggur di pasar
Machan
aku lebih romantis dari mereka lho, nyonya ju. klo mo tau, sini mampir😜
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
sebut saja, Malaikat tanpa saraf 😝
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Sepertinya kenalan lama 🤔
Batsa Pamungkas Surya
jangan tunggu lama lama
Batsa Pamungkas Surya
semngat up nya💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe, insyaAllah, Kak.
total 1 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Hmmh... blekok 😌
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Iklannya sekarang makin meresahkan, asal scroll bab berikutnya, pasti disambut dua iklan yang syulit diskip 🥴
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Babu!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Bajjjjjiiiingaaaaaan....!!!
DZIIIING... 🤜🥴💨
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Idungnya pesek gak, Pak? 😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Hahaha 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Tipsnya buat Tuan Berkaki Panjang!
Selamat jingkat buat Author!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Jingke... jingke...
total 2 replies
Drezzlle
nah gitu pintar dikit 😒
Drezzlle
udah beban masih juga bisa ngasih janji palsu ke wanita lain😒
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Ketidakbergunaan rata2 jarang disadari sama pelakunya🤣
total 1 replies
Drezzlle
dan kau masih percaya mereka akan bercerai. bulol/Curse/
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan lah
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap.
Btw, terima kasih selalu hadir, Kakak😍
total 1 replies
Drezzlle
trik apa ini? apakah menyembunyikan bangkai lagi/Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!