Follow IG @samar_jenny1
Zia adalah gadis yang membenci perjodohan, itu menjadi sebuah prinsip yang dijalani. Zia sudah mempunyai kekasih mereka saling mencintai, namun sayang cinta mereka tidak mendapat restu dari orang tua.
Justru tanpa perundingan ia dijodohkan dengan lelaki pilihan sang ayah. Untuk membayar jantung, yang didonorkan seseorang.
Zia bagai menelan pahit di satu sisi ada orang tuanya, di sisi lain ada kekasih yang ia cintai. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjerat cinta segitiga. Di dalam perjodohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
meminta maaf
Siang hari yang terik dengan sinar matahari yang mamancar ke bumi. Kini pancaran itu semakin melemah karena hari akan berganti malam matahari yang tenggelam akan di gantikan oleh ibu bulan.
Waktu menunjukan pukul lima sore. Setelah seharian Zia di sibukan dengan setumpuk pekerjaan. Kini waktunya Ziara pulang mandi berendam di kamar mandi pasti akan melegakan otot-otot yang kaku karena sepanjang hari ia duduk hingga membuat kakinya keram. Oke, dia akan segera pulang ia bergegas keluar dari kantor.
Saat Ziara berjalan menuju koridor ia mendengar sumbing-sumbing para pegawai bicara, mereka sepertinya membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya.
"Eh, tau nggak tu cowok menunggu disana dari pagi," ucap salah satu karyawan kepada teman-temannya.
"Bukannya ... itu pacar Ziara. Cowok itu kan yang sering menjemput perempuan itu, beruntung sekali Ziara punya pacar seperti itu, ganteng ... kelihatanya dia anak orang kaya.
“Kamu mau? ” ucap salah satu dari mereka.
“Maulah ... siapa yang bisa menolak cowok seperti itu.”
Mereka tertawa menertawakan kekonyolan mereka sendiri. Tapi, tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti karena melihat Ziara muncul dari belakang mereka. Mereka gugup dan menyangka Zia akan marah.
Namun tidak seperti dugaan mereka, justru Ziara melewati mereka tanpa mengucap satu katapun.
Ziara berjalan langkah cepat dan mengepal. Ia ingin segera menemui Rio yang menjadi bahan pembicaraan karyawan di dalam, hingga membuat gadis itu malu jadi bahan pembicaraan sesama kariawan.
Rio melihat Zia keluar dari pintu utama seketika hatinya seperti di siram air dingin. Ia senang akhirnya gadis itu menemui dan berpikir kalau Ziara akan menghampiri dan minta maaf.
"Sayang," ucap Rio saat Zia menuju kearahnya. “Sayang, aku ....” kata-katanya terhenti karena Ziara menarik tangannya mengajak ke tempat yang tidak menjadi pusat perhatian orang banyak.
Ziara memberi waktu Rio untuk bicara tapi asalkan berjanji tidak boleh menggangu ia lagi.
"Berhentilah menemui ku, Rio," ucap Ziara ketika mereka sampai di sebuah taman kecil yang biasa mereka datangi.
"Sayang hukumlah aku, makilah aku, seperti yang kamu inginkan. Tapi aku mohon maaf kan lah kesalahan ku." Rio memohon dia menggenggam tangan Ziara. Berharap gadis itu memaafkan kesalahannya.
Ziara mencoba melepas tangannya dari tangan Rio. Namun tangan Rio kuat menggenggam.
"Aku sudah maafkan kamu. Sekarang lepas kan tangan ku!” pinta Ziara.
"Sayang, tapi ... hubungan kita tetap akan berlanjut bukan?" Rio berharap mereka masih bisa melanjutkan hubungan.
"Maaf Rio aku tidak bisa untuk itu, aku ...."
"Sayang, bagaimana caranya agar kamu memaafkan aku, dan kita kembali seperti dulu lagi. Aku janji, tidak akan berbuat seperti itu lagi. Aku mohon sayang," ucap Rio dengan nada memelas belas kasihan.
"Rio apa kamu tidak dengar aku tadi bicara apa! aku tidak bisa ... karena aku sudah menikah!" Ziara harap setelah Rio mengetahui kalau dia sudah menikah akan menjauhinya.
Namun pikiran Zia salah. Rio tertawa bahkan sedikitpun ia tidak percaya mendengar ucapan Ziara.
"Zia. kamu mencoba membohongi aku? Kamu pikir aku percaya?” Rio menyeringai.
“Aku tidak percaya. Aku tau, kamu berkata begitu supaya aku menjauhi mu."
"Terserah, kalau kamu nggak percaya." Ziara berdiri akan pergi meninggalkan tempat itu.
Tiba-tiba Rio memegang tangan Ziara dan memeluk tubuh begitu erat.
Ziara merasa sesak dan mencoba melepas kan dirinya. Rio lancang, beraninya memeluk tubuhnya se enaknya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan lepaskan!” dengan nada pelan namun Rio tetap bergeming.
tetap meluk tubuh Ziara. "Aku bilang lepaskan!" Ziara berteriak dan mendorong tubuh Rio.
Bahkan Rio hampir terjatuh.
Ziara segera pergi berlari meninggal kan Rio.
----
Di seberang sana.
Di dalam mobil Raka mau pergi menjemput Ziara karna tadi mereka pergi bersama dan cowok itu akan menjemputnya di sore hari.
Saat mobil melintasi sebuah taman Pak Handoko melihat seseorang mirip seperti nonanya.
"Tuan, bukankah itu Nona Ziara?"
Raka menoleh ke arah taman dan melihat Ziara sedang berpelukan dengan seorang pria yang tidak terlihat wajahnya.
Raka mengepal tangannya dengan sangat kuat hingga otot-otot nampak jelas seperti hampir keluar.
"Pak kita pergi. Bawa aku ke club.”
pak handoko tidak berani menolak permintaan tuannya itu.
dan segera membelokkan mobil kearah club yang di tuju sesuai permintaan Raka.
Setelah sampai Pak handoko terliahat sangat khawatir melihat Raka.
"Pak pergilah! Aku akan di sini malam ini," ucap Raka.
"Tidak tuan biar saya menemani anda, ke dalam,"
"Baiklah," ucap Raka lalu pergi masuk ke dalam.
Handoko menunggu di dalam mobil dan berjaga jaga kalau tuannya hilang kendali karna wajah Raka terlihat sangat tidak bersahabat.
Bersambung..