"Karena sudah terlanjur. Bagaimana jika menambah bumbu di atas omong kosong itu?"
Asha menatap Abiyan, mencoba mengulik maksud dari lawan bicaranya. Kedua mata Asha bertemu dengan milik Abiyan, ada sirat semangat yang tergambar di sana.
"Menikahlah denganku, Ash!"
Asha seorang wanita yang hidup sebatang kara menginginkan pernikahan yang bahagia demi mewujudkan mimpinya membangun keluarganya sendiri. Namun, tiga hari sebelum pernikahannya Asha diberi pilihan untuk mengganti mempelai prianya.
Abiyan dengan sukarela menawarkan diri untuk menggantikan posisi Zaky. Akankah Asha menerima ide gila itu? Ataukah ia tetap memilih Zaky dan melajutkan pernikahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha Aiyyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
"Ayolah Ibu! Kami pengantin baru dan itu, um ... ," Abiyan melirik semua orang yang tampak menunggu. Bahkan Asha, wanita itu juga menatapnya penuh harap. Jawaban Abiyan tentu saja harus membuat semua orang puas agar melupakan perihal memar di kening Asha.
"Mengapa kalian tidak bisa berpura-pura untuk tidak melihatnya saja? Huh." Abiyan menundukkan kepala lalu dengan malu-malu ia kembali membuka suara. "Kami sama-sama belum punya pengalaman. Tapi gairah di antara kami begitu besar, dan kami juga terlalu terburu-buru. Kami tidak sengaja membenturkan kening kami dengan keras." Tubuh Abiyan bergerak-gerak tidak tenang.
Asha tahu, itu semua kebohongan. Ya, kebohongan besar. Meski kalimat terakhir adalah kenyataan, Namun tetap saja, Asha tetap dibuat syok oleh akting Abiyan. Ia mengucapkannya seolah benar-benar mengalaminya.
Asha merasa geli mendengar semua kebohongan yang keluar dari mulut pria itu, namun ia harus menahan tawa. Ia tidak ingin akting yang seharusnya mendapat acungan jempol itu terbongkar karena ulahnya.
Asha menahan tawanya sebisa mungkin dan memilih ikut untuk mengimbangi akting sempurna Abiyan. Asha menundukkan kepala, berpura-pura malu sebab rahasia malam pertamanya diumbar di meja makan.
Katerine dan Roy tertipu. Keduanya geleng kepala tidak habis pikir jika ternyata putra bungsu dan istrinya akan seliar itu ketika berada di ranjang.
Roy dan Katerine mengalihkan tatapan ke arah lain begitu pandangan mereka bertemu. Bisa-bisanya keduanya sempat mengingat pengalaman pertama mereka setelah mendengar cerita Abiyan.
Roy mendehem pelan, lalu mengatur ekspresi tegas di wajahnya. Wajah Katerine memerah, layaknya remaja puber yang baru saja mendapatkan pernyataan cinta.
Berbeda dengan Zaky, pria itu masih curiga dengan pernyataan Abiyan. Ia tidak yakin jika memar itu ada ketika Abiyan dan Asha sedang berhubungan intim. Zaky menjelajahi leher jenjang Asha yang terekspos putih tanpa noda. Jika keduanya benar-benar bercinta tentu saja akan ada setidaknya satu jejak kemerahan di leher Asha. Tapi leher Asha terlalu bersih untuk menyatakan jika semalam adalah pengalaman pertama bagi keduanya.
Pandangan Zaky tak lekat dari Asha, ia masih mencari jejak-jejak keintiman antara Asha dan Abiyan. Pandangan itu tak lekang oleh perhatian Katerine.
Wanita yang paham betul dengan tatapan putranya itu kembali teringat kejadian semalam. Kejadian di mana ia mendapati Zaky yang duduk bersimpuh di lantai. Dengan tubuh yang dibanjiri peluh dan wajah penuh jejak air mata di ruang kerja milik putranya. Penampilan Zaky semalam benar-benar kacau.
Katerine mendapati ponsel Zaky sudah terbelah menjadi dua juga botol wine yang berubah menjadi kepingan-kepingan kecil dan runcing. Meja sofa miring dan sofa yang tidak lagi berada pada tempatnya menunjukkan betapa kacaunya pemilik ruangan saat itu.
Katerine membungkam mulutnya sendiri begitu melihat kekacauan yang ada. Sebelum ia bergegas naik begitu mendengar suara benda yang pecah dari ruang kerja Zaky. Beruntung kekacauan itu terjadi tepat ketika semua kerabat mereka telah pergi.
"Ada apa denganmu Zaky?" Hanya itu kalimat yang terlintas di kepala Katerine. Sebelumnya putranya tampak baik-baik saja, jadi wanita itu cukup syok dan kebingungan terlebih Roy sedang pergi mengantar salah satu kerabatnya pulang.
Zaky mendongak, menatap ibunya yang perlahan mendekat dengan hati-hati. "Ibu, aku bersalah." Zaky lagi-lagi banjir air mata. Pria itu bahkan memukul-mukul dadanya sendiri.
Belum sempat Katerine menanyakan maksud kalimat Zaky, lagi-lagi putranya kembali meraung. "Aku bersalah, Ibu. Aku bersalah." Suaranya terdengar pilu dan menyayat hati. Katerine merasa tidak tega. Wanita itu mendekap putranya dalam pelukan.
"Aku bersalah, tapi apakah Abi harus mengambilnya? Mengambil yang sebelumnya milikku." Katerine bingung, namun ia sama sekali tidak diberi kesempatan berbicara. Zaky terus meraung, mengatakan hal yang sama berulang kali hingga akhirnya kelelahan menangis.
Pria dengan tubuh dua kali lipat dari wanita yang mendekapnya itu tertidur dalam pelukan ibunya. Sebelum Zaky benar-benar terlelap bibirnya masih sempat menggumamkan nama Asha dengan nada yang begitu pilu.
Katerine menebak Zaky belum selesai dengan perasaannya pada Asha. Namun ia tidak bisa melangkah lebih jauh untuk ikut campur dalam urusan mereka. Terlebih satu lagi putranya dengan lantang dan percaya diri membanggakan hubungan baru yang terjalin dengan Asha. Asha sendiri terlihat tenang meski berada di depan Zaky—pria yang hampir menjadi suaminya.
Katerine merasa ini sedikit rumit sehingga dirinya hanya mampu menghela napas. Sarapan berlangsung tenang, meski sesekali Katerine mendapati Zaky yang masih saja menatap Asha. Tatapan yang menyimpan sejuta pertanyaan yang tidak sedikit pun di lontarkan.
Roy Andara berjalan lebih dulu ke ruang keluarga, di susul Abiyan yang menggandeng lengan Asha lalu Zaky menyusul ketiganya tidak lama setelahnya. Katerine sendiri berpindah ke dapur beberapa saat lalu, ia memilih untuk berkutat di dapur dan mencoba resep penutup mulut baru yang ia dapat dari kelas memasak.
Roy duduk di single sofa, di sampingnya di sofa dengan dua dudukan ditempati oleh Asha dan Abiyan lalu Zaky lagi-lagi mengambil posisi dimana ia bisa berhadapan dengan Asha.
"Kapan kamu akan mulai bekerja, Ash?" Roy memulai pembicaraan.
"Secepatnya, besok sepertinya sudah bisa." Asha menoleh pada Abiyan di sampingnya.
"Kalian baru saja menikah," sanggah Roy. Pria paruh baya itu lantas menatap putra bungsunya.
Asha pun turut menatap Abiyan penuh harap,
"Kamu setuju kan, Ian?" tanya Asha, menarik atensi semua orang padanya. Ya, itu memang tujuannya. Soal pertanyaannya, tentu saja Asha hanya mengharapkan jawaban persetujuan dari Abiyan.
Abiyan menarik sudut bibirnya, Asha benar-benar berharap padanya. Abiyan sengaja tidak segera menjawab Asha dan memilih untuk menikmati wajah putus asa istrinya.
Asha menggoyang-goyangkan lengan Abiyan, ia lelah menunggu. Asha yang mulai kesal menggembungkan pipinya dan Abiyan terkikik dibuatnya. Roy malu melihat tingkah Asha dan Abiyan, sedang untuk Zaky dirinya merasa benar-benar kesal. Tangannya terkepal di samping.
"Iaaan," rengek Asha.
Abiyan beralih menatap Roy. "Biarkan Asha bekerja besok, Ayah! Atau jika tidak, dia pasti akan merengek terus."
Asha mengangkat tangannya dengan tinju terkepal dan tentu saja Abiyan akan menjadi samsak tinjunya jika pergelangan tangan Asha tidak ia tangkap lebih dulu. Abiyan menarik Asha dalam dekapan. Entah sengaja atau hanya refleks melindungi diri, tapi tindakan Abiyan benar-benar membuat emosi Zaky meluap.
Tangan Zaky memukul sofa yang ia duduki. Ia gegas beranjak dari duduknya dengan kesal meninggalkan ruang keluarga tanpa berpamitan, menoleh pun ia enggan.
Asha melihatnya dengan heran lalu menatap Abiyan melemparkan pandangan penuh tanda tanya. Abiyan mengedikkan bahu dan keduanya kembali fokus pada Roy Andara ketika pria paruh baya itu kembali bertanya.
"Lalu, kamu?" tanya Roy begitu ia selesai pandangi punggung Zaky yang tidak lagi terlihat.
"Aku?" Abiyan memasang tampang bodohnya. "Kenapa?"
Roy menghela napas. "Jangan terlalu abai! Asha harus kamu nafkahi. Kapan kamu akan mengambil bagian dalam perusahaan?"
"Aku tidak akan pernah masuk ke perusahaan, Ayah. Jangan memaksaku dengan membawa nama istriku." Abiyan menarik sudut bibirnya sedikit.
"Jangan keras kepala! Ayah hanya memberimu jalan yang mudah." Roy menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
Asha menatap kedua pria berbeda generasi itu dalam diam. Roy dan Abiyan sama-sama berpegang teguh pada prinsip masing-masing. Keduanya menyiratkan aura intimidasi yang kuat dari diri masing-masing. Udara dalam ruangan itu tiba-tiba berubah dingin. Bulu kuduk Asha merinding.
Abiyan mengumbar senyum mengejek. "Aku punya caraku sendiri untuk menafkahi istriku, Ayah." Nada bicara Abiyan berubah tegas.