NovelToon NovelToon
Hallo, Mas Sersan

Hallo, Mas Sersan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Naylest

Nayra, siswi SMA yang cerewet, polos, dan sedikit konyol, tak pernah menyangka kalau hidupnya akan jadi seribet ini. Semua gara-gara ia jatuh hati pada kakak dari sahabatnya sendiri, Sersan Arga. Seorang Tentara muda yang dingin, cuek, dan hampir tak pernah tersenyum. Hari-hari selalu membayangkan betapa tampannya seorang Arga Arfian.

Nayra selalu mencari cara agar bisa bertemu dan menyapa sang Sersan. Banyak rintangan yang ia lalu, namun itu tak menyurutkan semangat nya untuk memiliki Sersan Arga.
___

"Hallo, Mas Sersan"

Akan menjadi teman bacamu lebih menyenangkan... Yuk Baca selengkapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naylest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Sersan Pujaan Hati.

Satu Minggu kemudian.....

Nayra dan Dinda berjalan memasuki kelas. Keduanya tampak asyik mengobrol hingga tak mendengar teriakan Sari di belakang.

Plakk.

Sari menampar pundak keduanya, barulah mereka menoleh kebelakang.

"Apaan sih, Sar? Sakit tau!" Kata Dinda mendumel kesal.

"Lagian kalian berdua budeg amat, di panggil-panggil gak noleh." Jawab Sari, lalu merangkul kedua temannya.

"Kita nggak dengar." jawab Dinda.

"Lagi ngobrolin apa sih? Seru banget, sampai nggak denger panggilanku."

"Kepo amat." Cibir Nayra.

Sari menoleh ke arah Nayra, seketika wajahnya menjadi sendu. "Nay, boleh kita bicara sebentar?"

Nayra menautkan kedua alisnya. "Berdua?"

"Hm,"

"Wah parah. Aku gak di ajak," kata Dinda melengos.

"Ck. Ini penting dan gak ada sangkut pautnya sama kamu." Jawab Sari.

"Kalo gak ada sangkut pautnya sama aku, kenapa harus bicara berdua?" Ujar Dinda yang sebenarnya ingin ikutan.

"Din, ini urusan antara aku sama Nayra. Jadi, kamu gak boleh ikut, Oke!"

"Serah."

Dinda pun masuk ke kelas, dengan wajah merajuk.

"Sar, Dinda?"

"Tenang aja, Nay. Dia gak marah beneran kok." Jawab Sari.

"Kamu mau ngomongin apa, Sar?" Tanya Nayra.

"Ikut aku ke atas."

Sari menarik tangan Nayra ke rooftop, Sari tidak ingin pembicaraan nya ada yang mendengar.

"Ada apa, Sar?" Tanya Nayra, saat mereka tiba di rooftop.

"Sebelumnya aku minta maaf, Nay. Dan aku juga harap kamu gak marah dan sedih setelah aku katakan ini." Kata Sari, ada rasa takut di hatinya untuk memberitahu Nayra.

"Katakan saja, Sar." Jawabnya.

"Begini, Nay. Kemarin papaku ke Bandung dan gak sengaja bertemu sama ayah kamu. Tapi..." Sari menggigit bibir bawahnya, apakah dia harus melanjutkan ucapannya.

"Terus?"

"Tapi..."

"Papa kamu melihat ayah sama perempuan lain?"

Deg.

"Kk-kamu tahu, Nay?" Tanya Sari syok.

Nayra mengangguk. "Aku udah tahu,"

"Terus gimana?"

"Hari ini ayah pulang. Aku nggak tahu harus ngapain saat bertemu Ayah nanti?"

"Kamu nggak ada niatan jahat kan Nay, sama ayahmu?"

"Itu yang bikin aku bingung. Apa aku bawa golok atau pentungan buat menghajar ayah." Jawab Nayra membuat Sari menelan ludah.

"Jangan gitu ih, kamu nakutin aku aja." Kata Sari sambil meringis takut.

Nayra menatap Sari dengan tajam. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Mama, sekalipun itu Ayah. Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab. Jika kepergian ayah bisa membuat mama senang, kenapa tidak!"

Lagi lagi Sari menelan ludahnya, ucapan Nayra benar-benar membuatnya takut.

"Kan bisa dibicarakan secara baik-baik, Nay. Nggak harus melakukan kejahatan juga kali." Kata Sari mencoba meredam hati panas Nayra.

"Apa yang Ayah lakukan itu jauh lebih kejam dari apa yang aku lakukan. Aku hanya menyakiti nya, tapi dia menyakiti keluarganya. Aku nggak rela Sar, Ayah mengkhianati mama. Mama orang baik, Sar. Aku nggak bisa lihat mama menangis terus-terusan setiap hari, hanya gara-gara laki-laki brengsek itu. Setiap hari aku suruh Ayah untuk pulang, agar aku bisa menyelesaikan masalah antara ayah dan mama. Tapi, ayah selalu menolak untuk pulang dengan alasan sibuk kerja dan tidak bisa ditinggalkan. Dari situ aku sudah tahu, kalau Ayah lebih mementingkan selingkuhannya daripada keluarganya. Aku sudah tidak tahan lagi, Sar. Aku ingin ayah dan mama menyelesaikan semuanya dan aku juga ingin memberi pelajaran sama ayah, agar tidak semena-mena terhadap kami. Aku benci lihat mama menangis setiap hari." Ucap Nayra dengan penuh amarah, terlihat dari raut wajahnya yang begitu murka dan merah padam.

Sari mencoba menenangkan. "Kamu jangan gegabah dan jangan melakukan sesuatu yang bisa merugikan kamu. Ingat, dia juga ayahmu, orang tuamu, orang yang pernah memberikan cinta dan kasih sayang untuk kamu. Aku tidak ingin kamu melakukan sesuatu yang sangat merugikan kamu. Jika bisa dibicarakan secara baik-baik, lebih baik cari jalan yang baik pula. Jangan kotori tangan dan juga mulutmu dan jangan pula kamu membiarkan setan mempengaruhi kamu, karena itu hanya akan membuat semuanya menjadi runyam dan berantakan. Aku tahu bagaimana sakitnya kamu, aku tahu juga perasaan mamamu. Tapi, abaikan masalah secara dingin, akan membuat semua masalah terselesaikan. Jadi, aku mohon sama kamu, jangan membuat kesalahan fatal dalam mengambil keputusan." Kata Sari sambil mengusap pundak Nayra dengan lembut, berharap Nayra mengerti dengan ucapannya.

"Makasih atas nasihat kamu, Sar. Tapi maaf, hatiku terlalu sakit untuk memaafkan laki-laki yang sudah menyakiti Mama, sekalipun itu ayah. Kamu nggak tahu bagaimana sakitnya melihat seorang Ibu menangis setiap hari, kamu tidak tahu bagaimana hancurnya hati seorang anak, disaat ibunya disakiti dan kamu juga nggak tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang paling dipercaya. Sakit Sar, Sakit!"

Sari menghela nafas panjang, ia tidak tahu harus bagaimana menasehati Nayra. Bukan dia memihak ayah Nayra, ia hanya tidak ingin Nayra melakukan sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri. Itu adalah bentuk kepedulian nya kepada sang teman, agar tidak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.

"Aku tahu, Nay. Tapi aku tidak ingin kamu melakukan sesuatu yang buruk. Jadi, aku mohon sama kamu, tenangkan hati kamu dan jangan gegabah. Bicarakan dulu baik-baik dan dengar apa yang di mau boleh ayah kamu, jika dia menginginkan keluarganya, pinta agar dia meninggalkan pekerjaannya di luar Kota dan juga meninggalkan selingkuhannya. Tapi jika dia menolak, maka biarkan dia pergi dengan apa yang dia mau. Sekuat apapun kamu ingin mempertahankan rumah tangga kedua orang tuamu, kalau salah satu dari mereka sudah tidak saling menginginkan, maka semua itu hanya percuma dan sia-sia. Mama kamu, mama yang kuat, begitupun juga sama kamu. Jika Ayahmu menolak untuk mempertahankan keluarganya, kalian masih bisa bertahan tanpa nya. Aku yakin, tanpa ayahmu, kamu bisa membahagiakan dan mengangkat derajat mama dan juga adikmu."

Nayra terdiam, namun tatapannya terlihat kosong ke depan. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.

"Nay, aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat."

"Keles yuk,"

Tanpa menoleh, Nayra berjalan meninggalkan Sari yang masih menatapnya dengan sedih.

"Aku harap kamu bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus merugikan kamu, Nay." Ucapnya, lalu menyusul Nayra ke kelas.

Saat Nayra berjalan di koridor, tak sengaja iya melihat beberapa TNI berdiri di halaman sekolah. Seketika matanya melotot saat melihat Sersan Arga yang juga berada di halaman. Tanpa merasa malu, ia berlari ke halaman untuk menyapa sang Sersan.

"Hallo Mas Sersan, pujaan hati."

"Cieeeeeeeee."

"Kiw-kiw."

Teman-teman Arga bersorak, menggoda sang ketua.

"Push up 50 kali."

"Yahhhhhh."

Nayra tertawa melihat wajah frustasi teman-teman Arga yang mendapat hukuman dari Sersan Arga.

"Pergi sana," usir nya kepada Nayra. "Atau mau di hukum juga?"

"Ck. Iya-iya."

Nayra pun nurut, karena bell masuk sudah berbunyi.

***********

1
Mashiro Shiina
Thor, aku rindu banget sama ceritamu, please update secepatnya!
Naylest: Akan saya usahakan ya kak☺️
total 1 replies
Gwatan
Wah, gila sukses bikin aku ketagihan bacanya! (👍)
Naylest: Terima kasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!