Alfarizqi, putra Kyai pemilik Pesantren Bustanul Huffazh, kembali ke Indonesia setelah menamatkan studi di Madinah. Ia membawa serta janji suci yang terlanjur ia berikan pada wanita asal Maroko yaitu Sarah, seorang perempuan yatim piatu korban pemerkosaan yang kini tengah mengandung. Meskipun tidak ada cinta di hatinya, Alfa merasa bertanggung jawab penuh untuk menikahi dan melindungi Sarah, sebagai wujud pengorbanan dan rasa kemanusiaannya. Namun, janji itu terbentur takdir ketika ayahnya menjodohkannya dengan Rayya, demi keberlangsungan pesantren. Rayya, seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, memiliki mimpi dan masa depan yang telah ia rencanakan bersama Adam, teman sekaligus cinta pertamanya semasa SMA. Mereka berjanji akan menikah setelah Rayya kembali ke Tanah Air. Hidup Rayya yang bebas dan penuh ambisi seketika hancur saat ayahnya memaksanya pulang untuk sebuah perjodohan. Ada lagi Rumanah, santri pintar berprestasi yang sejak dulu sudah diam-diam menaruh hati pada Alfarizqy. Di bawah langit yang sama, dua insan yang tidak saling mengenal, dengan janji dan cinta yang berbeda, kini terpaksa berada di persimpangan takdir. Alfa terhimpit antara janji yang harus ia tepati dan kewajiban keluarga yang tak bisa ia tolak. Sementara Rayya, harus memilih antara cintanya pada Adam atau menuruti permintaan orang tua. "Ada Cinta di Langit Madinah" adalah kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan pencarian makna cinta sejati. Akankah Alfa dan Rayya menemukan cinta di antara ikatan yang tak mereka inginkan, atau akankah mereka tetap berpegang teguh pada janji yang telah terucap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Tersesat Semakin Jauh
Setelah adegan Sarah memeluknya, Alfarizqi tidak langsung kembali ke kamar. Tubuhnya masih kaku, pikirannya berkecamuk. Alih-alih menuju tempat tidur, ia justru melangkah menuju kamar mandi di kantor, menyalakan keran air dingin, dan berdiri lama di bawah gemericik yang memukul kulitnya.
Air itu bukan hanya membersihkan tubuhnya—tapi juga seolah mencoba mengikis rasa bersalah yang tak sepenuhnya ia pahami. Usai mandi, ia mengambil wudhu dan shalat taubat dua rakaat. Sujudnya dalam, seperti ingin meletakkan seluruh beban yang menyesakkan dadanya ke lantai dingin.
Alfarizqi tidak bisa benar-benar menyalahkan Sarah. Wanita itu… terlalu ketakutan, terlalu terluka, terlalu terbentuk oleh trauma yang berkepanjangan. Memeluknya tadi—apakah itu ketersengajaan? Atau sekadar refleks ketakutan seseorang yang hidupnya tak pernah merasa aman?
Pikiran itu berputar-putar.
Bayangan Sarah berdarah-darah saat ia menyelamatkannya dulu kembali muncul. Napasnya tertahan. Guncangan yang ia alami saat itu begitu kuat hingga sampai sekarang, meskipun ia jarang mengakuinya, rasa itu masih membekas.
Bahkan kini, para mafia itu masih mencari Sarah. Begitulah laporan yang dikirimkan asistennya dari negara jauh di sana. Sementara itu, baru-baru ini Sarah kembali tersungkur oleh musibah: kehilangan anaknya.
Namun paradoksnya… dalam pesan-pesan yang Sarah kirimkan, ia selalu menulis bahwa ia merelakan. Alfarizqi tak mengerti bagaimana seorang ibu bisa merelakan sesuatu yang begitu besar, namun ia melihat ketulusannya.
“Jika anak itu hidup,” tulis Sarah di salah satu pesannya,
“aku takut ia akan mengalami kesedihan yang sama denganku. Ia tidak tahu siapa ayahnya. Dan aku tidak ingin ia tumbuh dalam ketakutan.”
Kadang, pesan seperti itu membuat Alfarizqi terdiam, tersenyum kecil, dan bersyukur bahwa setidaknya Tuhan masih memberi Sarah ketegaran.
Driiit—
Pintu kantor terbuka.
Ummi Maryam melangkah masuk, wajah tenang dengan sorot mata seorang ibu yang sudah kenyang memahami luka manusia.
“Nak…”
Suara lembutnya terdengar seperti selimut. Ia mengusap pundak Alfarizqi dari belakang, sebuah sentuhan sederhana yang justru membuat hati Alfarizqi semakin rapuh.
“Mengapa di sini, Nduk? Mengapa tidak menemui istrimu? Shalat bersamanya?” tegur Ummi Maryam pelan.
Alfarizqi menunduk. “Alfa lagi merenung, Ummi…”
Ummi Maryam menarik napas panjang. “Kuatlah, Nak. Anak laki-laki itu seperti karang. Harus kokoh meski ombak menerjang.”
Alfarizqi mengangguk lirih. “Mohon doanya, Ummi…” Ummi Maryam menatapnya lama, lalu tersenyum kecil.
“Masuklah ke kamarmu. Istrimu menunggu. Jangan biarkan ia merasa sendiri dalam badai ini.”
Alfarizqi memejamkan mata sejenak. “Semua terjadi terlalu cepat, Ummi. Alfa tidak tahu harus bersikap bagaimana…” Kala itu, nada suaranya seperti anak kecil yang tersesat.
Namun Ummi Maryam tidak membiarkannya berlama-lama dalam keraguan.
Ia mendekat, memegangi kedua bahu Alfarizqi, menatapnya tajam namun penuh kasih.
“Bagaimanapun, Rayya itu istri sahmu, Nak.”
Suara Ummi Maryam menurun tetapi tegas—tajam seperti doa yang sudah lama dipendam.
“Lakukanlah kewajibanmu sebagai seorang suami. Kewajiban lahir… dan batinnya.”
Alfarizqi tersentak. Kata-kata itu seperti petir yang menyambar keraguannya.
...****************...
Suara mikrofon yang menggema ke seluruh penjuru pesantren. Pengumuman Alfarizqi—yang dilontarkan di tengah lapangan terbuka, di hadapan para punggawa pesantren, para kiai, dan ratusan santri—menyelinap sampai ke telinga Rayya. Jantungnya menciut. Kecewa. Tersisih. Tidak dilibatkan sedikit pun dalam keputusan besar yang menyangkut hidupnya.
Ia tak mengerti lagi apa yang sedang direncanakan suaminya. Apa ini bentuk perlindungan? Atau justru… pengkhianatan baru yang dikemas rapi?
Rayya menghela napas berat. Kepalanya terasa penuh. Namun belum sempat ia menenangkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar.
Tok. Tok. Tok.
“Ning Kamila?” Rayya mengerutkan kening. Sudut bibirnya turun. Yang paling tidak ia butuhkan saat ini adalah berurusan dengan iparnya itu—apalagi dengan sejarah kelam mereka saat di Ma’had milik abahnya dulu, ketika Ning Kamila selalu saja mencari masalah.
Pintu terbuka tanpa diminta.
“Apa yang kau lakukan? Ning Rayya… kau menangis?” Tanya Ning Kamila sambil melenggang masuk tanpa sopan sedikit pun.
“A-Aku…” Rayya buru-buru menyeka air matanya, berusaha terlihat tegar.
“Aku sengaja menemuimu. Ingin memberikan ini.”
Dengan sengaja ia mengunci pintu kamar, lalu menyodorkan sebuah kantong kecil.
Rayya memandangnya dengan malas. “Apa ini…?”
“Buka saja! Kau akan tahu betapa baiknya aku sekarang,” ucapnya dengan nada yang membuat Rayya ingin menutup telinga. “Walau… yah, seantero pesantren dulu tahu kita pernah punya sejarah kelam.”
“Ning Kamila, kita sudah sepakat tidak ada dendam di antara kita. Dan tolong… biarkan aku beristirahat.” Suara Rayya lirih, namun jujur. Ia benar-benar lelah.
“Tidak bisa. Percayalah, kalau kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, kau tak akan bisa tidur nyenyak malam ini. Makanya… buka hadiahku!”
Rayya menahan napas, menatapnya malas. Namun ia tetap membuka kantong itu.
Matanya langsung membulat.
“Li-lingerie…” bisiknya, tercekat.
“Kalian belum malam pertama, kan?” tanya Ning Kamila tanpa malu.
“Huk—!” Rayya terbatuk kaget, wajahnya memerah.
“Sudahlah, akui saja,” tekan Ning Kamila sambil memutar bola matanya.
“Aku rasa tidak baik membicarakan sesuatu yang… tidak sepantasnya dibicarakan,” jawab Rayya pelan namun tegas.
“Pantas saja Gus Alfa lebih memilih bermesraan dengan Sarah.” Nada itu—tajam. Menyayat.
“Toh, dia tidak akan pernah suka pada gadis membosankan sepertimu.” Rayya membeku.
Hatinya beristighfar keras, mencoba meredam badai yang tiba-tiba muncul.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini, Ning.”
“Kau akan mengerti setelah melihat ini.”
Dengan gerakan cepat, Ning Kamila mengangkat ponselnya, lalu menyorongkannya tepat ke wajah Rayya.
Foto Alfarizqi dan Sarah.
Berpelukan.
Di lorong remang-remang.
Dunia Rayya seperti meredup sesaat.
“I… ini…” napasnya pecah.
“Aku sudah bilang kau akan terkejut,” ujar Ning Kamila puas. “Makanya, belajar lah melayani suamimu dengan liar, seperti wanita malam, sebelum kau ditendang dari posisimu. Lihat? Mulai sekarang kau tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak.” Senyum miringnya menusuk lebih tajam daripada pisau.
“Tapi…. Ah…. Bukannya kau memang wanita liar itu? Kau bahkan memiliki kekasih sebelum menikah dengan Gus Alfa! Jangan-jangan kau memang wanita malam yang tidak tau malu!”
…Dan di detik berikutnya—
PLAAAKK.
Rayya menampar pipi Ning Kamila begitu keras hingga warna merah menyala muncul seketika.
“K-Kau… kau berani menamparku?!” Ning Kamila terbelalak, memegang pipinya tak percaya. Ia segera mencoba membalas, tangan terangkat tinggi.
Namun Rayya lebih cepat.
Ia menangkap pergelangan tangan Ning Kamila dan memelintirnya dengan cekatan.
“Aw—awww! Rayya, lepaskan!” Ning Kamila menjerit kecil.
Rayya mendekat, matanya dingin.
“Apa kau lupa? Aku sudah sabuk hitam. Bukan hanya kau—Gus-mu pun bisa aku smackdown kalau perlu.”
“Awww! Sakit, Rayya!”
Tok. Tok. Tok.
“Ning…?”
Tok. Tok.
“Ning…?” Suara Alfarizqi dari luar pintu.
Rayya langsung melepaskan lengannya dan mendorong Ning Kamila menjauh. Dengan cepat ia merapikan pakaian dan wajahnya, berusaha menghapus semua jejak kekacauan barusan.
Pintu dibuka.
“Ada apa ini?”
Alfarizqi tertegun melihat kondisi Ning Kamila yang acak-acakan, rambut berantakan, pipi merah menyala.
“Gus… tolong beri wanita jahat ini pelajaran!” Ning Kamila langsung menangis tersedu, memegang pipinya.
“Huhuhu… dia… dia menamparku! Dia menghajarku!” Alfarizqi menatap Rayya, bingung, matanya menelusuri wajah istrinya yang datar tanpa penjelasan.
Rayya hanya merapikan kerudungnya pelan.
Tanpa sedikit pun peduli pada drama di depannya.
Alfarizqi mengembuskan napas berat, suaranya rendah namun tegang.
“Cukup.” Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Tatapannya bergantian antara Ning Kamila yang masih memegangi pipi dan Rayya yang berdiri tenang, dingin, tanpa satu pun kata pembelaan.
“Kalian berdua sudah dewasa,” ucapnya, nadanya menekan.
“Tidak pantas menciptakan keributan seperti ini. Apalagi di tengah kondisi pesantren yang sedang sensitif.”
Ia menatap Kamila lebih dulu.
“Ning Kamila, kau harus bisa menahan diri. Tidak semua hal boleh dibawa dengan emosi.”
“A-aku tidak emosional, Gus! Dia yang—”
“Aku belum selesai bicara,” potong Alfarizqi tegas. Ning Kamila terdiam, bibirnya gemetaran menahan rasa tak terima. Kemudian, perlahan, tatapan Alfarizqi beralih pada Rayya.
Rayya menyahut dengan tenang, “Saya tidak ingin masalah, Gus. Hanya ingin beristirahat.”
Tanpa sadar, Alfarizqi terpaku sejenak.
“Ning Rayya,” panggilnya pelan. Rayya hanya menunduk sedikit tanpa menatap.
Sikap itu—singkat, sopan, namun menjaga jarak.
Jarak yang terasa semakin lebar sejak pagi tadi.
Jarak yang tiba-tiba membuat hati Alfarizqi terasa… tidak nyaman.
“Aku minta kalian berdua tidak membuat keributan lagi,” ulang Alfarizqi. “Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik. Jangan bertindak kekanak-kanakan.” Ning Kamila hanya meringis, pura-pura terisak.
“Gus… tapi dia—”
“Sudah,” tegas Alfarizqi.
“Keluarlah, Kamila. Aku ingin bicara dengan Rayya.”
Ning Kamila terbelalak.
“Gus? A-aku… sekarang?”
“Tentu saja sekarang.” Nada itu tak bisa dibantah.
Dengan kesal, Kamila memutar mata lalu keluar, masih mengusap pipinya. Pintu menutup.
Keheningan seketika menampar ruangan.
Alfarizqi menatap Rayya lama—terlalu lama—hingga Rayya merasa perlu memalingkan wajah.
“Coba jelaskan apa yang terjadi?” tuntut Alfarizqi, suaranya tegas. Sorot matanya dingin, menusuk tanpa ampun. Ia berdiri beberapa langkah di depan Rayya, tubuhnya tegang. Sunyi memenuhi ruangan; bahkan helaan napas Rayya terdengar seperti gema yang memantul di dinding.
“Apa yang terjadi?” ulang Alfarizqi, lebih berat.
Rayya tidak segera menjawab. Ia hanya menunduk sebentar, menarik napas pelan, lalu mengambil ponsel milik Kamila. Ia menyerahkannya pada Alfarizqi tanpa sepatah kata.
Layar ponsel itu menyala, menampilkan foto dirinya dan Sarah—berpelukan di lorong yang remang-remang. Wajah Alfarizqi mengeras seketika.
“Rayya,” ucapnya pelan, namun tetap dingin, “ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Rayya menatapnya. Tatapannya tenang… kosong… tanpa protes, tanpa tuntutan. Ia hanya mengangguk tipis.
“Oh.”
Satu kata, nyaris tanpa suara. “Baik.”
Ia memalingkan wajah, tersenyum miris. Seorang Gus pesantren melakukan hal seperti itu?
Meskipun Alfarizqi berkata ada penjelasan, faktanya foto itu menunjukkan keduanya berpelukan. Dan itu cukup untuk menusuk siapa pun, terutama dirinya.
Sudah terlalu banyak luka yang Rayya telan dalam waktu singkat ini: pernikahan perjodohan, pertemuannya dengan Adam, sikap Alfarizqi yang sulit dipahami, keputusan-keputusan sepihak—dan kini ia dihadapkan pada kemungkinan perselingkuhan suaminya sendiri.
“Aku mau keluar sebentar. Tapi malam ini aku tetap bermalam di sini. Istirahatlah. Kunci pintunya. Aku punya duplikat kunci,” ucap Alfarizqi datar.
Rayya hanya membisu. Energinya habis—bahkan untuk sekadar melontarkan satu kata.
Ia hanya menatap punggung Alfarizqi yang menjauh, lalu pintu kembali menutup.
Kesunyian memeluknya. Kini ia sendirian, menata serpihan hati yang bahkan ia tak tahu harus disusun dari bagian yang mana.
Alfarizqi melangkah ke kamar Ning Kamila. Gadis itu masih menangis. Ia menarik napas panjang, lalu mengambil kotak P3K dan mendekatinya. Meski mereka berbeda ibu, cintanya pada adik semata wayangnya itu tak pernah berkurang.
“Maafkan aku sudah kasar padamu,” ucap Alfarizqi lirih. Ia mulai mengompres pipi Kamila yang memerah.
Kamila masih tersedu, memalingkan wajah, jelas masih marah.
“Kau membelanya! Kau lebih sayang padanya! Kau tidak sayang padaku!” Tangisnya pecah.
“Tapi kau sengaja datang ke kamarnya,” balas Alfarizqi tajam. “Kau yang memberikan foto ini pada Rayya.”
“A… aku…” Kamila gelagapan. Kata-katanya terputus-putus.
“Aku mencintaimu, Kamila. Kau adikku. Wallahi. Tapi aku tidak bisa menoleransi perbuatan sekeji ini. Mengapa kau tega melakukan ini?!” Tangan Alfarizqi terhenti. Kamila menggigit bibirnya, lalu tangisnya kembali meledak.
“Aku membencinya! Gus tidak tahu, kan? Dia… dia selalu merebut perhatian semua orang saat kami di pesantren dulu! Aku membencinya! Dan sekarang… ketika aku menyukai seorang laki-laki, laki-laki itu justru memandang Rayya, bukan aku!” Kamila terisak, suaranya pecah. “Apa takdir memang sekejam itu padaku?!”
“Pesantren dulu? Laki-laki? Apa maksudmu?”Alfarizqi menarik napas berat. Namun justru kata-kata Kamila itu membuatnya semakin penasaran pada Rayya—istri dadakannya yang selama ini begitu tenang, begitu diam, begitu sulit ditebak.
...****************...
Si alfa juga salham, kayaknya doi mkir si Rayya masih suka ma Adam
Kayaknya Sarah n Emak mmg tulus ya… cuma yaaitu, ngeselin beuudddd 💔
Rayya jd mau ceraikan suaminya, klo bgtu…. Yaaa Adam udah siap untuk nampung wkwkwkwk💔🤣