Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.
Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.
Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TORN
Luz mencekram stir mobil dengan kuat, ia bereaksi marah karna ngebayangin jadi Mireya.
Seberapa hancurnya dia, dan dirinya cuman bisa diem aja ngikutin alur takdir mau bawa dia ke mana karna situasi dia juga terancam. Luz sedih gak bisa lakuin apapun buat mencegah Karel patah hati juga.
Dia berasa di situasi yang rumit dan di tarik-tarik di segala sisi. Nafasnya terasa sesak, perutnya kembali kram hebat. Ia mencoba menahan sakit. Karna sakit di ulu hatinya membuat traumanya meledak.
Gak kebayang tangis Mireya, tangis Karel. Life after kejadian itu gimana? Dirinya juga akan ikut di benci karna si anggap mendukung pihak yang salah.
Luz marah buat dirinya sendiri sekaligus buat semua cewek yang pernah di perlakukan kayak gitu. Seakan kami ini sampah. Melihat sesuatu seperti tadi itu seperti tusukan hati yang mendalam.
Membuat tubuhnya membeku, seperti melihat dirinya yang di hancurkan, di khianati di remehkan. Seakan kita tak pernah cukup bagi siapapun sekalipun kita nyaris sempurna. Seketika darahnya semakin mendidih, pedal gas ia injak semakin menekan.
Air matanya berjatuhan sampai matanya merah. Tangannya bergetar, bukan karna takut tapi emosi yang ingin meledak dan ingin mengatakan semuanya dengan jujur.
“Kalau gue yang di gituin, kalo gue yang di remukin kayak gitu....”
Luz terdiam dengan tatapan kosong lalu menjerit. Dan menginjak rem mendadak sampai mobilnya berputar di tengah jalan yang sepi.
Saat berhenti, ia tersadar. Ia larut dalam emosi, merasa hanyut di dalamnya. Tenggorokannya terasa sempit. James bukan cuman menyakitinya. dia menunjukkan betapa kecilnya rasa hormat yang dia punya. Untuk Mireya, untuk Karel, untuk siapapun bahkan dirinya sendiri.
Dan itu... itu membuatnya ingin menjerit. Marah. Sebenci itu.
Tangan Luz meremas kuat stir mobil. Nafasnya memburu wajahnya memerah dan tegang. Urat di tangannya sampai menonjol. “Gue bakalan pastiin, lo bakalan kehilangan semuanya karna keegoisan lo sendiri James.”
Luz turun dari mobil, duduk di pinggir jalan, memeluk lutut dan menangis. Ia membayangkan dirinya dulu, di detik terakhir mencintai seseorang. Perasaan tulusnya, di campakkan begitu saja. Orang yang ia cintai, mengiris hatinya secara perlahan, ia tidak peduli, terus berjuang hingga perlahan angkat tangan, mundur dan bubar. Sejak itulah ia mati rasa, menganggap cinta itu tidak ada. Hanya ilusi dan laki-laki membuatnya pusing.
Aneh juga, ia bisa tidak naksir siapapun,
cuman buat senang-senang. Kalau di ingat menang tidak sesakit duku, cuman sekali sedih ngebayangin diri kita di rendahkan sehina itu seakan kita ini gak punya hati.
Wajah Luz sudah berurai air mata. Angin malam ini begitu dingin menyentuh kulitnya. Ia bukan hanya kepentingan dan butuh pelukan, lebih dari itu.
Rasa tidak berharga, putus asa kembali datang.
Membuat Luz mencakar tangannya sendiri untuk menjadikan pegangan dari emosi yang
meluap menuntut balas di keluarkan.
Sasak menyeruak di dada tidak lagi bisa di jelaskan oleh kata. Luz bersandar di samping mobilnya dengan sangat lesu. Tangannya naik ke perut mengelusnya perlahan.
“Maaf, mama selalu bikin kamu ikut sedih.”
Dengan sisa tenaganya Luz berusaha untuk sadar, meskipun matanya udah mulai berat. Ia juga belum makan dari tadi. Makanan yang ia harap rasanya sudah habis tak tersisa di dalam tubuh di makan pikiran.
Dia merasa terkoyak, antara ingin lari sejauh mungkin dari semuanya. Namun di saat yang sama, banyak yang harus ia selesaikan agar kepergiannya tenang. Selain itu ia merasa terjebak. Perasaan yang di pundaknya menghantam. Kencang secara bersamaan.
Tangan Luz bergetar mengeluarkan handphone nya. Tak ada niat untuk menghubungi siapapun, ia sedih ternyata dirinya benar-benar sendirian tidak memiliki siapapun. Tapi sebuah pesan masuk dari Mireya baru saja muncul. Dia sempat meneleponnya yang sengaja tidak di angkat.
Mireya: Luz kenapa kok gak di angkat telepon gue. Gue mau minta tolong nih, lo gapapakan?
Luz menatap layar, air matanya tumpah ruah tak tertahan. Ia ingin membalasnya, tapi kata-kata itu terasa begitu berat di lidahnya. Perlahan dia mengetik pesan singkat.
Luz: Fine Mirae gapapa jangan khawatir. Mau mintol apa?
Namun, tak lama kemudian telepon darinya masuk. Dengan nafas yang masih tersengal.
Luz hanya menatap layar, karna ragu mengangkatnya. Saat terhubung ia enggan bersuara. Memilih membalasnya di chat, cuman suara khawatir Mireya membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia mengangkatnya dan suara terisak masih terdengar walau Luz sudah menggigit jarinya berusaha meredam.
“Lo kenapa kok kayak nangis?” Suara Mireya terdengar panik. “Luz, kenapa woi? Jawab lo pasti lagi kenapa-kenapa.”
Luz terdiam, perasaan itu semakin berat, seolah seluruh tubuhnya dipenuhi kesedihan yang tak bisa ditanggung sendiri. “Gapapa, Mireya....” jawabnya pelan, suaranya pecah. “Cuma... cape dikit.”
Mireya tak percaya begitu saja. “Luz, jangan bohong. Gue bisa denger suara lo, lo nangis kan?”
Luz hanya terdiam. Semua rasa yang dia coba sembunyikan selama ini, kini tak bisa dia tahan lagi. Dia terisak, menangis tanpa bisa mengontrolnya.
Mireya tak bisa membiarkan temannya seperti ini. “Luz, lo harus datang ke rumah gue sekarang. Gue ngga bisa biarin lo sendirian di luar gitu. Lo gapapa kan? Tolong, bilang kalau lo gapapa! Atau gue jemput lo, dimana sekarang?”
Kini Mireya meminta beralih ke panggilan video. Luz belum menerimanya tapi dia meminta di terima.
Luz, dengan tubuh yang semakin lemas, mengangguk meski Mireya tak bisa melihatnya. “Gue... gak mau ganggu lo,” suaranya semakin terisak, sukar untuk berbicara.
Tapi Mireya tidak akan membiarkannya begitu saja. “Gak, lo nggak ganggu. Lo harus datang ke rumah gue. Gue nggak bisa lihat lo kayak gini,” ia berkata tegas, mencoba memberi sedikit kekuatan.
Luz akhirnya setuju, terlihat dirinya kacau. Membuat Mireya kaget. Meski hatinya terasa hancur. Ia tahu Mireya hanya ingin membantunya, tapi dia merasa dirinya sudah terlalu jauh dari semua itu.
Beberapa menit setelahnya, Luz tiba di rumah Mireya dengan wajah pucat dan matanya sembab, tubuhnya terhuyung-huyung. Dia hampir tidak bisa berdiri. Ia mengetuk pintu beberapa kali hingga saat terbuka, begitu dia melangkah masuk, tubuhnya tiba-tiba ambruk. Langsung terjatuh ke lantai, pingsan di sana.
Mireya panik, lalu berjongkok mendekati Luz. “Luz! Luz!” teriaknya, berusaha membangunkan temannya dengan menepuk pipinya, tapi tubuh Luz terkulai lemah. Ia segera menghubungi dokter, memintanya segera datang ke rumah. Karna tak jauh dari tempat tinggalnya ada klinik.
Secepatnya dokter itu datang kebetulan di klinik lagi sepi. Langsung memeriksa Luz yang tidur di sofa.
“Sebaiknya kesehatannya harus benar-benar di jaga. Detak jantungnya melemah, tekanan darahnya turun. Kurangin pikirannya, jangan terlalu banyak hal di pikirin. Memilah apa saja yang penting ya. Bilangin gitu kalau udah siuman, sebentar lagi dia bangun kok. Langsung makan, makannya jangan banyak-banyak tapi dikit harus sering.”
Dokter itu merapihkan alat kesehatan. “Jangan lupa suruh minum vitamin dan juga sayur. Dia sangat lemah dan kayaknya benar-benar mengalami tekanan batin sih. Kalau masih belum sadar juga, segera hubungi kami ya, biar di jemput ambulans.”
Jantung Mireya bersama mau copot mendengarnya. “Oke Dok makasih, kalo bayinya gimana baikkan?”
“Baik, kalo ada keluhan lagi segera hubungi dokter ya. Saya permisi dulu, di minum obatnya.”
Mireya mengoleskan kayu putih di hidung Luz, berharap dia cepat bangun. Malah salah fokus ke luka cakaran di tangannya begitu banyak dan meninggalkan bekas merah juga lecet bahkan ada darah mengering.
Membuat Mireya mendapatkan asumsi tersendiri. “Jangan-jangan berantem sama Karel di KDRT?”
“Ini gak bisa di biarin!” Mireya sangat marah, ia mencoba mencari nomor Karel di nomor keluarga atau darurat. Tapi belum ia temukan, disitu Luz menggeliat pelan dan membuka matanya.
Mireya membanting handphone dan memilih merhatiin sahabatnya. “Are you okay? Mana yang sakit? Buruan jawab.”
Kepala Luz masih pusing ia mencoba duduk dan berdesis pelan. “Sorry banget ya.”
“Ada apa sih? Cerita. Lo berantem sama suami? Terus di KDRT?”
Luz menggeleng dengan wajah kaget. “Engga ih engga.”
“Tuh.” Dagu Mireya terangkat menunjuk lengan Luz.
“Ini? Gue sendiri yang nyakar, pas kesel.”
Mireya menatapnya penuh tanya. Luz jujur tapi ada juga matanya tersirat bohong.
“Boong."
“Serius.”
Mireya pun menghela nafas terus minta pembantunya ambilin buah, air putih, teh hangat dan makanan. “Makan dulu, lo butuh tenaga.”
Luz tersenyum ia masih punya sahabat terbaik ternyata. “Makasih ya.”
Luz cuman lagi ke trigger sama situasi. Bukan bener-bener mau ngejauhin semua orang atau kabur. Ia cuman jadi tak tenang sendiri. Lebih ke dalam keadaan marah dan sakit hati yang bikin emosinya gak stabil. Jadi merasa kalo pergi dulu bakal ngurangin beban emosinya dan gak ngerepotin siapapun. Eh malah pingsan disini. “Udah ah.” Luz tidak enak makan ia meletakkan nya dengan banyak sisa.
“Oke ntar makan lagi, minum obat tuh aman kok buat bumil. Lo jangan gitu lagi ya kasian anak lo. Malem ini nginep aja ya disini temenin.”
Luz tersenyum singkat. Lalu berdiri dengan langkah goyah, tas di tangannya menggantung. Ia ingin pergi jauh, dari semua ini sementara waktu. “Gue gak mau repotin lo,” ujarnya dengan suara pelan nyaris terbata.
Luz berdiri dengan langkah goyah, tas di tangan menggantung. Ia ingin pergi, jauh dari semua ini, jauh dari rasa sesak yang terus mengikat dadanya. “Gue nggak mau ngerepotin lo, Ra,” ujarnya dengan suara pelan, nyaris terbata.
Mireya berdiri di depannya, berusaha menahan langkah Luz. “Enggak, jangan gitu, Luz,” katanya dengan suara penuh kekhawatiran. “Lo nggak sendirian. Gue ada buat lo.”
Luz mengusap wajahnya, menahan air mata yang hampir jatuh. “Lo nggak ngerti, Mir... gue Cuma nggak mau bikin semuanya lebih berat,” jawabnya, suaranya tercekat. “Gue Cuma butuh waktu sendiri.”
Mireya menatapnya dengan tatapan penuh empati, lalu berkata, “Tunggu dulu, gue bakal hubungi Karel. Kalau lo nggak siap ketemu dia sekarang, setidaknya biar dia tahu lo baik-baik aja.”
Luz menggelengkan kepalanya. “Gak usah, Ra. Gue nggak mau. Gue Cuma... butuh waktu.”
Tertahan, Mireya jadi sungkan. “Oke kalo gitu jangan kemana-mana disini aja, gue bakalan nemenin lo sedih sebebasnya.”
Padahal ini luka batin Luz dari trauma masalalu kenapa malah ngerepotin? Ia harus segera sembuh dan kembali bangkit. Jadi malam ini, Luz nginep bersama Mireya. Dia tampak antusias dan heboh apalagi menusuk-nusuk perutnya dengan telunjuk bahkan nanya banyak hal sama anak kecil di dalamnya sampe dia ketiduran.
Luz pikir mengisolasi diri sampai dirinya membaik adalah satu-satunya jalan keluar. Taunya bicara dengan orang terdekat dan di peluk adalah hal manis pelipur lara.
Pagi itu Mireya bangun lebih dahulu, Luz masih terlelap tenang dengan nyenyak. Hingga akhirnya suara seseorang datang dan pembantu di rumah memanggilnya. Ia pun keluar kamar.
Melihat Karel, emosinya tersulut. “Dasar lelaki kardus.”
Pedes banget ejekannya. Karel gatau apa-apa kena semprot lagi. “Luz mana?”
Mireya berubah netral, semula kesal jadi heran. Dia begitu cemas nampak nya. “Berantem kenapa sih? Sampe kacau banget dia.”
“Gatau, gak ngerti, cewek tuh rumit banget,” ucapnya merasa frustasi.
Mireya mengangguk. “Yaudah masuk, dia masih tidur.”
“Sorry gue gak maksud gangguin lo karna dateng sepagi ini cuman gue juga nyariin dia dari semalem.”
“Tunggu aja gausah di ganggu, kasian.”
Karel langsung nanya apa aja yang terjadi, ia dengarkan dengan cermat. Masih merasa bersalah soalnya. “Gue masih harus kerja, bisa nitip dulu gak, ntar sore gue jemput asli.”
“Ck masih aja mentingin kerjaan. Yaudah sama, gue juga WFH kok.”
Karel mengangguk. “Oke, ntar gue kasih jajan. Bener ya nitip, gue tinggal dulu.”
Mireya cuman ketawa. Mereka nampak nya mengalami permasalahan soal salah paham. “Kayaknya Luz heboh, dia lemot. Pantes segitunya hadeh.” Kebetulan hari ini ada temen, Mireya bakalan ngajakin Luz mukbang yang aman. Termasuk masak dan maskeran bareng biar dia lupa sama kesedihannya.
“Well, gue seneng banget akhirnya bisa bebas dari beban dunia. Beban kerjaan dan bertingkah kayak anak sekolahan yang gak mikirin besok masak apa!” Luz berteriak heboh, merasa kembali jadi dirinya.
Mireya tertawa. “Sama gue juga! Gue berasa lebih muda dan fresh.”
“Gue jadi betah, gamau pulang.”
Mireya melotot. “Janganlah, laki lo nganggur di embat orang ntar. Pulang ntar bisa kesini lagi main. Gue seneng kok ada lo, rame. Jangan sedih terus makanya, happy terus sama sehat okey?”
Luz mengangguk. “Ya gimana, pulang ke rumah ortu mana mungkin. Ke rumah laki gue ogah.”
“Eh dia ngechat, udah di depan tuh.” Mireya baru membuka pesan masuk. Luz melongo keheranan. “Iya tadi dia kesini pagi-pagi lo masih molor. Jadi dia jemput lagi balik kerja. Pulang gih, selesain masalahnya. Gak baik tau marahan terus.”
Luz mengatur nafas dan tersenyum ia harus menahan diri agar tidak menyerocos terus. “Gamau ah males liat mukanya ngeselin.”
“Jangan gitu ntar anak lo plek-ketiplek mirip bapaknya.”
“Bapaknya yang mana?” celetuk Luz keceplosan.
Mireya terdiam. “Hah?”
Langsung Luz gelagapan. “Bercanda, kan anu ah udahlah. Gue masih belum mau pulang.”
“Harus!” Mireya menarik tangannya, akhirnya Luz bersedia keluar menemui Karel.
Luz terlihat canggung karna mukanya masih sembab. “Mir—“
“Udah sana pulang,” usir Mireya. Lalu menutup pintu. Di balik itu ia cekikikan, berharap mereka baikan.
Karel memperhatikan Luz, memang kacau. “Ayo pulang, gue beliin apapun yang lo mau, tapi gausah kabur.”
“Moh.” Luz memalingkan muka kamu berjalan lebih dahulu.
Tangan Luz di tarik masuk ke dalam mobil Karel. Hati Mireya berteriak di dalamnya.
“Mobil lo udah di ambil tadi lagi, sekarang bareng gue.” Karel menutup pintu, lalu menjalankan mobilnya.
“Kenapa lo harus kayak gini, bikin kita di tanya ‘berantem kenapa’ sedangkan gue aja gatau alasan jelasnya.” Karel membuka obrolan karna keheningan begitu menusuk.
“Bukannya itu bagus ya biar sandiwara kita di depan semua orang terlihat natural? Lo bisa lanjut sama hubungan lo gue bisa tenang,” ketusnya.
“Gue rasa masalah lo bakalan berakhir, kenapa dengan ini lo malah semakin kacau?” Karel melihat Luz, dia bersandar dengan wajah tertekuk.
“Ada hal yang gak lo ngerti. Trauma gue muncul lagi,” ucap Luz dalam hati.
Lampu merah, mobil Karel berhenti. Tangan kirinya mengelus luka di tangan Luz. “Kenapa coba ini? Parah ya, ngamuk sampe kayak di cakar kucing.”
“Ntar juga sembuh gausah sok peduli. Kalo mau peduli beneran gapapa, tapi jangan nyesel kalo gue nempel mulu. Kayak ulet bulu di pucuk wle!” Luz menjulurkan lidahnya membuat Karel tertawa. “Idih malah ketawa lagi.” Luz mencubit lengan Karel dan tersenyum diam-diam. Ia lebih suka suasana bising dan ramai, di banding bening membuat semua jadi kepikiran.
...--To Be Continued--
...